48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Hadiah



Kedua insan itu menikmati pemandangan matahari terbenam di tepi danau dengan kemesraan. Lia yang akhirnya bisa keluar dan menikmati pemandangan itu, merasa sangat bahagia.


Dia tidak menyadari jika kebahagiaannya itu, dilengkapi dengan sosok tampan di sisinya, tempat dimana kepalanya saat ini bersandar. Gadis yang hampir tidak pernah melakukan kontak fisik dengan kekasihnya yang dulu, belum memahami jika dirinya sudah sangat tergantung dengan fisik pria di sisinya.


"Kau bahagia?" Tanya Jason masih memeluk pinggang Lia.


"Ehemmm," gadis itu menggumam.


Ternyata tidak susah dan mahal memberi kebahagiaan pada gadis ini. Mungkin dengan sedikit kebebasan lagi, Jason merasa akan bisa lebih menaklukan Lia. Menggenggam erat wanita yang sebetulnya sudah sah menjadi istrinya.


Jason membelai anak-anak rambut Lia yang di terbangkan oleh angin senja. Kalau Lia asyik memandang matahari dan biasnya yang makin memudar, maka Jason asyik memandang wajah Lia yang begitu dekat dengan dirinya.


"Maaf tuan dan nona, kami mau kembali dulu." Suara pelayan membunyarkan kemesraan diantara mereka.


"Eh hee.. iya." Sahut Lia dengan gugup.


Dia baru menyadari jika sedari tadi dirinya bersandar di dada Jason yang telanjang. Tentu saja hal itu membuat jantung Lia berdebar kencang.


Lia langsung berdiri. Dan gadis ini pun otaknya baru menyadari jika Jason sedari tadi tidak memakai baju, tanpa alas kaki dan hanya dengan celana pendek saja.


"Kau dari tadi seperti ini?" tanya Lia tidak percaya.


"Lalu, pikirmu?" Tanya Jason balik.


"Ngapain kok gak pakai baju. Ayo pulang!" Kali ini Lia yang kesal.


Bagaimana bisa aku sempat pakai baju, jika kau tiba-tiba melesat pergi.


"Lain kali kalau mau keluar pakai baju. Gak tahu malu apa. Itu kaki gak sakit sedari tadi tidak pakai sepatu?" Lia mengomel terus melihat penampilan Jason.


Jason tertawa bahagia. Baru kali ini dia merasakan perhatian dari Lia. Dia menggandeng tangan Lia kembali ke mansion. Para pelayan yang melihat kemesraan mereka tersenyum.


Berbeda dengan butler Bernard yang melirik Lia dengan kesal. Bukan saja kesal karena berhasil di kecoh oleh Lia, tetapi melihat bagaimana tuan muda nya begitu panik karena si kucing liar kabur.


Di kamar, Jason masih ingin melanjutkan kemesraan yang sedari tadi dia rasakan. Dia menggandeng tangan Lia masuk ke kamar mandi. Tentu saja gadis itu menjadi panik.


"Eh, mau ngapain."


"Mandi bareng."


"Enggak ah!"


"Kenapa enggak?"


"Pokok gak mau!"


"Kalau kamu mau mandi bersamaku, aku izinkan dirimu bawa mobil," Jason menaikan penawaran.


"Dasar gendeng!" Lia mendorong tubuh Jason kemudian menutup pintu kamar mandi dengan kasar.


"Memangnya aku wanita apaan sih! Jason menyebalkan! Aku punya harga diri tau!" Teriak Lia kesal.


"Tapi kau istriku!" Balas Jason dari kamar mandi.


"Sudah lupa tuh! Cepat mandi, aku lapar!!!" Teriak Lia lagi


Jason terkekeh. Dia mandi sambil terus berpikir. Bagaimana cara membuat Lia senang. Dia terus berpikir hingga selesai mandi dan keluar menuju closet, tanpa memperhatikan Lia yang menatapnya heran.


Setelah berganti pakaian, Jason menelphone Erick.


"Ada apa bro?" tanya Erick yang baru saja pulang dari kantor.


Semenjak Jason disibukan dengan Lia, pekerjaan Erick bertambah. Meski begitu sahabat satu ini yang masih bujangan, tidak mengeluh.


"Dia hari ini tertawa bahagia." Ujar Jason.


"Eh? Kau menghubungiku hanya untuk mengatakan hal itu?" Kata Erick dengan kesal.


"Kau tahu, hanya dengan duduk di tepi danau dia bahagia."


"Jelas saja, sudah berapa lama kau jadikan dia tahanan cintamu." Sahut Erick kesal.


"Apakah aku harus memberi dia kebebasan? Bagaimana kalau dia kabur?" Tanya Jason dengan gelisah.


"Hadeh bro..bro. Sudah kaya dan tampan tapi tidak percaya diri. Tunjukan cintamu padanya, rayu dia, berikan yang dia minta, kalau perlu bulan madu sanaa." Kata Erick menggebu-gebu.


"Aku sering beri dia bunga."


"Bunga di taman mu juga banyak, bro. Ngapain harus beli lagi?"


"Dia menagih kencan."


"Nah itu, kesempatan. Dia ingin kencan denganmu, sikat sudahhhh. Aku heran dengan kalian. Pacaran setelah menikah. Memangnya kalian dulu tidak pernah berkencan?" tanya Erick dengan heran.


"Tapi, aku masih tidak ingin muncul di keramaian dengan Lia. Aku khawatir mata-mata ibu menemukannya. Dia belum siap menghadapi ibu. Dan aku memerlukan dukungan dari ibu. Lalu, bagaimana tugas yang aku berikan padamu?"


"Sudah. Aku sudah membeli beberapa hotel di Prancis dan di Usa juga beberapa negara Eropa. Saat itu masih dalam perombakan. Setelah itu bisa mulai beroperasi dibawah kepemilikan atas nama Lia." Lapor Erick.


"Bagus. Kau memang hebat."


"Lalu, apa yang akan kau lakukan untuk memenangkan hatinya?" Erick masih penasaran dengan sahabatnya yang dia rasa masih sangat oon.


"Aku tahu apa yang akan aku berikan untuk dia. Erick, aku akan mengirimkan foto yang harus kau beli untuk Lia." Jason mematikan telphone nya dan mengirimkan sebuah foto pada Erick.


Erick terperangah dengan foto yang dikirimkan oleh Jason.


"Dasar perjaka tuaaa!" Umpat Erick kesal.


*


Malam harinya, Lia kembali membebat dirinya dengan selimut. Dan tidur memunggungi Jason.


"Apa kau tidak lelah tidur seperti itu?" Tanya Jason dengan lembut di sisi Lia.


"Sudah terbiasa."


"Oh ya?"


Jason beranjak dan diam-diam mematikan Ac. Menyembunyikan remote Ac. Kemudian dia naik keatas tempat tidur. Dan kembali usil mengetukan jarinya di atas meja. Tok. Tok. Tok.


Lia pura-pura tidur dan tidak mendengar.


Jason dengan sabar menunggu.


Suara itu begitu mengganggu. Lia dengan kesal berbalik dan mengecup Jason.


Cup. Berbalik lagi


Cup. Berbalik lagi


Cup. Berbalik lagi.


Lia kesal. Dia berbalik lagi Cup. Cup. Cup.


"Bonus. Sudah capek bolak balik. Gerah."


Lia merajuk.


Kemudian dia melepaskan selimut yang membebat tubuhnya. Lia merasa panas. Dia berkeringat.


"Kenapa hari ini gerah sekali ya? Apa kau mematikan sentral ac?" Tanya Lia dengan curiga.


Dia berdiri dan menyadari jika tidak ada angin dari sentral ac. Lia mencari remote dan tidak menemukannya.


"Dimana kau sembunyikan remote nya. Gerah Jason!"


"Besuk aku tanyakan butler Bernard." Sahut Jason santai.


"Bukannya tadi hidup ac nya? Huh uh! Aku cari sekarang butler Bernard. "


"Apa kau tidak kasihan dengan pria tua itu? Dia juga butuh istitahat."


Lia menghentikan langkahnya. Dan dengan kesal dia kembali ke tempat tidur. Kali ini Lia tidak membebatkan tubuhnya dengan selimut. Terlalu gerah.


"Haduhhhh... sudah ahhhh." Lia merajuk dengan kesal.


Meskipun begitu dia tetap membalikan tubuhnya dan mencium Jason. Tapi kali ini, Jason tidak membiarkan tubuh Lia berbalik. Dia sudah mengunci tubuh Lia, sehingga gadis itu tidak dapat bergerak.


"Jason," Lia bersuara lirih.


"Tidurlah. Biarkan aku memelukmu," kata Jason dengan lembut.


Wajah mereka saling berdekatan. Lia memandang Jason yang memejamkan mata nya. Dihadapannya kini adalah pria yang berlari tanpa alas kaki mengejarnya di danau. Pria yang selalu menuntut kecupan. Pria yang sudah membuat dada nya berdetak kencang.


"Kenapa jantung mu berdebar kencang?" Ujar Jason tiba-tiba seraya meletakan tangan nya di dada Lia.


Lia melotot, menundukan kepalanya dan melihat tangan Jason seenaknya menyentuh dada nya. Dan, pria itu masih memejamkan matanya.


"Ih. Mesum!" Lia menepiskan tangan Jason dari dadanya.


...Dadaku masih original...


"Aku hanya mau memastilan jantungmu baik-baik saja." Jason kembali meletakan tangannya di dada Lia.


"Ihhh... aku tidak apa-apa." Lia menarik tangan kanan Jason dan tetap memegang tangan itu agar tidak berpindah tempat lagi. Tangan mereka bertindihan.


"Jangan merayuku. Rajawali ku bisa tidak tahan lagi." Ujar Jason menggoda.


Pipi Lia bersemu merah tapi tak urung dia melirik ke boxer Jason.


Jason membenamkan wajah Lia di dada nya dan memeluk gadis itu lebih erat.


Lia bisa mendengarkan detak jantung Jason dan juga merasakan transformasi burung Rajawali yang menempel erat di kewanitaannya.


Lia diam tidak berkutik. Dia tidak lagi berontak dan membantah. Lia takut memancing bara api. Meskipun tubuhnya berkhianat, tapi Lia tetap berusaha mempertahankan dirinya untuk tidak menyerahkan begitu saja satu-satunya harga diri yang dia miliki. Dan dia memaksa dirinya terlelap dalam pelukan Jason.


*


Keesokan hari nya.


"Nona ada kiriman untuk anda," lapor butler Bernard saat Lia dan Jason sedang sarapan pagi.


"Heh? dari siapa?" tanya Lia dengan heran.


Butler Jason melengos.


siapa lagi coba yang mau memberimu kejutan.


Lia keluar menuju halaman dan terkejut dengan hadiah yang dia terima.


"Jason trimakasihhhhh," ujar Lia sambil mengecup bibir Jason.


Dengan riang Lia menghampiri hadiah nya. Dia menaiki sepeda yang baru di belikan Jason untuk nya. Sepeda dengan keranjang mungil di depannya. Meskipun bukan sepeda sport yang modern. Namun, Lia justru merasa senang sekali.


Kring... kring... kring...


Lia membunyikan bel sepeda dan mengitari halaman dengan ceria. Saat ini dia bagaikan gadis remaja yang baru mendapatkan hadiah. Tawa ceria nya membuat Jason bahagia.


Lia berhenti di depan Jason.


"Ayo bonceng aku."


Lia turun dari sepeda dan menyerahkan kemudi pada Jason. Jason mengambil alih kemudi dan membonceng Lia mengelilingi taman. Lia tertawa dengan bahagia. Hadiah yang murah bagi Jason tapi sudah membuat gadis ini tertawa bahagia.


Saat itu Fidel berdiri disisi butler Bernard.


"Tuan muda tampak bahagia, kenapa kau harus berwajah masam, butler."


"Semoga wanita itu tidak akan pernah menyakiti tuan muda," sahut butler Bernard tanpa menoleh.


Mata mereka tetap menatap pada kedua insan yang tertawa riang, tanpa menghiraukan pandangan para pelayan.


"Jason, bagaimana kalau nanti siang kita bersepeda keluar? Kau memiliki sepeda yang lain kan?" ajak Lia.


"Ayolahhh hari ini kan sabtu. Boleh yaaa." ajak Lia penuh harap.


"Baiklah." ujar Jason berjanji.


"Horeee... Jason baikkk." Lia memeluk pinggang pria itu dari belakang.


"Kalau kau bohong, aku akan bersepeda sendiri." ujar Lia mengancam.


"Sudah pintar mengancam sekarang ya dirimu."


"Aku kan belajar dari ahlinya." sahut Lia dengan tertawa geli.


...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟...