48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Sensitif



Erick benar-benar kapok berhadapan dengan Lia. Sekarang bukan saja perutnya yang panas, tapi saluran pembuangannya terasa terbakar. Seumur hidup ini pertama kali nya dia merasakan, saluran pembuangannya begitu panas terbakar. Hal itu membuat duduk pun tak nyaman.


Dalam mobil yang di kendarai oleh Jason, Erick duduk diam sambil memegangi perutnya yang masih melilit. Erick menyesal karena menyepelekan pertandingan yang diajukan Lia. Lebih baik baku hantam, kekalahan masih tampak keren daripada kekalahannya saat ini.


Wanita Asia ini, tampaknya saja sangat lemah. Tetapi dia ternyata lebih pedas dari cabe dan lebih licin dari belut, bahkan mungkin lebih licik dari heina. Semoga saja dia tidak lebih ganas dari Singa. Akan sangat menyeramkan jika hal itu sampai terjadi. Bulu kuduk Erick meremang.


"Erick, jujurlah padaku ... apa kau benar-benar tidak memiliki perasaan untuk Laurent?" tanya Lia sambil menatap Erick dari kaca spion tengah.


Erick diam tak bersuara.


"Laurent sangat mencintaimu. Mungkin cinta Laurent kepadamu lebih besar daripada cintaku pada Jason." Ucap Lia lagi penuh semangat.


Citttt ....


Jason menginjak rem mobil dengan mendadak, membuat Lia dan Erick terkejut. Untung saja Lia memakai sabuk pengaman. Meski begitu jantungnya berdebar kencang dan Lia memegangi perutnya. Sementara Erick di belakang yang tidak memakai sabuk pengaman, mengelus dahi nya yang sakit karena terbentur jok kursi pengemudi.


"Kenapa mengerem mendadak? Tidak ada apa-apa di depan, kan?" Lia memperhatikan jalanan di depan mobil yang tidak ada apapun. Jalanan sudah lenggang dalam kompleks menuju apartement Erick.


Jason masih dengan memegang stir, menoleh ke arah Lia dengan tatapan tajam. Raut wajahnya sangat sulit diartikan. Lia menarik nafas dan mengusap perutnya. Sesuatu telah menyakiti perasaan suaminya. Pria yang semakin sensitif semenjak kehamilannya.


"Apa kau bilang?" desis Jason geram.


"Aku?" Lia menunjuk pada dirinya sendiri.


"Siapa lagi yang sedari tadi berkicau di mobil?"


"Oooo ... jadi aku sekarang burung?" Gurau Lia, karena sebelumnya Jason selalu menggoda dirinya sebagai kucing yang suka mengeong.


"Mau burung mau kucing, suka-sukaku. Ulangi apa yang kau katakan tadi?!" Masih dengan suara pelan namun bernada tinggi, Jason menatap Lia tajam sambil memegang stir.


"Aku tadi bilang apa ya? Hemm ... aku tanya pada Erick apa dia mencintai Laurent." jawab Lia.


"Setelah itu?" selidik Jason.


"Setelah itu aku bilang kalau ... kalau Laurent sangat mencintai Erick."


"Setelah itu?"


"Itu ... itu ...." Lia menelan ludah kasar. Melihat tatapan tajam Jason, dia sadar ... niatan untuk membangkitkan semangat Erick telah membuat bara api disebelahnya berkobar.


"Iya setelah itu. Kalimat terakhir. Ulangi dengan jelas." Kata Jason dengan tegas.


"Dia bilang, kalau mungkin cinta Laurent kepadaku lebih besar daripada cinta Lia pada mu." Celetuk Erick dari belakang sambil tersenyum penuh kemenangan. Dia merasa senang bisa balas mengerjai Lia. Apalagi dari kaca spion dia bisa melihat Lia meolot dengan kesal. Erick terkekeh.


"Lucu?! Senang kau mendengarnya?!" Jason ganti menggertak Erick. Dan hal itu mampu membuat Erick melengos menatap luar jendela sambil menutup mulut ya rapat-rapat.


"Honey .... bukan begitu maksudku ...."


"Jadi selama ini ... kau tidak benar-benar mencintaiku. Apalagi kita sudah punya anak. Kenapa kau tega?" Desah Jason. Pria itu menyandarkan dirinya pada jok mobil sambil memejamkan mata.


"Honey ... jangan begitu ah." Lia melepaskan sabuk mobil nya dan membelai pipi Jason.


"Yuk ... yuk ... sini sayangku, jangan ngambek ya ...." Lia merengkuh Jason kedalam dekapannya dan mengusap kepala Jason. Sementara satu tangannya lagi menepuk punggung suaminya.


"Kau tahu bukan, kalau aku sayangnya cuma kamu. Kalau enggak sayang, mana mau perutku diisi benih supermu. Kalau gak sayang mana mau aku merelakan mahkota ku untukmu." bisik Lia dengan suara keras.


( note : berbisik itu kan harus nya pelan-pelan ya? Tapi dasar Lia, dia sengaja mengeraskan suaranya agar di dengar oleh Erick ).


Deg! Jantung Erick berdetak dengan kencang. Dia ingat bagaimana malam itu, Laurent sudah menyerahkan kehormatannya. Dan Erick tidak menyangka jika dirinya adalah yang pertama. Melihat dari gaya berpakaian dan banyaknya pria yang dikencani Laurent, Erick benar-benar tidak menyangka jika gadis itu tidak terpengaruh dengan dunia modern.


"Jadi cintamu padaku lebih besar dari cinta Laurent pada Erick, kan?" tanya Jason dengan manja.


Duh! Asli gemasssss! Ingin sekali Lia menjewer telinga Jason. Kenapa pria ini tidak mengerti juga, jika dia mengatakan hal itu hanya supaya Erick menjadi tersentuh. Malah ikut-ikutan baper. Ternyata lebih parah pria yang mengalami perubahan hormon daripada wanita.


"Iya tentulah sayang," bisik Lia. Kali ini perlahan.


"Kau harus tahu, kata-kataku tadi hanya untuk membuat Erick tersentuh pada Laurent. Sudah jangan gini ah." bisik Lia lagi.


"Beneran?"


"Iya bener."


"Sudah... sudah! Hentikan drama kalian. Memuakan!" Seru Erick dengan lantang.


"Cepat antarkan aku pulang. Sudah tidak tahan!" Ancam Erick sambil memegangi perutnya.


"Iya iya." Jason melepaskan diri dari pelukann Lia dan mulai masuk dalam gedung apartement.


Mereka keluar dari dalam mobil dan menuju ke dalam lift yang akan mengantarkan ke lantai dimana aprtement Erick berada.


Erick merasa risih berdiri disamping Lia dan Jason yang berpelukan. Meskipun seringkali dia melihat pasangan itu bermesraan, entah kenapa kali ini dia merasa sangat iri.


"Kalian tidak perlu mengantarku sampai keatas." Ujar Erick dengan ketus.


"Tidak apa-apa. Anggap kami sedang baik hati." Sahut Jason yang membuat Lia tertawa.


Erick mendengus kesal.


Sesampainya di dalam apartement, Erick segera membuka pintu dan berdiri menghalangi kedua insan yang bermesraan dibekakang mereka.


"Kalian boleh pulang sekarang." Usirnya dengan sopan.


"Kami masih mau bertamu." Lia mendorong tubuh Erick dan mereka menerobos masuk befitu saja, tanpa diundang. Hal itu membuat Erick menggeram. Seharusnya rumah ini dikasih jebakan tikus, agar tidak sembarang tamu tak diundang, masuk.


Setelah menutup pintu apartement. Erick menatap sekeliling ruangan. Ada yang berbeda dia rasakan di ruangan ini. Sesuatu dengan aroma kehidupan juga kehangatan. Erick masih meneliti sekitar ruangannya mencari tahu, perubahan apa yang terjadi.


Sayup-sayup dia mendengar gelak tawa. Suara yang ceria dari arah dapur. Tanpa sadar Erick melangkah kesana. Dari pintu dapur, dia melihat Laurent dengan celemek bersama seorang pelayan. Tampak gadis itu menyendokan sesuatu yang dicicipi oleh Jason. Dari expressi lucu Jason, bisa diketahui jika masakan itu kurang enak.


Erick tanpa sadar tersenyum kecil melihat wajah Laurent yang tertekuk. Tuan putri itu tampak kecewa. Kemudian dia menyendok makanan lainnya dan meminta Jason mencicipi. Laurent tersenyum riang sambil meloncat ketika tangan Jason memberi kode oke. Tampak lucu dan menggemaskan bagi Erick.


Tuan putri itu tampak berantakan, dengan rambutnya yang dikuncir jadi satu. Berkali-kali dia tertawa kecil mendengarkan lelucon dari Lia. Erick mengusap wajahnya dengan kasar. Pagi tadi dia sudah menyakiti wanita itu. Dia sungguh tidak menyangka jika Laurent masih ada ditempat ini. Erick pikir ketika dia kembali, apartement ini sudah kosong tanpa Laurent.


"Erick?" Erick tersentak kaget ketika suara Laurent memanggilnya.