48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Rendah Hati



"Kau tidak harus tampil. Tidak pernah ada anggota pin merah yang memberikan hiburan sebelumnya. " cegah Jason.


"Biarkan mereka berkicau. Tidak perlu menuruti kemauan mereka." bisik Jason lagi.


"Kenapa? Kau tidak bisa apa-apa ya, selain mengoceh?" sindir Laura Collins.


Lampu sorot masih tertuju pada Lia. Terdengar pula panggilan dari Host yang tertuju pada Lia.


"Bagimana Nona? Anda tentu tidak akan mengecewakan kami semua bukan?"


Ucapan Host membuat zoom kamera mengarah pada Lia. Jason sudah naik pitam, dia hendak berdiri dan menarik Lia pergi. Dan dia akan membuat perhitungan dengan penyelenggara acara. Yang penting Host tersebut akan tamat kariernya di dunia hiburan.


"Aku bisa menggantikanmu." Ujar istri tuan Jeff pengusaha permata.


"Tidak perlu nyonya Larry. Itu adalah tanggung jawab dia." cegah Laura Madison.


Lia berdiri. Tangan Jason menahannya dengan pandangan mata yang melarang. Lia menundukan wajahnya dan mencium bibir Jason. Kamera masih menyorot mereka dalam tampilan layar. Tepuk tangan penonton membahana melihat Lia yang mencium Jason, kemudian melangkah ke atas panggung.


"Hallo nona.. Terimakasih sudah mau berdiri di panggung." ujar host Acara tersebut.


Seseorang memberikan Lia, sebuah mic yang indah penuh permata. Lia tersenyum menerimanya.


"Hallo... perkenalkan nama saya Lia Oktavia Madison." Dengan berani Lia menggunakan nama Madison. Sementara Jason dan Laurent tegang. Laura tersenyum sinis.


"Seperti yang kalian lihat saya menggunakan pin merah. Dan, anda host acara menggunakan pin ungu ya?"


"Iya nona." ujar Host tersebut yang langsung berubah hormat ketika Lia menunjukan perbedaan kedudukan mereka.


"Baiklah pin ungu juga bagus. Saya juga suka warna ungu. Tadi yang bernyanyi nona Annet dengan pin hijau dan Nona Natalia dengan pin kuning bukan?" tanya Lia pada Host.


"Benar sekali nona. Apakah anda akan bernyanyi atau memainkan piano?" tanya Host dengan sopan.


Lia tersenyum anggun. Dia berjalan ke arah piano. Duduk dengan anggun. Mengusap kedua tangannya perlahan seakan merapalkan mantra. Kemudian tangan Lia menempel di tuts piano. Hanya dua jari. Telunjuk kanan dan telinjuk kiri. Lia menekan tuts piana, dengan nada do re mi fa sol la si do. Kemudian berbalik Do si la sol fa mi re do. Setelah itu dengan ke sepuluh jarinya. Lia mengacak bunyi di Piano dengan suara yang tidak beraturan.


Semua yang melihatnya mengernyitkan kening dan menutup telinga. Mereka tidak menyangka gadis itu mau saja tampil di panggung dan mempermalukan dirinya. Laura tertawa mengejek. Sementara Jason terpaku menatap keberamian istrinya. Dia bersiao akan menghancurkan siapa saja yang hendak menertawakan Lia.


Lia berhenti mengacau tuts pianos. Ia kemudian mengambil mic nya dan masih duduk di kursi. Dia tettawa kecil.


"Maaf saya mengecewakan anda semua, dengan nada sumbang piano. Atau justru anda malah senang?"


Lia berbisik pada host. Lampu sorot kemudian mengarah pada Annet, yang masih tertawa lebar.


"Nona Annet tampaknya terhibur dengan dentingan piano saya yang buruk. Tidak saya sangka selera musik anda, sama buruk nya dengan saya." ujar Lia dengan tersenyum kecil.


Annet langsung terdiam dan merasa risih dengan lampu sorot yang mengarah kepadanya. Semua pandangan orang otomatis tertuju padanya. Kata-kata selera musik buruk, membuat Annet merasa ditampar.


"Nona Annet dengan pin hijau nya, menyanyi dengan sangat luar biasa bukan? Jika anda semua hendak mengadakan pesta dan perlu entertainment, Mungkin bisa menjadikam nona Annet sebagai salah satu pilihan. Berikan tepuk tangan atas kehebatannya."


Mereka semua bertepuk tangaan untuk Annet. Lia menunggu hingga suara riuh menjadi reda.


"Dan untuk Nona Natali dengan pin Kuning, dia sangat luar biasa bukan memainkan piano tersebut. Saya bahkan terhanyut dengan permainan musiknya. Layak mengadakan konser dengam orchestra ternama."


Lampu sorot tertuju pada Natali yang duduk temang dengan expressi datar. Dia tersenyum tipis saat lampu sorot dan kamera mengarah padanya.


"Lihatlah wajah nona Natali yang sangat cantik. Pandai bermain piano dam sangat pandai menjalankan bisnis fashion. Jika anda seorang bujangan atau ada anak anda yang belum menikah. Tentu tidak salah, jika pilihan anda jatuh ke nona Natali. Istri yang hebat dan menantu yang luar biasa." ujar Lia yang sudah mengubah acara untuk mempermalukan dirinya menjadi ajang biro jodoh untuk Natali dan iklan pekerjaan untuk Annet.


"Seperti yang anda lihat, saya mengenakan pin merah. Jika seandainya semua yang memakai pin merah, bisa menguasai semua hal seperti menyanyi dan bermain piano dengan apik. Mungkin di lain kesempatan, kita tidak memerlukan club ini. Tidak perlu mengluarkan uang untuk menbayar kamu sebagi host atau nona Annet sebagai penyannyi. " ujar Lia lagi dengan nada bercanda.


Semua terdiam. Host menjadi gugup. Perkataan Lia menunjukan jika kedudukan mereka lebih rendah dari dirinya. Bukan dia yang harus menghibur mereka, tetapi mereka yang harus menghibur anggota pin merah.


"Semoga hal itu tidak terjadi nona Lia." ujar Host dengan menyeringai kecut.


"Maafkan saya nona." bisik Host dengan khawatir.


"Saya kembalikan pada pembawa acara. Maaf jika tidak bisa memberikan hiburan. Seperti seseorang yang mengatakan pada saya, jika keahlian saya hanyalah mengoceh." ujar Lia sambil mengarahkan pandangan pada Laura, yang terdiam.


Tepuk tangan dengan riuh tertuju untuk Lia. Gadis itu dengan tenang duduk kembali disisi Jason. Pria itu langsung berdiri dan mencium bibir Lia didepan umum.


"Menantu anda sangat Luar biasa nyonya Laura." ujar Istri tuan Jeff.


Laura hanya bisa tersenyum tipis menanggapinya.


Saat Lia dan Jason kembali duduk. Tuan Larry, suplier bahan kimia dunia, mengucapkan rasa bangganya pada Lia.


Lia hanya tersenyum. Bukan itu yang dia maksudkan saat tampil di panggung tadi. Dia hanya ingin menegaskan jika semua orang memiliki perbedaan dan talenta masing-masing. Dia yang tidak bisa bernyanyi bukan berati bisa disepelekan.


"Terimakasih tuan Larry."


"Saya juga senang mengenal anda nona Lia. Lain waktu kau harus hadir di acara club wanita khusus pin merah. " undang nyonya Larry lagi.


"Tentu saja nyonya Larry. " sahut Lia dengan sopan.


"Tidak rugi juga aku berpihak padamu." ujar Laurent sambil terkekeh.


Lia menyenggol tangan Laurent dan tertawa bersamanya.


"Kau mau tetap disini atau kita pergi sekarang juga?" bisik Jason.


"Bisakah kita pergi sekarang juga? Aku sudah bosan dan lapar." sahut Lia.


"Tentu saja."


Jason mengamit tangan Lia. Mereka berpamitan kepada semua anggota di meja. Sebelum acara usai dan hidangan muncul, sepasang makhluk Tuhan yang saling mencinta itu keluar dengan tangan jason yang memeluk pinggang Lia.


Sesampainya di luar ruangan pertemuan, Lia mencium aroma masakan dan pelayan yang mulai membawa piring-piring makanan untuk di sajikan.


Dia melihat jika pelayan-pelayan itu keluar dari ruangan samping.


Lia kemudian menarik tangan Jason untuk memasuki ruangan samping. Tampak sekali kesibukan keluar masuk dari pelayan-pelayan tersebut. Dan Lia tergiur dengan makanan yang mereka bawa. Mereka melewati Lia dan Jason sambil mengganguk sopan.


"Apakah anda hendak makan, tuan dan nyonya?" tanya seorang supervisor.


"Bisakah Disini saja?"


Dengan heran supervisor itu menunjukan sebuah meja di depan yang kosong.


"Kau yakin?" tanya Jason.


"Iya. Lagipula kau kan sudah membayar di club ini setiap tahun. Tidak ada salahnya kan kita makan disini. Di luar terlalu berisik." ujar Lia.


"Baiklah." Jason menuruti.


Mereka berdua mulai menikmati makanan di meja sederhana, tanpa hiasan dan keramaian. Hanya sebuah lilin yang dinyalakan oleh supervisor tersebut. Lia dan Jason hanya memakan hidangan utama dan hidangan penutup. Ketika selesai, Jason meletakan tip $ 100.


Diruangan tersebut terdapat Piano. Lia mendekati piano tersebut. Jason memandangi Lia. Gadis itu duduk di kursi piano dan mulai menekan tuts piano. Dia memainkan satu melodi lagu. Lagu yang tidak di kenal Jason, tetapi terdengar indah.


Tanpa Lia sadari seorang pelayan mengabadikan moment tersebut dengan live. Host yang melihat acara live dari unggahan pelayan tersebut segera menuju ke arah Lia berada. Gadis itu memainkan piano tanpa mengetahui jika dia sedang direkam dam ditampilkan di layar Ruangan pertemuan club bangsawan.


Setelah lagu yang dia mainkan selesai, Lia kembali kepada Jason dan mengajak suaminya untuk pulang. Mereka meninggalkan gedung pertemuan club dengan berpelukan.


Sementara di ruang utama. Mereka menikmati permainan piano Lia hingga usai.


"Sungguh luar biasa rendah hatinya nona Lia Otavia Madison. Dia merendah dengan mengatakan tidak bisa memainkan piano, hanya untuk menyelamatkan pekerja seni seperti saya ini." ujar Host yang disambut dengan gumaman setuju dari semua hadirin.


Di dalam mobil yang di kendarai supir. Jason bertanya pada Lia, "aku tidak tahu jika kau bisa bermain piano. Kenapa kau tidak memainkannya disaat mereka memintamu?"


Lia tertawa kecil. " Banyak hal yang kau tidak tahu sayangku. Kenapa? Kau kagum?" ujar nya meledek.


"Tentu saja aku semakin bangga padamu."


"Harus itu." ujar Lia sambil mencubit pipi Jason, kemudian dia melanjutkan perkataannya, "Aku tidak mau memaninkan piano di panggung dengan dua alasan. "


"Apa itu?"


"Pertama. Aku tidak akan membiarkan mereka mengatur diriku seenaknya. Mau membuly ku, no way!"


Jason mengacak rambut Lia dengan gemas.


"Yang kedua, hahhahha. Karena aku cuma bisa memakinkan lagu Kasih Putih dan beberapa lagu anak-anak. Dan karena sudah lama aku tidak pernah menyentuh piano, aku merasa jari-jari ku sudah kaku." ujar Lia dengan tergelak.


Jason ikut tertawa mendengarkan perkataan Lia. Saat ini semua orang di gedung, mengira Lia sangat pandai memainkan piano, namun tetap rendah hati. Namun pada kenyaataannya Lia tidak lah mahir. Dia hanya pernah memaksa tetangganya yang seorang guru musik untuk mengajarinya lagu yang dia sukai.


... 💖💖💖💖💖💖💖...