48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Rajawali bergoyang



Lia beralih mencari nama Diana. Mendial mode video call. Menunggu sesaat. Tidak ada jawaban. Ah iya, Lia lupa memberi tahu Diana jika itu nomornya. Tentu saja Diana tidak meladeni nomor yang tidak di kenalnya.


Lia mengirim pesan.


"Kakak, ini nomor adikmu yang paling cantik dan imut sedunia." kirim.


Pesan terbaca. Tak lama sebuah video call dari Diana masuk.


"Hallo... haiiii kaaaakkkaaaakkkk," Lia menjerit gembira melihat wajah kakak nya disana.


"Aku merindukanmuuuu. Muah. Muah. Muah." Lia mengirimkan ciuman jarak jauh pada kakaknya.


"Adikk nakal! Kenapa baru sekarang menghubungi ku?" Diana tampak senang sekaligus gemas melihat Lia.


"Hehehhe maafkan aku kakak." Ucap Lia menyeringai lucu.


"Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja? Apakah Jason memperlakukanmu dengan baik?" Diana mencecar Lia dengan pertanyaan.


"Aku baik-baik saja." Lia mengangguk. Kepalanya digelengkan ke kanan dan ke kiri dengan riang.


"Adik nakal. Kakak ingin sekali memencet hidungmu. Bisa-bisanya kau menikah dan kabur seperti itu." Ujar Diana dengan gemas.


Lia tertawa, sedikit memalingkan wajahnya.


Aku juga tidak ingin menikah seperti ini kakak.


"Kenapa kau menangis? Apakah terjadi sesuatu? Apakah kau tidak bahagia?" Diana merasa panik melihat air mata Lia.


Lia langsung memasang senyum lebar meskipun matanya sendu.


"Aku bahagia kakak. Aku hanya merindukanmu. Maafkan aku sudah pergi tanpa pamit." Ucap Lia dengan suara serak.


"Ah, adikku sayang. Jason sudah berpamitan untuk kalian berdua. Dia meminta izin dari ku untuk mencintaimu, dan dia berjanji akan selalu menjaga dan melindungi mu. Dia melakukannya bukan?"


Lia mengangguk. Hatinya berdebar. Jason meminta izin kakak untuk mencintai dan menjaganya? Perasaan Lia menjadi melambung tinggi.


"Kau mencintainya?" Tanya Diana sambil menatap mata Lia melalui layar ponsel.


Lia terdiam. Dia bingung harus menjawab bagaimana. Perasaannya pada Jason melebihi perasaannya pada pacar pertama dan juga pada Briant.


"Kenapa kau terdiam? Apakah dia menindasmu? Apakah Jason kasar padamu? Katakan dimana dia saat ini. Aku akan memarahinya. Apakah aku perlu menjemputmu?" Diana kembali gelisah melihat Lia termenung.


"Tidak kakak, bukan begitu. Aku... aku hanya merindukan Jason." Ucap Lia dengan lirih.


"Ah... Lia. Kau membuatku panik. Jadi kau benar jatuh cinta padanya.Sudah kuduga."


"Ih kakak. Kaya peramal saja."


"Hahahaha... biar begini insting seorang kakak selalu bekerja. Oh ya, sudah berapa hari Jason pergi?" Diana tertawa geli melihat wajah Lia yang tersipu.


"Baru tiga jam."


"APA?!"


"Kenapa berteriak? Kau membuatku kaget kakak!" Lia cemberut.


"Tiga jam katamu? Dan kau sudah bewajah jelek seperti ini. Huh!" Diana jadi teringat ketika awal dia berhubungan dengan Andrew. Saat mereka tinggal bersama di Condominium, setiap saat Andrew selalu mengirimkan pesan.


"Salah ya?" Tanya Lia dengam polos.


Diana menahan senyuman.


"Tidak salah kok. Itu tandanya kamu jatuh cinta dengan Jason. Hahhaha ternyata Jason berhasil juga menaklukan kekeras kepalaan mu."


"Ah kakak. Aku ini adikmu bukan Jason." Lia merajuk.


"Iya aku tahu. Cepat punya anak sana, kau tidak akan kesepian jika Jason pergi. Lihatlah kakak, sudah punya tiga anak."


Diana tertawa dengan gembira.


"Kakakkkkk kau hamil lagi?" Tanya Lia dengan bersemangat.


"Belum." Handphone Diana tampak berguncang. Dia berpindah dari satu ruangan menuju ruangan lainnya.


"Lalu?" Lia tidak mengerti.


"Lihat itu." Pintu kamar bermain terbuka dan disana tampak Conrad yang sedang belajar, sedangkan Aaron dan Francesca sedang asyik mewarnai.


"Siapa gadis itu."


"Anakku. Hai anak-anak. Lihat ini aunty Lia menyapa."


"Hallo aunty," sapa mereka serempak.


"Hai kesayangan auntyyy apa kabar?" Lia menyapa keponakannya dengan gembira.


"Aunty kemana saja sih. Conrad kangen."


"Alon juga kangen. Kak Flances juga kan?" si kecil Aaron tidak mau kalah.


"Aunty juga kangennnn banget sama kalian. Ini yang paling cantik namanya siapa?"


"Francesca aunty."


"Hai Francesca, namaku aunty Lia." sapa Lia dengan ramah.


"Aunty ada dimana sih? kok tidak pernah datang lagi?" tanya Conrad dengan penasaran.


"Coba tebakkkk aunty ada dimana? aunty ada di Parissss." Lia berseru dengan riang.


"Wowwww. Mommyyyy kapan kita mengunjungi aunty Lia? Paris mommy. Kita belum oernah kesana kan?" Conrad bersemangat.


"Ayo pelgi sekalang. Bental Alon ganti baju dulu."


"Eiii... Aaron. Paris itu jauh, nak. Kita harus naik pesawat terbang lima belas jam. Harus punya passport dan Visa." Diana menjelaskan.


"Oww. Gitu ya. Besok-besok ya aunty. Alon bilang papi dulu yaaa," ujar Aaron dengan sok tahu.


"Okey sayang. Aunty tunggu kalian. Dahhhh. Kakak, aku mau bicara dengan mu saja, bisa kan?"


Diana membawa smartphone nya keluar dari kamar bermain. Di ruang yang berbeda Lia menanyakan tentang Francesca. Betapa terkejutnya Lia mendengar asal usul gadis kecil itu. Dia tahu kakaknya memang wanita tangguh, tapi kali ini, jiwa besarnya membuat Lia salut.


*


Malam harinya Lia kembali merasa kesepian di dalam kamar. Biasanya meskipun Jason pergi, malam hari nya pun, Jason selalu menyempatkan diri untuk makan malam bersamanya.


Sekarang di dalam rumah sebesar ini dengan puluhan pegawai, Lia tidak berminat untuk berbicara dengan mereka. Sangat berbeda dengan kebiasaan Lia yang suka mengerjai pelayan di rumah.


Lia tersenyum-senyum sendiri saat mengingat, bagaimana dia bangun dengan memeluk Jason.


Jason saat itu bersandar dengan nyaman di dadanya. Pipi Lia memanas mengingatnya. Dia jadi penasaran apakah pria itu sadar ketika melakukannya atau tidak.


Lia memutuskan mengganti pakaiannya dengan lingerie. Berjalan perlahan dengan gemulai dan menaiki tempat tidur dengan sensual. Lia merebahkan diri terlentang diatas tempat tidur. Kemudian dia berbalik ke arah Jason yang biasanya berbaring. Membelai sisi itu dan juga bantal yang biasa di pakai pria itu.


Alunaan musik terdengar. Handphone Lia berbunyi. Video call dari Jason.


Lia buru-buru menyelinap kedalam selimut. Dia malu jika sampai Jason tahu dirinya mengenakan lingerie.


"Haiii... " sapa Lia.


"Kenapa kau masuk ke dalam selimut?" tanya Jason langsung.


"Ei... memangnya kenapa? Aku kan mau tidur." Lia merasa heran dengan pertanyaan Jason.


"Aku ingin melihat lingerie hitam itu."


"Siapa yang pakai lingerie."


Lia menjadi heran. Bagaimana pria itu bisa menebak dengan benar. Lia langsung celingukan memeriksa sekeliling kamar.


"Ayolahhh tidak perlu malu. Kita kan berjauhan. Aku juga tidak bisa menyentuhmu." Jason merayu.


Pria itu tampaknya baru selesai bekerja. Dan dia baru saja melepaskan pakaiannya. Meskipun sudah sering dia melihat otot-otot tubuh pria itu, tapi melihatnya di Video call tetap saja baru pertama kali dan Lia menjadi malu.


"Heiii jangan palingkan wajahmu sayang."


"Kau baru pulang kerja?" tanya Lia.


Dia meletakan handphone nya bersandar pada bantal.


"Iya. Aku sangat lelah dan merindukanmu." Jason tampaknya masuk ke dalam kamar mandi.


"Kau belum mandi?"


"He eh."


"Ya sudah mandi dulu. Nanti saja disambung lagi." ujar Lia.


"Jangan ditutup. Temani aku." Jason melarang Lia mematikan sambungan video call.


"Baiklah. Aaaaaaa Jason mesummmm" Lia berteriak dengan kaget. Tanpa sengaja Gadis itu keluar dari selimut karena kaget dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Tuh kan kau pakai lingerie." suara Jason terdengar berat.


"Jasonnnn ayooo jangan mesummm." Lia mengintip disela-sela jemarinya.


"Kenapa harus malu. Aku suami mu. Tunggu disana aku akan mandi."


Lia mengintip dari balik jemarinya. Dia dibuat panas dingin ketika melihat tubuh telanjang Jason. Ada rajawali yang bergoyang. Meskipun matanya terpejam rajawali itu tetap saja bergoyang-goyang di pelupuk matanya.


Saat dia mengintip dari balik jemarinya, Jason sudah melangkah menuju bilik mandi. Lia kembali melihat tubuh telanjang Jason bagian belakang. Polos dan sexy.


Lia menjadi panas dingin dan gelisah. Dadanya berdebar kencang. Nafasnya sesak dan kepalanya pusing. Jason meletakan handphone nya bersandar di dinding westafel, sementara dia mandi di dalam bilik mandi yang terbuat dari kaca putih dove. Meskipun tidak tampak nyata, tapi siluet itu bisa membuat nafas Lia semakin sesak. Dan dia terus mengintip dari balik jemarinya.


Jason keluar dari kamar mandi. Lia memekik dan langsung menutup matanya. Jason keluar dengan telanjang dan menggosok tubuhnya dengan handuk. Lia sendiri saat ini tidak sadar, jika dirinya memberikan tontonan menarik untuk Jason.


Lia dengan lingerie hitam nya sudah duduk dengan kaki tertekuk di atas kasur dan mata yang ditutup tangan dengan jemari yang bergerongga. Ponsel itu masih bersandar di bantal. Dan pemandangan yang Jason lihat kali ini adalah paha mulus dengan celana transparant disana. Sangat indah dan memukau segitiga bermuda milik Lia.


"Liaaa, kau membuatku panas dingin," ujar Jason dengan suara serak.


"Kau sudah pakai baju apa belum?" tanya Lia masih dengan menutup matanya.


"Ehem,"


"Benaran."


"Ehem."


Lia mengintip dari sela jemarinya. Tampaknya Jason sudah berbaring di tempat tidur. Lia melepaskan tangan yang menutup matanya.


"Jangan berganti posisi," Ujar Jason masih dengan suara serak.


"Aaaaa. Mesummm. Tutup matamu." Lia menyadari posisinya yang salah. Dia langsung buru-buru masuk kembali ke dalam selimut.


Jason melihat hal itu dengan tersenyum lebar. Bukannya menutup layar handphone terlebih dahulu, malah Lia menyuguhkan adegan yang menggemaskan.


"Aku ingin sekali menciummu saat ini juga." ujar Jason dengan gemas.


"Genit."


"Lia, tolong masukan handphone mu kedalam selimut." ujar Jason padanya.


"Ihhhh.... dasar mesummm."


"Aku kan mesum hanya padamu." Jason beralasan.


"Beneran?" tanya Lia.


Jason menggumam dan mengangguk.


"Jika aku kembali, pakai lingerie itu ya. Kau tampak mempesona." Pinta Jason dengan memelas.


"Gak mau." jawab Lia dengan malu sambil membenamkan wajahnya di bantal


"Kenapa kau begitu menggemaskan. Kau membuatku semakin merindukan mu."


Lia tersenyum malu.


"Lia... lia.. Kau seharian ini membuatku pusing dan rajawali sakit." ujar Jason lirih.


"Kenapa begitu?" tanya Lia tak mengerti.


"Karena merindukanmu." ujar Jason dengan irih.


Mereka terus mengobrol tak tentu arah. Lia akhirnya mengantuk dan tertidur. Jason memandang wajah Lia yang tertidur. Meskipun tubuh Lia tidak ada disisinya, Jason merasa cukup puas melihat wajah Lia yang tertidur pulas disisinya. Sebelum mematikan sambungan telphone, dia mencium Lia melaluo layar handphone nya.


"Good Night, Lia."


...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟...



...