
"Erickkkk ... Jangan pergiiii ...."
Laurent masih dengan tubuh tertutup kain selimut keluar mengejar Erick. Gadis itu tidak memperdulikan rasa sakit di pangkal paha nya. Dia hanya ingin mencegah Erick pergi. Semua bisa dijelaskan. Semua bisa diperbaiki.
Namun, sayang sekali berulang kali Laurent berlari memutari ruang keluarga dan ruang tamu, dia tidak dapat menemukan Erick. Pria itu begitu cepat menghilang, seakan memiliki pintu ajaib.
Laurent dengan lemah, duduk di sebuah sofa. Dia meringkuk dengan lutut yang tertekuk. Dia terisak, menangis tersedu-sedu seraya memanggil-manggil nama Erick. Bahu nya terguncang dengan keras.
Para pelayan yang melihat keadaan Laurent, tidak ada seorang pun yang berani mendekati. Ini pertamakali nya bagi mereka untuk melihat sisi menyedihkan dari Laurent. Laurent yang mereka kenal adalah, nona muda yang selalu ceria dan optimis.
Untuk beberapa saat lamanya, Laurent duduk dengan posisi yang menyedihkan. Ketika tangisan membuat perasaannya menjadi lebih baik, Laurent mengusap sisa air mata dengan kain yang membungkus tubuhnya.
"Aku tidak akan menyerah Erick." ujar nya lirih.
Laurent kembali kedalam kamarnya dengan tertatih. Dia berbaring diatas tempat tidur dan memandangi tetesan darah yang melebar di sprei. Laurent kemudian berbaring di sisi Erick, sebelymnya merebahkan diri. Dia cium aroma parfum yang masih menempel disana, penuh perasaan. Hingga akhirnya gadis itu terlelap.
Sementara itu, masih di Penthouse yang sama, di salah satu kamar tamu, Erick duduk di lantai dengan bersandar pada dinding. Berkali-kali dia meremas rambutnya yang cepak. Erick merasa dipermainkan oleh kenyataan.
Dalam hidupnya dia bersumpah, jika Sonya ... cinta pertama dalam hidupnya, akan menjadi satu-satunya perawan yang dia miliki. Sonya akan menjadi satu-satunya cinta sejati dalam hidupnya. Dan hanya Sonya wanita yang akan dia nikahi.
Tapi, perlahan dengan berjalannya waktu ... semua telah berubah. Sebesar apapun kekuatan Erick untuk menjauhkan dirinya dari cinta .... Seberapa sering dirinya menjalin hubungan dengan wanita, hanya untuk kepuasan sesaat saja, tetapi pada kenyataan dia perlahan mulai kalah.
Gadis kecil itu berubah menjadi gadis dewasa yang berhasil menggoda hatinya. Tidak ada satupun dari sikap ataupun wajah Laurent yang mirip dengan Sonya. Mereka seperti dua kutub magnet yang bertolak belakang.
Dan Erick tidak tahu, kapan semua itu di mulai. Setiap saat Laurent ada didekatnya, dia merasa bahagia. Erick seringkali jatuh dalam perasaannya pada Laurent, sebelum akhirnya dia tersadar dan berjuang untuk memegang teguh pendirian awal. Hanya Sonya.
Bagi Erick, sumpah adalah sesuatu yang tidak dapat diingkari. Sumpah itu adalah lambang kesetiaan. Seperti halnya dia sudah bersumpah dalam hati untuk mengikuti Jason. Sampai mati pun, Erick tidak akan pernah menghianati sahabat terbaiknya.
Dia mendengar dengan jelas teriakan Laurent dan tangisan gadis itu. Ingin sekali dia menghampiri dan mendekap gadis itu. Tetapi langkahnya terlalu berat. Mungkin harga diri dan keangkuhannya yang menghambat.
Erick perlahan keluar dari kamar tamu, setelah mendengar Laurent beranjak dari ruang tamu. Dia memandangi sekeliling ruang Penthouse. Bangunan yang bergitu mewah dan dipenuhi dengan barang-barang berharga, membuat Erick menjadi semakin tidak layak.
Ini salah satu hal yang membuat dirinya meradang. Dia seorang pria dengan harga diri dan keangkuhan. Bagaimana dia bisa hidup dibawah bayangan kekayaan istrinya. Bagaimana seorang suami bisa bersikap, jika istri mereka memiliki lebih banyak uang dan jauh lebih disegani?
Dia tahu dengan jelas, bagimana mereka yang bergelimangan harta dan kekuasaan , selalu memandang sepele pada mereka yang dibawahnya. Apalagi Erick, mengenal tuan Madison dengan baik. Bahkan pria tua itu juga selalu memberinya seorang wanita, untuk dinikmati. Bagaimana tidak tahu malunya Erick, jika merangkak meminta daging, dikala selalu mendapatkan remahan dari tuannya.
Erick dengan segenap perasaan yang berkemelut didalam hati, melangkah keluar dari penthouse. Sebelum sempat dia meletakan kelima jarinya di pegangan pintu, seorang pelayan memanggil dirinya.
"Tuan Erick ?"
Erick menoleh.
"Nona Laurent, mencari anda." Pelayan tersebut berbicara dengan nada heran. Raut wajahnya pun menunjukan hal yang sama. Dia menduga-duga apa yang terjadi dengan mereka berdua. Apalagi saat ini, Erick hanya mengenakan kemeja dengan dua kancing terbuka, kemeja itu pun tampak berantakan. Celana panjang yang tidak disabuki dengan benar, juga jas yang digenggam erat.
Erick sesaat terdiam. Kelima jemarinya masih memegang pegangan pintu berbentuk persegi panjang minimalis. Dia ragu dengan apa yang harus dilakukannya. Jemari tanganya bergetar.
"Katakan pada nona Laurent, jika aku sudah pergi." ujar nya dengan mantap.
Erick kemudian menarik pintu dan pergintanoa menunggu jawaban dari pelayan. Dengan menggunakan lift tunggal khusus Penthouse, Erick memencet tombol lobby. Perlu waktu beberapa menit lamanya, tabung raksasa iti membawa dirinya meluncur ke bawah dari lantai tiga puluh tujuh.
Sesampainya di Lobby, dia meminta vallet untuk mengambil mobil miliknya. Dengan melemparkan jas kedalam mobil, Erick mengemudikan mobil dengan kencang, menembus kegelapan malam di kota yang tak pernah tertidur.