48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Kencan Pertama



Lia tidak dapat menutupi kegembiraan di hati nya. Meskipun bukan pertama kali berada di ketinggian sekian ribu kaki di atas tanah, tetapi ini pertama kalinya dia berada dalam satu kokpit dengan pilot.


Helikopter yang di bawa Jason melayang melintasi pulau dan juga lautan. Lia mengagumi setiap hal yang dia lihat. Baginya ini suatu anugerah, karena belum tentu kesempatan kedua akan dialaminya.


Jason sesekali menoleh pada Lia dan tersenyum. Dia tidak berpura-pura anggun dan menyembunyikan sikap senangnya. Sesungguhnya tempat tujuan Jason sudah dekat, tapi pria itu memberikan satu putaran lagi.


"Aku melihat sebuah pulau yang indah disana, apakah kita akan kesana?" tanya Lia dengan bersemangat.


"Iya."


Helikopter terbang mendekat ke arah pulau kecil tersebut dan mulai mencari landasannya. Jason berhasil melandaskan helikopter tersebut dengan mulus. Baling-baling mulai berputar perlahan dan beberapa orang sudah menanti di luar.


Jason membantu Lia melepaskan sabuk pengaman dan membantu gadis itu turun dari helikopter. Beberapa pengawal dan pelayan sudah berjejeran menyambut mereka.


Lia terkagum melihat keindahan kastil dihadapannya yang berada diatas tebing. Bagian luar kastil tersebut adalah tembok dari batu yang terawat dengan baik, sedangkan bagian dalamnya nampak interior modern yang klasik.


Semua nya tampak sangat memukau. Dia bagaikan seorang remaja yang berjalan kesana kemari dengan senyum lebar di wajah. Menyentuh setiap keindahan dengan penuh kekaguman.


"Tempat ini indah sekali." Celetuk Lia tanpa menoleh ke arah Jason.


"Tapi tampaknya tempat ini sangat sepi. Apa hanya ada pelayan dan pengawal yang menempati tempat ini?" Tanya Lia sambil menoleh ke arah Jason.


Pria itu mengangguk.


"Berapa gaji mereka sebulan?" tanya Lia sambil berbisik.


"Kenapa?"


"Aku hanya penasaran saja."


"Kau mau menjadi pelayan disini?"


"Hahhahahaha... ya enggak lah, "Lia tertawa geli. Kemudian gadis itu terdiam dan menoleh pada Jason dengan serius.


"Tapi, jika gajinya setara dengan gaji manager aku tidak keberatan."


"Gadis matre."


"Eitsss matre itu kebutuhan supaya hidup bisa lebih baik asal jangan matrelistis."


"Apa bedanya?" Tanya Jason dengan geli.


"Beda lah. Setiap orang apalagi wanita di wajibkan matre, agar semangat selalu mencari uang agar memiliki kehidupan lebih baik, dengan halal tentunya. Tapi kalau matrialistis berarti mereka akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kebutuhan materi." ujar Lia dengan panjang lebar.


"Lalu, jika aku memberimu gaji managers, apa kau akan tinggal disini?" tanya Jason dengan serius.


"Hmm... aku pikir-pikir dulu ah," sahut Lia sambil menaiki tangga ke lantai atas.


Jason hanya menggelengkan kepalanya, bukannya tadi dia sendiri yang meminta gaji managers, sekarang dia juga yang bersikap tidak menginginkannya. Gadis aneh.


"Jika aku tahu kau akan membawaku ke tempat seperti ini, aku tidak akan mengenakan pakaian kerja ini," ujar Lia dengan kesal seraya melepaskan blazer dan sepatunya.


Dia berjalan menaiki tangga dengan karpet tebal itu sambil menenteng sepatu dan blazernya. Jason yang mengikuti gadis itu hanya tersenyum lebar. Sesampainya di atas Lia dibuat kagum dengan keindahan ruangan tersebut.


Lukisan antik bertebaran di setiap sudut ruangan, gucci, patung-patung antik dan banyak sekali ornamen yang begitu mendetail.


Ketika pintu ruangan lain terbuka tampak sebuah kamar bergaya klasik bagaikan kamar seorang ratu. Tampak foto seorang wanita yang sangat cantik di sana. Berdiri sangat anggun dengan mata biru nya.


"Dia ibuku,"


Jason sudah berdiri dibelakang Lia dan meletakan kedua tangannya dibahu kecil gadis itu. Jason ingin sekali memeluk bahu Lia, tapi keinginanya dia tahan. Lia bukanlah wanita yang sama yang sengaja mendekati dirinya karena kekayaan.


"Cantik dan anggun sekali." Gumam Lia.


"Ayo kita keluar, akan kutunjukan kamarku."


Jason menarik tangan Lia.


Lia mengikuti Jason. Sentuhan tangan Jason yang menggenggam tangannya dia abaikan. Bagi Lia semua hanyalah persahabatan antara pria dan wanita. Dan dia sudah terbiasa dengan jason yang suka menarik dirinya kesana kemari.


Kamar Jason ta kalah luasnya. Dan di sana juga tampak foto Pria itu yang mengenakan coat coklat berbulu, berdiri dengan gagah dan tatapan mata yang dingin namun berkharisma. Lia tertegun menatap foto tersebut. Dia baru menyadari jika Jason tampak sangat tampan.


"Jangan terlalu terpesona, awas jatuh cinta kepadaku."


Perkataan Jason mengagetkan Lia yang terpaku menatap foto Jason. Gadis itu menatap Jason dengan semburat merah di pipinya yang tidak dapat dia atasi.


"Yeaaa... aku cuma heran, ternyata kau fotogenik juga ya. Hanya keren di foto," ucap Lia dengan santai sambil melangkah keluar dari kamar Jason.


"Bilang saja, kalau kau sudah mulai terpesona dengan diriku." Teriak Jason dari dalam kamar.


"Mana mungkinnnn! Kau pasti yang sudah terpesona dengan diriku." Balas Lia dengam lantang sambil menghempaskan dirinya di sofa.


Ah... sofa ini begitu empuk, menenggelamkan Lia dalam kelembutannya. Lia menyandarkan tubuhnya sambil memeluk bantal kecil berbulu angsa dan memenjamkan matanya.


Sesaat dia terhanyut dalam kelembutan sofa tersebut. Dan sedikit tergelitik dalam benaknya, mengingat Jason tidak membantah perkataannya. Kemana perginya pria itu?


Lia membuka matanya dan dia dikejutkan dengan sosok Jason, yang berdiri sangat dekat denagn dirinya. Pria itu berdiri di belakang sofa bulat tersebut, sambil memegang bahu sofa dan menundukan wajahnya dekat dengan Lia.


"Kalau iya bagaiman?" Suara Jason yang berat tiba-tiba terdengar, menggugah kesadaran Lia dari keterkejutannya akan sosok Jason yang sangat dekat dengan dirinya.


Gadis itu sontak kaget, dia dengan reflek dia melayangkan bantal di tangannya dan menimpuk wajah Jason beberapa kali. Jason sontak terkejut dan mundur kebelakang sambil merebut bantal yang di pegang Lia.


"Kenapa kau memukulku, kasar sekali!" Ujar Jason dengan kesal.


Seumur hidup baru sekali ini ada wanita yang bersikap kasar padanya, menjewer telinga dan menimpuk dirinya. Gadis ini luar biasa memiliki mental yang tangguh.


"Habis kau membuatku terkejut. Menyebalkan," ujar Lia dengan cemberut.


"Kau yang menyebalkan." Balas Jason.


"Kau yang menyebalkan." Balas Lia kesal.


"Aku tinggal kau sendiri disini baru tahu rasa." Ancam Jason.


"Kau tidak akan berani."


"Kenapa tidak?"


"Karena itu akan membuatku marah padamu."


"Memang apa perduliku jika kau marah padaku?" Sahut Jason dengan suara mengejek.


"Tentu saja kau perduli. Jika aku mendiamkan dirimu seumur hidup, apakah kau akan memiliki teman untuk adu bicara seperti ini?" Lia mengangkat satu alis dan mengerlingkan matanya.


"Aku tidak perduli. Setidaknya aku bisa mengurungmu di kastil ini dan menjadikanmu salah satu koleksi ku." Balas Jason dengan angkuh.


"Hei, enak saja bilang tawanan,koleksi. Memangnya aku barang apa." Lia dengan kesal menutup mulutnya rapat-rapat dan berjalan keluar menuju balcony.


Gadis itu kembaki dikejutkan dengan pemandangan indah. Hamparan rerumputan hijau yang dirawat dengan rapi, bunga-bunga dan pepohonan yang tersusun dengan indah dan diujung taman tersebut adalah tebing yang menampilkan keindahan lautan dibawahnya.


Tempat ini bagaikan buku dalam dongeng, sebuah kastil indah di tepi lautan dengan dirinya sebagai putri yang menanti pangeran berkuda putih. Sayang sekali Lia belum menyadari jika pangeran berkuda putihnya datang dengan helikopter.


"Aku lapar."


Lia menoleh pada Jason dan menghampiri pria tersebut.


"Sejak tadi, kau memiliki banyak pelayan tetapi tidak menawari aku makanan bahkan minuman."


"Hahahaha, ternyata kau bisa juga meminta sesuatu. Ayo kita turun ke ruang makan."


"Jason, bagaimana kalau kita makan di sana," Lia menunjukan taman dibawah.


"Piknik Jason. Aku ingin tahu rasanya makan di bawah sana," ujar Lia dengan senyum nakalnya.


Jason membunyikan bel. Tak lama seorang pelayan datang.


"Sediakan makan siang di taman." Perintah Jason pada pelayan tersebut.


Pelayan itu menoleh pada Jason meminta persetujuan dan Jason hanya mengangguk, mengiyakan.


Tidak perlu waktu yang lama, hari ini berjalan sesuai dengan keinginan Lia.


Hamparan kain diatas permadani rumput, berbagai makanan dan buah, yang ditemani dengan pemandangan alam yang indah dan udara cerah yang sejuk.


Lia tertawa kecil melihat jason yang kesusahan menikmati linguini with shrimp (varian dari spaghety dengan udang). Pria itu memegang piring di tangan dan sibuk memutar linguini dengan garpunya. Hal itu menimbulkan sikap jahil Lia untuk menggoda Jason. Lia meletakan mie di bawah dan membungkuk, kemudian Lia menyeruput mie tersebut panjang-panjang dengan bersuara.


Slurpppp......


Tingkah Lia membuat Jason tersedak.


"Hei! Tidak bisa kah menikamti makanan dengan anggun sedikit?"


"Ini cara nikmat menikmati varian mie. Seperti di iklan-iklan, slurpppp..." kembali Lia menyeruput mie nya dengan suara yang keras kemudian mengunyah dengan mulut penuh.


"Ayoo di coba, tidak perlu sok cool dihadapanku. Ayoo...ayoo... gak usah malu-malu." Lia terus memaksa Jason untuk menyeruput mie seperti dirinya.


Akhirnya Jason patuh, dia melakukan seperti yang Lia perbuat.


Slurrrppp.


"Hahhahahahhaha.... tampangmu lucu." Lia tergelak melihat bagaimana Jason mengerucutkan bibirnya untuk menikmati makanan. Dan pria itu tidak sadar jika tindakannya sudah berhasil diabadi kan oleh Lia.


"Kemarikan handphone mu! Hapus foto ku!" Ujar Jason dengan gusar.


"Eitsss... ngapain. Ini kan hp aku, suka-suka aku dong." Lia menyembunyikan handphone nya.


Jason tidak berusaha merebut, malah dia mengambil linguini itu banyak-banyak dan menyeruputnya dengan keras-keras seraya membesarkan matanya.


Lia tertawa geli dan tanpa sadar, dia sudah memposisikan handphone nya untuk kembali mengambil foto Jason.


Saat itu juga dengan cepat Jason meraih handphone Lia. Tapi Lia dengan cepat pula mempertahankan handphone nya dan menarik dari genggaman Jason. Hasilnya Jason terjatuh menabrak Lia dan bibir Jason menyentuh pipi Lia.


"Jasonnnn!!! JOROKKKKK !!! IIIIHHHHHH!!!! BANYAK MINYAK NYA TAU!!!"


Lia mendorong Jason dengan kesal, karena bibir jason yang baru saja mengunyah linguini terasa berminyak di pipi nya. Lia segera mencari tisyu untuk mengusap pipo nya.


"Cih! Segitu saja marah. Kan kamu yang menarik tanganku." Balas Jason dengan cuek sambil menghabiskan makanannya.


"Siapa suruh kamu mau mengambil handphone ku. Lihat kotoran bibir mu. Ihhhh!" Lia menunjukan lemak di tisyu pada Jason.


"Oke maaf. Ini aku bersihkan bibir ku, sini aku cium ulang pipi mu." Jason mencondongkan tubuhnya mendekati Lia.


"Eits... Gak Mau! Sapa juga mau dicium sama kamu, iya kalau brother Briant, ga masalah." ujar Lia sambil menggerutu.


Lia tidak sadar, ucapannya membuat Jason kesal. Ingin rasanya dia melemparkan linguini dihadapannya dan meninggalkan Lia. Tapi dia menahan diri. Semuanya harus berjalan lancar hari ini dan berkesan untuk Lia. Jason masih memerlukan Lia.


"Memangnya Briant suka dengan gadis pecicilan kaya kamu, mana mulut bawel lagi."


"Ini bawel, karena kamu yang nyebelin. Kalau Briant kan manis, jadi ikut manis dah sama dia." Kata Lia sambil tersenyum sendiri.


"Mana mau Briant sama gadis kecil kaya kamu, mana dada rata lagi. Lebih cakep dan sexy si Grisella," Ejek Jason sambil menunjuk ke dada Lia.


Lia melotot dan menutupi dadanya dengan kedua tangan.


"Siapa bilang dadaku rata. Emang papan setrikaan apa? Biar begini masih ori gak kw." Lia melotot jengkel pada Briant.


"Dada rata gitu saja kok bangga."


"Enggak rata."


"Mana coba, sini buktikan." Jason mengulurkan tangannya ke arah dada Lia.


"Hoiii... lalat buah mesum!" Lia menepis tangan Jason.


"Panggil lalat buah lagi, aku cium kamu!" Ancam jason dengan gemas.


"Lalat buah! Lalat buah! Lalat buah mesummm!" Teriak Lia sambil berlari menjauh sambil tertawa senang.


"Aku cium kamu ya." Balas Jason sambil berlari mengejar Lia.


Taman indah yang biasanya sepi, menjadi ceria karena kehadiran dua insan yang asyik bercanda. Wajah pelayan yang biasanya datar dan tegang setiap kali kedatangan tuan nya, mulai tersenyum dan berbisik-bisik menatap ke arah kedua insan tersebut.


Mereka berkejaran sambil tertawa untuk beberapa saat, hingga Jason menambah kecepatan larinya dan berhasil menangkap Lia. Dia memeluk Lia yang menutupi mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan, sambil meronta dari pelukan Jason.


"Lepaskan tanganmu. Kau harus dihukum karena memanggilku lalat buah." Perintah Jason yang dijawab Lia dengan gelengan kepala.


"Enggak lagi. Enggak lagi." Ujar Lia dibalik tangannya.


"Oke! No more lalat buah!"


"Iya gagak pemarah! Tidak ada lalat buah!"


"Apa gagak?" Jason memincingkan matanya, karena julukannya kali ini berubah menjadi burung hitam jelek dengan suara yang jelek.


"Gagak jelek!" Ucap Lia dengan terkekeh dibalik tangannya.


"Lepaskan tanganmu, aku cium kau terus menjuluki diriku dengan yang jelek-jelek."


"Tapi kau memanggilku dengan sebutan kucing liar," balas Lia jengkel.


Gadis ini masih tidak sadar, sedari tadi mereka berargumentasi, dirinya masih dalam pelukan Jason dengan posisi wajah yang berdekatan. Dia hanya bersikukuh dengan argumentasinya. Sedangkan posisi mereka saat ini tampak begitu mesra bagi para pelayan dan pengawal yang menyaksikan.


"Oke, Kau mau marah kucing liar? Silahkan menghukumku dengan ciumanmu." Ujar Jason dengan memonyongkan bibir nya.


"Heiiiii... siapa juga yang mau cium kamu."


"Katanya tidak terima."


"Iya."


"Lalu?"


Lia melepaskan tangan yang menutup bibirnya dan mengigit lengan Jason.


"Aduh! Keras sekali lenganmu. Gigiku sakit tau!" Gerutu Lia sambil memegang pipi nya.


Wajah mereka berdekatan. Jason melihat bibir ranum Lia yang terbuka dan bergerak-gerak dihadapannnya, seakan sebuah undangan. Semakin dipandang dari dekat, semakin menarik wajah gadis itu.


Jason menahan diri dan melepaskan pelukannya, kemudian menjauhi Lia. Lia yang tersadar kalau Jason sudah meninggalkannya, buru- buru mengekor di belakang pria itu.


"Maaf; jangan marah ya. Gak sakit kan?"


Jason masih diam. Lia mengira jika pria itu marah karena gigitan nya juga julukan yang diberikan oleh Lia. Dan tiba-tiba saja Lia merasa takut. Mengingat sifat usil Jason, dia khawatir jika pria itu kembali iseng dan meninggalkan dirinya sendiri di pulau tersebut. Dalam kastil yang sepi.


"Aku gak akan mengigitmu lagi yaa.. juga tidak akan memanggil mu lalat buah. Tapi hemmm... Rajawali? Bagaimana? Rajawali itu kan burung yang keren dan bisa terbang tinggi." Lia mencoba merayu Jason.


"Jangan marah yaaaa.... ayo udah besar kok ngambekan." Lia menarik bagian belakang Jason yang masih berjalan di depannya.


Tiba-tiba Jason berhenti membuat Lia yang mengekor menabrak punggung Jason. Gadis itu menggerutu dengan perlahan sambil mengusap keningnya. Dan tanpa dia sadari, Jason sudah berbalik dan mengecup pipi Lia.


"Nah, sekarang baru impas." Jason tertawa dan memepercepat langkah kakinya memasuki kastil.


Sementara Lia yang sebelumnya menggerutu, menjadi bengong sambil mengusap pipinya. Butuh waktu sepuluh detik hingga akhirnya dia tersadar.


"JASONNNNNNNNN!!!!!"


💗💗💗💗💗💗💗💗💗


Jangan lupa dukungannya ya, rate bintang lima, like, comment, share dan Vote.


Trimakasih.