48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Masih menghilang?



Sementara itu, Jason yang keluar dari restaurant dan meninggalkan ibunya, segera menyalakan bluetooth dan menghubungi butler Bernard. Dari langkah kaki, postur tubuh dan raut wajahnya, semua orang bisa melihat juka pria itu sedang marah dan resah.


"Bagaimana bisa Lia hilang!" Bentak Jason membuat petugas valley yang badu saja keluar dari mobilnya, menjadi kaget.


Jason segera masuk ke dalam mobil dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi. Dia sudah tidak sabar menuju ke arah area mansion dan mencari Lia. Jantungnya seolah berhenti berdetak mendengar Lia hilang.


Butler Bernard menceritakan apa yang dikatakan oleh pengawal kepadanya.


"Bodoh sekali! Kenapa tidak satu orang saja yang mengantar anak itu!" Maki Jason dengan emosi.


"Karena ada dua anak tuan, dan sepeda yang digunakan pengawal adalah model sports." Jawab Butler Bernard.


"Mereka kan bisa menghubungi pengawal lain untuk menemani Lia!"


Butler Bernard diam. Dalam benak pria tua itu dia masih menyalahkan Lia yang membuat kekacauan. Lia orang yang dewasa bukan anak kecil, Dia seharusnya bisa menimbang perbuatannya. Tidak seenaknya saja pergi begitu saja. Apalagi gadis itu tidak mengenal daerah sekitarnya dengan baik.


"Apa kau sudah mengerahkan pengawal untuk mencari Lia?!" Bentak Jason lagi.


"Sudah tuan. Lima belas pengawal dan lima pelayan pria sudah keluar."


"Lalu, sudah ditemukan?"


"Belum tuan."


"Bodoh! Buat apa aku membayar kalian, orang-orang bodoh. Mencari satu orang saja tidak bisa!"


Citttttt......


Jason mengerem mendadak. Dia hampir saja bertabrakan dengan sebuah mobil. Karena emosi, Jason tidak melihat rambu-rambu lalu lintas. Ketika lampu tanda kuning sudah berpindah ke warna merah, Jason masih saja menerjang. Untung saja kecelakaan berhasil di hindari.


"Anda tidak apa-apa tuan?" Tanya Butler Bernard dengan panik mendengar suara decitan mobil.


Jason menghela nafas panjang dan bersandar di jok untuk sesaat. Dia harus berpikiran tenang agar dapat menemukan Lia.


"Aku tidak apa-apa. Kau cepat urus para pengawal itu. Hari sudah gelap. Jika sampai kalian tidak menemukan Lia. Kau tahu kemarahanku akan seperti apa!"


Klik. Jason mematikan sambungan telphone.


Butler Bernard menggeram. Dia sangat murka dan jengkel dengan Lia yang membuat kekacauan besar kali ini. Karena Lia, tuan muda yang dia sayangi hampir saja kecelakaan. Dan karena Lia pula para pengawal dan pelayan akan menerima hukuman.


Bukan hal yang mudah menemukan Lia. Tiga perempat kekuatan sudah dikerahkan. Tetapi jalanan diatas bukit tersebut ada beberapa persimpangan. Turunan pertama ada dua persimpangan dan selanjutnya tiap persimpangan masih memiliki dua sampai tiga persimpangan lagi. Tentu saja hal ini menyulitkan, apalagi hari sudah mulai gelap.


Sementara Jason yang melajukan mobilnya mulai menyusuri jalanan menuju ke arah mansion dengan perlahan. Di bawah kaki bukit ada tiga persimpangan yang menuju ke arah kota yang berbeda. Dan Jason sedang menyusuri kota kecil di salah satu persimpangan itu


Jason tidak tahu persimpangan mana yang sudah diambil oleh Lia, jika gadis itu turun dari bukit. Atau, jangan-jangan Lia terjatuh dan masuk ke jurang. Atau, dia diculik oleh gerombolan mafia yang tinggal sekitar tiga ratus meter dari kediaman Jason. Bisa saja kan mereka lewat dan menculik Lia. Atau... gadis itu menemukan seseorang yang membantu nya kabur. Terlalu banyak kemungkinan membuat Jason pusing.


Samrtphone Jason berbunyi.


"Ya." Jawab Jason langsung.


"Apa yang terjadi. Nyonya besar menghubungiku dan mengatakan jika kau dalam masalah besar. Ada apa?" Tanya Erick.


"Lia hilang."


"Heh?!"


"Apa kau tuli? LIA HILANG!" Bentak Jason dengan nyaring.


"Tidak perlu berteriak. Pendengaranku masih bagus." Ujar Erick sambil melepaskan blue tooth nya. Suara Jason sudah hampir merusak genderang telinganya.


"Heh!" Jason mendesah kuat.


Dia memukul gagang stir nya dengan keras. Melampiaskan keresahan hatinya. Jason merasa seharusnya dia tidak mengizinkan Lia pergi. Seharusnya gadis itu tetap diam di dalam mansion. atau jika tidak, harus ada minimal lima pengawal yang mengawasinya.


"Dengan sepeda." jawab Jason kesal.


"Sepeda, buahahhahahahaha." Erick tertawa dengan keras.


"Tutup mulutmu Erick!" Bentak Jason kesal.


"Kenapa sepeda? Jika Mobil kau bisa melacak dirinya melalui gps. Kalau sepeda? Itu sebabnya aku menyarankan kau memberi dia mobil, bukan sepeda konyol itu."


"Tapi dia bahagia dengan sepeda itu."


"Dan kau yang pusing akibat sepeda itu. Apakah kau sudah meletakan alat pelacak pada sepeda itu?"


"Tidak." Jason mendesah merasa dirinya sangat bodoh. Dan untuk itu dia ingin mencekik kepala pengawal yang tidak memberikan ide tersebut. Keteledoran kecil yang membawa petaka.


"Hubungi handphone dia. Kau bisa melacaknya dari sana bukan?" Saran Erick dengan percaya diri. Hal yang mudah bagaimana pengawal Jason tidak bisa melakukan.


"Dia tidak memiliki handphone." Desah Jason putus asa.


"Apa? Oh My God. Jangan katakan selama tiga bulan ini kau mengurung dia tanpa handphone. Oh My God! Kau benar-benar keterlaluan posesif Jason." Erick merancau.


"Sudah! Jangan terlalu mengkritik ku! Kau tidak tahu susahnya mengendalikan dan menaklukan hati kucing liar itu." Sungut Jason kesal.


"Dasar Perjaka tua!" Umpat Erick.


"Tutup mulutmu pria murahan!" Balas Jason.


Erick terkekeh. Meskipun dibilang murahan Erick tidak marah, karena memang burung elangnya selalu menukik pada sasaran yang bagus. Segala sesuatu yang tampak berkilau dan menggiurkan akan dia habiskan. Wanita cantik incarannya tak akan pernah lepas.


"Baiklah, silahkan bersenang-senang mencari Lia. Ah ya, jangan lupa pesan ibu mu. Jam 8 pagi kencan dengan Natali di the Brasserie. Hahahhaha. God! kapan kau akan memberitahu ibu mu?" Erick dibuat pusing dengan sikap Jason.


Erick ingin sekali tertawa terpingkal-pingkal, hanya saja dia tahan. Dia bisa membayangkan raut wajah Jason yang resah. Baru kali ini ada wanita yang bisa membuat Jason kelabakan, posesif, takut, gelisah dan over protektif. Bukan itu saja, membangun sebuah perusaahaan dan rekening gendut untuk seorang wanita, ini luar biasa. Jason salut dengan Lia.


"Sudah jangan ganggu konsentrasiku." Jason dengan kesal mematikan sambungan telphone dengan Erick.


Bukannya membantu mencari, Erick sedari tadi hanya mengkritik dan mengolok dirinya. Dan itu menyebalkan karena konsentrasi Jason sudah terpecah.


Jason menyusuri setiap jalan dengan perlahan, memutar arah dan mencari di persimpangan lainnya. Setiap gang, setiap persimpangan, setiap toko dan restaurant di awasi dengan teliti.


Hari semakin gelap. Jason semakin khawatir. Gadis itu bukan saja tidak memiliki handphone, tapi dia juga tidak memiliki uang untuk makan. Jason takut Lia kelaparan. Dan di tengah-tengah pikiran kacaunya, Jason merancau.


"Jangan sampai kau menggadaikan cincin nikah hanya untuk makan, akan aku telan dirimu sampai habis!"


...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟...


Kenapa gak ketemu-ketemu yaaa si Lia dengan Jason?


Sabar emak-emak cantikkk.


Author sengajaaaaa membuat kalian dag dig dug cemas.


Wakakkaka sok author ini ya. Ga pa pa kan asal jangan sampai jantungan saja.


Nih visual Jason yang lagi bingung nyariin kucing liar yang hilang.



follow Ig yuk