
Jason kembali bekerja di kantor. Dia bersikap biasa saja sementara Frans dan staff ahlinya bekerja diam-diam untuk mencari tahu kebenaran dari temuan Daniel. Bukti kuat sudah mengarah ke orang tersebut. Hanya alasan kuat yang ingin diketahui oleh Jason.
Frans kembali menggali dan mencari informasi mengenai latar belakang orang tersebut. Perlahan diketahui jika latar belakang yang dia berikan ketika melamar pekerjaan, hingga menjadi orang terdekat dengannya pun, semua adalah rekayasa.
Saat tiba di kantor, Jason bersikap seperti biasa. Seolah-olah tidak ada masalah besar, bahkan dia berusaha menahan perasaan hatinya ketika berhadapan dengan mereka.
"Pedro!"
"Ya, Tuan."
"Katakan pada Erick, aku akan menghadiri rapat hari ini."
"Baik, Tuan Jason." Sebelum sempat Pedro keluar dari ruangan Jason, Erick sudah terlebih dahulu tiba di sana
"Masuklah Erick. Pedro tutup pintunya, ada yang mau aku bicarakan berdua dengan Erick," ujar Jason.
Pedro menghentikan langkah kakinya. Dia tertegun, hal yang jarang dilakukan oleh Jason adalah membuatnya keluar dengan cara seperti baru saja. Pedro kemudian keluar dan menutup pintu.
Perlahan Pedro bergegas menuju ke meja kerjanya. Dia mulai menghidupkan komputer dan mengirimkan email pada seseorang. Beberapa saat pria itu termangu di depan komputer menanti jawaban dari email yang dia kirim. Hingga pria itu tidak menyadari Bertha yang sudah ada di depannya.
"Hai! Gila melamun sampai seperti itu. Daftar laporan keuangan yang kau minta, sudah aku kirimkan. Sudah masuk?" tanya Bertha.
"Oo.. e.. oo... belum aku cek. Trimakasih," sahut Pedro dengan gugup.
"Kenapa tuan Jason meminta laporan mendetail seperti itu? Tanpa sepengetahuan tuan Erick juga. Apa ada yang mencurigakan?" tanya Bertha dengan menautkan kedua alisnya.
"Entahlah. Tapi ingat ini rahasia. Hanya kau, aku dan tuan Jason yang tahu. Jagan sampai mulutmu bocor." Pedro memberikan peringatan pada Bertha.
"Memangnya ember bisa bocor. Kau tahu mulutku selalu tertutup rapat, meskipun hanya kau bayar dengan segelas kopi susu." Bertha terkekeh karena sindirannya mulai mengena ke Pedro.
"Jangan khawatir, aku berjanji akan mentraktirmu makan di restaurant bintang lima, setelah ibuku sembuh." Pedro tersenyum menyakinkan.
"Semoga ibu mu cepat sembuh ya." Bertha mengerdipkan mata sebelum kembali ke mejanya.
Pedro sudah bekerja di perusahaan Madison lebih dari sepuluh tahun. Dia merangkak dari hanya sebagai karyawan kantor biasa hingga menjadi sekretaris Jason. Karena pekerjaannya yang rapo dan handal, para eksekutif pun, menghormati Pedro seperti pada Jason.
Pria yang sedari tadi menautkan alisnya dan tampak tegang menatap layar komputer, akhirnya tersenyum. Jawaban dari email yang dia tunggu sungguh memuaskan. Kini Pedro bisa bekerja lagi dengan ceria.
Sementara di dalam kantor, Erick dan Jason mulai berbincang.
"Apakah sudah ada titik terang mengenai keberadaan kakak ipar?" tanya Erick membuka pembicaraan.
Jason menghela napas.
"Pria tua itu sungguh ahli menghapus jejak. Aku rasa Lia baik-baik saja saat ini. Jika dia sudah melakukan sesuatu, pasti dia akan muncul dengan ancaman lainnya." Jason menautkan kedua tangan di depan dada.
"Aku sangat mengkhawatirkan kakak ipar," ujar Erick terdengar tulus.
"Bagaimana denganmu? Apakah Daddy juga memberimu ancaman?" Mata Jason memandang Erick dengan tajam.
"Dia ...." Erick menghela napas.
Kemudian Erick mulai menceritakan mengenai ancaman tuan besar pada dirinya.
"Lalu pilihanmu?" tanya Jason menyelidik.
"Kau tahu pilihanku," desah Erick lemah.
Jason tak bersuara. Dia berjalan ke arah dinding kaca yang sangat luas. Sejenak pria itu termenung sambil menatap keramaian kota Paris. Kota yang tak pernah mati. Siang dan malam selalu ramai.
Kalimat Jason berhenti dia membalikan badannya menatap Erick.
"Kau tahu bukan, aku bisa lebih gila daripada Darrel Madison jika ada yang melukai orang-orang yang aku sayangi. Bukan saja ibu mu yang akan menangis karena kehilangan anak laki-laki, tapi aku bisa membuat adikmu tak menikah seumur hidup. Mungkin aku bisa lebih kejam dari hanya menjadikan adikmu perawan tua!"
Erick terpana mendengar kalimat Jason yang terdengar menyeramkan. Semenjak kepergian Lia, pria itu mulai kembali pada sosok lama. Dingin dan gila. Seakan keseimbangan dirinya telah hilang.
"Aku paham. Bukan setahun dua tahun aku mengenal dirimu dan keluargamu. Meski apapun yang terjadi, aku tidak akan menelantarkan Laurent." Janji Erick pada Jason.
Jason menatap Erick, satu-satunya sahabat yang dia miliki. Salah satu orang kepercayaan dalam mewakili dirinya menjalankan perusahaan. Dia tidak ingin kehilangan Erick dan semua menjadi kacau. Beruntung sekali Erick memberikan kata kunci yang tepat, Yaitu Janji untuk tidak akan menyakiti Laurent.
"Baiklah Erick kau boleh keluar. Satu jam lagi aku akan ke ruang rapat."
"Baiklah." Erick meninggalkan Jason.
Sepeninggalan Erick, Jason melirik ke arah handphonenya yang sedari tadi memberikan tanda. Dia sudah mematikan mode suara dan getar pada handphone tersebut.
"Katakan, Frans!" perintah Jason.
Raut wajah pria itu seketika berubah menggelap mendengar laporan dari Frans.
"Aku mengerti. Bagaimana dengan kemajuan dari Greg?" Jason menanyakan hasil pencarian akan Lia.
"Daddy ada di Jerman? Aku mengerti rapat di sana akan memakan waktu tiga hari. Pesanlah pesawat komersil diam-diam. Jangan sampai dia tahu, kalau aku akan menyusul daddy di Jerman."
Jason kemudian mematikan saluran telphone dengan Frans dan mendial nomor telphone lainnya.
"Kakak ipar! Aku memerlukan bantuanmu," ujar Jason saat orang diseberang sana menjawab panggilannya.
...π€π€π€π€π€π€π€π€...
Malam hari setelah rapat yang memakan waktu lebih dari enam jam itu selesai, Jason menahan Pedro dan Erick di ruangan itu.
"Aku ingin mengundang kalian berdua ke Mansionku. Selama hampir satu bulan aku melewah karena Lia, kalian berdua adalah orang yang sudah luar biasa menjaga perusahaan ini. Aku ingin berterimakasih dengan cara yang sangat sederhana." Jason menghentikan kalimatnya dan memandang Erick dan Pedro bergantian.
"Makan malam lah di Mansion. Temani aku malam ini," ujar Jason.
Erick dan Pedro saling bertatapan. Mereka tampak merasa senang karena Jason sudah kembali normal.
"Baiklah, aku akan menghubungi Laurent dengan rencana ini," ujar Erick.
"Katakan padanya, aku tidak mengundang dia. Malam ini hanya untuk laki-laki saja."
Erick mengiyakan kalimat Jason.
"Ini pertamakali untuk dirimu mengunjungi mansion keluarga Madison, bukan?" tanya Jason pada Pedro.
Pria itu mengangguk. Selama bertahun-tahun mengikuti Jason, dia tidak pernah diberi kesempatan mengunjungi mansion tersebut. Dia hanya tahu Penthouse yang biasa di tempati oleh Jason. Pedro merasa senang dengan kesempatan ini.
HAYOOO .... sudah ada clue? Siapa penghianat tersebut? Kira-kira motifnya apa ya? Dan kira-kira ada tidak hubungannya dengan penculikan Lia?
... β€β€β€β€β€β€β€...
Minal Aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batinππ» maaf kalau ada kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja. Semoga kita bisa bertemu dengan bulan Ramadhan penuh berkah lagi tahun depan.