48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Perawan Vs Perjaka



FLASH BACK


Tujuh Jam sebelum Rajawali berakhir membuahi dan berteduh dalam sarang emas nya.


Ingat kah kalian saat terakhir setelah Jason mengamuk dan menghajar pengawalnya. Dengan hati yang masih dibakar kecemburuan dan rasa panas yang membakar dalam dan luar tubuhnya, Jason berbaring di sisi Lia yang masih pulas tertidur.


Memandangi wajah manis dan polos disampingnya yang tanpa make up, bahkan tanpa eye liner ataupun pensil alis, membuat hati Jason menjadi lebih tenang.


Jiwa Jason bergemuruh, perasaan ingin melindungi yang sangat kuat dia rasakan, semenjak pertama kali bertengkar dengan Lia. Keinginannya untuk memiliki Lia, sehingga membuat Lia menandatangani perjanjian empat puluh delapan bulan. Empat tahun adalah waktu yang tampaknya terlalu lama untuk oerjanjian nikah biasa, tetapi terlalu sebentar bagi Jason, yang sesungguhnya ingin mengikat Lia selamanya.


Disaat hendak terlelap, Jason merasakan Lia terbangun. Dan jantungnya berdesir merasakan belaian lembut jemari tangan Lia menelusuri wajahnya. Jason tetap memejamkan mata, merasakan sentuhan Lia. Dia tidak ingin gadis itu menarik diri, dan Jason ingin mengetahui apa yang akan dilakukan Lia.


Saat Jason mendengarkan desahan lembut Lia berkata," suamiku." Saat itu lah, jiwa Jason menari dan melayang tinggi. Gejolak kebahagiaannya bagaikan awan yang melayang tinggi mencapai langit. Penantiannya selama ini tidak sia-sia. Meskipun hanya desahan, tapi sudah mampu mengedor-gedor emosi dalam diri Jason.


Dan dia tidak dapat menahan diri lagi. Untuk mencium dan menelusuri bibir indah, wanita yang selalu membuatnya terbuai dalam mimpi. Wanita yang selalu membuat jantungnya berdebar keras, selalu muncul dalam ingatan dan selalu merajai mimpi-mimpinya.


"Bisakah aku melakukan hal yang lebih?" Suara Jason terdengar begitu lembut dan menggetarkan perasaan Lia.


"Aku menginginkan dirimu seutuhnya menjadi milikku."


Bisikan itu begitu membuai perasaan Lia. Jason terlalu gentelment, dia bahkan mengutamakan keinginan Lia diatas hasrat nya yang sudah memuncak dan keinginan untuk menelusuri lekuk tubuh Lia.


Lia memejamkan matanya tanpa sanggup berkata-kata. Tindakan Lia membuktikan kepasrahan hati nya. Kerelaan untuk menyerahkan diri seutuhnya pada Jason.


"Aku mencintaimu Jason," teriak Lia dalam hati, namun terlalu malu untuk dia ucapakan.


Jason melepaskan kaos tanktop Lia dan menelusur kedua bukit kembar yang seringkali membuat dirinya terbayang. Jason mencumbu Lia dengan penuh hasrat. Desaha dan erangan Lia ketika Jason bermain di pucuk dada nya, membuat Jason menggila.


Dengan cepat dia melepaskan semua pakaian Lia dan pakaiannya sendiri. Lia hanya mendesah ketika Jason melepaskan penutup segitiga emasnya. Saat itu, Jason sudah tidak sabar lagi. Pertama kali melihat Lia telanjang tanpa sehelai benang pun, membuat Jason ingin segera melakukannya, sebelum Lia menolaknya lagi.


Dan Jason membuka paha Lia. Rajawali membobol masuk sarang emas dengan paksa dan sedikit kasar. Rajawali sudah tidak tahan, tanpa menyadari jika sarang emas belum siap menerima kehadirannya.


Dan saat itu apa yang terjadi adalah, Lia menjeritt keras.


"Aaaaaaa.... sakitttttt. Jasonnnn lepasss, kau menyakitiku. Lepassss. aku bilang lepasssa."


Lia meronta, bergerak, memukuli bahu Jason yang masih mempertahankan posisi. Dan sarang emas itu semakin menyempit, mempertahankan diri dari pembobol yang tidak permisi untuk masuk.


Dengan sekuat tenaga Lia mendorong dan berakhir menendang perut Jason dengan lututnya.


"Aoww!" Jason mengerang perlahan di samping Lia.


Rasa sakit itu bukan dari tendangan Lia di perutnya, tetapi lebih pada saat gagalnya rajawali memasuki sarang. Rajawali berdenyut sakit, Jason merasa kecewa, tetapi lebih dari itu, hatinya terenyuh melihat Lia yang menangis terisak sambil memeluk dirinya sendiri.


Perjaka VS Perawan.


"Maafkan aku. Maaf." ujar Jason sambil merengkuh pundak Lia dalam pelukannya.


Bahu Lia terguncang oleh tangisan.


"Maafkan aku Jason, aku tidak tahu jika akan sesakit itu." ujar Lia dalam isakan.


Saat itu dalam posisi seperti bayi dalam kandungan, Lia menangis dan ketika membuka matanya, dia terbelalak, melihat Rajawali yang dalam kondisi hampir siap bertempur.


Dalam hati Lia berkata, "Bagaimana bisa sebesar itu masuk kedalam ku. Bagaimana bisa muat. Apakah itu sebabnya Tuhan menciptakan Asia untuk asia dan Bule untuk bule. Tapi bagaimana kakak melakukannya dengan brother Andrew. Apakah milik brother hanya sebesar milik Asia?"


Pikiran Lia merancau kemana-mana. Antara Keingingan dan Ketakutan. Antara hasrat dan rasa sakit.


Lia bukanlah gadis naif. Meskipun dia tidak pernah berbuat lebih dari sekedar gandengan tangan dengan mantan kekasihnya dulu. Lia mengerti tentang organ tubuh manusia dari sekolah dan pernah menonton film semi dewasa dengan teman-temannya. Tetapi hanya sebatas itu saja.


Jason yang merasa bersalah karena sudah menyakiti Lia. Membelai dan menciumi kepala gadis itu, hingga Lia merasa tenang.


"Aku mau mandi dulu ya Jason." ujar Lia dengan mata sembab.


"Iya," jawab Jason tanpa berani mengikuti Lia ke kamar mandi.


Dengan menutupi tubuh telanjangnya menggunakan selimut, Lia masuk ke kamar mandi. Sempat tanpa sengaja, Lia melirik rajawali Jason yang terkulai. Dan Lia menelan ludah, "terkulai saja seperti itu."


Sementara Lia masuk ke dalam kamar mandi, Jason menggunakan kimono nya dan segera masuk melalui pintu rahasia menuju ke ruang kerjanya. Jason mengambil handphone dan menghubungi Erick.


"Katakan padaku, bagaimana kau melakukannya!" todong Jason langsung, saat Erick mengangkat telphone.


"Sabar... Melakukan apa?!" tanya Erick heran.


Jason menghela nafas berat. Sebenarnya dia gengsi menanyakan hal ini pada Erick. Pria menjengkelkan itu pasti akan menwrtawakan dan mengolok ya habis-habisan. Dan dengan mengepalkan tangannya, Jason bertanya.


"Bagaimana caramu bercinta?" ujar Jason akhirnya.


"Apa? Jangan katakan kau belum atau.... tidak berhasil?" tanya Erick yang dengan sekuat tenaga menahan tawa.


"Sudah tidak usah banyak tanya! Katakan bagaimana kau bisa memasukan milikmu dalam itu wanita?" tanya Jason dengan lebih mendetail.


Erick menjauhkan handphne dan menutupi dengam tangan. Erick tertawa dengan keras. Dia tidak dapar menahannya lagi. Bisa dia bayangkan wajah Jason yang tegang dan penasaran saat ini.


"Aku masih bisa mendengarkan tawa mu!" Bentak Jason kesal.


"Maafkan aku, barusan ada badut lewat. Hahahhahaha," Erick kembali terpingikal.


"Begini... Kau pasti sudah mencium dirinya kan? Jangan katakan kalau kau belum mencium dirinya, hmmpf." Erick menahan tawa.


"Si alan. Aku tahu bagaimana menghabisi bibir Lia." ujar Jason kesal karena merasa disepelekan oleh Erick.


"Nah itu, ciumi sekujur tubuhnya, Raba dan remas lembut bagian inti nya, kemudian perlahan baru kau bersarang di dalam tubuhnya."


ujar Erick yang menjelaskan sambil memejamkan mata.


"Aku sudah melakukannya."


"Lalu?"


"Dia menjerit kesakitan dan menendangku."


"Apa? Hahhahahahhahahahhahahhahahah." Erick tertawa terpingkal-pingkal tiada henti. Tawa Erick membuat Jason menjauhkan handphone dari telinganya. Seandai nya Erick ada di hadapannya, Ingi sekali dia bungkam mulut Erick dengan lackban.


"Bagaimana mungkin tidak bisa masuk?" tanya Erick akhirnya setelah puas tertawa.


"Lubangnya terlalu kecil sedangkan milikku terlalu besar. Bagaimana orang bisa melakukannya?" tanya Jason polos seperti seorang anak SD


"Shi*t kau membuatku membayangkannya," gumam Erick dalam hati. Sore hari itu Erick masih berada di kantor sementara Jason asyik berpelukan dengan Lia di mansion.


"Bagaimana mungkin tidak masuk, Kau tahu bukan darimana bayi keluar?" tanya Erick.


"Dari perut lah bod*h! Ceasar." jawab Jason dengan percaya diri.


"Itu kalau tidak normal, bagaimana kalau normal?"


"Heh?" Jason bingung.


"Jangan bilang kau tidak pernah mempelajarinya?" tanya Erick dengan gemas.


Bagaimana mungkin hal sesepele itu, tidak dapat diketahui oleh seorang yang sudah dewasa.


"Mana aku tahu. Aku bukan dokter dan tidak pernah belajar kedokteran!" sahut Jason ketus.


"Whattt! Lalu apa yang kau pelajari selama ini?"


"Bisnis dan Politik. Hai! Kenapa kita membalas pendidikanku? Kau seharusnya menjelaskan padaku bagaimana aku melakukannya supaya Lia tidak kesakitan!" geram Jason dengan kesal.


Dan sore itu dihabiskan Jason dengan mendengarkan hal-hal yang harus dia lakukan, agar malam pertamanya berhasil dan akan terkenang selamanya.


Erick menjelaskan dengan perasaan yang campur aduk. Kata-kata yang dia gunakan begitu detail, membuat Erick memutuskan untuk menghubungi seorang model. Setelah memberikan pelajaran hidup untuk Jason, dia akan mengasah kemampuannya agar lebih mahir.


Sementara Jason disibukan dengan mendengarkan penjelasan Erick. Lia yang baru selesai mandi, dan tidak mendapati Jason di kamar, Segera mengambil handohonenya dan masuk lagi ke kamar mandi.


"Kakakk katakan padaku, bagaimana kau melakukan pertama kali dengan brother?" tanya Lia langsung pada Diana.


"Hei, baru telphone tidak bilang hallo, I miss you, langsung nyrocos saja." goda Diana.


"Kakakkk." gumam Lia manja.


"Kau belum pernah melakukannya dengan Jason?" tanya Diana. Dia heran sekaligus bangga dengan keteguhan Lia. Lia memang jauh lebih hebat dari dirinya.


"Belum. Tadi kami hampir saja malakukannya, Namun terhenti ketika aku menjerit kesakitan. Aku tendang dia." cerita Lia dengan manja.


"Apa? kau tendang dia. Lalu apa Jason tidak apa-apa?" tanya Diana sambil menahan tawa.


"Tendangannya pelan kok." ujar Lia perlahan.


"Kakak, bagaiman bisa milik mereka masuk, hehhhh bahkan itunya sedikit lebih besar dari pergelangan tanganku." ujar Lia dengan heran sambil memperhatikan pergelangan tangannya.


"Adikku sayang, yang pasti awalnya kau harus bersedia. Jika sudah bersedia, nikmati permainannya. Jangan resahkan hal yang lain. Tubuhmu akan otomatis meresponnya." Diana memberi nasihat.


"Apa gak sakit?"


"Akan semakin sakit, jika kau memberontak. Minta dia melakukan dengan perlahan, aku yakin Jason bisa bersikap lembut padamu." ujar Diana dengan sabar.


"Hemhhh, tapi itu nya besar sekali, lebih besar dari pergelangan tanganku. Apa punya brother sebesar itu atau kecil ya?" tanya Lia dengan polos.


"Hei! Kau menelphone hanya ingin mengatai suamiku? Atas dasar apa kau bilang milik suamiku kecil hah?! Kau tahu sebesar apa milik suamiku? Sebesar sikut lenganmu!" ujar Diana dengan kesal.


Lia menjadi kaget dan sadar jika sudah berbicara asal dan menyinggung kakaknya.


"Udah jangan marah. Udah ah bye. Sampaikan ciuman rindu pada keponakan-keponakanku."


Lia buru- buru mematikan handphone. Kemudian dia memperhatikan sikut di pergelangan tangannya.


"Busyettt sebesar ini apa gak jebol?"


...💖💖💖💖💖💖💖💖💖...


Nah itu flash back sebelum mereka menikmati malam pertama yang tertunda.


Akhirnya berhasilll. Hidup Jason dan Lia.