48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
kau harus bangkit



Laurent memindahkan barang-barangnya dengan bantuan pelayan. Dia berbesar hati dengan meletakan pakaian dan barang berharganya berbagi dengan Erick.


Bahkan gadis itu menggunakan gudang untuk menyimpan sepatu dan beberapa tas mewahnya. Dia akan bertahan di rumah ini sebagai istri Erick. Dan dia akan belajar untuk menghargai pria itu dengan keluarganya, seperti Erick yang selama ini sudah bersikap baik pada keluarganya.


Laurent merapikan tempat tidur dan menghiasi kamar itu dengan bunga. Dia membeli beberapa cemilan, mengisi kulkas dan lemari makanan.


Semua sudah dia siapkan.


Laurent tidak mengenal ibu dan adik Erick. Bukan karena dia tidak ingin tahu, tapi sikap Erick yang selalu menghindar jika dia hendak menyinggung tentang keluarganya.


Laurent bahkan mencari informasi lewat google, bagaimana menjalin hubungan bail dengan mertua. Dia tidak pernah mengetahui hal iti, karena dengan Laura hubunham mereka lebih ke arah rekan atau teman daripada ibu dan anak.


Sudah lima hari dia menanti kedatangan ibu Erick, tapi mereka tidak kunjung tiba juga. Laurent enggan bertanya pada Erick, karena dia melihat bagaimana pria itu sangat sibuk. Berangkat sangat pagi dan pulang tengah malam.


Wanita itu sudah belajar untuk bangun pagi dan menyediakan pakaian kerja untuk suaminya. Dan Erick tidak pernah membantah apapun yang disiapkan Laurent. Saat makan pagi pun, Eric hanya meminum segelas susu hangat. Sehingga Laurent berinisiatif untuk mengingatkan Bertha menyediakan sarapan untuk Erick di kantor.


Laurent menyempatkan diri juga untuk menemui Jason. Namun, kakaknya tidak dapaat diajak bicara. Pria itu kembali ke Mansion dan hanya marah-marah setiap waktu. Menghardik para ahli yang belum juga menemukan keberadaan Lia.


Pengawal di sekitar Jason mulai bertambah. Tampaknya ayah mereka sudah menempatkan pengawal tambahan. Entah apa maksud pria tua itu, semua terasa misteri.


"Jangan berprasangka buruk, tuan besar memang memiliki prangai yang buruk, tapi dia juga sangat menyayangi kalian berdua," ujar butler Bernard berusaha menenangkan Jason.


"Menyayangi? Coba katakan, apakah jika aku membuanhku ke jalanan itu artinya aku menyayangimu?!" ujar Jason dengan sinis pada kepala pelayan itu.


"Semua pasti ada alasannya, Tuan muda."


"Tentu saja harta dan kekuasaan. Aku bahkan menyerahkan semua kembali padanya, tetapi dia ... argggghhhh! Apa maunya Darrel Madison!" Jason menggeram dengan kuat.


"Kakak ... kau harus kuat. Lia tidak akan suka melihat dirimu yang kacau seperti ini. Aku akan berusaha menghubungi dad dan mom." Laurent tersentuh melihat keadaan kakaknya.


"Kakak ... kau harus kembali bekerja. Kau tidak bisa seperti ini terus menerus. Banyak yang membutuhkan dirimu. Ribuan nasib karyawan menjadi taruhannya." Laurent benar-benar tidak tega melihat keadaan Jason.


Jambang Jason berantakan tanpa pernah tersentuh alat cukur. Rambutnya tidak tersisir sama sekali. Dia mengenakan pakaian yang sama seperti dua hari lalu, ketika Laurent mengunjungi.


Pria itu tidak tidur cukup, bahkan makanpun tidak teratur. Setiap saat dengan sabar butler Bernard mendampingi Jason. Setiap kali pria itu hendak marah dan membanting sesuatu, Butler Bernard dengan lantang akan berteriak, "Jangan! Itu kesayangan nyonya kecil!"


Dan akhirnya tangan Jasonn mengambang di udara, membelai benda apapun yang hendak ia hancurkan. Jason benar-benar terpuruk. Dia sangat kacau. Penampilan pria itu bagaikan gelandangan.


"Kau pikir bagaimana perasaan Lia jika melihatmu seperti ini? Akankah dia bahagia?" tanya Laurent.


"Dia tentu mengerti, bahwa aku hancur karena merindukan dirinya," jawab Jason lemah.


"Apa maksudmu si alan!"


"Setiap wanita menginginkan seorang pria yang kuat dan tegas dalam menghadapi masalah. Bukan pria cengeng yang terpuruk seperti ini. Kau tahu bukan, kalau Lia adalah wanita yang tegar dan hebat. Melihat dirimu seperti ini kakak ... aku khawatir dia akan merasa jika kau bukan pria yang pantas untuk dirinya," cecar Laurent panjang lebar.


"Tutup mulutmu adik tidak berperasaan!" sahut Jason dengan lantang.


"Aku akan terus berbicara, karena aku menyayangi kalian berdua. Bangkit kakakkk ... jadilah kuat dan bantu para ahli mu untuk menemukan Lia. Mereka tidak bisa berbuat apapun tanpa dirimu! Kai tidak bisa mencari kakak iparku, jika keadaanmu seperti ini!"


"Aku bilang tutup mulutmu! Pergi kauu! Aku tidak butuh ocehanmu. Urus saja dirimu sendiri, apa kau sudah bisa membuat Erick bertekuk lutut padamu?!" Jason dengan marah mengusir Laurent. Pria yang sedang frustasi itu masuk ke dalam kamar nya dan membanting pintu dengam keras.


Laurent terperangah melihat reaksi Jason. Seumur hidup dia tidak pernah melihat kakaknya bersikap kasar seperti ini, pada dirinya. Laurent menangis dengan keras. Gadis itu berlutut di lantai dengan bahu yang terguncang.


"Maafkan tuan muda, Nona. Dia tidak bermaksud sekasar itu, hanya saja perasaannya saat ini sedang kacau. Dia perlu waktu dan aku percaya tuan muda akan segera bangkit kembali," ujar butler Bernard dengan lembut.


"Aku mengerti, Paman. Hanya saja aku begitu mengkhawatirkan keadaan kakak. Dan Lia ... bagaimana dengan dirinya saat ini." Laurent terisak.


"Tenanglah Nona, Adonia pasti akan menjaga nona Lia dengan baik."


Laurent menarik napas. Dia membersihkan wajahnya yang basah oleh air mata. Gadis itu perlahan mulai bisa menenangkan diri.


"Paman, aku akan kembali. Tolong jaga kakakku."


"Tentu saja, Nona Laurent. Biar aku meminta Doreo mengantar dirimu kembali. Nona tidak boleh menyetir sendiri."


Laurent hanya mengiyakam perkataan pria tua itu. Semenjak menikah dengan Erick, Laurent melepaskan diri dari fasilitas keluarga. Supir pribadi pun dia lepaskan. Dia hanya ingin hidup normal dan bergantung dengan Erick.


Wanita cantik itu tiba di apartement. Dia masuk ke dalam lift, hari masih sore Laurent yakin, dia akan kembali kesepian sendiri di rumah tanpa Erick.


Hehhh ... kembali Laurent menghembuskan napas dengan berat. Erick jauh lebih menyenangkan saat mereka belum menikah. Pria iti meskipun tarik ulur dengannya, tapi selalu perhatian dan menuruti semua keinginannya.


Laurent merindukan masa-masa itu. Masa saat dia bebas mendapatkan senyuman dan tawa Erick. Masa saat pria itu seringkali mencium dan memeluk dirinya. Laurent ingin kesempatan itu kembali lagi.


Di depan pintu apartement, Laurent memasukan kode pada kunci elektrik. Dan ketika pintu terbuka dia mengernyitkan keningnya ketika melihat lampu ruangan sudah menyala terang.


Bukan itu saja, telinganya mendengar suara percakapan seseorang wanita? Bukan. Ada suara Erick juga di sana. Laurent sesaat tertegun di pintu masuk. Jantungnya berdebar kencang dan tangamnya gemetaran.


Hampir saja dia berbalik pergi, ketika akhirnya dia memutuskan untuk maju dan menghadapi. Laurent berjalan masuk ke dalam dan saat tiba di ruang makan yang menyatu dengan dapur, Laurent melihat seorang wanita sedang menyuapi Erick.


Laurent mencengkeram tas di tangannya dengan keras. Dia menahan rasa sakit dan penasaran dihatinya. Air matanya dia tahan sekuat tenaga. Laurent tidak tahan melihat hal itu. Dia memilih pergi. Gadis itu berbalik, melangkah keluar dari ruangan tersebut.