48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Pengakuan



lijas


"Aku lapar." ujar Lia.


"Sayangku mau makan apa?"


"Nasi padang."


"Hah?! Indonesian food?"


"Hemmh." Lia menganggukan kepala.


"Sebentar." Jason mengeluarkan ponselnya.


Pria itu memejet sebuah nomor dan menunggu hingga sambungan diangkat.


"Doreo. Cari restaurant Indonesia dan belikan nasi padang." ________ "Mana aku tahu. Itu tugasmu mencari nya." sahut Jason lagi sambil menutup telphonenya.


"Sebentar lagi Pedro akan datang membawa makanan yang kau inginkan." ucap Jason pasti.


Lia tertawa kecil. Ternyata jika hamil, kita lebih bebas meminta apapun. Kalau dulu biasanya Lia mengalah dan menerima makanan apapun yang disediakan tanpa pernah mengeluh, saat ini dia ingin bertindak sesuai keinginan hati.


Merasa mendapatkan angin segar dan dimanjakan, Lia mulai mengajukan permintaan lain. Hal yang mudah terlebih dahulu. Sesuatu yang dijanjikan oleh Jason, tanpa pernah di tepati.


"Aku mau lihat menara Eifel." ujarnya.


"Heh! Kenapa harus kesana?" tanya Jason.


"Itu kan symbol negara ini. Bagimana aku bisa bilang menikahi pria Prancis dan tinggal di kota Paris jika tidak pernah tahu Menara Eifel." Lia memberilan alasan yang tidak terbantahkan.


"Kita lihat jadwalku besuk. Sudah dua hari aku tidak bekerja." sahut Jason.


"Tuh kan, pasti gak jadi lagi. Selalu saja ada alasan untuk mengunjungi tempat itu." ujar Lia merajuk.


"Kenapa sih harus Menara Eifel?" dengus Jason kesal.


"Kenapa sih, kau tidak suka mengantarku kesana?" tanya balik Lia.


"Terlalu banyak wisatawan. Tempat rekreasi rakyat." sahut Jason sekenanya.


"Cih! Sombong sekali kau!" Lia menimpuk Jason dengan bantal.


"Dilarang kasar dengan suami ya selama hamil." protes Jason.


"Kalau suami ngeselin, ya boleh lah."


"Gak boleh! Harus baik sama suami, biar semakin dimanja." goda Jason sambil mengerling jenaka.


"Wekkk!" Lia mencibir.


"Aku gigit bibir mu ya."


"Tega?"


"Tega." Jason menggigit bibir Lia perlahan, kemudian dia mengacak rambut Lia.


"Hamil tambah manja yaaa, wanita pujaanku ini." ucap Jason dengan gemas


"Benarkah, aku wanita pujaanmu?" tanya Lia manja dalam pelukan Jason.


"Tentu saja."


"Satu-satunya wanita dalam hatimu?"


Jason mengangguk.


"Apa kau pernah mencintai wanita lain?"


Jason memegang dagu Lia dan mengangkat wajah istrinya mendekat.


"Hanya kau." sahut Jason bersungguh-sungguh.


"Gombal!"


"Kok?"


"Bukannya kau dulu mengejar-ngejar kakakku? Bukannya kau dulu memaksa kakak, meninggalkan brother Andrew?!" ucap Lia dengan nada meninggi.


Memang benar apa kata orang tua. Wanita hamil itu perasaan hatinya. Berawal dari gembira semenit kemudian bisa histeris. Segala sesuatu diungkit-ungkit dan dijadikan alasan. Jason yang tidak memahami hal ini menjadi bingung.


"Duh, itu kan masa lalu. Kalau aku jatuh cinta dengan kakakmu, aku sudah menculik dan menikahi dirinya." tegas Jason.


"Benarkah? Jadi ... aku bukan wanita pengganti?" tanya Lia dengan mata penuh harap.


"Tentu saja bukan!"


"Terimakasih sayang." ujar Lia dengan gembira.


Jason mengangguk sambil membelai rambut istrinya.


"Apakah kau akan memberitahu orang tua mu tentang kehamilan ku?" tanya Lia lagi.


Jason terdiam untuk beberapa saat.


"Kita tunggu hingga usai kandunganmu sudah lebih besar."


"Tidak perlu kau memikirkan hal itu. Aku yang akan menghadapinya." ucap Jason dengan mantap.


"Iya, sayang." jawab Lia menyerahkan semua beban dan kepercayaan pada suaminya.


Sesaat mereka termenung sambil menatap keindahan kota Paris dari atas penthouse. Lia masih bersandar pada dada Jason. Entah mengapa, degup jantung pria itu, membuat dirinya merasa yakin, bahwa semua yang terjadi dalam hidupnya adalah anugerah.


Lia tidak pernah memimpikan mengalami semua ini. Dia tidak pernah berkeinginan menjadi istri dari seseorang yang memegang kekuasaan. Menantu salah satu pengusaha sekaligus politikus dunia. Siapa yang akan mengira, keberuntungan di tangannya bahkan melonjak jauh melebihi kakaknya.


"Ada yang ingin aku tanyakan ..." Jason memecahkan keheningan diantara mereka.


"Ya?"


"Laurent ... apakah dia ....?" Jason tidak melanjutkan pertanyaannya.


"Hamil? Tentu saja tidak." sahut Lia santai.


Jason menegakkan badan Lia, dia memegang kedua bahu gadis itu dan menatapnya dengan pandangan menyelidik. Dia tidak percaya dengan apa yang barusan Lia katakan.


"Kau seharusnya senang bukan, aku yang hamil bukan Laurent."


"Iya, tapi ...."


"Kenapa jadi bingung? Apa kau ingin Laurent yang hamil, bukan diriku?" tanya Lia menyelidik.


"Tentu saja bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin memastikan, karena ... karena aku sudah menuduk Erick dan memaksa pria itu bertanggung jawab untuk hal yang tidak oernah dia lakukan." ucap Jason dengan jelas.


"Tenang saja. Laurent tidak hamil dan kau harus bangga pada adikmu, ditengah-tengah kehidupan bebas metropolitan, dia masih teguh memegang kehormatannya."


"Dan mengenai pernikahan itu ... tidak ada yang salah ... Memang sudah seharusnya. Laurent mencintai Erick, bahkan berniat untuk menculik Erick dan membuat pria itu menikahinya. Seperti yang kau lakukan padaku."


"Laurent berniat melakukan hal itu?" tanya Jason tak percaya.


"Iya." Lia mengangguk mantap.


"Sebesar itukah perasaan Laurent?" gumam Jason.


"Iya ...."


"Jadi kau paham sekarang, bukan?" tanya balik Jason.


"Maksudmu?" tanya Lia tak mengerti.


"Sebesai itu pula perasaanku padamu, sayangku." Jason menyentil kening Lia dengan perlahan.


"Aow," Lia memekik perlahan sambil mebgusap keningnya yang tidak terlalu sakit.


"Lalu, apakah Erick juga mencintai Laurent?" tanya Lia.


Jason tersenyum.


"Dia akan. Seperti dirimu. Laurent hanya perlu lebih berusaha dan bersabar saja." sahut Jason sambil tersenyum kecil. Bagaimanapun dia akan tetap merahasiakan masa lalu Erick dengan kekasih pertamanya. Bukan hak Jason untuk menceritakan hal tersebut pada orang lain.


"Aku harap, Erick tidak akan menyakiti hati Laurent."


"Lia ... bagaimana bisa tespack kalian tertukar?"


tanya Jason lagi. Ada bagian puzzle yang dia tidak mengerti.


"Oh itu ... Pelatan itu pasti melakukan kesalahan. Saat dia datang kembali, kami belum sempat meletakan hasil test di gelas plastik. Dia terburu-buru dan mengambilnya dari tangan kami. Bahkan saat itu aku belum pasti melihat hasil test milikku."


"Aku kira kalian sengaja merencanakan."


"Bagaimana bisa kami merencanakan. Aku menyuruhnya kembali lagi dua puluh menit. Eh ... belum lima menit dia sudah kembali lagi kedalam ruangan. Bahkan Emely, belum sempat kencing. Dan pelayan itu menunggu disana. Tidak sopan!" gerutu Lia kesal.


Jason terpana. Jadi sebernarnya kesalahpahaman ini murni karena kesalahan, bukan sesuatu yang direncanakan. Lalu, apakah ini yang dimaksudkan dengan takdir. Jika tidak ada kesalahan itu dengan dia yang mendesa Erick dan tuan Larry yang mendukung, apakah Laurent masih bisa menikahi Erick.


Jason jadi bingung sendiri. Dia tidak tahu apakah keputusannya benar. Asalkan Erick benar-benar bersedia menjaga Laurent. Maka, .... Jason akan bersedia membagi sedikit sahamnya untuk pria itu.


"Jason sayang .... "


"Hemm ...."


"Kenapa makananku lama sekali?" tanya Lia dengan manja.


"Sebentar aku hubungi Pedro." Jason kembaki menggapai ponselnya dan menghubungi Pedro.


"Kenapa lama sekali?" tanya Jason langsung begitu sambungan telphone terhubung.


"Sabar tuan ... saya harus menempuh satu jam perjalan, belum lagi antri nya." sahut Doreo dengan menahan emosinya.


"Lalu berapa lama lagi?"


"Empat puluh menit." sahut Doreo.


"Dalam waktu dua puluh menit, kau harus sudah disini!" perintah Jason tanpa menunggu jawaban Doreo.


Sementara itu Doreo memasukan handphone kedalam sakunya dengan kesal.


"Untung saja aku paham dengan sifatmu tuan." Doreo kemudian memarkirkan mobil kedalam parkiran Penthouse.


"Aku masih punya waktu dua puluh menit untuk bersantai di Lobby." ujar nya terkekeh sambil membawa dua tas besar berisi makanan.


Doreo sengaja membeli lebih banyak makanan Indonesia. Dia memesan makanan yang bisa di simpan di kulkas. Dan Doreo merasa bangga dengan kejeniusannya saat ini.