48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Mengendus uang



Erick bergegas menuju ke kantin, suasana mulai lenggang hanya ada beberapa karyawan yang masih duduk santai. Mungkin mereka yang kebagian istirahat sesi kedua.


Erick mengedarkan pandangannya, di tengah kantin dengan posisi yang strategis, dia melihat Laurent sedang duduk dengan Bertha. Dia menghampiri Laurent dan duduk disisi wanita itu.


"Kenapa kau kemari?" tanya Erick.


"Hai Erick, kau sudah selesai rapat?"


Pertanyaan Laurent membuat Bertha menelan ludah. Sebab dialah yang mengatakan pada Laurent, jika Erick sedang rapat, seperti kebiasaan dahulu, jika seorang wanita ada di dalam ruangan.


"Bukan hal penting, hanga seorang teman lama," jawab Erick.


Pria itu melirik kearah bekal makanan yang ada di meja.


"Sejak kapan kau membawa bekal ke kantor, Bertha." Erick mengambil sepotong dada daging ayam yang di panggang.


"Itu...." Bertha tidak melanjutkan perkataannya ketika Laurent melotot.


"Kau harus belajar memasak, Bertha. Masakanmu hambar. Tapi di ujung lain terlalu asin." Erick mengkritik habis-habisan makanan yang dia makan.


Bertha hanya dapat tersenyum kecut mendengarkan ucapan Erick. Dia melirik ke arah Laurent yang berwajah datar.


"Jadi kenapa kau kemari?" tanya Eric lagi sambil menatap Laurent.


"Aku hAnya kebetulan lewat. Aku pikir bisa makan siang denganmu disini, tapi ternyata kau sedang ada tamu." Laurent tersenyum menyembunyikan perasaannya.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan kembali ke atas. Jangan makan bekal Bertha, bisa hilang selera makanmu. Lebih baik kau minta salah satu koki kantin ini untuk memasak makanan untukmu." Erick kemudian belum beranjak dari tempat duduknya.


Setelah Erick pergi. Laurent pun berniat untuk pergi.


"Nona...."


"Buang saja makanan itu, tidak usah memaksa untuk makan." Laurent tersenyum tipis ketika melihat Bertha hendak mengunyah makanan tersebut.


Wanita itu kemudian pergi meninggalkan gedung pencakar langit. Laurent memacu mobilnya dan memutuskan untuk berhenti di toko perhiasan miliknya.


" Hai boss, tumben kau kemari lagi, kemarin kan sudah." Assisten Laurent yang bernama Mario menyapa.


"Jaga mulutmu, dasar gay."


"Memang aku gay. Tapi aku juga teman yang terbaik untukmu.," sahut Mario acuh. Dia sudah terbiasa dengan sikap Laurent yang terkadang semaunya sendiri.


"Aku mau masuk ke dalam."


Mario mengikuti Laurent masuk ke dalam ruang kantor Laurent. Di ruangan besar yang memiliki sofa besar dan empuk, Laurent menjatuhkan dirinya.


"Ada apa dengan dirimu, kusut sekali."


"Aku hari ini belajar memasak."


"Apa?" tawa Mario meledak, membuat Laurent kesal.


"Apa salahnya?" Laurent melemparkan bantal kursi kepada Mario. Pria itu menangkapnya dengan mudah dan menjulurkan lidah ke arah Laurent.


"Kamu itu tuan Puteri. Sekali jentik, puluhan orang akan siap melayanimu. Buat apa repot - repot segala. Tanpa harus pandai memasak, semua juga suka."


"Tapi, Erick suka wanita yang bisa memasak."


"Ya suruh saja dia nikahi koki kalau tidak mau menerima kau apa adanya."


"Dasar Gay! Apa kau lupa, aku yang memaksa dia menikahiku. Bagaimana bisa aku membiarkan dia menerimaku apa adanya. Mungkin aku yang harus belajar menerima dia apa adanya."


"Tauk ah! Pusing. Kau punya segalanya, malah mencari jalan yang repot." Mario mengkerucutkan bibirnya sambil meremas bantal sofa.


"Entahlah. Selama ini hidup ku selalu mudah. Aku bisa mendapatkan semua keinginan ku dengan mudah. Kecuali cinta."


Laurent mentap langit-langit ruangannya yang penuh dengan lukisan.


"Dibeli saja cintanya pakai uang."


"Mau kau kubeli? Cintamu untuk diriku?"


"Sorry, gak level."


" Si alan dirimu!" Tawa mereka lepas.


"Jangan terlalu menyakiti dirimu sendiri, kau muda dan cantik."


"Tauk ah! Pusing sendiri sana." Mario keluar dari ruangan Laurent. Sebagai seorang pria yang bebas, Mario tidak pernah mau dirinya terikat dengan perasaan.


Bagi Laurent, Erick adalah pria yang berbeda. Pria yang selalu menjaga dirinya dan tak pernah sekalipun memanfaatkan dirinya. Jika Erick mu, dia bisa memanfaatkan Laurent untu mendapatkan kedudukan di keluarga Madison.


Pria itu bisa saja berpura-pura baik dan mencintai dirinya. Tapi nyatanya, Erick tidak seperti itu. Dia bahkan tidak pernah lagi melakukan hubungan suami istri, meskipun Laurent seringkali memancing. Harga diri Erick terlalu tinggi. Dia pria dengan prinsip.


Laurent sangat putus asa. Dia ingin sekali dicintai oleh Erick. Haruskah dia melepaskan harga diri dan memohon?


Sampai saat ini Laurent belum menyesal mencintai Erick. Menikahi Erick, meskipun sulit akan dia perjuangkan.


"Aku tidak akan kalah darimu Erick. Kau keras kepala, aku pun bisa lebih keras lagi."


Sore harinya Laurent kembali ke apartement sebelum Erick. Kali ini dia tidak mau menyusahkan dirinya dengan memasak. Jika lidah Erick tidak bisa menerima rasa masakannya yang nano-nano, maka ya sudahlah. Lebih baik membeli.


Toh, Laurent memiliki kelebihan sendiri. Dia adalah seorang pusat panutan mode, perancang perhiasan dan juga memiliki klub bisnis woman.


Laurent tidak akan mempermalukan dirinya sendiri lagi.


Untuk itulah, malam hari ini, Laurent sudah memesan masakan dari sebuah restaurant ternama. Dia mengenakan sebuah gaun, memasang lilin, menyiapkan makanan dan menanti Erick.


Pukul tujuh malam, Laurent mulai mengambil segelas wine, menanti Erick yang belum pulang. Pukul delapan malam, Erick juga belum pulang. Laurent bertambah bosan.


Pukul sepuluh malam, Laurent hanya bisa memandang hidangan steak yang sudah dingin dengan hampa. Denagn menarik napas panjang, Laurent menelphone Erick.


Tidak ada jawaban disana. Lebih dari sepuluh kali, Laurent menghubungi Erick, tapi semuanya sia-sia saja. Laurent menyeka air matanya yang mulai menetes. Dia menguatkan dirinya.


"Kau tidak boleh cengeng Laurent. Kau wanita yang kuat. Erick mungkin saja lembur. Bukankah dirimu juga sering lembur ?"


Bosan dengan keberadaannya sendirian di apartement kecil ini, Laurent menghubungi Mario.


"Kau belum tidurkan Pria pesolek?" ujar Laurent menggoda.


"Kenapa tuan Puteri? Kau merindukan diriku?"


"Iya. Kemarilah dalam waktu tigapuluh menit, maka kau akan mendapatkan seribu euro."


Sebelum Laurent sempat mematikan telphone, Mario sudah terlebih dahulu mematikannya. Laurent yakin pria pesolek itu sudah melesat cepat bagaikan superboy.


Benar saja sepuluh menit kemudian, Mario sudah berada di apartement. Kebetulan yang menguntungkan dirinya, karena dia berada di sekitaran jalan yang searah dengan apartement Erick.


"Cepat sekali ...."


"Kau tahu bagaimana otakku jika mendengar uang." Mario tertawa lepas.


"Hahaha. Makan itu. Aku membelinya mahal."


Mario segera melahat steak di meja.


"Seharusnya kau menikah dengan diriku saja," ujar Mario asal.


"Mana bisa punya keturunan aku menikah denganmu, Pesolek."


"Ya, kamu hamil saja sama Erick. Terus cerai, bawa benihmu biar aku yang merawat. Kau happy dapat benih, aku happy bisa mengendus uang selalu," Maroo terkekeh dengan ide konyol yang dia lontarkan.


"Kau ini sudah otak setengah, Matrenya yang gak habis." Laurent tergelak.


Semua berbeda dengan Erick. Pria itu menolak diriku justru karena uangku.


...โ˜•๐ŸŒนโ˜•๐ŸŒนโ˜•๐ŸŒนโค๐ŸŒนโคโ˜•๐ŸŒนโ˜•๐ŸŒนโ˜•๐ŸŒน...


JANGAN LUPA YA VOTE DAN POIN.


Saya berkarya anda membaca.


Saya menulis anda tekan like.


Saya berpikir anda tinggal beri hadiah poin.


Saya senang anda juga senang, update lancarrr.


Horeee!!!


Pahalanya besar lohhh โค