48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Kencan kedua 2.4



JASON POV


Aku dengan sengaja menagih hutang pada Lia dan mengajak gadis itu keluar, bertepatan dengan jadwal kencan yang dibuat oleh ibu ku dengan Irina Alexava. Jadwal kencan yang tidak pernah aku inginkan. Aku sudah muak dengan wanita yang bertingkah seolah-olah aku adalah trophy.


Entah mengapa aku sangat ingin untuk bertemu dengan Lia. Aku ingin mendengar kicauan dari bibir tipis nya dan wajah cemberut yang menggemaskan. Tapi yang lebih penting, aku ingin membuat dia dekat dengan diriku, agar dia mau melakukan kesepakatan denganku.


Benar! Aku menginginkan gadis itu menjadi batu loncatan untuk meraih singgasanaku. Gadis yang berhati baik dengan status sosial yang berbeda dariku, pasti akan lebih mudah aku kendalikan. Hanya Itu rencanaku.


Aku tidak boleh melenceng dari tujuan.


Aku ingin menunjukan pada Irina Alexava, jika kencan ini adalah sia-sia saja. Aku tidak menginginkan dirinya. Keberadaan Lia akan membantu Irina mengetahui posisinya, jika aku menolak perjodohan ini.


Hari ini aku bisa melihat kekesalan di matanya, ketika bertemu dengan Irina Alexava. Apakah gadis itu cemburu? Tapi kenapa dia tidak mencakar Irina, menyiramkan anggur ke pakaian Irina atau sekedar mendamprat wanita itu. Dia benar-benar berbeda dengan semua wanita yang aku kenal. Cara dia mengendalikan rasa jengkel sangat menarik.


Tapi aku benar-benar kesal dengan Lia, bukannya menagih janjiku, dia malah berniat meninggalkanku. Dengan terpaksa aku seret dirinya masuk ke dalam restaurant. Beruntung sekali dia bisa bersikap tenang di sana.


Tapi apa itu. Kenapa dia berbicara akrab dengan Erick. Kenapa dia tertawa dengan ceria dan tampak begitu manis. Dan... Erick, kenapa pula pria itu banyak bicara dan tersenyum pada Lia. Kenapa mereka berbisik akrab.


Erick menyebalkan! Sudah aku katakan jangan mengganggu Lia. Jangan merayu dia. Lia adalah trophyku, Erick tidak boleh menginginkannya. Lia tidak bileh jatuh hati pada Erick. Dan pria menyebalkan itu bahkan mengacuhkan tatapan mataku.


Entah apa yang dikatakan Irina, aku tidak dapat mendengar dengan jelas. Suara wanita ini terasa mengganggu bagi ku. Tidak kah dia mengerti jika aku tidak menginginkan dirinya.


Mereka tertawa lagi. Huh! Seharusnya aku duduk di kursi Erick. Seharusnya dia tertawa hanya kepadaku. Ingin rasanya aku menutup mata Erick yang terus menerus memandang Lia. Akan aku buat perhitungan denganmu nanti Erick!.


*


"Jason. Jasonnnn..." dengan lembut Irina memanggil Jason.


Jason tidak menghiraukan panggilan Irina. Pandangannya tertuju pada meja disebelahnya. Dia melihat bagaimana Lia makan hidangannya dengan sangat anggun. Jason terpukau ada sisi lain dari gadis itu yang tidak pernah dia lihat.


"Jason... mereka hendak menghidangkan salad, apakah kau sudah selesai dengan appetizer mu?" tanya Irina lagi seraya menyentuh tangan Jason.


"Ah iya, silahkan," sahut Jason tersadar.


Pelayan mengambil piring kosong dan menggantinya dengam salah buah. Jason tidak memilih menu apa pun sebelumnya. Dia hanya mengatakan pada pelayan untuk menghidangkan makanan yang sama dengan Irina. Saat itu perhatian Jason tertuju pada Lia.


Sementara itu Lia yang merasa mual dan jijik melihat model dari tentakel oktopus, memanggil pelayan untuk mendekati nya.


Pelayan itu dengan segera menghampiri Lia dan bertanya apa yang dia perlukan.


"Tolong berikan salad ini kepada pria itu. Katakan padanya, aku tidak suka dan dia harus menghabiskannya," ujar Lia dengan sopan kepada pelayan tersebut.


Pelayan tersebut mengambil piring dari hadapan Lia dan memberilan pada Jason.


"Tuan, ini dari nona disana. Dia bilang anda harus menghabiskan," ujar pelayan tersebut dengan sopan kemudian meninggalkan Jason.


Jason melihat makanan dihadapannya dan dia tersenyum. Pria tampan itu kemudian menoleh kepada Lia. Tapi gadis itu kembali bersikap tidak perduli dan tidak sedikitpun memandang ke arah Jason.


Meskipun demikian, Jason merasa senang, setidaknya Lia masih ingat jika dirinya ada diruangan yang sama dengan gadis itu. Jason menyingkirkan salad yang di pesan irina sebelumnya dan menghabiskan salad yang diberikan oleh Lia. Dia memakan hidangan itu dengan nikmat dan senyuman.


Setelah salad habis, datang hidangan soup.


Dan lagi-lagi hal yang sama terjadi. Pelayan mengirimkan soup cream jamur dari Lia kepada Jason. Sedangkan Lia menikmati tomato soup dengan irisan bacon. Lia memberikan soup cream jamur, karena teringat betapa pria itu menyukai soup tersebut.


Jason menyingkirkan piringnya yang berisi chicken steak dan menikmati lamb chopp dari Lia.


Irina menjadi jengah, semua makanan yang dia pesan untuk Jason, tidak di makan oleh pria itu. Makanan tersebut di kembalikan utuh kepada pelayan. Dan ini cukup memalukan bagi Irina.


Dia yang duduk dihadapan jason, semeja dengan pria ini, tapi kenapa seakan-akan sekretaris itu yang semeja dengan Jason. Pelayan tersebut pasti sudah bergosip dibelakang. Sekretaris itu harus diberi pelajaran, jika perlu dipermalukan.


Hingga hidangan penutup. Irina sudah memesan tiramisu. Dan apa yang terjadi, Lia mengirimkan Charlote cake dengan satu scoup hazelnut gelato. Sementara Lia sendiri hanya menikmati satu scouup strawberry dan satu scoup hazelnut gelato.


Irina meletakan sendoknya dengan kesal. Suara dentingan sendok yang dijatuhkan di piring dengan sengaja menarik perhatian beberapa pengunjung. Tapi tentu saja Jason tidak memperdulikannya. Setidaknya keinginannya sudah tercapai, agar Irina menyudahi kencan ini. Sikap Lia sangat membantu Jason.


"Sekteratismu itu, perhatian sekali ya. Seharusnya dari awal kita menyatukan meja dengan mereka," sindir Irina dengan suara lembut.


"Hemm," Jason hanya menggumam.


"Sekretarismu itu siapa namaya? Ah iya Lia bukan? Apakah dia sudah lama bekerja denganmu?" tanya Irina lagi.


"Hemm.." Jason hanya menggumam.


Irina meremas kain lap dihadapannya.


Aku harus bisa mengendalikan diri dan memenangkan pertandingan malam ini.


Ucap Irina dalam hati.


"Jason, bagaimana jika setelah ini kita ke lantai atas. Ada jazz bar disana. Kita bisa bernyanyi dan berbincang di sana. Sekalian saja kau ajak sekretaris dan assistenmu untuk meramaikan suasana," ujar Irina sambil menyentuh tangan Jason.


Dia tahu, dengan memberikan sentuha pada tangan Jason, maka pria itu akan memberikan perhatian padanya. Meskipun hanya sedetik Irina menyentuh tangan Jason, pria itu sudah menari kembali tangannya.


"Entahlah, aku harus bertanya kepada mereka," sahut Jason dengan malas.


"Ayolah Jason, aku rasa sekeretaris mu juga perlu bersenang-senang bukan?" Rayu Irina dengan memelas.


"Akan aku tanyakan pada mereka." Ujar Jason datar.


Sesungguhnya Jason tidak ingin melanjutkan malam ini dengan Irina. Dia hanya ingin menyelesaikan makan malam ini dengan segera dan membawa Lia pergi. Terlalu lama Lia berduaan dengan Erick itu akan berbahaya.


"Aku yang akan mengajak dia," ujar Irina sambil berdiri dan menghampiri Lia.


Sementara itu seorang pelayan datang setelah dipanggil oleh Jason untuk membawakan bill. Jason mengeluarkan kartu hitamnya. Dan pembayaran di proses saat itu juga dihadapan Jason oleh pelayan.


Dan entah apa yang di katakan Irina kepada Lia karena Irina kembali dengan wajah yang ceria. Saat itulah Jason langsung tahu, jika Lia menyetujui nya. Gadis itu seharusnya menolak dan Jason kembali salah menilai jalan pikiran Lia.


"Mereka menyetujuinya. Ayo Jason kita ke atas." Ajak Irina yang sudah siap dengan tas di bahunya.


Irina langsung menggandeng lengan Jason untuk keluar dari restaurant tersebut. Lia dan Erick mengikuti mereka dari belakang. Jason sengaja membiarkan Irina menggandeng lengannya.


Mereka menaiki tangga, karena Jazz bar yang dimaksud oleh Irina hanya terletak satu lantai di atas. Dan Jason tidak tahan lagi mendengar suara tawa renyah Lia dengan Erick. Bukannya gadis itu seharusnya marah karena Irina menggandeng dirinya? Lia, sikapmu membuatku jengkel


💗💗💗💗💗