48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Menggigit atau Mengulum Rajawali



"Sejak kapan kau bangun?" Masih dengan suara serak dan mata yang mengerjap, Lia malah membenamkan dirinya ke dalam dada Jason.


"Baru saja." Sahut Jason lembut sambil membelai punggung Lia yang tanpa benang sehelaipu .


"Jam berapa ini?" Lia masih merasa sangat lelah, akibat pergulatan intim dengan Jason semalaman. Entah berapa kali mereka melakukannya, yang penting sekarang Lia masih merasa mengantuk.


"Jam sepuluh."


"Hemm...masih malam." Lia bergumam dalam ingatannya dia masuk ke dalam kamar, setelah makan malam adalah sekitar jam delapan malam.


"Siang sayang." Bisik Jason lembut.


"Astaga!" Lia mendongakan kepalanya masih dengan mata mengerjap menatap Jason.


Jason tersenyum lembut dan menghadiahkan kecupan di kening Lia.


"Kau tidak bekerja?" Tanya Lia heran.


Jason menggelengkan kepalanya.


"Malas!" Ujar Lia lirih.


"Astaga! Aku masih ada tamu, Emely pasti heran karena aku tidak juga turun." Lia mengangkat tubuhnya dan duduk, tapi Jason menariknya kembali ke dalam pelukan.


"Biarkan saja. Jika dia tahu diri, sekarang pasti sudah pulang."


"Ih... itu temanku satu-satunya, bukan pelayanmu." Lia menepuk dada Jason gemas, ingin mencubit juga percuma, tidak ada lemak disana.


Lia menyibakan selimut yang menutupi dirinya dan segera menutupnya kembali ketika sadar, jika dirinya masih telanjang. Pipi Lia sontak memerah. Ini pertama kalinya dia bangun tidur dengan kondisi telanjang bulat. Sejak kapan dia tertidur pun dirinya tidak tahu.


"Kenapa..., semalaman kan aku sudah melihat semua begitu juga dirimu." Ujar Jason lembut. Perkataan Jason membuat wajah dan telinga Lia bagaikan kepiting rebus. Dan Jason makin menyukainya.


"Kau mau melihatnya lagi? Atau kau mau melakukannya lagi?" Bisik Jason di telinga Lia.


Lia menepiskan tangan Jason yang hendak menjalar ke dada nya. Tidak lagi. Badannya masih terasa lelah. Bahkan Lia yakin juka dirinya tertidur lebih dahulu daripada Jason. Lia baru tahu, jika pria bisa sebuas itu dan bercinta bisa memakan waktu yang lebih lama dari pada olah raga.


Lia membelitkan selimut ke tubuhnya dan beranjak turun. Tapi baru saja dia berdiri dan berjalan dua langkah. Lia Jatuh di lantai yang beralaska karpet tebal. Jason yang melihat hal itu segera lompat dari tempat tidur dan mengangkat tubuh Lia.


"Ada apa, kenapa sampai terjatuh?" Jason yang panik, masih memangku Lia di sofa yang berhimpitan dengan tempat tidur.


"Lututku gemetaran. Paha dan pinggul ku sakit. He..eh.. Ini lebih sakit daripada lelah berlari." Rengek Lia.


Jason tertawa. Lia cemberut sambil menyembunyikan wajahnya di dalam dada Jason. Gadis itu malu sekaligus kesal, karena sekujur tubuhnya sangat sakit. Dan bisa dia pastikan semua itu adalah akibat ulah Jason.


"Aku mau ke kamar mandi." Rengek Lia manja.


"Hahhahahha kucing liarku sekarang menjadi kucing manja." Jason malah semakin menggoda.


"Tidak aku sangka Rajawaliku sanggup menjinakan kucing yang liar." Ujar Jason lagi masih terus menggoda.


"Teruskan yaaaa, nanti aku ngompol disini." Rajuk Lia kesal.


"Nah tuh kan, manja. Mau kencing saja minta di gendong." Jason masih menggoda sambil memeluk Lia.


"Ya udah aku jalan sendiri." Ujar Lia dengan cemberut.


Siapa juga yang minta di gendong, aku pasti bisa meskipun merangkak. Eh! Ini kan salah dia yang membuat lututku gemataran. Jadi tidak ada salahnya dong dia mengantarku ke kamar mandi.


"Minta gendong saja, gengsi. Sekalian mau aku basuhkan setelah kencing?" Bisik Jason lembut di telinga Lia.


"Hiiii... stop jangan berbicara." Lia melotot kesal.


Dirinya saat ini berada dalam gendongan Jason, masih lengkap dengan selimut yang membebat tubuhnya. Di kamar mandi Lia masih berusaha kencing dengan mempertahankan selimut di tubuhnya, sambil memejamkan mata.


Tentu saja Jason merasa geli melihatnya. Apalagi Jason saat ini berdiri dengan telanjang bulat. Oleh karena itu Lia menutup matanya. Cukup pusing melihat rajawali itu bergoyang seakan-akan mengolok-ngolok dirinya.


Jason kemudian menyiapkan air hangat di bath up dan membantu Lia masuk ke dalam bak mandi. Gadis itu bersiteguh ingin mandi sendiri dan menikmati kehangatan air untuk melemaskan otot-otot nya yang sakit.


"KELUAR! Aku mau mandi sendiri. Stop! Jangan menggodaku. Atau aku gigit ya rajawali mu!" Bentak Lia kesal sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Jason menggoda Lia dengan berdiri tegak dihadapan gadis itu.


"Coba saja gigit, apa kau tega?" Tantang Jason.


Kemudian pria itu semakin menggoda Lia dan berbisik.


"Aku ingin tau kau akan mengigit atau mengulum nya."


"JASONNNN JOROKKK KELUARRRRRR!!!" suara Lia melengking.


"Keluarrrr! Kalau gak aku menangis ini!" Ancam Lia kesal.


"Okey! Okey! Aku keluar." Masih dengan tertawa menggoda, Jason melangkah pergi.


Di depan pintu kamar mandi, Jason berbalik, "panggil saja aku, jika kau tidak bisa berdiri dan mengeringkan tubuhmu."


"He emh." Lia bergumam.


Ini yang Lia perlukan. Waktu merilekskan diri tanpa godaan Jason. Jujur saja Lia sangat menikmati waktu berduaan dengan Jason. Apalagi semalam.... dia baru menyadari jika bercinta itu sangat indah dan ehem.. Entah mengapa mengingatnya kembali membuat ratusan bubble mengalir di dalam tubuhnya.


Setelah dia rasa cukup lama berendam, Lia dengan perlahan, masih dengan tertatih berdiri diatas bath up dan mengguyur tubuhnya dengan air hangat.


Lia menggunakan kimono nya keluar dari kamar mandi. Di dalam kamar dia melihat jika sprei kamar sudah berganti. Jason tampaknya sudah selesai mandi. Mungkin pria itu mandi di kamar lain yang selalu dia kunci.


"Kau sudah selesai? Bisa jalan?" Tanya Jason dengan perhatian.


Lia mengangguk. Dia menuju ke walking closet.


"Berdandanlah, aku akan mengajakmu keluar hari ini." Ujar Jason lembut. Pria itu tiba-tiba sudah berada di belakangnya dan memeluk tubuh Lia.


"Iya. Aku akan mengajakmu berbelanja pakaian. Mulai hari ini, kemanapun aku pergi, kau akan ikut."


Lia terbelalak tak percaya


Benarkah, aku tidak akan terkurung di sangkar emas ini lagi?


"Kalau kau di kantor, apa yang akan aku lakukan?" Tanya Lia lembut.


Dia tidak bisa membayangkan dirinya hanya duduk diam didepan Jason, seperti ketika dia menemani Jason bekerja di dalam Mansion. Sepanjang hari seperti itu pasti membosankan.


"Apa yang kau inginkan? Bekerja?"


Lia membalikan tubuhnya dan menatap Jason dengan mata penuh harap.


"Bisakah?"


"Akan aku pertimbangkan." Sahut Jason lembut sambil membelai wajah cantik Asia dihadapannya.


"Kenapa begitu?"


"Tergantung bagaimana kau bersikap padaku." Bisik Jason lagi.


Saat itu bukannya Lia merasa tersanjung dengan pipi merona. Justru gadis itu mencibir kesal. Dia merasa seakan di perlakukan seperti seorang wanita, yang hanya bisa mendapatkan kedudukan setelah memuaskan hasrat tuannya.


"Kalau tidak rela aku bekerja, ya sudah aku di rumah saja. Banyak hiburan yang bisa aku lakukan. Toh aku sudah terbiasa juga." Ujarnya kesal.


Mendengar hal itu, Jason menjadi cemburu. Teringat bagaimana Lia menghabiskan waktu dengan pengawal nya.


"Kau ini!" Jason gemas. Dia sampai kehabisan kata-kata.


"Kalau kau mengijinkan aku bekerja, berikan posisi sesuai kualifikasi ku. Bukan seperti aku mengemis dan menukar pekerjaan dengan tubuhku." Lagi Lia berbicara dengan ketus.


"Baiklah, sesuai dengan kualifikasimu." Jason menyambar bibir Lia, dan menciumnya dengan mesra.


Sesaat lamanya mereka berciuman hingga alarm tanda lapar berbunyi di perut Lia.


"Ayo kita makan dulu."


"Biarkan aku mengenakan gaun dulu."


Dengan mesra mereka turun ke lantai bawah. Makan siang sudah disiapkan. Lia melihat butler Bernard sudah berdiri dengan gagah, seakan tidak ada sisa letih di tubuhnya.


Melihat butler Bernard yang sudah segar, sedangkan dirinya merasa letih dan terasa remuk. Lia menyadari, jika pria tua itu pasti sangat sengsara beberapa hari yang lalu.


"Jason, sebelum kita berbelanja, aku rasa aku memerlukan therapys untuk memijat seluruh tubuhku."


"Baiklah. Kita akan ke spa terlebih dahulu sebelum berbelanja."


Cup! Lia mengecup bibir Jason lembut.


"Butler, apakah Emely sudah pergi?" tanya Lia.


"Pagi-pagi sekalo Nona, dia menitipkan salam pada Anda." sahut butler Bernard yang dijawab dengan anggukan kepala Lia.


Seorang pelayan, tampak takut-takut menghampiri butler Bernard Dia mengajak pria tua itu menuju ke belakang. Butler Bernard mengikuti pelayan tersebut.


Sesampainya di ruang mencuci pelayan itu menunjukan sprei yang harus dia cuci dari kamar utama. Butler Bernard terkejut melihat keadaan sprei itu. Pelayan itu menatap Butler Bernard dengan rasa takut.


"Sprei itu sudah seperti itu ketika Adonia membawa turun dari kamar tuan muda. Kami tidak melakukan apapun dengan sprei itu." Ujar mereka ketakutan.


Butler Bernard diam. Dia meminta mereka tetap mencuci sprei itu. Dengan menyimpan segala tanda tanya butler Bernard kembali ke ruang makan.


Tampaknya Lia dan Jason sudah bersiap untuk keluar. Dan butler Bernard menyempatkan diri mendekati Jason sambil berbisik," tuan muda sprei itu..."


"Aku yang melakukan. Jangan khawatir." Sahut Jason cepat.


"Ah, baiklah kalau begitu." Butler Bernard mundur menjauh.


Lia dan Jason masuk kedalam mobil. Dari dalam mobil Lia melihat sudut bibir Carlos dan ke lima anak buahnya tampak terluka.


"Apa yang terjadi pada mereka? Kau menghukum mereka?" Tanya Lia dengan heran.


"Mereka pantas menerimanya." Sahut Jason singkat.


"Kau menghukum mereka karena mematuhi perintahku?" Tanya Lia dengan nada tinggi.


Jason diam. Sesaat kemudian dia menjawab.


"Hukuman seperti itu adalah hal yang ringan bagi mereka. Mereka sudah terlatih." Jawabnya acuh.


"Seharusnya kau menghukumku yang sudah memberikan perintah pada mereka." Sahut Lia kesal.


Jason menoleh pada Lia.


"Bukannya semalam kau sudah menerima hukuman dariku. Apa perlu aku tambahkan disini?"


Jason menarik tubuh Lia, hingga gadis itu berada dalam dekapan Jason. Wajah Lia kembali memerah dan entah kenapa dalam posisi seperti ini, Lia merasa sangat malu membalas tatapan mata Jason. Dia memalingkan wajahnya.


"Sudah ah. Kita di mobil. Jangan berbuat aneh. Malu." Ujar Lia sambil mendorong wajah Jason yang perlahan mendekatinya.


Tapi apa yang terjadi. Supir pribadi Jason lebih paham apa yang harus mereka lakukan. Satu tombol saja, kaca pembatas antara ruang depan dan ruang belakang mobil sudah tertutup.


Dan alunan musik lembut memenuhi ruangan mobil yang berjalan dengan lambat.


Kali ini pasangan muda yang sedang dibalut asmara itu, menuntaskan hasrat mereka di dalam mobil mewah tersebut. Lia masih meringis kesakitan ketika rajawali kembali memasuki sarang emas. Namun, setelah pelajaran berkali-kali semalam, Lia mulai mengerti jika dia harus merilexkan organ kewanitaanya, agar tidak terlalu menyakitkan.


...💖💖💖💖💖💖💖...