48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
pengantin baru



Di dalam kamar mandi, Lia sudah mengeringkan tubuhnya dan dengan menggunakan bathrobe, Lia keluar dari kamar mandi.


"Ada baju kan buatku?" Todong Lia langsung kepada Jason.


Jason melangkah menuju lemari kecil dan mengeluarkan sebuah gaun casual yang indah. Gaun panjang dengan tali kecil di bahu, bermotif warna-warni rumput liar di padang.


"Aku suka seleramu," ujar Lia dengan tersenyum lebar.


Bukan hanya gaun, pakaian dalam lengkap juga sudah tersedia. Untuk ini Lia mengacungkan jempol. Lia membawa pakaian di dalam kamar mandi dan duduk di depan cermin. Dia mengoleskan wajahnya dengan perawatan kulit yang sudah di siapkan, dan sama persis dengan merk yang tersedia di mansion Jason dulu.


Lia mengeringkan rambutnya dengan hairdryer yang tersedia. Sambil mengeringkan, dia melamun. Ingatannya melayang pada peristiwa semalam. Sedikit demi sedikit dia teringat bertemu Jason, percakapan yang dia lupakan detailnya hingga pernikahan di KUA.


Lia melihat jemari nya dan sangat terkejut, karena di sana sudah tersemat cincin emas polos yang tebal. Dia heran, sejak kapan dia memiliki cincin ini. Kenapa juga harus polos? Masa mimpi ku adalah kenyataan?


Lia tersentak. Dia mematikan hairdyer dan dengan segera mengenakan pakaian. Kemudian dia termangu kembali di depan cermin. Menatap dirinya di dalam cermin, kemudian mengangkat tangan dan melihat cincin tersebut masih tersemat di jari nya.


Lia menepuk pipinya, menoel pipinya.


Aow sakit!


Plak! Sakit!


Tunggu! Apa yang aku pikirkan tadi?!


Menikah?!


Tidak Mungkin!!!!!


Ah, Cincin ini pasti akal-akalan Jason.


Lia kemudian keluar dari kamar mandi dan menghempaskan tubuhnya di depan Jason. Aroma harum yang semerbak dari tubuh Lia, menggunggah Jason dari tidur ayam nya.


Jason membuka mata dan melihat wajah gadis itu yang berubah serius.


Ini dia. Ah mana handphone ku.


Jason, meraba mencari handphone nya. Dan pura-pura sibuk dengan ponselnya. Kemudian Jason memposisikan handphone itu berdiri dengan satu tangannya yang bersandar di bahu sofa.


"Ada apa denganmu?" Tanya Jason.


"Ini, apa ini?" Tanya Lia serius.


"Cincin." Jawab Jason singkat.


"Iya aku tahu, cincin. Tapi kenapa ada di jariku?"


"Bukankah kau yang memintanya semalam?" jawab Jason sambil menahan senyuman.


"Tunggu, kenapa aku meminta cincin kepada mu?"


Jason mengangkat bahu. Sesungguhnya Jason ingin mengatakan, bagaimana Lia merengek semalam dan berkata, bagaimana bisa mereka menikah tanpa adanya cincin yang berukir nama pasangannya.


Akhirnya Erick harus membangunkan pemilik toko perhiasan kenalan nya dan memaksa mereka untuk menyiapkan cincin pernikahan Jason dan Lia. Cincin mereka peroleh dalam waktu satu jam. Beruntung sekali, toko tersebut memiliki ukuran yang pas untuk Jason dan Lia.


Melihat Jason mengangkat bahu dan tersenyum simpul. Lia merasa curiga.


"Semalam..... apa terjadi sesuatu?" Tanya Lia menyelidik.


Jason diam.


"Kenapa aku merasa jika mimpiku seperti kenyataan?" Gumam Lia bingung.


"Apa mimpi mu.... mungkin aku bisa membantu menyegarkan ingatanmu apakah itu mimpi atau kenyataan?" Ujar Jason menggoda.


"Aku bermimpi, kita membuat surat perjanjian seharga 48 juta dolar, eh benarkah uang sebanyak itu, entahlah aku tidak yakin. Kemudian... kita membeli cincin dan menikah. Arghhhh ... itu pasti mimpi kannn.. hahhahaha iyaaa pasti mimpi kannn... " ujar Lia dengan tertawa geli.


"Kenapa kau merasa itu mimpi?"


"Mana mungkin kau mengajakku menikah. Calon-calonmu tentunya lebih cantik, anggun dan berdada besar," ujar Lia sambil meletakan kedua tangannya di dada, menggambarkan dada yang besar.


Jason terkekeh. Dia menghentikan posisi video di hadphonenya dengan terpaksa. Kemudian Jason membuka galery dan menunjukan suatu foto pada Lia.


"Apa seperti ini mimpi mu?" Ujar Jason menunjukan sebuah foto pada Lia.


Lia mendekatkan dirinya pada layar ponsel Jason. Matanya terbelalak disana adalah dirinya sedang mencium pipi Jason seraya memamerkan cincin pernikahan yang sudah tersemat di jari.


Lia mundur dan mengusap bibirnya.


"Tidak mungkin..... Kau pasti mengerjai aku bukan?" Ujar Lia menyakinkan diri jika semua hanyalah permainan.


Jason mengangkat tangannya. Disana sudah tersemat cincin pernikahan yang sama persis model nya, dengan yang ada ditangan Lia.


"Arghhhh.. tidak mungkin. Kau pasti menipukuuuu..." Lia mundur dan bersandar di dalam sofa sambil memeluk lututnya dan menatap Jason tidak percaya.


"Kenapa tidak mungkin? Kita sudah menikah sayang, Kau dan aku adalah suami istri saat ini," ujar Jason lembut.


"Tidak mungkin. Tidak mungkin. Kau pasti menipuku. Kau pasti memanfaatkanku," ujar Lia tidak percaya.


"Bukannya dirimu yang memanfaatkanku?"


Lia memandang Jason tidak mengerti.


Jason lagi-lagi menggeser galery foto di smartphone milik nya. Dan menunjukan sebuah foto pada Lia. Gadis itu melotot. Dia menyambar smarphone dari tangan Jason dan memperbesar foto tersebut.


Sebuah foto SURAT KESEPAKATAN.


Lia memperbesar foto tersebut dan membacanya dengan teliti.


Kesepakatan No satu merupakan kesepakatan menikah selama empat puluh delapan bulan. Empat tahun jadinya.


...Busyett lama banget perjanjiannya....


Kesepakatan No dua, adalah uang empat puluh delapan juta dolar jika mereka bercerai setelah empat puluh delapan bulan.


Tulisan itu adalah tulisan tangan miliknya.


Lia menyeringai, setidaknya dia tidak bodoh.


Dia geser lagi foto tersebut dan melihat ada kesepakatan ke tiga.


Kesepakatan No tiga. Harus memiliki anak dalam kurun waktu empat puluh delapan bulan.


Kesepakatan no Empat. Pihak wanita harus patuh pada pihak pria dan jika tidak menjalankan kesepakatan diatas, maka akan membayar denda sebesar sepuluh kali lipat.


Lia berdiri dari duduknya dia membaca ulang surat kesepakatan tersebut yang sudah dia tanda tangani, ada saksi dan sah secara hukum.


"Aaaaaaaaa...... tidak mungkinnnnn!!!!" Lia menjerit sambil melemparkan handphone Jason. Jason dengan sigap menangkap handphone nya.


"Kau! Kau pasti menipuku. Kau pasti menjahili ku. Tidak mungkinnn!" Lia histeris.


"Bukankah kau lulusan ilmu hukum, tentu kau tahu surat kesepakatan ini adalah sah." Sahut Jason datar.


"Tapi. Tapi aku tidak sadar dalam menandatanganinya." Sanggah Lia cepat.


Lia meremas rambutnya. Samar-samar dia ingat dengan kesepakatan no satu dan dua. Tapi tidak dengan nomor tiga dan empat.


"Kau!!!! Arghhhhh!!!!!" Lia memposisikan kedua tangannya didepan seolah-olah ingin mencengkeram Jason. Dia kesal, gemas, marah dan frustasi jadi satu.


"Tidak mungkin!!!! Kau pasti menipuku!!! Huaaaa...." Lia dengan gemas bersujud di atas kasur dan meremas sprei kuat-kuat.


"Kau pasti menipukuuu... huaaaa.... pernikahanku bagaimana mungkin seperti ini? Huaaaa.... Jason jelekkkkkkkk!!!!"


Lia merancau dengan kesal sambil meremas kemudian memukuli kasur.


Jason merasa sedikit bersalah di dalam relung hatinya. Dia menghampiri Lia dan membelai lembut rambut gadis itu yang sudah menjadi istrinya.


Jason memang sudah memanipulasi Lia yang sedang dalam keadaan mabuk untuk kepentingan dirinya. Waktu Jason tidak banyak. Empat tahun lagi, tepat ketika dirinya berusia tiga puluh dua tahun, adalah saat diumumkan nya status Jason sebagai ahli waris yang sah.


Dan dia harus memiliki anak. Jason hanya mau memilki anak dari wanita yang berhati tulus dan murni. Kedudukannya tidak dapat terguncang dengan adanya anak laki-laki disamping Jason.


"Aku tidak menipumu kucing manis, ini kenyataan. Kau menginginkan kesepakatan ini." Ujar nya lembut.


"Hiiiiih... kau menghancurkan impianku, lamaran dan pernikahan romantisku, " gerutu Liaa kesal dengan memposisikan tangannya hendak mencengkeram Jason.


"Kita bisa mengulanginya sebanyak yang kau mau."


"Berarti surat kesepakatannya disobek?"


"Eits enak saja. Itu kan sudah sah secara hukum. Kau mau membayar denda?"


Lia menggeleng lemah. Sesaat dia terdiam lemas.


Kemudian dia tersadar sesuatu.


Lia menutup bibirnya. Dan meloncat dari atas kasur, berdiri menjauhi Jason.


"Jangan bilang kau sudah menciumku juga semalam." Ujar nya melotot.


"Kenapa memangnya?" tanya Jason geli.


"Itu ciuman pertamaku. Jangan katakan kau menciumku sewaktu aku tidak sadar!" Bentak Lia dengan marah.


Setidaknya itu salah satu hal penting yang selalu aki jaga selama ini.


"Kalau begitu akan aku lakukan ketika kau sadar." Jason berdiri dengan cepat dan memeluk tubuh Lia dengan erat kemudian mencium bibir Lia.


Lia meronta, tapi dia tidak bisa melepaskan tubuhnya dari pelukan Jason. Kedua tangannya terjuntai di sisi tubuhnya sendiri dan terapit oleh pelukan Jason. Jason mencium Lia dengan sangat dalam dan panjang.


Gadis itu akhirnya menghentakan kakinya menginjak kaki Jason dengan kuat-kuat. Tindakan itu berhasil membuat Jason melepaskan ciumannya. Dan Lia dengan terengah-engah menghirup oksigen.


"Jason jelekkkk!!!!! Kau merampas ciuman pertamaku!"


"Aku kan suamimu. Itu hak ku!" Ujar Jason lembut.


"Argghhh aku tidak terima. Ini penipuannn!"


"Jangan khawatir sayangku, pengacaraku akan mengirimkan copy dari kesepakatan itu untuk kau baca dan simpan."


Jason mengecup bibir Lia sekali lagi. Kemudian melepaskan pelukannya saat terdengar suara pilot mengatakan jika pesawat akan mendarat di bandara Charles de Gaulle di Paris.


"Duduklah. Sebentar lagi pesawat akan mendarat." Jason mendudukan Lia dan membantu gadis itu memasang seat belt. Jason duduk di hadapan Lia.


Masih tampak dengan Jelas raut wajah Lia yang kesal. Lia masih marah, tetapi tidak ada air mata di sana. Dia jengkel pada Jason tapi tidak membenci pria itu.


Pesawat mendarat dengan mulus nya di landasan bandara International di Paris-Prancis. Pilot mengumumkan jika mereka bisa melepaskan seat belt dan bersiap untuk turun.


Jason melepaskan seat beltnya dan merapikan barang-barang yang akan dia bawa turun. Sementara Lia masih duduk di kursi dengan termenung.


"Kucing kecil, lepaskan seat belt mu. Kita sudah sampai." Ujar Jason lembut.


Lia mencengkeram seat belt nya.


"Tidak! Aku tidak mau turun!"


"Kau harus turun. Pesawat ini akan dibersihkan dan dimatikan."


"Tidak! Aku tidak mau turun. Antarkan aku pulang!!!"


"Pulang? Rumahmu ada disini kucing manis ku." Jawab Jason dengan menahan tawa.


"Antarkan aku pulang ke Miami. Aku mau pulang."


"Baik lah. Lepaskan seat beltmu dulu. Aku akan membawamu pulang." Ujar Jason lembut.


"Kenapa harus lepas seat belt. Suruh pilot langsung terbang."


"Pesawat ini kan perlu isi bahan bakar juga sayangku. Ayo sini aku bantu melepaskan seat beltmu."


Jason dengan cepat memanfaatkan kelengahan Lia dan melepaskan seat belt gadis itu. Kemudian dia menggandeng tangan Lia menuruni tangga ke lantai bawah. Belum sempat Jason membawa Lia keluar dari pesawat, gadis itu berlari kearah dalam.


"Aku tidak mau keluar. Aku mau pulang."


Lia tahu, begitu dia keluar dari pesawat ini, maka status dirinya adalah istri Jason. Dan Lia belum bisa menerima kenyataan itu.


Jason dengan sigap menarik pinggang Lia kemudian memanggul gadis itu layaknya sekantong beras. Dia membawa gadis itu keluar dari dalam pesawat. Kepala Lia terjuntai ke bawah di balik punggung Jason. Lia menjerit dan memukul-mukul punggung Jason.


"Aku tidak mau turun. Aku mau pulangg!!!" Jerit Lia dengan meronta.


Jason tetap melangkah turun dari pesawat. Dia mempererat pegangangan pada paha Lia, karena gadis itu berontak cukup keras.


"Turunkan aku. Kau penipu!!!" teriak Lia dengan lebik keras.


Lia memukul-mukul punggung Jason kuat-kuat.


"Pulangggg!!!"


Jason memukul pantat Lia perlahan.


"Aow! Kenapa memukul ku!" bentak Lia.


"Diam lah sebelum tenggorokanmu sakit." Sahut Jason.


Lia mengangkat kepalanya, hendak menjawab perkataan Jason. Dan saat itu dengan posisi tubuh terbalik yang masih di panggul oleh Jason, Lia melihat beberapa orang yang berpakaian rapi berjajar menatap kearah nya dengan heran.


"Hai...." sapa Lia kepada mereka sambil melambaikan tangannya dan tersenyum manis.


Beberapa executive dan pengawal yang menyambut kedatangan Jason, awalnya terperangah melihat tontonan di hadapan mereka.


Kemudian melihat Lia yang tiba-tiba tersenyum dan melambaikan tangan dari posisinya yang seperti itu, membuat mereka tersenyum dan serentak berkata, "Hallo nona selamat datang di Paris."


Setelah melihat Jason dan Lia sedikit menjauh, semua menoleh ke arah Erick. Erickk hanya tersenyum kecil sambil mengangkat bahu.


"Maklum pengantin baru." Ujar Erick dengan tersenyum kecil.


💗💗💗💗💗