48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Pertandingan



Pertandingan dengan Lia yang menjadi wasitnya, jangan harap ada baku hantam seperti di dalam ring tinju. Jauh-jauh dari pikiran itu. Menonton tinju dan pertandingan karate saja, Lia enggan. Apalagi harus secara langsung menjadi wasit untuk baku hantam.


Saat ini kedua pria itu duduk berhadapan. Masih dengan wajah yang babak belur. Mereka saling menatap dengan tajam. Mata mereka berkilat, bagaikan kilatan pedang yang saling beradu dengan hebat. Suasana tampak begitu dingin dan tegang.


Sementara Lia yang duduk di tengah kedua orang ini, masih tidak mengerti dengan apa yang membuat kedua sahabat baik ini , harus bertengkar. Keduanya masih mengunci bibir, enggan memulai percakapan.


Tak lama pintu ruangan di ketuk. Seorang office boy masuk dengan membawa troly. Semerbak aroma gurih menusuk ruangan. Aroma itu membuat pandangan dingin mata kedua pria itu, melirik ke arah troly.


Office boy membuka penutup masakan, kemudian menyuguhkan mangkok besar kehadapan ketiga orang tersebut. Disamping mangkok besar itu, masing-masing terdapat piring kecil dengan pasta berwarna merah kehitaman. Tak lupa ada tiga botol air mineral dengan gelas kosong. Dia membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruangan Erick.


"Apa ini?" tanya Jason melirik mangkoknya.


"Ramyoen. Mie Korea. Enak kok." Sahut Lia.


Dengan ragu, Jason dan Erick yang belum pernah memakan mie tersebut mencoba kaldu sapi nya. Nampak lezat di lidah mereka. Mie dengan irisan daging sapi dan telor setengah matang, yang disiram kuah kaldu dengan warna keorangean.


"Jadi, kalian akan bertanding makan mie ini." Ucap Lia dengan bersemangat.


"Heh! Aku yakin kau pasti kalah." Ujar Erick dengan percaya diri. Dia sudah bersiap memegang sumpit ditangannya.


"Kau pikir aku lemah?" Sanggah Jason drngan gusar.


"Ayo kita mulai!" tantang Eric.


"Ayo!" Jason bersiap menjepit mie tersebut.


"Eits! Tunggu! Wasit belum memberikan persyaratannya. Kalian sudah mencicipi kuah kaldunya, bukan? Enak, bukan?"


Kedua pria itu mengangguk tak sabar.


"Sekarang, kita campur dengan ini. Pasti lebih enak." Lia mengambil pasta berwarna merah dan mencampurkannya di masing-masing mangkok sup sampai rata.


"Apa itu?" Jason merasa heran dengan aroma yang menyengat dari pasta tersebut.


"Penyedap." Jawab Lia singkat.


"Oke selesai. Siapa yang bisa menghabiskan ramyoen tersebut lebih dahulu, sampai mangkoknya bersih, berhak memberikan perintah yang harus dituruti oleh pihak yang kalah. Bagaimana? Setuju?" tanya Lia sekali lagi.


"Aku setuju!" Jawab Erick dengan cepat.


"Tidak akan susah mengalahkan dirinya." Sahut Jason dengan sombong.


"Baiklah. Jangan menjilat ludah sendiri ya. Satu ... dua ... tiga!" Lia memberi aba-aba.


Dengan cepat dan penuh percaya diri, Hason dan Erick menyumpit mie tersebut. Melahapnya dengan bersemangat dan penuh keyakinan akan menang. Mereka mengunyah sambil melirik saingan dihadapan. Suapan kedua mulai dimasukan kedalam mulut mereka.


Sementara Lia, juga menikmati bagiannya dengan tenang dan perlahan. Dia sungguh amat senang, karena bisa makan mie ramyouen super pedas ini. Benar-benar nikmat. Meskipun bibirnya menjadi merah bagaikan mawar, Lia makan dengan penuh perasaan.


Suapan ketiga hendak dimasukan kedalam mulut kedua pria itu. Tapi langsung saja, syaraf di lidah mengirimkan pesan ke otak mereka. Rasa panas yang membakar itu sudah meneteskan peluh dalam ruangan ber Ac. Mereka menjulurkan lidah sambil mendesis.


"Makanan apa ini?!" desis Jason.


"Kau tidak sanggup? Berarti kalah." Ucap Erick yang juga mendesis keras, namun masih keras kepala.


"Siapa bilang aku takut?" Sahut Jason tak terima.


Pria angkuh itu kembali menyumpit mie nya dalam porsi besar dan mengunyah meskipun mulutnya sudah terasa bagai bara api.


"Jangan lupa supnya." ujar Lia sambil menyeruput kuah ramyouen.


Slurrppp ....


Kedua pria itu menoleh kearah Lia yang asyik menghirup sup super pedas itu dengan nikmat. Mie masih bergelantungan di mulut mereka. Dan mata mereka terpaku kearah Lia yang santai sanja menikmati kuah mie ramyoen tersebut.


"Huaa ...." Jason tak tahan lagi. Dia meletakan sumpir dan meminun air mineral labgsung di botolnya.


Erick masih mencoba bertahan dan menghirup satu sendok sup. Tapi dia akhirnya tak tahan pula. Pria itu menyambar botol air mineral kemudian menegaknya sampai habis.


Satu botol sudah habis. Dan mereka berdua masih berlomba memakan mie ramyoen.


"Air! Aku mau air lagi!" Pinta Jason dan Erick bersamaan.


"Tidak ada lagi. Kalian kan sudah menghabiskannya." Ujar Lia santai.


"Jangan bentak istriku!" Teriak Jason pada Erick.


"Honey, aku minta airmu, please." Pinta Jason memelas dengan wajah super cute.


Lia menggeleng, sambil mengunyah mie terakhirnya.


"Aku sudah memberi kalian porsi yang adil tadi. Masing-masing dari kita memiliki satu mangkok mie, pasta dan air mineral. Adil bukan?"


"Tapi, kau tidak bilang jika mie ini pedas." Ucap Erick dengan gusar.


Jason melotot mendengar Erick berbicara dengan nada tinggi pada Lia. Erick labgsung sadar dan duduk kembali.


"Kan aku sudah mennyuruh kalian mencicipi ya lebih dahulu. Dimana salahku. Ayo dimakan, atau aku yang akan menang." dengan santai Lia menyendoki kuah sup dan menyeruputnya


Kedua pria itu akhirnya kemabli berusaha untuk memakan mie. Tabuh bagi mereka untuk mengalah di tengah jalan. Mie masih tiga perempat mangkok, tapi rasa panas sudah menjalar keseluruh bagian tubuh. Kedua pria itu berkeringat.


Lia meletakan sendok di mangkok kosongnya. Dia memandang kedua pria yang sudah duduk bersandar sambil mengipasi lidah mereka. Jas sudah terlepas, dasi sudah diperlonggar. Kulit mereka sekarang sudah memerah.


"Baiklah, kalian akan lanjutkan? Atau menuruti keinginanku?" tanya Lia dengan santai. Lia mendelik ke arah Jason yang hendak memakan mie lagi. Dia tahu, Jason tidak tahan dengan rasa pedas, karena itu Lia memesan semangkok mie lagi untuk dirinya dan memakan dengan cepat. Jadi entah Jason atau dirinya yang menang, bukan masalah.


"Aku menyerah!" ujar Jason meletakan sumpitnya.


"Berarti aku menang?" tanya Erick.


Lia menggeleng.


"Mie mu saja tidak habis. Lihat bagianku sudah kosong." Ujar Lia.


"Aku tidak akan menyerah. Aku akan menghabiskannya." Erick kemudian memakan mie lagi dalam jumlah besar. Mengunyah pula irisan daging sapi. Dia menahan rasa panas dan keringat yang menetes deras sebesar biji jagung. Erick benar-benar berjuang, meskipun dia sendiri tidak tahu, apa dasar dirinya melakukan ini semua.


Jika dia menang, dia berhak menentukan sikap tanpa ada tuntutan atau ancaman dari Jason. Erick ingin menentukan sikap tanpa rasa takut terintimidasi oleh siapapun. Tapi, benarkah dia ingin berpisah dengan Laurent?


Ternyata tubuh Erick merespon lain dengan kekeras kepalaan yang dia lakukan saat ini. Mie masih tinggal seperempat. Tapi rasa panas yang membakar di perutnya membuat Erick tidak tahan lagi. Pria itu membungkuk, menahan rasa sakit yang melilit.


Erick kemudian bangun dari dudukny dan berlari menuju ke kamar kecil yang ada di dalam ruangan. Dia sudah tidak dapat menahan diri lagi.


"Hei, mau kemana kau? Ini belum habis!" Teriak Jason.


"Aku tidak tahan lagi!" Ujar Erick sambil memegang pantatnya.


"Kau mengaku kalah?" Tanya Lia.


"Ya ... ya ... terserah padamu. Aku kalah!" Ujar Erick tergesa-gesa.


Lia tertawa puas. Akhirnya dia yang memegang kendali.


"Kau sengaja merencanakan semua ini?" tanya Jason pada istrinya.


"Iya."


"Kenapa kau tega dengan suami mu ini?" Ucap Jason dengan mengerucutkan bibirnya.


"Aku berkali-kali memberimu tanda, kau saja yang sok ingin menang dari Erick." Sahut Lia santai.


"Hemmhh ... iya aku harus menang dari pria itu, sebelum kedunguan menguasai dirinya dan membuat Laurent sengsara." Sahut Jason lemah.


"Jangan khawatir, aku mengerti." ucap Lia sambil menyenderkan dirinya didada suami tampannya.


"Kau mengerti?" tanya Jason tak mengerti.


"Aku berbicara dengan Laurent di telphone. Meskipun dia berusaha untuk riang, tapi aku merasakan tawa yang dipaksa."


"Hmmm ...." Jason bersyukur istrinya adalah wanita yang sangat peka.


"Apa yang akan kau lakukan pada Erick?" Tanya Jason.


"Hukuman pertama sudah dia rasakan, bukan?" Lia mendongankan kepalanya menatap Jason. Dan akhirnya sepasang suami istri itu terkekeh bersama.


...❤❤❤❤❤❤...


Yang belum baca Francesca, yukkk mampir dibaca.