
Lia tertawa riang saat berhasil membawa speedboat milik Jason dan meninggalkan mansion itu. Dia yakin para pengawal tersebut pasti sudah menghubungi Jason.
Lia membayangkan dalam benak nya bagaimana wajah Jason ketika mendengarkan laporan dari pengawalnya.
"Mau marah? Memangnya aku perduli. Tidak mau bertemu, kebetulan sekali. Pria reseh dan semaunya harus dibuang jauh...." teriak Lia diatas speed boat yang di bawa.
Beruntung sekali saat Jason mengajarkannya dulu, Lia memprhatikan dengan serius. Dan kenyataannya hal ini kemudian berguna bagi nya.
"Lain kali jangan main-main dengan Lia. Namaku bisa terdengar sederhana dan lemah tetapi aku orang yang tangguh." ujar Lia dengan keras bermonolog.
Speedboat itu sudah membawanya tiba di belakang mansion Andrew. Meskipun awalnya agak takut tapi dia berhasil mengecoh pengawal dan pelayan Jason.
Lia menghentikan speedboat disamping dock mansion Andrew dan segera menaiki dock menuju taman belakang. Pengawal yang dia lewati mengangguk dan tersenyum padanya.
Langkah kakinya berhenti ditengah-tengah, kemudian dia berjalan mundur beberapa langkah hingga tubuhnya sejajar dengan seorang pengawal.
"Kau bisa kan mengendarai speedboat bukan?" tanya Lia dengan alis terangkat.
"Bisa nona." jawab pengawal tersebut dengan cepat.
"Tolong kembalikan benda itu di Mansion A7 milik tuan Jason. Kau tahu bukan?"
"Baik nona."
"Sampaikan terimakasihku pada mereka."
Lia tertawa renyah sambil memberikan kunci speedboat itu.
Dia bisa membayangkan bagaimana marahnya Jason saat ini. Dan Lia tidak perduli, pertengkaran dengan Jason seolah vitamin bagi semangatnya. Baru kali ini dia merasa begitu bersemangat untuk bersaing dan usil kepada seseorang semaunya.
"Goodmorning brother, kakak dan Conrad sayang." sapa Lia kepada mereka begitu dia tiba di meja makan.
"Anak nakal darimana saja dirimu!" Diana menyambut sapaan dari Lia dengan kesal.
Semalaman dirinya dibuat resah menanti adik semata wayang ini meskipun akhirnya Andrew membuatnya melupakan dengan sentuhan-sentuhan yang menakjubkan.
Bukannya takut, gadis itu malah mencibir seraya duduk disebelah Conrad dan mencium bocah itu.
"Kenapa kau pergi tidak membawa ponselmu?" tanya Diana lagi yang masih belum puas dengan diamnya Lia.
"Ketinggalan kakak. Gak ada rencana juga keluar dari mansion." jawab Lia asal sambil mengunyah buah anggur.
"Lagian salahkan si lalat buah itu, sukanya main culik orang. Awas nanti dia ya aku culik ganti." ucap Lia dengan kesal.
"Uncle Jason pacarnya unty Lia?" tanya Conrad dengan tersenyum jenaka.
"Heiii salah sayang. Uncle Jason itu cuma teman yang usil. Unty sukanya dengan pria tampan yang tenang dan dewasa." ucap Lia dengan tersenyum geli.
"Seperti uncle Briant?" tanya Conrad lagi dengan polos.
Lia terpana dia menjawab dalam hati, iya seperti dia.
Untuk mengalihkan perhatian, Lia mendekatkan mulutnya ke telinga Conrad.
"Conrad, unty sudah tau cara bermain dengan speedboat, lain kali kita main bareng ya." bisik Lia ditelinga Conrad.
Diana dan Andrew melihat perubahan di wajah Lia. Sepasang kekasih itu saling menatap dengan kesimpulan yang sama.
"Mau unty, nanti sore ya. Tunggu Conrad pulang sekolah." ucap bocah itu dengan semangat membuat perhatian Diana kembali kepada mereka.
Lia mengangkat tangannya mengajak tost. Conrad dengan semangat menyambut dan menepuk tangan Lia.
"Lagi sepakat apa kalian?" tanya Diana dengan heran.
"Sudah lah sayang, kau sedang hamil, diam saja. Duduk manis melihat mereka bermain." kali ini Andrew unjuk suara membela Lia.
"Kok jadi belain mereka sih?" ujar Diana dengan kesal.
"Yeahhh... brother Andrew kau memang kakak ipar yang bisa diandalkan." ucap Lia dengan mata berbinar.
"Asal tidak membuat kakak mu menangis, semuanya bisa diatur." sahut Andrew santai sambil mengunyah french bread.
"Siap."
"Mommy jangan cemberut, nanti Conrad beri tahu ya rahasia nya." ucap Conrad dengan lugu ketika melihat Diana mengerucutkan bibirnya.
"Ah iya sayang. Tidak ada rahasia kan diantara kita kan?" Diana mengerdipkan matanya pada Conrad dan terseyum.
"Rahasia nya diberi tahu nanti saja yaaa, waktu kita bermain." Lia tak mau kalah merayu Conrad. Karena jika Diana tahu dari awal, dia bisa melarang mereka bermain speedboat.
"Oke unty. Mommy, Conrad beri tahu nanti ya rahasianya." ucap Conrad dengan memohon.
"Oke sayang." jawab Diana tidak tega melihat anaknya kebingungan diantara janji dengan Lia dan kewajiban pada ibunya.
"Kamu tidak makan pagi?" tanya Diana pada Lia yang hanya meminum orange juice.
"Sudah di rumah Jason."
"Mana Jason?"
"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Diana dengan nada curiga.
"Curigaan sih. Aku gak berbuat apa-apa kok." ucap Lia setengah meringis. Ketika dilihatnya Andrew sudah selesai dan berpamitan pada Diana, Lia langsung berdiri.
"Brother, ada yang mau aku bicarakan." ucap Lia dengan serius.
Andrew berdiri diam menatap Lia, menunggu gadis itu menanyakan sesuatu. Namun, Lia diam saja sambil menggerakan mata nya seakan-akan berkata, kesana aku mau bicara berdua saja.
"Oke, masuk ke kantorku. Aku perlu mengambil beberapa berkas." ucap Andrew.
Lia mengikuti Andrew diiringi pandangan mata Diana yang heran.
Diana membiarkan mereka, sesungguhnya ada rasa penasaran dalam hatinya, kenapa Lia seakan-akan memiliki rahasia. Namun, Diana lebih memilih menemani anak angkat dihadapannya.
Di dalam kantor Andrew di lantai atas.
"Katakan." Andrew langsung memerintahkan Lia untuk berbicara.
"Aku mengantar kak Dylan ke rumah sakit kemarin dengan Jason."
"Aku tahu, pengawal sudah memberi tahuku."
"Brother tidak ingin tahu alasanku?" tanya Lia dengan pandangan menyelidik.
Andrew memandang Lia tajam.
"Sesungguhnya aku kesal dengan dirimu. Bisa-bisanya kau menolong pria yang sudah menjatuhkan martabat kakak mu. Mengakui hal yang bukan miliknya. Heh!" Andrew tersenyum sinis.
Kalau masalah menjatuhkan martabat kau yang lebih parah brother, kau menjadikan kakakku simpanan dan membuat dia menderita karena istri tua mu.
"Tapi Diana menyakinkanku kalau kau tahu apa yang kau lakukan." lanjut Andrew.
Lia mendengus. Memang benar, kakaknya wanita baik yang selalu melihat segala sesuatu dari sudut positif. Penderitaan masa kecil tidak membuat hatinya mengeras. Karena itu Lia berjanji akan membela kakak satu-satunya sekuat tenaga.
"Aku bertanya pada Dylan kenapa dia melakukan hal itu. Awalnya dia bersikeras mengatakan bayi yang kakak kandung adalah anaknya. Bahkan dia memaksaku membujuk kakak dan meninggalkan negara ini bersamanya." ujar Lia langsung pada pokok permasalahan.
Lia diam sejenak memperhatikan reaksi Andrew yang tampak menahan kegeraman sambil meremas bola kecil pengendali stress. Wajahnya tegang.
Berani-beraninya pria itu hendak membawa lari kekasih hati ku. Harusnya aku biarkan pengawal membuatnya cacat.
"Tapi akhirnya dia mengakui kalau istrimu penyebab semua kekacauan ini." ucap Lia dengan datar.
Andrew mengalihkan pandangannya dari jendela dan menatap Lia tajam. Dia tidak suka dengan kalimat Lia yang mengatakan istrimu, nada suara dibagian kata istri itu terdengar ditekan dan menyindir.
"Istrimu itu mengatakan pada Dylan akan membunuh kakakku apabila Dylan tidak membawanya pergi." ucap Lia lagi dengan datar sambil balas memandang tajam pada Andrew.
Andrew sedikit terkejut dengan perkataan Lia. Dia tahu Rachel memang orang yang egoise tapi tidak hingga menumpahkan darah.
"Kau tidak percaya istrimu bisa sekejam itu? Aku tidak mengenalnya. Tapi aku rasa dia wanita yang bisa melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya."
"Dan dimata Dylan dapat aku lihat pancaran ketakutan itu. Meskipun dia salah, tapi setidaknya dia bermaksud menyelamatkan kakakku. Dan itu bukti ketulusan hatinya." sambung Lia.
"Sekarang, apa yang akan kau lakukan brother? Bisakah aku mempercayai kebahagiaan kakakku padamu atau haruskah aku membawa nya pergi?" nada tanya yang di ucapkan Lia meninggi dan sedikit mebgandung ancaman.
Yang dia inginkan adalah kebahagiaan kakaknya. Meskipun dia tahu kebahagiaan Diana adalah Andrew, tetapi jika itu mengorbankan keselamatan hanya karena pria ini, Lia tidak rela.
"Aku mencintai kakakmu dan akan melindungi dia dengan nyawaku!" ucap Andrew dengan tegas.
Lia tersenyum dia menyukai jawaban Andrew yang tidak bertele-tele.
"Jangan sampai mati brother, kakakku juga akan merana bila kau mati." ucap Lia tertawa renyah mencairkan ketegangan.
Andrew mengangguk, "aku berjanji akan menyelesaikan masalah ini lebih cepat. Menjauhkan kita dari ancaman Rachel."
"Brother, jika kakak bertanya, katakan padanya aku meminta pekerjaan. Aku tidak ingin dia mengetahui hal ini dan membuatnya stress."
Andrew mengangguk menyetujui perkataan Lia.
"Ah, apakah sebaiknya aku bekerja? Aku sudah bosan bermain-main." ucap Lia dengan serius.
"Pekerjaan utamamu disini adalah menjaga kakakmu." jawab Andrew dengan cepat.
"Brother aku serius!" rengek Lia.
"Aku juga serius." jawab andrew sambil melangkah keluar dari ruang kerja. Ketika dia membuka pintu, dirinya dikejutkan dengan Diana yang sudah didepan pintu.
"Conrad sudah berangkat dengan Nanny dan Papito. Terlalu lama jika bersamamu." ucap Diana datar.
"Ohh.. maafkan aku sayang." Andrew mengecup kening Diana. Sementara mata Diana melirik kedalam ruangan dimana Lia masih berdiri dengan tersenyum kekanakan.
"Adikmu meminta pekerjaan, tapi aku menolaknya. Sebaiknya dia menemanimu sampai kau melahirkan." Andrew seakan memahami arah pandangan mata Diana.
"Benarkah, kenapa tidak?" tanya Diana heran seakan membela Lia.
"Tidak untuk saat ini. Lia akan menemanimu. Sudah jangan berdebat lagi. Aku ada meeting hari ini." ucap Andrew dengan cepat sambil mengecup kening Diana dan bergegas meninggalkan wanita itu sebelum dia memaksa, lebih sulit meladeni kedua wanita tersebut apabila mereka sudah sepaham.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗