48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Madrid



💕 VOTE yaaaa 💕


Langit sudah berangsur cerah. Matahari nampak bersinar lebih awal dilihat dari tengah lautan. Aktivitas sudah di mulai di kilang minyak. Para pekerja sudah memenuhi ruang makan untuk sarapan sebelum memulai aktifitas.


Suara riuh terdengar ketika mereka menyaksikan tanyangan ulang sepak bola. Seluruh mata memandang pada layar datar telivisi. Hanya terdapat pria bertubuh besar dan kekar. Mereka semua tampak kasar, namun sesungguhnya mereka hanyalah pria kesepian di tengah lautan.


Jason, Erick dan Daniel saat ini menikmati sarapan pagi ala kadarnya di ruangan khusus. Bersama dengan kepala pegawai disana, mereka makan pagi sambil mendiskusikan mengenai cara mengatasi dampak dari limbah minyak yang sudah tercecer.


Minyak mentah yang menggenangi lautan akan mengganggu ekosistem. Dan mereka harus melaporkan pada pemerintah setempat, sebelum penjaga pantai menegetahuinya dan memberikan denda yang lebih besar.


Jason memutuskan akan kembali ke daratan hari ini juga. Dan dirinya akan langsung berhadapan dengan pemerintah setempat. Walau bagaimanapun, konsekuesi harus dia hadapi.


Sementara Daniel akan memantau penyerapan kembali minyak yang sudah menggenang di lautan, memastikan ekosistem lautan bersih, sebelum terbawa arus lebih jauh.


Daniel sangat senang sekali, karena Jason memberinya tugas tersebut. Meskipun dengan tugas tersebut dia tidak akan berada di dekat Jason.


"Karena pria tua itu sudah mengirimmu kemari. Maka buatlah dirimu berguna. Kau akan tetap tinggal disini dan memantau hasil kerja mereka. Pastikan semua limbah minyak yang tercecer sudah diserap kembali dan tidak merusak ekosistem. Pastikan juga alat dan mata bor yang datang adalah benda berkualitas. Jangan sampai kejadian yang sama terulang kembali." Perintah Jason kepada Daniel.


"Tentu saja akan aku lakukan dengan sebaik-baiknya, sehingga dirimu tidak akan kecewa padaku." Sahut Daniel dengan mata berbinar.


Dalam hati Daniel sangat senang sekali. Ini pertama kalinya Jason menganggap dirinya. Ini pertama kali Jason memberinya perintah. Entah apa yang membuat dirinya berubah pikiran, Daniel tidak ingin tahu. Yang dia perdulikan adalah saat ini. Jason berbicara dan memberinya perintah.


"Setelah semua nya selesai, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Daniel masih dengan suasana hati yang senang.


"Tanyakan saja pada tuan besar," sahut Jason acuh.


"Daddy menyuruhku melapor kepadamu." Jawab Daniel serius.


"Baiklah. Setelah selesai kembali kepangkuan ibu mu di new york." Jawab Jason masih dengan acuh.


"Mommy sekarang menetap di Prancis dan dia merindukan dirimu." Jawab Daniel.


Jason menyembunyikan rasa terkejutnya. Apa yang terjadi, kenapa wanita simpanan itu berada di Perancis. Dimana kantor pusat kedua bisnis keluarga Madison berada. Kenapa dia tidak berdiam layaknya selebritis di new york atau menemani ayahnya di Jerman? Rasa penasaran itu berganyut hanya dalam pikiran Jason, tetapi dia enggan membahasnya lebih lanjut.


"Berkunjunglah ke Penthouse sesekali kakak. Bagi Mommy, kau adalah anak tertuanya." Daniel memandang Jason penuh harap. Dia berusaha menyelami perasaan Jason. Mungkin dirinya akan merasakan hal yang sama seperti Jason, jika bertemu dengan anak lain dari ayah mereka.


Jason masih ingat, betapa lembut dan cantiknya Camila Lopez, ibu dari Daniel. Wanita itu selalu mendampingi ayahnya dan berkeliling dunia. Bahkan dia meninggalkan pengasuhan Daniel pada keluarganya demi mengikuti Darren Madison.


Jason pernah mengganggap Camila sebagai orang penting dalam hidupnya. Selama tahun-tahun masa kecil Jason belajar bisnis dengan keras bersama ayahnya, Camila adalah sosok ibu yang mendampinginya.


Jason menyayangi Camila. Hingga saat dia berusia enam belas tahun, dia tanpa sengaja menemukan Camila tidur dalam dekapan ayahnya. Saat itu lah Jason mulai mengerti jika Camila adalah wanita simpanan ayahnya dan sudah memiliki anak, Daniel.


Jason merasa dikhianati. Wanita yang dia puja ternyata penghianat dan bukan saja melukai perasaan Jason tapi juga perasaan ibunya. Bagi Jason kebaikan Camila Lopez padanya, hanyalah topeng untuk memikat hati ayahnya.


Semenjak itu selama dua belas tahun ini, Jason menabuhkan genderang perang. Dia tidak pernah mau tahu tentang kehidupan Camila Lopez maupun Daniel. Mereka toh, tetap hidup makmur dengan saham tiga persen yang di berikan ayahnya. Saham tiga persen dalam bisnis keluarga Madison, itu berati uang jutaan dolar.


Jason mengacuhkan perkataan Daniel. Dia meninggalkan ruangan dan melangkah keluar. Helikopter sudah menantinya. Dia tidak ingin membuang waktu untuk berada di tempat ini. Jason mau segera kembali ke daratan dan menyelesaikan urusan disana, sehingga bisa segera kembali ke Mansion dan bertemu dengan Lia.


Jason dan Erick meninggalkan kilang minyak, diiringi tatapan para pekerja dan Daniel. Daniel masih harus menunggu kapal lainnya yang kembali dari pembersihan limbah di lautan.


Sementara itu hanya dalam waktu tiga puluh menit helikopter sudah membawa Jason ke Madrid, ibu kota Spanyol. Dengan mendarat diatas gedung tinggi sebuah kantor pemerintahan, Jason turun dari helikopter dan bersiap menemui Gubernur setempat.


Gubenur tersebut menjabat tangan Jason dengan sangat hangat. Dia baru pertama kali mengenal Jason, namun sepak terjangnya di dunia bisnis sudah tidak asing lagi. Meskipun Jason termasuk pembisnis yang tidak suka disorot oleh public, tetapi tetap saja berita tentang kepiawaiannya bukan hal yang asing.


"Hal itu tidak akan menjadi masalah, tuan muda Jason. Selama lautan Spanyol bersih dari limbah minyak. Dan masalah denda, semua akan diatur tanpa memberatkan anda." Ujar Enrique sang Gubernur dengan terkekeh.


"Berapa denda yang seharus nya kami bayar?" Tanya Erick mewakili suara Jason.


"Tidak banyak. Kalau perhitungan saya tidak salah, sebesar lima ratus ribu dolar. Tapi, bisa di perkecil menjadi Dua ratus lima pulih ribu dolar." Ujar Gubernur.


"Berikan kami perincian tertulis dan surat-surat yang harus kami tanda tangani." Ujar Erick lagi.


"Baiklah jangan khawartir tuan, besuk sudah pasti siap."


"Bisakah tuan Gubernur menyelesaikan semuanya hari ini juga?" Tanya Jason tak sabar.


"Kenapa harus terburu- buru tuan Jason? Selagi anda berada di Spanyol, anda seharusnya bersenang-senang terlebih dahulu. Spanyol terkenal dengan kota yang indah termasuk kecantikan wanitanya." Ujar Gubernur dengan tertawa lebar.


"Ada banyak hal yang harus aku kerjakan." Jason beralasan. Banyak pekerjaan atau rindu seseorang Jason? Bisikan terdengar dari hati kecilnya yang menggoda.


"Habiskan malam ini di Spanyol bersama dengan kami, besuk pagi, segala bisnis sudah bisa diselesaikan." Bujuk Gubernur dengan lebih memaksa.


"Jangan khawatir tuan kami akan menerima undangan anda malam ini. Dan besuk setelah bisnis selesai kami akan segera kembali ke Prancis." Ujar Erick menengahi.


"Keputusan yang tepat. Hahhahaha. Kalau begitu malam ini, supir akan menjemput kalian ke rumahku."


Gubernur setengah baya itu mengulurkan tangannya dan disambut oleh Jason dan Erick. Mereka meninggalkan ruangan Gubernur dan menuju ke hotel. Di perjalanan, Jason tak berhenti menggerutu, karena Erick menyanggupi tawaran sang Gubernur.


"Ada apa dengan dirimu. Aku tahu kau merindukan Lia, tapi kau harus ingat jika kita memerlukan bantuan Gubernur untuk menyelesaikan permasalahan. Jika tidak, maka semua akan menjadi lebih rumit." Sahut Erick dengan berani.


"Seharusnya kau saja yang tinggal! Aku akan kembali hari ini juga!" Seru Jason tegas.


"Hei. Hei. Ada apa denganmu. Kepergianmu tidak akan membuat masalah ini lebih baik. Tinggalah semalam saja, besuk aku pastikan kau bisa kembali." Tegas Erick.


Erick memang sahabat sekaligus assistent yang baik. Seorang assistent dan sahabat yang baik adalah, orang yang bisa menegur kita jika melakukan tindakan yang menyimpang. Bukan sekedar mengiyakan perkataan atasannya.


*


Malam harinya jamuan makan malam diadakan di rumah Enrique, Gubernur di Madrid Spanyol. Tampak seluruh keluarga Gubernur berkumpul. Istri sang Gubernur masih tampak cantik diusia setengah abadnya.


Gubernur memiliki dua orang anak perempuan yang sudah dewasa dan seorang anak laki-laki yang baru menginjak usia dua puluh tahun.


"Perkenalkan ini anak tertuaku Belinda, usia nya dua puluh tiga tahun dan sudah terjun di dunia politik. Ini anak kedua ku Benita usia nya dua puluh dua tahun. Dia seorang penari yang luar biasa. Dan ini adalah Benardo. Dia masih sekolah di jurusan hukum." Gubernur Enrique memperkenalkan mereka semua.


Setelah selesai makan malam, Gubernur membawa Jason dan Erick ke ruangan lainnya. Disana tampak sudah dihias dengan lampu-lampu yang remang-remang. Banyak makanan ringan disediakan.


Tampaknya guberbur akan menyuguhkan hiburan.


Musik mengalun dengan menampilkan kehebatan Benita menari dan kepiawaian Bernado bermain musik serta kejernihan suara Belinda. Gubernur tampak sangat membanggakan mempamerkan anak-anaknya dan tentu saja berharap lebih pada Jason.


"Kedua anak ku masih belum memiliki pasangan. Dan aku berharap dia akan mendapatkan pasangan seperti anda tuan Jason." Ujar Gubernur dengan mata penuh harap.


Jason hanya menoleh sekilas pada Gubernur tanpa menghiraukan perkataan pria itu. Benaknya sedang dipenuhi dengam kerinduan memandanga wajah Lia. Anak-anak Gubernur tentu saja sangat cantik dan dandanan yang memukau. Tetapi gadis dengan wajah polos alami yang sangat manis dan sedang menunggunya di mansion lebih memikat hatinya.


Telphone Jason berdering. Dia sangat terkejut mengetahui siapa yang menghubungi nya. Jason segera beralih kesudut ruangan dan menjawab panggilan tersebut.


"Anda sangat beruntung memiliki ketiga anak yang luar biasa mr. Gubernur. " ujar Erick mengalihkan perhatian Gubernur dari Jason.


Sementara itu Jason menerima panggilan Video call dari Lia.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Lia di dalam kamar. Dia melihat jika di belakang Jason ruangan tampak remang-remang dan terdengar suara yang agak berisik.


"Aku sedang menerima jamuan makan malam bisnis dengan Gubernur di Madrid." Jawab Jason.


"Apa yang kau lakukan? Apakah temanmu sudah pulang?" Tanya Jason lagi.


"Tidak. Dia masih berada di kamarnya."


"Ah, jadi kau sengaja menyendiri karena merindukan diriku?" Goda Jason.


"Entahlah, haruskah aku merindukanmu? Tampaknya kau sedang bersenang-senang." Ujar Lia dengan suara menyelidik.


"Bagaiman aku bisa bersenang-senang, jika hati dan pikiranku tertuju hanya padamu." Ujar Jason dengan serius.


"Sudah pandai merayu ya." Ujar Lia manja sambil tersenyum malu.


Baru saja Jason hendak menjawab perkataan Lia, terdengar suara seorang wanita di sisi Jason.


"Champagne untuk anda tuan Jason?" Ujar Belinda mendekat.


"Tidak terimakasih." Jawan Jason singkat.


"Apakah anda sedang sibuk?" Tanya Belinda lagi. Dia berharap Jason mengalihkan perhatian dari layar handphone dan memandang dirinya.


"Tinggalkan saya nona, saya ada urusan yang lebih penting." Ujar Jason dingin.


Belinda langsung beringsut meninggalkan Jason.


"Siapa itu?" Tanya Lia.


"Anak gubernur."


"Cantik?"


"Lumayanlah."


"Mana aku lihat."


"Untuk apa?"


"Aku mau lihat!"


Jason memutar layar handphone nya.


"Mereka cantik-cantik. Hemmhh jadi ini yang kau namakan makan malam bisnis, ditemani gadis-gadis cantik?" Ujar Lia dengan sinis.


"Kau cemburu?" Tanya Jason penuh harap.


"Buat apa aku cemburu. Di sini juga banyak pria tampan dan sexy." Sahut Lia ketus.


"Maksudmu?" Jason tidak mengerti.


"Kalau kau bisa bersenang-senang aku juga bisa. Kau bersama gadis cantik. Aku juga bisa memandang pria tampan semauku." Sahut Lia dengan ketus


Sambungan telphone terputus. Jason menjadi sangat panik. Berkali-kali dia menghubungi telphone Lia, tapi handphone itu sudah dimatikan.


...💖🌟💖🌟💖🌟💖🌟💖🌟💖🌟💖...