48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
memasak



Laurent bangun di pagi hari dengan tersenyum ceria. Di hadapannya kini adalah wajah tampan Erick yang masih tertidur dengan pulas. Pandangan mata Laurent menelusuri wajah Erick yang masih terlelap.


Hidung yang mancung, bibir yang merah dan wajah yang licin bersih dengan dagu yang ditumbuhi sedikit rambut. Pandangan mata Laurent beralih ke tubuh Erick yang begitu sempurna. Tumbuh besar dengan otot sempurna, membuat Laurent ingin menyentuhnya.


Sesaat, tangan gadis itu mengambang di udara. Ada rasa takut dan keinginan kuat yang berpadu menjadi satu, menciptakan keraguan. Memang benar secara agama mereka sudah sah. Erick adalah miliknya dan tubuh itu adalah hak miliknya.


Dengan meneguhkan keyakinan itu, tangan Laurent menyentuh dada Erick perlahan. Hangat terasa. Sentuhan jari jemari lentik Laurent terdiam sesaat dibagian dada sebelah kiri. Perlahan dia mengusapnya turun ke arah perut. Membelai otot-otok kekar yang terbentuk akibat usaha keras.


Laurent menyempilkan wajahnya kedalam dada Erick yang masih tertidur. Dia menempelkan pipinya di sana dan merasa kehangatan tubuh pria iti. Degup jantung Erick, menyakinkan Laurent jika hal ini adalah nyata, bukan mimpi.


Sementara Laurent dengan penuh kebahagiaan menempel di dada Erick. Pria itu membuka matanya dan menatap kosong kedepan. Pikiran dan perasaannya berkecamuk. Antara ingin merengkuh wanita itu semakin dalam dan penolakan karena harga diri yang terpatri dalam kekerasan dirinya.


Dan ... harga diri itu menang. Erick mendorong tubuh Laurent. Dia turun dari tempat tidur tanoa expressi, tanpa menoleh pada Laurent yang terhenyak akibat perbuatan Erick.


Namun Laurent bukanlah gadis cengeng. Meskipun dia adalah nona yang manja juga semaunya sendiri, Laurent pada dasarnya adalah gadis yang baik hati. Gadis itu turun dari tempat tidur, menggulung rambutnya, menggunakan kimono dan beranjak ke dapur yang menyatu dengan meja makan.


Laurent beinisiatif untuk menyiapkan sarapan pagi untuk Erick. Di bukanya kulkas dan dia temukan telur. Dengan gembira Laurent mengambil dua butir telur. Di sudut rak dapur dia juga menemukan roti.


Laurent mulai menyeduh kopi. Hal yang mudah dilakukan karena Erick mempunyai mesin kopi. Kemudian Laurent mulai memasukan roti kedalam mesin toster. Ini yang meresahkan. Dia sesaat bingung, berapa lama yang dibutuhkan untuk memanggang roti dan dengan suhu berapa derajat.


Laurent memasang pada suhu 150 derajat dan waktu satu menit. Sementara dia mulai mencari-cari piring dan penggorengan untuk menggoreng telur. Ting! Bunyi toster yang sduah selesai bekerja, membuat Laurent menghampiri nya. Dia kecewa dengan roti yang masih pucat dan lembek. Laurent menaikan suhu dan menam ah waktu.


Kemudian gadis itu mulai menghidupkan kompor listrik, mengoleskan sedikit olive oil dan hendak membuka telor. Laurenr yang tidak pernah memasak seumur hidupnya, bingung dengan cara membuka cangkang telur.


Dia pernah melihat koki di dapur membenturkan cangkang telur dengam garpu. Terlihat mudah. Dan tok ... telur itu pecah dengan isinya yang berhamburan di lantai. Laurent bingung. Dia buru-buru mencari tisyu dapur, membersihkan pecahan telur yang mengotori lantai.


Kali ini, Laurent lebih pintar. Dia mengambil wadah dan dengan yakin mengetok cangkang telor. Tok ... pyarr ... telur dengan cangkang yang remuk, semua nya jatu di dalam wadah. Laurent terbelalak. Dia berusaha memilih kulit kecil-kecil yang bercampur jadi satu di wadah.


Memisahkan kit telur yang sudah menempel di putih telur, begitu menyusahkan bagi Laurent. Berkali-kali dengan jijik dia mencelupkan jemarinya, kemudian menarik kulit terlur yang melengket pada lendir putih telur.


Disaat kelima jemarinya bingung dengan pecahan telur. Hidung Laurent mencium bau gosong. Dia menoleh dan panik melihat penggorengan yang mulai mengepulkan asap. Laurent berlari kearah kompor dengan tangan yang belepotan telur. Dia bingung, apakah harus memencet tombol off pada kompor, ketika tangannya belepotan putih telur.


Dipandangi tangan dan penggorengan dengan sesaat. Akhirnya ia mengusap tangan kotornya di celemek yang untuknya dikenakan. Bersamaan dengan matinya kompor listrik. Toster berbunyi dan menyembulkan roti panggang yang sudah berubah warna menjadi hitam.


Laurent menatapnya kecewa dan ingin rasanya dia menangis. Hal semudah ini tidak dapat dilakukannya. Laurent mengambil roti gosong itu dengan tangan telanjang, berniat untuk membuang, tetapi dia menjerit kepanasan. Air mata Laurent sudah mengambang, sambil meniupi jemarinya yang kemerahan.


Namun, Laurent tidak menyerah. Dia masih mempunyai kopi yang bisa disuguhkan untuk Erick. Laurent kemudian mengaambil cangkir dan menuangkan kopi. Setidaknya meskipun melihat kekacauan yang dibuatnya di dapur, Erick masih bisa tersenyum setelah menyeruput secangkir kopi buatannya. Laurent mengangkat cangkir kopi tersebut dan menuju kemeja


" Apa yang kau lakukan?" Suara Erick yang lantang mengejutkan Laurent. Gadis itu tanpa sadar menginjak telur yang pecah dilantai dan yang tidak dia bersihkan dengan benar. Laurent terpeleset dan gelas kopi itu terlepas dari tangannya.


Beruntung sekali gelas berisi kopi itu jatuh disisi Laurent, tanpa membasahi gadis itu. Laurent meringis kesakitan pada pantatnya yang membentur lantai, sementara tangannya memandang kecewa pada gelas kopi yang pecah berantakan.


"Kau tidak apa-apa?" Erick mengulurkan tangannya dan menarik Laurent.


"Aku tidak apa-apa. Maaf membuat dapur jadi berantakan, aku hanya ingin membuat sarapan untuk kita," ujarnya sambil tersenyum ceria menyembunyikan kekecewaan.


"Biar aku yang membuat sarapan," ujar Erick sambil membuka kulkas.


"Tapi ... aku sudah memecahkan semua telur yang tersisa dan menggosongkan roti." tutur Laurent dengan malu. Dia benar-benar merasa tidak berguna saat ini.


Erick menghela nafas dan kembali menutup kulkas. Dia mengambil sebuah kotak dibawah lemari dapur. Membuka kotak tersebut dan menuangkannya di dalam wadah, memberi sedikit air kemudian mengaduknya.


"Apa yang kau buat?" Tanya Laurent penasaran sambil menjinjit melewati tubuh Erick.


"Pancake. Aku akan membuat pancake. Kau duduklah dan jangan buat kekacauan lagi." Ujar Erick tegas.


Laurent mematuhi perintah Erick. Dia duduk di meja makan yang menyatu dengan dapur. Dipandanginya punggung telanjang Erick yang sedang memanggang pancake dengan penuh kekaguman.


Pria luar biasa yang dia cintai itu, ternyata memiliki kelebihan yang tidak dia ketahui. Erick bisa menyelesaikan urusan dapur dengan lebih mudah dan handal daripada dirinya yang seorang wanita.


"Makanlah." Erick menyodorkan pancake yang sudah matang dan ditaburi maple syrup dan gula halus. Tampak sungguh nikmat. Laurent menikamatinya dengan lahap dan penuh senyuman.


"Kau hebat. Ini enak sekali. Ajarkan padaku bagaimana cara nya, agar aku bisa membuatnya untukmu."


Erick menatap Laurent dalam diam. Dia menarik nafas panjang mendengar celoteh riang gadis itu. Laurent tampak sangat bahagia, bahkan masih sempat menertawakan ketololannya hari ini di dapur.


Erick memakan suapan terakhir dan meletakan sendok dipiring. Dia kemudian menyeruput kopinya perlahan, ketika Laurent berinisiatif membawa piring kosong untuk di cuci.


"Letakan saja disana. Akan ada pelayan yang datang dan mebersihkan semua kekacauan ini." Ujar Erick datar.


Laurent menghentikan niatannya untuk mencucui piring dan memandang kecewa pada dirinya sendiri dibalik pantulan jendela kaca di dapur. Namun senyuman kembali dia ukir di bibir manisnya.


"Baiklah. Aku memang tidak ahli dalam hal ini." Ujarnya mencoba tertawa kecil.


"Laurent." Panggil Erick singkat namun dalam.


"Ya ...." Laurent menatap Erick dengan mata penuh harap.


"Sebaiknya kau kembali ke Penthouse."


"...."


...❤❤❤...


Visual keren Erick dan Laurent akan dipasang di ig ya.


Yuk follow ig \= taurusdi_author