48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Narsis



lijas.


"Ayo bangun."


"Hemm .... gak mau. Ayo tidur dulu, aku masih ngantuk." Lia mempererat pelukannya.


"Ini sudah jam tujuh pagi."


"Biarin."


"Cepat, sebentar lagi dokter Luccy pasti datang."


"Gak mau. Aku baru bisa tidur jam empat pagi."


"Lia ... please sayang."


"Gak mau. Ssstttt ... " jangan berisik.


Lia menenggelamkan kepalanya kedalam pelukan Jason. Dia benar-benar masih mengantuk, tidak ingin bangun sepagi ini.


Semenjak mereka tiba di rumah sakit pukul dua dini hari, Jason sudah membuat keributan. Dia memaksa para perawat untuk menyediakan ruangan VVIP. Memanggil dokter jaga untuk memanggil dokter kandungan dini hari juga, untuk melakukan usg.


Tentu saja dokter jaga menolak. Mereka berusaha menenangkan Jason dengan mengatakan, jika dokter Luccy akan datang di pagi hari. Apalagi panggilan itu bukan tindakan emergency.


Untuk menenangkan Jason, Lia yang paling takut dengan jarum suntik, terpaksa merelakan tangannya ditusuk. Lia membiarkan perawat mengambil darahnya sebagai sample. Jika di test dari kencing, kurang efektif.


Sebenarnya Lia sendiri juga penasaran. Dia tidak yakin dengan sepuluh alat testpack yang menghasilkan garis dua, tempo lalu. Lia ingin memastikannya lagi.


Jason akhirnya bisa lebih tenang ketika perawat mengambil sample darah Lia dan menjanjikan akan dikerjakan pertama kali oleh staff laboratorium di pagi hari. Pria itu memeluk istrinya dengan penuh harap.


Dan akhirnya Lia bisa tidur tenang. Dia tidak ingin apa-apa lagi selain merebahkan diri diatas kasur rumah sakit yang empuk. Itu sebabnya, Lia masih meringkuk tidur pagi ini, tidak menghiraukan Jason yang sudah terjaga.


Dua jam kemudian tepat pukul sembilan pagi, Lia menggeliat bangun. Dia melihat disisinya sudah kosong, Jason tampaknya sudah bangun. Bunyi gemercik air, menyakinkan Lia, jika pria itu ada di dalam kamar mandi.


Dia bayangkan tubuh berotot Jason yang dialiri oleh air. Bagaimana tangan kekar itu sedang menggosok-gosok bagian tubuhnya yang sexy, membuat semua kotoran yang melekat. Ah! Lia ingin melepaskan pakaiannya dan masuk kedalam kamar mandi, tetapi dia merasa malu memulai duluan.


Pintu ruangan terbuka dari depan dan menggantung separuh, seseorang terdengar bercakap-cakap dibalik pintu yang sedikit terbuka. Lia menajamkan pendengarannya. Dia merasa mengenal suara tersebut sangat akrab.


Lia turun dari tempat tidurnya, gadis itu mendekati pintu keluar. Dia tidak ingin seseorang yang ada dipintu itu tiba-tiba masuk dan melihat Jason bertepanjang dada, keluar dari kamar mandi.


Betapa terkejutnya Lia, ketika melihat siapa yang ada di balik pintu keluar.


"Jason?" tanyanya tak percaya.


Jason tersenyum sambil menutup pintu masuk. Lia, masih bingung sambil menatap pintu kamar mandi. Jika Jason nya baru saja dari luar, siapa yang berada di kamar mandi dan membuat dirinya berpikir mesum.


"Kenapa?" tanya Jason heran melihat sikap canggung Lia.


"Itu___"


"Di kamar mandi? Ah itu___"


Pintu kamar mandi terbuka dan seorang pria tua, gendut berkepala botak dengan seragam petugas kebersihan; keluar dari sana. Membungkuk hormat pada Jason.


"Sudah saya bersihkan ulang tuan, sudah bersih dan harum. Silahkan jika mau dicek."


"Tidak perlu. Kau boleh keluar. "


"Baik tuan, permisi, terimakasih."


Petugas kebersihan itu kemudian keluar dari kamar. Lia menjadi malu mengingat bagaimana dia berinisiatif masuk ke dalam kamar mandi dan menggoda Jason yang dipikirnya ada di dalam sana. Lia meremas baju dibagian dada membayangkan jika saja saat itu dia membuka baju, apa yang akam terjadi.


"Gusti mboten sare, " Gumam Lia seraya tersenyum malu.


"Ya, kenapa sayang?"


"Ah enggak apa-apa. Aku mau mandi sekarang tapi tidak membawa baju ganti, " Ujarnya cemberut.


"Kau tetap cantik kok pakai baju itu."


"Ih dasar .... "


"Mau mandi bareng? "


Jason berjalan kearah pintu dan mengunci nya.


"Nah, sudahkan. "


"Tapi ... " Lia ragu.


Mereka bukannya berada didalam hotel. Mereka sedang berada dalam rumah sakit. Sungguh memalukan bermesraan di kamar pasien yang seharusnya digunakan oleh orang sakit. Bisa jadi di luar sana ada orang yang beneran sakit dan membutuhkan kamar ini.


"Jangan khawatir. Aku sudah mengundur janji dengan dokter Luccy, pukul 10.30. Kita mandi, sarapan dan temui dokter kandungan. "


Jason benar-benar tidak bergerak lambat. Saat ini dia sudah berada dibelakang Lia. Menarik resltting gaun hingga terbuka sempurna. Jason kemudian melepaskan pakaiannya dan pakaian dalam Lia. Dengan mesra dia mengangkat tubuh Lia masuk kamar mandi.


Mereka menghabiskan waktu selama hampir satu jam untuk mandi. Dengan menggendong Lia, Jason membawa istrinya keluar dari kamar mandi. Lia masih merasa malu dengan apa yang mereka lakukan di kamar mandi.


Ternyata sensasi disaat bertemu lagi setelah satu minggu, memang luar biasa. Dadanya masih berdebar dan perasaannya melayang. Dia yakin, saat ini wajahnya sudah memerah.


"Kenapa kucing kesayanganku, kau menginginkannya lagi?" bisik Jason lembut.


...Ih ... dasar mesum. Kau benar-benar membuatku berbuat mesum di kamar mandi....


"Apaan sih. Makan yuk, sudah lapar nih. "


"Sebentar biar aku panggil pengawal. "


"Loh, kenapa harus pengawal? Tidak makan diluar?"


"Aku sudah meminta mereka datang pukul 10.00 dengan membawa sarapan pagi dari hotel Hilton. " Jawab Jason santai sambil membuka pintu keluar.


...Ih ... Sarapan saja harus dari hotel. Belum tau coba dia nasi goreng ikan asin buatanku....


...Duh ... Kok jadi kepingin ikan asin ya, sambel pete, rendang, lalapan ikan laut, rujak cingur, cari dimana coba. Apa mau dia menciumku ya setelah makan sambal pete. Sambal terasi ... Ahhh!...


Lia menggumam sendiri dalam hati. Bayangan makanan traditional rakyat Indonesia, membuat air liur nya berkumpul.


Dan saat Jason datang dengan membawa dua box makanan berisi omlet, Lia benar-benar tidak berselera.


Jason memperhatikan perubahan raut wajah Lia yang tampak enggan menikmati makanan. Dia kemudian memotong omlet dan menusuknya dengan garpu. Jason menyuapi Lia dengan sabar, hingga porsi Lia habis.


"Kita temui dokter Luccy dulu ya, setelah itu aku akan membawamu pergi kemanapun yang kau mau." janji Jason.


"Benarkah?" mata Lia berbinar.


Jason mengangguk.


"Ayooo kita temui dokter sekarang. Aku ingin melihat isi perutku saat ini. Apakah makanan yang tadi aku makan kelihatan ya di usg?" Lia mengerucutkan bibirnya, berpikir.


"Kau ini. Aku ingin melihat apa di perutmu sudah ada anak kita. Aku ingin melihat wajahnya apa sama seperti diriku. Kau malah berpikir makanan!" gerutu Jason gemas.


Lia menatap suaminya sambil menahan tawa. Melihat wajah bayi dalam kandungan, mana bisa. Mana ini beneran hamil apa tidak juga belum pasti. Seandainya hamil, kan juga masih segumpal darah.


"Apa yang kau tertawakan?" tanya Jason.


"Kau."


"Aku? Kenapa?"


"Kau suamiku yang lucu dan keren, hahaha."


"Itu kau baru sadar, kah?"


"Ge er!"


"Apa itu?"


"Narsis!"


"Hah?!"


"Duh ... cari sana di google."