48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Jejak



Pria tampan itu memandang wanita di sisi nya dengan penuh cinta. Dia membelai punggung indah yang terpampang dihadapannya, terbuka dan sangat lembut. Punggung mulus yang seharusnya putih itu, sekarang memiliki banyak jejak kemerahan disana, hasil karya cinta nya.


Andaikan saja Jason mengetahui jika ungkapan perasaan akan membawa mereka selangkah lebih maju, maka sejak dulu dia akan mengatakannya.


Andaikan saja Jason tahu, jika kecemburuan akan membuka pintu hati wanita disisinya, maka sejak dulu dia akan membuat wanita ini cemburu.


Ah,... andaikan saja pertemuan mereka terjadi lebih awal lagi, maka dia akan segera memikat dan menikahi nya lagi dan lagi. Dan akan di genggamnya hati wanita ini lebih erat lagi.


Jason tidak mengerti bagaimana perasaan Lia yang sesungguhnya saat ini. Yang dia tahu, gadis ini mulai membuka hatinya. Dia mulai belajar menerima dan membalas perhatian Jason. Dan untuk itu Jason sangay bahagia.


Semalam, Jason yang baru tahu bagaimana rasa nya ciuman berbalas, hampir tidak ingin melepaskan Lia. Dia begitu menyukai manis dan sesualnya bibir gadis itu.


Hanya saja, suara bel dari butler Bernard menghentikan tautan mereka.


"Maafkan saya. Sudah hampir satu jam tuan, saya rasa nona juga perlu energi. Dia belum makan sedari tadi." Ujar Butler Bernard menunduk hormat.


Lia tersipu, wajahnya memanas dan semburat merah menghiasi pipi nya. Andaikan saja butler Bernard tidak muncul mungkin dia akan jatuh pingsan kehabisan nafas.


"Ah iya, dia membuatku ketagihan Bernard."ujar Jason sambil menatap Lia.


Sedangkan butler Bernard hanya tersenyum kecil. Tuan muda nya sekarang sudah lebih dewasa dan mengenal cinta. Dia merasa sanggat bangga dan sukses mendidik tuan muda tampan ini.


Sepanjang mereka menikmati makan malam, Jason tak ada hentinya memandang Lia. Sesekali dia menggenggam tangan gadis itu.


Lia menjadi tersipu. Lia merasa berdebar dan grogi di hadapan Jason. Dan dia mengutuk tingkahnya yang bagaikan remaja kecil. Tapi sukar sekali menyembunyikan kegugupannya jika terus dihujani dengan tatapan menghipnotis seperti itu.


"Jason, sudahlah. Jangan menatapku seperti itu." Protes Lia dengan kesal.


"Kenapa? Aku suka melakukannya." Tanya balik pria tampan itu.


"Iya, tapi aku... aku tidak nyaman. Lebih baik kau perhatikan makanamu. Ah lihat, itu ada sup di janggutmu."


Lia berdiri dan memajukan badannya melintasi meja. Dengan telunjuk tangan kanannya, Lia membersihkan sup yang menetes di dagu Jason.


"Tuh kan kalau mata tidak fokus dengan makanan, belepotan kaya anak kecil." Ujar Lia gemas.


Jason kemudian menangkap jari Lia yang sudah membersihkan janggut di dagu nya. Dia mengarahkan jari itu kedalam mulutnya. Jason menghisap sup yang menempel di jari Lia.


Sontak saja, jantung Lia serasa berhenti berdetak. Gerakan itu, hisapan dan lembutnya lidah Jason, mampu mengalirkan efek getaran listrik di dalam diri Lia.


Lia tersipu. Dia buru-buru menarik tangannya dan menggenggam jemari yang sudah dihisap Jason.


Sisa air liur Jason masih disana. Lia melirik jemarinya yang basah dengan gugup. Dia melanjutkan makan dengan dada berdebar. Lia menundukan wajahnya sepanjang makan. Dia tidak sanggup melihat mata Jason yang terus memandang dirinya.


Butler Bernard dan dua orang pelayan yang menjadi saksi, hanya bisa terpana dan menahan senyuman. Mereka hanya bisa tetap memasang muka robot tanpa expressi, padahal hati mereka sudah melompat-lompat gembira juga tersipu malu melihat kemesraan di antara tuan dan nona.


Setelah makan malam, Jason mengajak Lia ke atas. Mereka hanya makan sedikit karena malam sudah sangat larut. Mereka menggosok gigi bersama-sama. Dan ini pertama kalinya bagi mereka.


Lia berjalan kearah jendela, memandang langit yang cerah dan bintang yang bekerlipan. Lia tersenyum pada bulan yang bersinar setengah. Hatinya sudah merasa lega. Meskipun ada beberapa pertanyaan yang masih mengganjal.


Jason menghampiri gadis yang sudah dia nikahi itu. Dengan penuh kelembutan dia mencium pucuk kepala Lia. Merapikan rambut panjang Lia hingga kesatu sisi leher. Jason menanti reaksi Lia.


Ketika gadis itu diam saja. Jason, mencium leher Lia. Kecupan demi kecupan lembut mendarat di leher jenjang itu. Jason menikmatinya. Dengan lembut dia memutar tubuh Lia menghadap ke arahnya, mengangkat dagu Lia dan memandang kedua bola mata gadis itu. Jason seakan meminta ijin.


Lia memejamkan mata nya. Jason tersenyum kecil dan mulai mendaratkan ciuman di bibir tipis Lia. Ciuman yang berbalas itu kembali membuat Jason melayang. Dan semakin lama ciuman Jason bergairah, semakin buas dan semakin menuntut.


Bibir Jason menjelajah dari bibir ke leher, ke bibir, telinga dan kembali leher lagi, semakin menurun ke arah belahan gaun bagian depan. Dan tangan yang awalnya hanya terdiam di balik punggung Lia, sekarang mulai mengusap lebih dan semakin turun ke bawah.


Lia memegang tangan Jason. Menahan tangan yang sudah semakin aktif itu.


"Jason, tolong.... aku belum siap," desah Lia lirih.


Jason menghentikan gerakannya. Dia melepaskan pagutan di leher Lia. Jason memandang Lia dengan penuh kasih sayang. Sangat lembut.


"Maafkan aku. Maafkan aku jika mengharapkan lebih," ujar Jason di sela-sela nafasnya yang terengah-engah.


"Tidak ini bukan salahmu. Maafkan aku. Aku hanya..." Lia bingung dengan apa yang harus dia katakan.


"Ssttt... Aku mengerti. Aku tidak akan memaksamu. Kita punya banyak waktu, seumur hidup ini. Tapi.. jangan membuatku menunggu sampai tua ya. Aku takut badanku sudah tidak mampu lagi." Ujar Jason sambil bercanda dan membelai wajah Lia.


"Sebaiknya kita tidur ya."


Setelah sekian lama berdiri dan berpelukan, Jason mengajak Lia untuk tidur.


Mereka tidur dengan saling berpelukan. Jason meletakan tangannya di punggung Lia. Mengusapnya lembut dan mengantarkan ketenangan pada gadis itu. Lia mengantuk.


Saat itu, Jason berbisik di telinga Lia dengan lembut.


"Lia sayang, ijinkan aku untuk membelai dan mencium punggung mu ya. Aku janji hanya punggung saja. Please.." pinta Jason dengan lembut dan suara serak.


"Ehemm," Lia menggumam di sela-sela rasa kantuknya.


Dan gadis itu membalikan badannya. Memberikan akses luas bagi Jason. Dengan perlahan Jason menurunkan resleting gaun Lia. Ah, punggung itu sangat indah, putih, bersih, halus, ramping, tanpa lemak.


Jason menelusuri lekukan punggung Lia dengan jari telunjuk, dari bahu hingga ke pinggang. Lembut dan perlahan. Kemudian dia mendekatkan bibirnya. Keinginan yang sudah dia tahan sekian lama. Merasakan kulit tubuh Lia.


Jason mencium punggung Lia perlahan. Tanpa sadar gadis itu melenguh. Jason semakin rakus, dia mencium dan menghisap. Hingga jejak kemerahan bertebaran di punggung Lia yang halus.


Setelah sekian lama. Jason menghentikan aktivitasnya. Dia takut tidak dapat menahan diri dan memaksa Lia lebih jauh. Dia tidak ingin kemesraan ini berakhir dengan kekecewaan. Jason terlalu mencintai Lia. Dan dia menghargai perasaan gadis itu.


Hingga pagi ini, dia terbangun terlebih dahulu menatap jejak karyanya di punggung Lia. Dia sekali lagi mencium lembut punggung itu dan menutup kembali resleting gaun Lia.


Suara panggilan di handphone, membuat Jason membuyarkan lamunan nya. Dengan malas, Jason mengambil handphone tersebut. Jason kaget melihat ada Lima puluh misscall di sana.


Mommy.


Dengan malas, Jason mematikan handphonenya. Dia tahu, apa yang akan di katakan ibu nya. Dan Jason sedang tidak ingin mendengarkan ocehan wanita itu apalagi berdebat.


Pintu kamar terketuk. Tentu saja itu butler Bernard. Hanya Butler Bernard yang berani melakukannya dan itu tentu hal yang sangat penting. Jason melangkah turun dan menuju pintu kamar.


"Ada apa?" Tanya nya malas.


"Nyonya besar menghubungi. Beliau bilang, jika anda tidak menghubunginya segera, maka nyonya hari ini akan langsung terbang ke Mansion." Lapor Butler Bernard.


"Baiklah, aku mengerti." Jawab Jason.


Jason masuk hendak mengambil handphonenya. Saat itu Lia sudah bangun. Lia menggeliat manja dan tersenyum mendapatkan kecupan hangat dari Jason.


"Ada apa butler membangunkanmu?" Tanya Lia heran. Lia turun dari tempat tidur, mengambil segelas air putih dan menegaknya sampai habis.


"Tidak apa-apa. Hanya urusan perkerjaan. Aku akan ke ruang kerja dulu ya." Jason mengecup kening Lia dan pergi ke luar.


Lia menatap Jason dengan heran. Biasanya pria itu akan menyeret dirinya untuk menemani Jason bekerja. Tapi, Lia menepis semua keraguan dan beranjak menuju ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Lia sudah menyiapkan air hangat di bath up dan dia melepaskan gaun yang di kenakannya. Dan saat itu tanpa sengaja Lia menatap cermin besar dan melihat jejak kemerahan yang menghiasi punggungnya. Bukan satu atau dua jejak, tapi lebih dari sepuluh.


Wajah Lia merah padam. Dadanya berdesir. Ada rasa yang mengalir disana dan belum dia mengerti. Lia membelai jejak merah di leher belakangnya seraya berdesah, "ah... Jasonnn..."


Lia membenamkan dirinya di dalam bath up. Dia menggosok sekujur tubuhnya sambil merenung. Pernyataan cinta Jason begitu indah. Dan tentu saja Lia tak kuasa menolaknya.


Tapi, Lia masih penasaran. Kenapa pernikahan mereka tanpak begitu di rahasiakan? Lia bahkan tidak mengenal siapapun di keluarga Jason. Dia tidak mengerti silsilah keluarga suaminya. Dylu dia tidak perduli. Prioritas nya dahulu hanyalah bagaimana bisa bebas keluar dari Mansion dan mengerjai Jason.


Tapi semakin lama, dengan semua kejadian semalam. Lia benar-benar ingin mengenal Jason dan keluarganya lebih jauh. Apakah pria itu benar-benar mencintainya dengan tulus dan rela menentang keluarga besar demi dirinya.


Bagaimana dia harus bersikap menghadapi keluarga Jason, jika mereka menolak dirinya. Dalam pikirak Lia saat ini, bukan saja mengenai Natali. Tapi tentunya banyak sekali Irina Alexava, Natali dan wanita lainnya yang harus dia hadapi. Sanggupkah dia bersaing melawan mereka?


Lia keluar dari bath up dan membilas tubuhnya.


Lia menatap dirinya di depan cermin dengan tajam.


"Lia, mantapkan dirimu! Dia adalah suami mu! Kau sah secara agama dan hukum! Bahkan surat kontrak itu tidak dapat memisahkan kalian, kecuali maut! Pertahankan dan Berjuanglah disisinya! Kau harus belajar mencintai dan agar bisa sejajar dengan dirinya. Jangan biarkan siapapun menghina diriimu. Kau adalah istri pilihan Jason!"


Lia mengucapkan hal itu dengan lantang di depan cermin. Dia harus yakin dan percaya diri. Seperti kata butler Bernard, "nona harus belajar membuka diri dan percaya pada tuan muda."


Lia tersenyum menatap dirinya sendiri di depan cermin dan berkata lagi, "Kau adalah nyonya Jason Madison dan yang terpenting, suami mu mencintaimu!"


...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗...