
Jason masih dengan mata merahnya karena kurang tidur semalaman, sudah berpakaian rapi dan membereskan koper nya. Dia harus segera pulang. Selesai atau tidak selesai urusan hari ini. Urusan hatinya saat ini jauh lebih penting. Dia tidak dapat mengontrol emosi dan keresahan yang membeludak di dalam dadanya.
Erick menjadi terkejut melihat raut wajah masam dari Jason dan mata merah sahabatnya itu.
Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi pada Jason. Dan Erick tahu kali ini dia tidak boleh menyinggu Jason sedikit pun. Untuk itu Erick memilih diam.
Jason hanya memesan kopi untuk sarapan pagi nya. Erick yang mengetahui gaya hidup sehat Jason, menjadi sangat heran. Bagaimana mungkin pria yang tidak pernah melewatkan makanan empat sehat lima sempurna kaya akan gizi dan protein itu, bisa melewatkan makan pagi yang sangat penting untuk memulai aktifitas.
"Ini." Erick menyodorkan sepiring omlet, turkey bacon dan sepotong roti untuk Jason.
"Tidak." Jason mendorong piring makanan itu menjauh.
"Ini pesan dari Lia. Dia memintaku untuk memastikan kau makan." Ujar Erick beralasan.
"Benarkah?" Mata Jason memincing, menatap Erick.
"Iya semalam dia mengirim pesan pada ku." Kata Erick berbohong tanpa berani menatap mata Jason.
"Apa katamu? Mengirim pesan bagaimana? Jam berapa? Kemarikan handphone, aku mau melihatnya." Ujar Jason dengan tidak sabar. Dia sudah mencondongkan tubuhnya kearah Erick sambil menengadahkan tangan, meminta handphone milik Erick.
Erick seketika menjadi gugup. Dia tidak menyangka hanya menggunakan nama Lia saja, Jason sudah bagaikan kebakaran jenggot. Jangan sampai Jason mengetahui kebohongannya.
"Tanpa sengaja sudah aku hapus. Entah jam berapa dia mengirim pesan. Baru tadi pagi aku membacanya." Erick akhirnya menemukan alasan.
Jason kembali menyadarkan tubuhnya dengan lemas di sandaran kursi. Dia mengambil handphone dan mencoba menelphone Lia, tapi gagal. Dan hal itu yang membuat dirinya semakin gelisah.
"Benar dia mengirim pesan kepada mu? Karena semenjak semalam, aku tidak berhasil menghubungi dirinya." Kata Jason dengan lesu dan tak percaya.
"Eh, iya benar. Sudah makan saja lah dulu. Lia pasti aman di mansion. Setelah urusan ini selesai, kau bisa segera pulang." Ujar Erick berusaha membuat Jason tenang.
Jason akhirnya menuruti perkataan Erick. Dia memakan habis makanan yang sudah disediakan Erick. Dalam benaknya, Jason merasa bahagia karena makanan itu disediakan atas kemauan Lia. Jason memilih mempercayai perkataan Erick, meskipun dia merasa ada hal yang aneh.
"Aku akan kembali dulu. Kau urus saja pertemuan dengan Gubernur itu. Aku malas karena dia pasti akan menunda-nunda waktu lagi." Ujar Jason dengan tegas.
"Terlambat. Dia sudah datang ke tempat ini." Ujar Erick sambil memandang ke arah pintu masuk.
Dan benar saja Gubernur Enrique, sudah masuk ditemani Belinda putri sulungnya. Mereka tampak menyungging senyum ceria di wajah. Dan melangkah cukup cepat menghampiri Jason dan Erick.
Dengan enggan, Jason berdiri menyambut gubernur tersebut. Dia menyalami kedua orang yang datang tanpa diundang tersebut. Jason dan Erick menangkap adanya maksud lain dari kedatangan mereka berdua ke restauran hotel tempat Jason menginap.
"Bagaimana mr Gubernur, apakah semua sudah selesai dihitung, denda yang harus kami bayar?" Tanya Erick langsung pada intinya.
"Sudah. Sudah. Tim sudah menghitungnya sesuai dengan skala yang terjadi. Meskipun dengan bantuan saya, skala itu bisa diperkecil, hahhahaha." Ujar Gubernur dengan bangga.
"Selama saya menjabat, jangan khawatir mengenai hal seperti itu. Dan tahun depan saya akan mencalonkan diri kembali, jadi saya yakin, segala permasalahan anda dapat teratasi dengan baik." Kembali Gubernur terkekeh.
"Ini putri saya Belinda yang sangat handal, dia selalu membantu saya menyelesaikan banyak hal, dia cantik bukan, tuan Jason."
Jason hanya menatap sekilas Belinda tanpa ekspressi.
"Tentu saja putri anda sangat cerdas dan cantik, mr Gubernur. Anda pasti bangga memiliki putri seperti Belinda." Ujar Erick mengganti kan suara Jason yang terkunci.
"Anda terlalu memuji saya, tuan Erick." Sahut Belinda dengan tersipu sambil melirik Jason. Kedua pria dihadapannya sangat tampan. Tetapi, tentu saja pilihan utama harus dijatuhkan pada Jason.
"Tuan Enrique. Jadi berapa yang harus kami bayar. Pihak akuntan kami, akan mengirimkan pembayaran denda juga memberikan donasi untuk membantu biaya kampanye anda." Jason membuka suaranya dengan tegas.
"Ah, saya tidak menyangka anda bermurah hati tuan Jason. Terimakasih banyak untuk kebaikan hati anda. Saya pasti akan membantu anda setiap waktu. Dan untuk mengenai pembayaran denda, akan kami fax ke kantor anda. Mengenai donasi bisa dikirm kan ke rekening ini." Gubernur menyodorkan sebuah kartu nama, lengkap dengan nomor rekening.
Erick mengambil kartu nama tersebut, membacanya dengan teliti dan meyimpannya dengan rapi di dalam binder khusus kartu nama.
"Terimakasih atas kerjasama anda mr. Gubernur. Kali ini kami ada urusan mendesak dan harus segera kembali ke Prancis. Lain kali jika ada waktu kita pasti akan bertemu lagi, benar bukan nona Belinda?" Suara Erick terdengar sangat ramah dan lembut. Belinda tersipu malu mendapatkan tatapan mata Erick yang ramah dan hangat. Dia menjadi sedikit gugup.
"Tentu saja. Tentu saja. Lain kali anda semua harus menginap lebih lama di Madrid." Ujar Gubernur dengan antusias.
Gubernur meninggalkan mereka dengan hati yang gembira. Sementara Jason yang sudah tidak sabar melihat sang Ginernur pergi, tidak menunda waktu lagi untuk segera ke bandara. Pesawat pribadi nya sudah siap sedari tadi.
Hanya perlu waktu dua setengah jam, penerbangan dari Madrid ke Paris. Dan dalam kurun waktu tersebut, Jason bisa tertidur nyenyak di dalam pesawat. Hatinya merasa tenang berkat sarapan yang di sediakan Lia melalui Erick.
Erick membiarkan pria itu tidur dengan tenang. Dia tidak mengganggu Jason sedikitpun. Erick menyadari jika Jasin sangat membutuhkan istirahat. Segala sesuatu yang dia harus bahas, Erick menundanya.
Sesampainya di bandara, Jason langsung memacu mobil mewahnya menuju Mansion. Pria itu sudah tidak sabar lagi untuk menemui Lia. Perlu waktu tiga puluh menit hingga tiba di gerbang mansion. Dan saat gerbang itu terbuka, Jason mengernyitkan matanya melihat kejadian aneh di halaman depan Mansion.
Dengan tidak sabar Jason turun dari mobil dan menemukan Lia dengan seorang wanita sedang berjemur dengan memakai kaca mata hitam dan pakaian olah raga Lia tampak memamerkan pusar nya. Hal itu sudah membuat Jason panas.
Dan pandangan Jason kembali di kaburkan dengan kegiatan aneh yang dilakukan para pengawalnya.
Emosi Jason memuncak. Dengan gesit dia berjalan ke arah Lia, " Liaaaaaaaaa apa yang kau lakukaannnnn!!!!!!"
Jason menarik tubuh Lia kedalam pelukannya dan menutup rapat mata gadis itu.
...💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖...
Hayoooo Lia ngapainnnn? Ada beberapa petunjuk di beberapa chapter sebelumnya.