
"Masih ngambek sama Aaron?" tanya Lia dengan mengulum senyuman.
Selama di Miami, Lia meminta pada Jason untuk tinggal di Mansion Diana. Jason menurutinya, untuk beberapa hari pun Jason akan menemani Lia.
Saat ini mereka sedang beristirahat di dalam kamar berduaan. Lia memeluk punggung Jason seraya menyandarkan kepalanya di punggung lebar yang hangat. Aroma tubuh Jason merupakan favorit Lia dan bertambah selama kehamilan.
Bahkan Lia seringkali membawa pakaian Jason, hanya untuk diciumi dan dipeluk selama tidur siang. Bagaikan seseorang yang kecanduan.
"Aaron itu ... kecil - kecil pandai sekali berbicara," sahut Jason dengan datar.
"Hmm ...." Lia bergumam dibalik punggung Jason.
"Mulutnya tajam sekali, bagaimana bisa ada gadis yang mau dekat dengan dirinya nanti," ujar Jason lagi.
"Eits ... kau belum mengenal keponakanku. Jangan salah ya, kecil - kecil begitu sudah punya fans club sedari usia taman kanak - kanak." Lia dengan bangga mengatakan hal itu
"Bocah tengil itu?" Jason tak percaya.
"Iya, Aaron kesayanganku. Dia cerdik dan pintar kan seperti diriku. Aku harap anakku nanti memiliki kecerdasan dan keberanian seperti Jason."
"Aku tidak setuju!" protes Jason dengan lantang.
"Kenapa begitu?"
"Ini anakku. Tentu saja dia harus menuruni sifatku. Tampan, tegas, pandai, sukses dan murah hati," Jason dengan bangga menyombongkan diri.
"Hahaha juga angkuh dan introvert?" goda Lia.
"Meski begitu, aku tetap bisa membuatmu jatuh cinta, kan?" sahut Jason dengan lembut namun tersirat kebanggaan.
Perkataan Jason membuat Lia jengah sekaligus malu. Wajahnya merona. Tangan hangat Jason membelai kedua tangan Lia yang memeluk dirinya, kemudian mengangkat dan memberi ciuman lembut.
"Kita tidur siang dulu ya, aku masih agak lelah setelah penerbangan panjang kita dan aku yakin kau pasti juga sangat lelah."
Jason memutar tubuhnya, menggendong tubuh Lia dan merebahkannya di tempat tidur.
"Kenapa berat badanmu tidak bertambah?"
Jason merasakan ketika mengangkat tubuh Lia, tidak ada perubahan. Perut Lia sudah tampak sedikit membesar, tapi tidak ada penambahan berat yang berarti. Padahal Lia tidak memiliki kecenderungan mual selama kehamilan. Jason yang sudah menanggung semua itu.
"Mungkin masih kecil ... jangan dipikirkan, beberapa bulan lagi, ketika aku menjadi gemuk, jangan mengejekku, ya." Lia mengerjapkan matanya sambil mengerucutkan bibir.
"Tentu saja tidak.Tidurlah."
Jason memeluk Lia sambil membelai rambut istrinya, hingga terlelap.
Beberapa jam kemudian.
"Ya Tuhan! Sejak kapan kau disini, kurcaci?" Jason tersentak kaget, ketika dia membuka matanya, sosok bocah kecil berdiri tepat dihadapannya
Bukannya kaget. Balita yang berdiri di samping tempat tidur dan masih memegang botol susu itu malah menepuk-nepuk pipi Jason dengan sebelah tangan kecilnya, sementara satu tangan lagi masih memegang botol susu.
"Mau?" Dia menyodorkan botol susu yang baru saja dikeluarkan dari mulutnya ke arah Jason.
"Tidak mau. Namamu siapa?" tanya Jason dengan lembut.
"Anna," jawabnya dengan cepat.
Jason mengamati wajah Anna yang cantik. Perpaduan gen barat dan timur melekat cantik di diri Anna. Rambutnya yang pirang berkilau, hidung yang mancung, mata lincah yang tajam, bibir merah dan wajah yang selalu dihiasi dengan senyuman.
"Anna kenapa bisa masuk ke dalam kamar ini?" tanya Jason.
"Pintu kamal ndak di kunci," sahut Anna dengan bahasa cadelnya.
Jason baru menyadari hal itu. Dia lupa jika saat ini mereka sedang berada di mansion Andrew. Tentu saja kurcaci kecil akan sering berkeliaran. Keluar masuk ruangan manapun sesuka hati mereka. Herannya, bagaimana bisa pengasuh anak membiarkan kurcaci ini, masuk dalam kamar yang ada penghuninya.
"Uncle Jason ...," panggil Anna.
"Ya ...."
"Uncle tampan." Dengan polos bocah kecil itu memuji Jason.
Hidung Jason kembang kempis mendapat pujian polos dari gadis kecil yang masih memegang botol susu dan sesekali mengigitnya ketika berbicara.
"Anna tahu, tampan itu apa?"
Anna mengangguk.
"Apa coba?"
"Mukanya bagus, seperti daddy, kak Conlad dan kak Aalon," jawab Anna dengan yakin.
"Hahaha anak pintar. Tapi uncle lebih tampan banyakan daripada daddy Andrew, kakak Conrad apalagi kak Aaron," ujar Jason dengan bangga berusaha menghasut Anna.
"No!" sahut Anna dengan tegas.
"Kok, No?!" Jason menjadi heran. Sebelumnya Anna bilang dia tampan kenapa sekarang No?
"Daddy Andlew paling tampan. Nomol satu," ujar Anna mengacungkan telunjuk jarinya.
Jason cemberut. Tapi mau bagaimana lagi, bocah ini bukan anaknya. Tentu saja dia lebih mengidoalakan ayah kandungnya. Masih beruntung dia mau mengatagorikan Jason sebagai orang tampan.
"Gesel, Anna mau bubuk disini." Anna menepuk sisi Jason yang kosong.
Jason membalikan tubuhnya dan menjadi kaget ketika ada sesuatu yang mengganjal dan menyakiti punggungnya. Sangat sakit, menjepit? Bukan! Makhluk dibalik punggungnya menggigit!
"Aow! Aow! Aow!" jeritnya kesakitan.
"Jason! Awas ada Archie disini." tegur Lia sambil menepuk pundak Jason.
"Sakit Auntyy ...." Archie mengadu sambil menangis dalam pelukan Lia.
Lia melotot pada Jason. Jason mendengus kesal. Yang harusnya marag kan dirinya. Bukankah Archie sudah menggigit punggung sexy miliknya, hingga terasa perih. Kenapa dia pula yang disalahkan. Kenapa juga kurcaci laki - laki ini berada disini.
"Alchie, jangan cengeng. Kasihan uncle tampan." Anna mengusap kening Jason.
"Uncle jangan nangis ya, masa cengeng kaya Alchie. Ini minum susu Anna saja ga pa pa, kok." Dengan tulus Anna menempelkan dotnya di bibir Jason.
Jason menggelengkan kepalanya dan mengangkat tubuh mungil Anna, menyejajarkannya dengan Archie.
"Uncle tidak suka minum susu dalam botol," ujar Jason sambil mengusap bibirnya yang basah akibat liur dari botol Anna.
"Susu itu sehat. Uncle gak suka minum susu, nanti gampang sakit."
"Uncle suka susu yang lain, tapi bukan di botol," ujar Jason sambil menatap ke arah buah dada Lia. Lia melotot mendengar perkataan Jason. Bagaimana bisa pria ini semesum itu di hadapan anak kecil.
"Ooo pakai gelas ya, kaya kakak." Anna memainkan rambut Jason.
"Iya. Iya. Pakai gelas." Jason tersenyum.
"Anna ndak mau bobok." Dengan tegas Anna menggelengkan kepalanya.
"Tadi katanya mau berbaring." Jason mengernyitkan keningnya.
"Sudah gak mau lagi. Ini susu Anna habis." Anna menyodorkan bottle kosongnya pada Jason. Jason mengambil botol kosong itu dan meletakannya di nakas.
"Lalu, Anna mau apa?" tanya Jason dengan sabar. Setidaknya dari semua kurcaci, hanya Anna yang memuji dirinya.
"Anna mau loncat - loncat. Ayo Alchie." Bocah kecil itu menarik tangan saudara kembarnya yang masih memeluk Lia. Archie segera melepaskan diri dari pelukan Lia dan menyetujui ajaka Anna.
Kedua balita itu berdiri diatas kasur dan mulai melompat - lompat. Mereka berdua tertawa dengan riang sambil mengayunkan kedua tangannya.
"Ayo uncle ikut," ajak Anna.
"Eh, jangan. Nanti tempat tidurnya hancur jika uncle ikutan," cegah Lia sebelum Jason menyanggupi permintaan Anna.
"Uncle dan Aunty menyoraki saja ya," bujuk Lia sambil bertepuk tangan.
Merasa mendapat dukungan, Archie dan Anna semakin bersemangat. Mereka berdua meneriakan yel - yel kegembiraan. Bukan hanya itu, sesekali Anna meloncat kepelukan Jason.
"Uncle, tangkapp," dengan tiba-tiba Anna meloncat dari atas tempat tidur ke arah Jason.
Dengan sigap Jason menangkap tubuh Anna. Mencium pipinya dan meletakan kembali bocah itu diatas tempat tidur.
Melihat hal itu Archie tidak mau kalah. Archie dan Anna bergantian loncat kearah Jason. Sesekali pria tampan itu menggoda mereka sebelum diletakan kembali ke tempat tidur.
Lia yang melihatnya merasa bahagia. Dia bisa melihat jika Jason ternyata bisa juga memanjakan balita. Sosok kebapakan tampak muncul dari aura Jason. Semua nya indah dan menggembirakan, hingga ....
"Hoek! Hoek!!"
Lompatan terakhir Anna diiringi dengan muntahan bocah itu menyembur ke dada Jason. Beruntung terkena dada, bukan wajahnya. Bau susu yang keluar dari lambung Anna, membuat Jason jijik dan mual seketika.
"Kenapa mun ...." Jason tidak jadi marah, ketika melihat bibir Anna yang ditarik kesamping dan mata yang berkaca - kaca.
"Anna jangan nangis, sini sama aunty, kita bersihkan dirimu ya." Lia membawa Anna ke kamar mandi.
"Lalu aku bagaimana?" ujar Jason dengan kesal.
"Kata mommy, habis minum susu gak boleh loncat - loncat," celetuk Archie.
Jason mendengus kesal.
"Sudah tahu, kenapa juga tadi loncat - loncat?" sahut Jason geram.
"Alchie kan gak minum susu," sahutnya polos.
"Kenapa tadi tidak memberitahu Anna, tidak boleh loncat-loncat, nanti muntah. Lihat ini baju uncle jadi kotor." Gerutu Jason dengan kesal.
"Huaaaa ... huaaa ...." Archie menangis dengan keras.
Jason tertegun melihatnya. Dia tidak merasa memarahi bocah itu. Kenapa juga dia bisa menangis. Belum habis keterkejutan Jason, ketukan terdengar di pintu dan langsung dibuka.
Diana masuk dan melihat Archie yang menangis. Dia langsung memggendong anaknya. Menepuk punggung balita itu dengan lembut dan bertanya apa yang membuat Archie menangis.
"Uncle malah - malah," lapor Archie.
Diana menoleh pada Jason meminta penjelasan.
"Aku tidak marah. Hanya saja si Anna tadi muntah di baju ku ...."
"Anna muntah? Kenapa bisa muntah?" Diana memotong penjelasan Jason dan segera menuju kamar mandi.
"Anna, kamu tidak apa-apa?" Diana melihat Lia sedang membersihkan mulut Anna dan memberikan air dalam kemasan untuk kumur-kumur.
"Anna muntah, mom." ujar Anna mengadu.
"Lain kali diigat ya Anna, habis minum susu atau makan tidak boleh loncat - loncat. Ayo sini, ikut mommy, kakak - kakak kalian lagi berenang."
Anna langsung naik kedalam gendongan Diana.
"Urus suami mu itu. Sudah mau muntah juga dia," ujar Diana pada Lia.
"Kenapa? Bau?" sindir Diana ketika melihat Jason menutup hidungnya.
Jason mengangguk.
"Makanya diingat habis perut diisi penuh, jangan loncat - loncat."
"Mereka yang loncat - loncat!" sahut Jason kesal.
"Yang dewasa disini siapa? Kan kau seharusnya mencegah. Sudah jangan bawel, anggap saja ini latihan." Diana keluar dan menutup pintu kamar.
Di luar kamar, Diana tak tahan menahan tawa lagi. Tawanya meledak keras, sehingga sayup-sayup suara tawa itu terdengar oleh Jason.
"Ayo, dilepas kaos nya biar aku cuci," pinta Lia.
"Tidak usah. Buang saja."
Krekkkk .... Jason merobek baju itu dan membuangnyan ke tong sampah.
...💖💖💖💖💖💖💖...
Jangan Lupa. simpan poin kalian sebanyak-banyaknya. Pertengahan Mei ditebarkan ya.
Ajak pembaca lain dari GC manapun atau dari media sosial untuk membaca Lia.
semakin banyak anggota, semakin banyak poin yang ditebar. Begitu masuk ranking dua puluh besar taanggal 30 Mei, malam hari sampai 24.00. maka hadiah uang dari Mangatoon akan dibagikan dengan pembagian sebagai berikut;
Hallo Lovers,
Bisa buat Lijas tembus ranking hadiah Mangatoon atau Noveltoon gak?
Kalau sanggup, hadiah ranking dibagikan untuk kalian semua. Gimana? Mau gak?
Caranya gampang. Bawa member sebanyak-banyaknya untuk kasih hadiah ke Lijas. Perlu banyak pendukung untuk bisa manjat, kan.
Trus hadiahnya?
• Masuk 20 besar hadiah dari NT 100rb. Akan dibagikan 50 rb rangking 1 tertinggi dan 25 rb untuk 2 orang lainnya.
• Masuk juara 2-10 besar hadiah dari NT 200 rb. Maka juara 1 dpt 100rb. Juara 2dan 3 @50 rb.
• Masuk juara umum besar hadiah NT 300 rb. Maka juara 1 @100rb. Juara 2&3@50 rb. Yang 100 rb akan dibagikan ke 10 pemberi hadiah lainnya.
Bagaimana? Semangat.
Gerakan 1 juta bunga untuk Lijas.💝