48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Bekal Makanan



Erick bangun di pagi hari dengan menemukan Laurent tidur di atas lengannya dan memeluk erat dirinya. Wanita itu menempelkan tubuhnya sangat rapat di dada Erick.


Erick tidak menyadari sejak kapan posisi mereka begitu rapat. Kepala Laurent meyusup di ceruk lehernya. Aroma wangi rambut wanita itu menyusup ke dalam penciuman Erick. Harum.


Dipandanginya wajah Laurent yang masih terpejam. Nafas wanita itu masih teratur menandakan dia masih sangat pulas tertidur. Perlahan Erick melepaskan pelukan Laurent, meletakan kepala wanita itu di bantal dan meletakan satu bantal lagi sebagai ganti untuk dipeluk wanita itu.


Dia lali beranjak menuju ke kamar mandi dan mengguyur dirinya. Erick keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk di pinggang. Pria itu masuk ke dalam closet dan mulai berganti pakaian kerja. Tak lupa ia menyisir rapi rambutnya dan mengenakan parfum


Dengan meneteng tas kerja dan jas di tangan, Erick melihat Laurent yang masih tertidur pulas dengan memeluk bantal. Pria itu lalu keluar kamar. Sesaat dia menghentikan langkah kaki di dekat dapur.


Erick meletakan tas dan jasnya di atas meja, kemudian dia menjerang air di atas panci. Setelah panas Erick memasukan dua butir telur dan memasaknya selama lima menit. Erick mengambil dua buah tempat telor.


Pria itu memanggang roti dan memakan sebutir telur. Dia sengaja menyisakan satu buah telor untuk Laurent. Setelah selesai makan, Erick meletakan piringnya begitu saja, karena ia tahu pelayan harian akan segera tiba. Erick menutup sarapannya dengan segelas susu dingin.


Tepat setelah dia selesai menggunakan sepatu dan membuka pintu apartement, pelayan sudah tiba.


"Selamat pagi, Tuan."


"Pagi."


Erick membiarkan pelayan tersebut masuk dan mengerjakan tugasnya. Dia segera turun menuju ke parkiran.


Sementara itu di dalam apartement pelayan sudah memulai kesibukannya. Dia dengan ahli memisahkan pakaian yang harus di cuci dengan mesin dan yang harus dibawa ke binatu.


"Apakah Erick sudah berangkat, Dorothy?" tanya Laurent yang baru saja bangun dari tidur.


"Iya, Nyonya. Saya berpapasan dengan tuan tadi."


"Hoamm ... aku terlambat lagi." Laurent menopang dagu dengan kedua tangannya.


"Bagaimana caranya bisa bangun lebih pagi dari suamiku, Dorothy? Aku merasa tidak berguna," ujar Laurent dengan bibir berkerut.


Laurent menatap telor yang sudah disiapkan Erick untuknya


"Lihatlah, bahkan sarapan pagi pun aku tidak bisa membuatkan untuknya." Laurent mendesah sambil memegang telor rebus tersebut.


"Tuan Erick memang baik sekali, Nyonya. Anda beruntung menikahi dia," ucapan Dorothy malam membuat Laurent lesuh.


"Bagaimana dia bisa menerimaku yang seperti ini. Huaaaaa ... aku merasa jadi tak berarti. Dia tampan, pekerja keras, mudah bergaul dan bahkan mandiri untuk hal sekecil ini." Laurent memutar-mutar telur yang sudah direbuskan Erick untuk dirinya.


"Lihat. Dia bahkan tau kematangan yang aku inginkan," ucap Laurenst setelah memecahkan telor. Putihnya masih sangat lembut dan sedikit matang di bagian kuningnya.


"Anda bisa belajar, Nona. Mungkin dengan memasang alarm di pagi hari. Jangan tidur terlalu malam." Saran Dorothy sangat masuk akal.


"Tapi ... aku tidak bisa memasak. Aki rasa hanya memanggang roti aku bisa melakukannya. Dorothy, bagaimana jika kau mengajari aku? Aku ingin membuat bekal makan siang." Mata Laurent berbinar penuh harap.


"Baiklah, Nyonya. Mari kita lihat apa yang anda miliki di kulkas." Dorotthy membuka lemaro es dan terperangah.


Isi lemari es besar itu hanya ada beberapa macam minuman dari kaleng atau botol, air mineral, telor dan susu. Bagian atas hanya ada ice cream yang baru di beli Laurent.


"Aku biasanya memakan ice cream home made. Baru kali ini aku mencoba ice cream pabrikan. Tidak terlalu buruk," ujar Laurent.


Dorothy tersenyum kecut. Pelayan wanita setengah baya ini mengerti dilema anak orang kaya. Mereka selalu menyerahkan urusan rumah pada assisten rumah tangga.


"Baiklah, Nyonya. Mari kita berbelanja," ajak Dorothy.


"Berbelanja? Wah sudah lama sekali aku tidak pernah ke supermarket. Tunggu sebentar, aku akan mandi dulu."


Dorthy menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan satu jam kemudian Laurent sudah siap untuk berbelanja. Pagi hari itu dihabiskan Laurent untuk membeli bahan makanan yang mudah di masak.


Laurent benar-benar berusaha. Hari ini pertama kalinya dia terkena penggorengan panas, hingga tangannya melepuh. Hari ini pula dia sudah memecahkan beberapa telur di lantai. Menumpahkan sebotol minyak zaitun dan mecahkan beberapa mangkok.


"Trimakasih Dorothy! Kau memang luar biasa. Maafkan aku yang membuatmu bekerja lembur," ujar Laurent ketika melihat kekacauan yang dia perbuat.


Setelah membersihkan diri dengan riang Laurent berangkat ke kantor. Senyuman tak lepas dari wajah Laurent. Hari ini dia sudah berjuang keras untuk menunjukan pada Erick, jika dia memang pantas disisi pria itu.


Dengan menenteng tas bekal di tangan kiri dan tas branded di tangang kanan, Laurent melangkah anggun menuju ke lantai atas dimana kantor Erick berada.


"Hai Pedro, Hai Bertha," sapanya pada mereka.


"Hallo nona Laurent, " sapa balik Bertha dan Pedro.


"Aku membawa bekal untuk Erick. Dia ada di dalam, bukan?" tanya Laurent yang langsung menuju ke pintu kantor Erick.


"Eh, Nona. Tuan Erick sedang rapat. Sebaiknya anda menunggu dulu. Bagaimana dengan menunggu di ruangan Tuan Jason," ujar Bertha dengan cepat. Sekretaris itu segera menarik tangan Laurent menuju ke ruangan Jason.


"Apa kakakku sudah datang?"


"Belum."


"Lalu, untuk apa aku menunggu di sana. Aku akan menunggu di sini saja bersama kalian," tolak Laurent.


"Di ruang tuan Jason saja, lebih nyaman." Bertha menarik tangan Laurenr dengan keras sehingga wanita itu heran. Sejak kapan Bertha berani bersikap kurangajar begini. Tapi Laurent melupakannya. Harinya sedang bahagian saat ini.


"Tunggu di sini ya, Nona. Kalau tuan Erick selesai rapat, saya akan mengabari anda." Bertha dengan cepat menutup pintu kamar.


Laurent diam di kantor Jason selama beberapa saat. Dia membolak-balik majalah hingga bosan. Setengah jam dia menunggu. Jam di dinding sudah menunjukan pukul satu tiga puluh siang.


"Sudah siang, bagaimana mungkin rapat belum selesai. Apakah mereka tidak merasa lapar?"


Laurent keluar dari ruang Jason.


"Nona, rapat belum selesai," ujar Bertha yang kaget melihat Laurent keluar dari ruangan Jason.


"Aku bosan disana. Sebaiknya aku menunggu di ruangan Erick," tangan Laurent sudah membuka pintu ruangan Erick. Dia merasa senang mendengar suara tawa Erick sekaligus heran, karena Laurent mengira Erick sedang rapat di ruangan rapat.


Begitu pintu terbuka setengah, Laurent melihat di sana Erick sedang duduk dengam seorang wanita. Mereka sedangakan siang bersama dan tampak akrab.


Hati Laurent terasa sakit. Dan saat pandangan mata mereka bertemu, Erick pun tampak terkejut. Sementara wanita yang berada di depan Erick, sedang mengulurkan sapu tangan untuk mengelap mulut pria itu.


Laurent terpaku di depan pintu dengan makanan yang dia bawa. Dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan. Laurent menatap pada bekal makanan yang sangat beragam danelirik pada bekal makanan kecil yang dia bawa.


Dengan lemah Laurent berkata, "Maaf saya salah masuk ruangan."


Di tutupnya kembali pintu ruangan. Wanita itu bersandar di balik pintu ruangan dengan menaham air matanya


...โ˜•๐ŸŒนโ˜•๐ŸŒนโ˜•๐ŸŒนโค๐ŸŒนโคโ˜•๐ŸŒนโ˜•๐ŸŒนโ˜•๐ŸŒน...


JANGAN LUPA YA VOTE DAN POIN.


Saya berkarya anda membaca.


Saya menulis anda tekan like.


Saya berpikir anda tinggal beri hadiah poin.


Saya senang anda juga senang, update lancarrr.


Horeee!!!


Pahalanya besar lohhh โค