48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Bosan



Baru sehari tidak bertemu dengan Jason, Lia sudah sangat kesepian. Meskipun di pagi hari, mereka masih bersua melalui video call.


Jason tampaknya harus menghadiri meeting penting. Tampak sekali dia sangat tergesa-gesa. Video call mereka pun hanya lima menit.


"Jangan lupa sarapan. Itu penting, supaya bisa mengambil keputusan hebat saat rapat dan kembali sehat kepadaku."


Lia tersenyum-senyum sendiri mengingat pesan yang dia tujukan pada Jason.


Dan tentu saja pria itu tersenyum lebar seraya mengerdipkan matanya.


Aaaaaaaa..... Lia tersenyum sendiri di tempat tidur seraya menendang-nendang tempat tidur. Hanya menuliskan kalimat itu saja bisa membuatnya malu. Apalagi ketika Jason kembali mengatakan, "Ya sayang. I miss you."


Haduhhh.... berdebar gak karuan rasanya. Mungkin beginilah remaja lagi jatuh cinta.


Setiap saat, sibuk melirik handphone. Tidak ada chatt tidak ada telphone.


Di Mansion ini, ke kamar mandi ingat Jason, di kamar ingat Jason, di closet ingat Jason, di ruang fitness, di ruang jaquzi, di ruang kerja, di tangga, di ruang makan, di kolam renang semua ada bayangan Jason.


"Nona, anda sakit?" Tanya Butler Bernard yang tiba-tiba berdiri di belakang Lia.


"Eh, kenapa?" tanya Lia.


Tampaknya Lia tidak mendengar pertanyaan butler Bernard.


"Anda sakit?" Butler Bernard mengulangi pertanyaannya.


"Enggak. Sehat kok." Jawab Lia dengan lesu. Tangannya kembali mengaduk-aduk salad dihadapan tanpa ada keinginan untuk menikmatinya. Selera makan Lia lenyap seiring dengan kepergian Jason.


"Maafkan saya, permisi." Butler Bernard meminta izin untuk menyentuh kepala Lia.


Dahi Lia tidak panas, hanya wajahnya tampak lesu.


"Aku gak apa-apa kok. Iiihhh." Lia menepis tangan keriput bulter Bernard dari kening nya.


"Lalu kenapa anda tampak lesu dan tidak juga menghabiskan salad itu."


Butler Bernard menunjuk pada salad yang sedari tadi diaduk-aduk oleh Lia. Ceasar salad dengan potongan dada ayam panggang, sebenarnya merupakan salah satu makanan kesukaan Lia.


Lia melirik ke arah saladnya. Kemudian dia meletakan garpu di atas piring salad dan mendorongnya jauh.


"Aku tidak berselera," sahut Lia.


"Tapi anda belum makan, nona."


Butler Bernard mengernyitkan kening nya dengan heran. Semenjak semalam, Lia hanya makan sedikit saja. Dan pagi hari Lia hanya minum kopi susu saja.


"Aku tidak lapar." Sahut Lia.


"Nanti anda sakit, nona." Ujar Butler Bernard dengan penuh perhatian.


"Tadi kan sudah minum susu." Lia beralasan


"Biar seperti pragawati." Sahut Lia tidak perduli.


"Tingginya kurang, kalau mau jadi pragawati." Ejek butler Bernard.


"Ya udah jadi model aja kalau begitu." Sahut Lia dengan malas.


"Dada nya kurang besar kalau mau jadi model." Suara butler Bernard terdengar menyindir.


"Ihhhhh... butler Bernad nyebelin!"


Lia dengan kesal meninggalkan ruang makan. Dia menuju ke taman, memandang pepohonan yang tampak rindang. Kenapa terasa hari ini sangat sepi dan membosankan.


Lia mengambil handphone, tidak ada pesan dari Jason. Ingin sekali dia mengirim chatt terlebih dahulu, tapi Lia merasa malu memulai. Lia menggeser layar handpone untuk membuka kuncinya. Kembali dia memandang foto-foto Jason di sana.


Setelah cukup lama timbul niatan iseng Lia.


Dia mendial nomor Butler Bernard.


"Ya nona?" Jawab butler Bernard hanya dengan satu kali dering.


"Wuihhh sudah tau nomerku ya."


"Ehem iya. Kenapa anda menelphone saya?"


"Test respon saja. Ya sudah."


Lia mematikan handphone nya.


Mendial lagi.


"Ya nona?"


"Jalan-jalan yuk."


"Saya sibuk."


"Membosankan." Klik. Telphone Mati.


Telphone lagi.


"Saya ada disini nona, tidak usah meneplhone."


"Aaaa."


Tiba-tiba gagak tua itu sudah berdiri di belakang Lia.


...💗💗💗💗💗...