
Lia tidak bisa berdiam diri saja, melihat Jason mati-matian membela dirinya. Jika dia ingin keluarganya utuh, maka Lia juga harus berjuang. Jason sudah seringkali membuktikan besarnya cinta pada dirinya.
Lia bisa merasakan, hatinya terasa sesak ketika melihat Jason harus bertengkar dengan orang tuanya, hanya untuk membela dirinya. Lia tidak menginginkan hal ini. Lia ingin Jason berbakti pada orang tuanya. Seandainya bisa, lebih baik dirinya yang mengalah. Tapi dia sudah terikat seukur hidup disisi Jason.
Sadar atau tidak, bibir gadis itu sudah mengucapkan sumpah sehidup semati saat di pernikahan di hadapan Tuhan.
"Saya Lia Oktavia menerimamu Jason Madison sebagai suami satu-satunya dan sah di dalam Tuhan. Untuk saling memiliki dan menjaga, baik dalam keadaan suka dan duka, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, sampai mau memisahkan kita."
Jason, saat ini adalah bagianku untuk melindungimu, melindungi cinta kita, menjaga keutuhan keluarga kita demi anak dalam kandunganku, gumam Lia dalam hati.
Belaian tangan dan tatapan mata Lia yang memancarkan keteduhan, menyalurkan ketenangan dalam diri Jason. Emosi dalam diri Pria itu sudah bisa melemah. Rasa percaya diri dalam gekstur tubuh Lia, membuat Jason semakin yakin, jika dia tidak salah membuat pilihan.
"Apa yang kau inginkan dari dirinya, Dad?!" tanya Jason dengan berusaha menekan segala emosinya.
"Mudah saja, jadilah relawan dalam tugas prikemanusiaan PBB." sahut Darrel dengan santai.
"Tidak, Dad!" Jason menolak dengan tegas.
Laurent dan Erick ikut tersentak dengan persyaratan yang diajukan oleh Darrel. Jelas sekali mereka sudah mempersiapkan hal ini. Persyaratan ini, sangat jelas, bukan untuk meringankan Lia, tetapi untuk menjebak gadis itu agar menjauh dari keluarga ini.
"Kenapa kau harus melindungi wanita itu? Jika dia ingin diakui oleh seluruh keluarga besar Madison, maka dia harus membuktikan dirinya!" sahut Darrel Madison dengan sengit.
"Kau tahu jason, itu adalah jalan yang termudah untuk dirinya," ujar Laura menambahkan.
"Aku tidak perduli kalian merestuinya atau tidak!" Teriak Jason dengan penuh emosi.
"Kau perduli Jason ... aku tahu ambisimu untuk menjadi pewaris Madison. Kekuasaan yang sudah kau rasakan dari lahir, relakah diri mu membiarkan hal itu menguap begitu saja. Terlepas dari genggamanmu, hanya demi dirinya?! Kau tahu ... kaki mu terikat dalam keluarga ini selamanya, dengan dirimu menjadi pewaris ataupun tidak."
"Daddy! Jangan mengancamku!"
"Aku tahu, kau sudah memiliki banyak perusahaan di belakangmu. Kau mempersiapkan diri dengan bagus. Tapi ingat, aku masih menguasai dunia politik. Mudah bagi ku menghancurkan semua jerih payahmu." ancam Darrel dengan tenang. Benar, Darrel masih menguasai organisasi dunia.
"Jason. Tenanglah ... biarkan aku mengerti relawan seperti apa yang di tugaskan oleh daddy," ujar Lia dengan lembut.
"Kau tidak mengerti ...," bisik Jason dengan sendu, menatap istrinya.
"Mudah saja. Hanya membantu mengobati orang yang terluka," ucap Darrel Madison dengan tenang.
"Tidak ayah."
"Membantu mengobati orang yang terluka?" Lia merenung. Tampaknya hal itu tidak sulit. Tetapi mengapa Jason marah dan melarangnya. Bukankah hal ini persyaratan yang mudah.
"Baiklah, Tuan Darrel," ucap Lia mengiyakan.
"Tidak Lia! Aku melarangmu!" cegah Jason dengan berapi-api.
"Tapi kenapa, bukankah hal ini mudah?"
"Tentu saja mudah, hanya mengobati luka. Luka akibat perang." Laura tersenyum licik.
"Somalia." Darrel menambahkan keterangan yang di berikan oleh Laura.
Lia terperangah. Somalia? Bukankah negara itu dalam zona merah. Perang yang tak kunjung berhenti hingga saat ini. Bagaimana dia bisa bertahan hidup dan keluar dengan selamat. Apa yang harus dia buktikan disana? Menjadi superhero ditengah keluarga Madison? Lia tidak menyangka jika syarat itu adalah harga mati. Mereka ingin menyingkirkan dirinya perlahan.
"Kau tidak bisa melakukan hak itu, Daddy. Dia istri sah Jason secara hukum dan dihadapan Tuhan. Dia menantumu," sanggah Laurent mengingatkan ayahnya.
Darrel hanya mengangkat bahunya.
"Dia mengandung anakku. Ada cucumu dalam perut Lia," desis Jason dengan geram. Dia memeluk Lia menunjukan kepemilikan yang kuat. Gestur tubuh Jason menunjukan, jika dia akan melindungi anak istrinya sampai kapanpun.
Darrel dan Laura terperanjat mendengar perkataan Jason. Mereka sungguh tidak menyangka, jika si gadis desa sudah secepat itu beraksi dan melebur dirinya dalam keluarga ini.
Darrel dan Laura saling bertatapan. Mereka tidak menyangka jika rencana ini, tersandung karena bayi itu. Hal yang tidak dia harapkan.
"Hamil?"
"Iya, Mommy. Lia hamil anakku."
"Anakmu? Bagaimana kau bisa yakin, jika anak itu anakmu?" Laura menarik satu sudut bibirnya.
"Mommy!" Pekik Jason dan Lia bersamaan.
"Kenapa? Bisa saja kan? Bukannya kau sering meninggalkan gadis desa itu sendiri di mansion ini bersama para pengawal? Apa kau tidak berpikir jika dia bisa saja ...." Laura tidak meneruskan kata-katanya mengganti dengan senyuman mengejek.
"Mommy! Lia bukan wanita seperti itu," ujar Laurent.
"Lalu, apakah aku anak Darrel Madison atau anak pengawal?" balas Jason membalikan perkataan ibunya.
"Kurang ajar kau! Beraninya menghina mommy! Apa kau tidak malu menutut hak waris juka dirimu adalah anak pengawal, hah!!" Laura begitu marah dan geram dengan perkataan Jason.
"Maka jangan hina istriku," balas Jason tak kalah sengit.
"Istri! Istri! Aku ibumu, Jason!" pekik Laura penuh amarah.
"Sudah mommy, kakak. Hentikan!" teriak Laurent.
Suasana di lantai dua itu semakin memanas. Kesunyian saat ini tercipta, namun hawa panas masih dapat dirasakan oleh masing-masing dari mereka. Mereka semua hanyut dalam pikiran. Tidak ada seorang pun yang mau mengalah.
Dalam benak mereka sudah tercipta serangkaian kata dan emosi yang tertahan. Semua merasa benar. Semua memiliki sisi egoise. Keinginan untuk diakui.
Jason dengan segala keegoisan yang ingin memiliki semuanya, hak waris dan Lia.
Lia yang terperangkap antara Jason dan keluarganya.
Darrel dan Laura yang tidak mau mengalah demi kebahagiaan anaknya. Nama besar lebih mereka utamakan diatas segalanya.
Laurent dan Erick resah. Meskipun permasalahan mereka selangkah lebih mudah.