48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Gadis yang berbeda



"Lalu... apa jaminan kau akan setia pada anakku dan diriku. Mungkin saja, setelah kau merasakan nikmat berada di puncak kekuasaan, kau akan tergoda untuk menyingkirkan Jason." Laura mengulangi pertanyaannya dan menyungging senyuman sinis ke arah Lia yang masih terdiam.


Lia menghela nafas panjang. Kemudian menoleh ke arah Jason, mengamati pria di sampingnya dengan seksama. Pandangan mata mereka bertemu. Jason menatap Lia dengan memberti dukungan.


"Sebentar nyonya, biar saya menanyakan sesuatu pada Jason." kata Lia sambil menatap Laura Collins.


Wanita setengah baya itu sedikit menggangukan kepalanya, memberikan izin kepada Lia. Dan dia pun penasaran apa yang akan dilakukan gadis muda pilihan anaknya. Apa yang membuat Lia lebih pantas mendampingi Jason daripada wanita lain yang dia pilih, dengan latar belakang kekuasaan dan kekayaan.


"Jason..." panggil Lia dengan lembut.


Jason menatap Lia, menantikan perkataan selanjutnya.


"Apakah kau mencintaiku?" tanya Lia lembut.


"Tentu saja!" jawab Jason dengan tegas.


"Katakan sebesar apa cintamu padaku." ujar Lia lagi.


Jason menatap Lia lenbut sambil meremas jemari Lia, diarahkan tangan tersebut kearah bibir nya kemudia dia kecup dengan lembut. Jason tersenyum hangat kemudian berkata dengan tegas.


"Sebesar cintaku pada nyawaku!"


Lia terharu mendengar perkataan Jason. Cinta yang setara dengan nyawa, adalah cinta yang luar biasa.


"Kau yakin? Bagaimana jika aku menghianatimu dan membunuhmu?" tanya Lia lagi.


Jason menatap Lia tajam.


"Maka aku akan mati ditanganmu." ujar Jason dengan tenang dan serius.


Lia tersenyum senang. Entah jawaban Jason itu jujur atau tidak. Entah tulus atau hanya bualan. Tapi dia memiliki senjata untuk menghadapi Laura Collins.


"Anda dengar sendiri nyonya. Jason rela mati di tangan saya. Jika Jason mati, mungkin saya juga harus membunuh anda dan Laurent." Ujar Lia dengan tenang. Dia menatap Laura Collins yang sedikit terhenyak dengan perkataannya.


"Tetapi tenang saja nyonya, hal itu tidak akan terjadi, asal kalian tidak menghianati saya dan tidak menginjak-injak harga diri saya juga suami saya. Karena saya menghargai ketulusan dan lebih memilih hidup tenang daripada harus hidup dalam kebencian yang menguras tenaga." sahut Lia dengan tenang.


Hal yang tidak diketahui Lia, akan tiba saatnya dia menelan kata-katanya dan hidup dalam balas dendam. Kata-kata nya yang hebat saat ini, akan membentuk dirinya menjadi wanita yang tangguh dan ditakuti oleh semua orang.


Laura terhenyak mendengar jawaban Lia. Dia mengira jika gadis Asia yang tampak polos dan lugu itu, akan meneteskan air mata dan mengiba padanya. Gadis itu akan berlutut memohon agar Laura menerimanya menjadi menantu. Apa yang membuat gadis ini berbicara dengan begitu berani, padahal dia tidak memiliki apa-apa selain mulut tajamnya. Tapi, sikapnya yang keras dan tangguh membuat Laura harus mengakui Lia dalam diam.


"Dengan perkataanmu yang seperti ini. Mengancam untuk membunuhku, Kau pikir aku akan membuka hati dan menerimamu menjadi menantuku?" tanya Laura lagi dengan sinis.


Lia mengurungkan niat untuk memakan steak terakhirnya. Dia melatakan kembali di piring garpu berisi steak. Membasuh mulut nya dengan air putih. Kemudian menatap Laura tajam.


"Nyonya, dari percakapan kita baru saja, saya pikir anda sudah mempelajari banyak hal tentang saya. Tetapi, ternyata anda belum mengerti juga." ujar Lia dengan menahan kesal.


"Maksudmu?" Laura meninggikan suaranya.


Lia menarik nafas dan menghela nya perlahan. Mengontrol agar emosinya tidak meledak. Susah memang bicara dengan orang tua yang sok pintar, kata Lia dalam hati.


"Saya tidak perduli, jika anda tidak merestui kami. Bagi saya cukup dengan cinta dan ketulusan Jason. Kalau anda ingin bergabung dengan kebahagiaan kami, maka anda tidak punya pilihan lain selain menerima saya." ujar Lia dengan mengembangkan senyuman yang tertahan.


"Hahaha hahahahaha." Tawa Laurent meledak. Dia melihat raut wajah Laura Collins merah padam. Wanita itu sudah memegang gelas wine dengan erat. Mungkin saja, jika Lia duduk di sampingnya, maka anggur merah itu sudah dia siramkan ke wajah gadis yang begitu keras ucapannya.


Dengan jengkel Laura meninggalkan ruang makan. Dia lebih baik menghindari bertatap muka dengan Jason dan Lia saat ini. Meskipun dia mengagumi jawaban tegas Lia. Tapi dia tidak ingin menunjukan jika dia sudah kalah dengan gadis ingusan itu.


"Kau memang luar biasa penuh kejutan kakak ipar. Hahhahah." Laurent tertawa dengan keras.


"Tampaknya aku harus segera membuat jadwal untuk kencan berduaan dengan mu," ujar Laurent dengan mata berbinar.


"Boleh." jawab Lia.


"Ayo kakak ipar kita mengobrol di kamarku." Laurent menarik tangan Lia pergi. Sambil berjalan, Laurent menoleh kepada Jason, memberi kode agar Jason menemui mommy.


Jason berjalan menuju ke ruang perpustakaan, di mana Laura Collins berdiri sambil menatap langit berbintang. Jason masuk dan berdiri di sisi ibu nya. Mereka berdampingan dalam diam. Pandangan kedua nya hanya fokus kepada langit.


"Wanita itu... bagaimana kau menemukannya?" tanya Laura dingin.


"Dia luar biasa kan, mom?!" Jason balik bertanya.


"Dia... Dia memiliki hati yang keras dan lembut bersamaan. Tetapi, bagaimana kau bisa memilih wanita tanpa uang dan kekuasaan." ujar Laura masih bersiteguh jika uang dan kekuasaan sangat penting.


"Dia memiliki itu moms. Kau bisa memerintahkan anak buahmu untuk memeriksa, Oktavia butik dan hotel. Kakaknya menikahi seorang Raja kapal Pesiar, Fantasy group. Jangan mengkhawatirkan mengenai hal itu." Jason menjelaskan deretan kekauasaan yang ada di belakang Lia.


"Aku mengaku kalah. Tampaknya kau sudah mempersiapkan segalanya." sahut Laura dingin.


"Moms.... percayalah padaku." ujar Jason.


Jason meninggalkan ibunya yang masih diam mematung. Sepeninggal Jason, Laura bergumam, "Kau mempermalukan diriku, Jason! Aku mencari pasangan untukmu dari banyak kalangan konglomert. Tetapi, kau malah sudah menikah tanpa sepengetahuanku. Heh! Aku tidak akan membiarkannya mudah untukmu."


Jason membawa Lia pergi tanpa berpamitan pada Laura Collin. Sepeninggal mereka, Laurent masuk ke perpustakaan menemui Laura.


"Mereka sudah pergi?" tanya Laura.


"Baru saja." jawab Laurent.


"Cih! Wanita itu beraninya mengancam membunuhku!" desis Laura geram.


"Sudahlah mom. Kau harus mengakui jika gadis itu berbeda. Dia tidak mudah di jatuhkan dan dipengaruhi." kata Laurent sambil berdiri disamping ibu nya.


"Kau benar."


"Jadi kau merestui mereka?" tanya Laurent.


"Tidak semudah itu. Dia harus menunjukan jika dirinya memang pantas dan actionnya sebesar mulutnya." ujar Laura.


"Apa yang kau rencanakan moms?" tanya Lauret heran.


Laura diam tidak menjawab pertanyaan Laurent. Laura hanya menggelengkan kepala kepada Ibunya.


"Apapun yang kau lakukan, aku harap tidak akan membuat Jason menjauhi bahkan membencimu." ujar Laurent pada ibu nya.


Tatapan mata dingin Laura membuat Laurent merinding.