
...~Di balik kesuksesan seorang pria pasti ada sosok wanita yang luar biasa~...
...❤❤❤❤❤...
Malam itu, Erick dan Pedro memenuhi undangan Jason. Mereka makan malam di mansion keluarga Madison. Pedro yang pertamakali menginjakan kakinya di tempat itu, sempat terpaku penuh kekaguman.
Dia berjalan mengelilingi ruang tamu bagian dalam. Tangannya menyentuh setiap patung, barang antik dan lukisan yang ada di sana. Mengagumi setiap lekuk keindahan rumah itu.
Erick menghampiri Pedro. Mereka berdua berdampingan menatap sebuah lukisan keluarga yang tergantung sangat besar. Di Lukis oleh seorang pelukis ternama di Prancis.
Tuan Darrel tampak gagah dengan jas hitam berdampingan dengan Laura Madison yang tampak anggun berbalut dengan gaun berwarna merah. Di belakang mereka tampak Jason dengan jas pinguin panjang dan Laurent mengenakan gaun yang tak kalah indah dengan Laura.
"Mansion ini seharusnya menjadi milikku. Semua ini, kekayaan ini dan kedudukan ini adalah milikku. Aku tak akan berhenti sampai di sini untuk merebut semuanya. Tunggu saja, tak akan aku biarkan diriku terus menerus meringkuk di bawah kalian." gumam seseorang di antara mereka.
"Silahkan menuju ruang makan, tuan muda sudah menanti kalian." Butler Bernard memimpin jalan menuju ruang makan.
Di sana mereka dilayani bagaikan jamuan makan pesta. Hidangan yang disajikan sangat mewah. Ketiga pria itu makan sambil berbincang-bincang beberapa hal tentang politik dan ekonomi.
"Ikuti aku." Jason mengajak kedua pria tersebut. Dia memberikan tanda pada Frans dan pengawal itu mengetahui apa yang harus dilakukan. Frans memberikan kode agar beberapa pengawal mengikuti dirinya.
Di dalam ruang kantor, mereka duduk sambil meminum brandy. Jason duduk dan memandang tajam pada foto Lia yang ada di ruangan.
"Kalian tahu bukan, jika aku adalah orang yang murah hati pada tempatnya, namun bisa berubah menjadi sangat keras pada penghianat." Kata-kata Jason perlahan dan sangat tegas.
"Tentu saja Tuan Muda, sudah sekian lama mengikuti anda, kami sudah paham," ujar Pedro.
"Dan kalian tahu bukan, kalau aku menghargai kejujuran?"
Erick dan Pedro saling berpandangan.
"Tentu saja," sahut mereka serempak.
"Sekarang aku tanya pada kalian berdua? Apa ada yang kalian sembunyikan?" Pandangan mata Jason menatap mereka penuh selidik.
Kedua pria itu terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Jason menunggu dengan sabar selama beberapa menit. Hanya ada sosok manusia yang saling membisu di ruangan tersebut.
"Baiklah, jika kalian masih tidak mau bicara. Aku yang akan bicara. Erick!"
Erick mengangkat wajahnya yang tertunduk dan menatap Jason.
"Aku tahu, Laurent telah melakukan kesalahan dengan tidak berkata jujur mengenai test pack itu. Dan kau terpaksa menikahinya. Tetapi .. aku tidak suka caramu yang tidak Gentle. Laurent adalah manusia hidup. Jika kau tidak menyukai dia, jangan perlakukan dirinya seperti wanita panggilan yang hanya melayani nafsu mu dan kemudian kau campakkan."
Erick terperangah mendengar kata-kata Jason.
"Laurent ... seberapapun dia keras kepala dan egoise, tapi dia memiliki cinta yang tulus dan hati yang murni. Jika kau tidak bisa menjaganya, jujur padanya! Jangan sakiti adiku dengan sikap tak perduli, apalagi bermain api dengan pegawai baru bernama Svetlana."
Erick terpana ketika Jason menyebutkan nama Svetlana.
"Aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan Svetlana. Dia hanyalah teman dari adikku." Erick mencoba menjelaskan pada Jason.
"Kalau begitu, jelaskan pada wanita itu jika kau sudah menikah! Hentikan perbuatan gila dia yang mengatakan pada semua orang, kalau kau adalah kekasihnya! Apa kau tidak punya harga diri?!" Suara Jason terdengar meninggi.
"Aku mengerti, semua akan segera aku perbaiki. Aku ... tidak akan menyakiti Laurent." Erick sekali lagi berjanji.
Jason menghela napas. Dia kemudian mengambil laptop, menghidupkan dan mengarahkan pada Pedro. Mata Pedro seketika terbelalak melihat apa yang ada di laptop itu. Semua data yang tertera membuat dia tak dapay berkutik. Tubuh Pedro terasa lemas dan dia menelan ludah dengan kasar.
"Jelaskan padaku, kenapa kau melakukan hal ini?"
Pedro tak berkutik untuk menjawab pertanyaan Jason. Dia menyandarkan punggungnya di kursi setelah menghela napas panjang.
"Aku tidak akan menjawab apa-apa. Karena tidak ada yang perlu untuk aku jelaskan. Sekarang ... apa yang kau mau lakukan?" Pedro menjawab dengan tenang seolah tanpa dosa.
"Menghukummu? Itu mudah. Aku tidak akan mengantarkan dirimu ke polisi, karena dengan mudah kau hanya akan menciptakan scandal. Apa kau tidak takut jika aku menyakiti orang yang kau sayangi?" Kata-kata Jason tedengar begitu pelan namun penuh ancaman.
"Aku tidak memiliki siapapun di dunia ini, jadi siapa yang akan kau sakiti, Tuan Muda?!" Pedro menatap Jason dengan sinis.
"Haha haha luar biasa sekali dirimu Pedro! Setelah melakukan koropsi besar-besaran, tidak ada penyesalan sedikit pun, bahkan dirimu terkesan menantang." Jason berucap dengan sinis.
"Bagaimana bisa itu dirimu, Pedro?" Erick benar-benar tak percaya jika penyebab kebicoran dana di dalangi oleh Pedro.
"Katakan padaku, bagaimana kau mengetahuinya?" Pedro sangat yakin tidak ada sidak di bagian managemen pemasaran dan akunting, tetapi bagaimana bisa Jason menegtahui semua itu.
"Apakah kau pikir, semua itu tidak bisa diselidiki dari jarak jauh?" Jason menaikan sebelah alisnya, menertawakan pertanyaan Pedro.
"Baiklah ... aku mengaku kalau. Lalu apa yang akan kau lakukan? Aku anak yatim piatu dan belum menikah. Kau tidak bisa menyakiti perasaanku. Dan apapun hukuman yang kau berikann, aku tidak akan mengembalikan dana yang hanya berarti 1 persen dari kekayaan Madison," ujar Pedro bersikeras.
Pedor terpana, dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Hal yang dia sembunyikan begitu rapat, akhinya terbongkar, namun Pedro masih menyangkal.
"Siapa wanita itu? Aku tidak mengenalnya."
"Oh ya. Namanya Melani mckenzie. Dia wanita yang dirawat di rumah sakit jiwa selama puluhan tahun. Disaat keadaan Melani McKenzie membaiik dia tetap bekerja dan tinggal di rumah sakit tersebut. Sayang sekali dia bahkan tidak mengenali putra yang merawat, membiayai dan menjenguk dirinya seriap saat. Pedro Whisper McKenzie." Ucapan Jason membuat Pedro tekejut.
Diaa bahkan tak menyangka jika Jason mengetahuinya dengan detail, meskipun informasi itu belum sepenuhnya lengkap. Masih ada puzzle yang bekum di ketahui Jason.
"Kau luar biasa hebat. Apa kau tahu siapa ayah dari anak wanita gila itu?" tanya Pedro dengan sinis.
"Wanita yang hamil sebelum menikah dan melahirkan dalan rumah sakit jiwa, apakah perlu aku ketahui siapa pria yang menghamilinya?" Sahut Jason sinis.
"Kauuu!!!! Tutup mulutmu! JANGAN PERNAH MENGHINA DIA!" Pedro seketika menjadi marah, dia maju dan mencengkeram kerah baju Jason.
"Jadi sekarang kau mengakui jika wanita itu ibumu? Bagaimana jika aku menyakiti dia?" Ancam Jason lagi.
"Jangan sentuh dia! Dia sudah terlalu banyak menderita!" teriak Pedro dengan muka merah padam.
"Baiklah, kembalikan semua dana yang kau curi dan pergi selamanya dari Madison corp, itu hukuman yang terlalu ringan untuk seorang koruptor!"
Pedro perlahan merenggangkan cengkeraman di kemeja Jason. Dia menuduk dengan bahu yang mulai lemas.
"Kau tahu, siapa nama pria yang menghamili Melany McKenzie ... pria bejat yang tidak bertanggung jawab itu adalah Darrel Madison! Darrel Madison! Pria yang aku sebut sebagai tuan besar itu, bahkan TIDAK MENGENALI DIRIKU SEBAGAI ANAKNYA!"
Kata-kaata Pedro yang tegas di sela-sela perasaan putus asanya, terdengar sangat menyakinkan. Jason terkejut dengan ucapan Pedro. Begitu juga Erick yang seketika berdiri.
Pedro mendorong tubuh Jason dan mengepalkan tangannya. Matanya sudah memerah menahan amarah juga air mata. Raut wajah Pedro jelas-jelas menunjukan kemarahan dan kebencian.
"Bagaimana bisa aku mempercayai kata-kata mu?" Ucapan Jason memecahkan keheningan.
"Kau bisa mengambil Dna ku."
"FRANS!" Frans yang sudah berjaga di luar ruangan untuk berjaga-jaga jika saja terjadi hal buruk, segera masuk ke dalam kantor begitu mendengar Jason memanggil namanya.
"Ambil Dna pria ini dan cocokan dengan dna tuan besar."
Frans dengan patuh melakukan perintah Jason. Ini bukan hal pertama dia melakukan hal tersebut. Sekian banyak anak Darrel yang menyebar, dia pula yang memastikan jika mereka memeiliki hubungan darah.
Setelah Frans selesai mengambil sampel, pria itu segera keluar ruangan. Dan seorang pengawal segera berangkat ke Labarotarium yang terpercaya.
"Kenapa kau tidak datang pada tuan besar dan mengatakan jati dirimu. Kau tidak perlu berbuat sejauh ini." Jason memandang Pedro yang duduk dengan lemas.
"Pria tua itu, heh!" Pedro terkekeh _______ "Dia bahkan mencampakan ibuku begitu saja. Dia berjanji menikahi Melany tetapi akhirnya menikahi Laura." Pedro tertawa sinis.
Jason menghembuskan napasnya perlahan. Kini dia mengerti dimana letal permasalahannya. Pedro hanya datang dan masjk dalam bisnis Madison karena dendam. Dia ingin menggerogoti semua keuangan Madison, menjadikannya hancur sehingga bisa dia kuasai.
Sayang sekaali semuanya sia-sia saja. Jason dan Erick sudah terlebih dahulu mengetahui hal tersebut. Dengan bantuan Daniel mereka bisa melacak kebocoran keuangan.
"Apa kau tidak tahu, jika Tuan Darrel menikahi nyonya Laura karena perjodohan?" tanya Erick.
"Meskipun begitu, bagaimana bisa dia melupakan Melani begitu saja. Dia frustasi saat hamil hingga aku lahir." Pedro membungkuk sambil meremas rambut dengan kedua tanganya.
"Katakan padaku, bagaimana aku tidak membenci dirinya. Aku ingin menghancurkan dirinya dan mengambil alih Madison corp. Semua ini adalah hakku!" Pedro dengan tegas mengeluarkan isi hatinya.
"Hak mu?!" Jason tertawa sinis. _____"Bagaimana bisa kau berpikir demikian? Kau pikir berkembangnya Madison ini akibat uang Darrel?! Darrel bukan apa-apa tanpa Laura Madison! Darrel hanyalah anak kedua dari keluarga Madison, yang tidak dipandang bahkan sebelah mata. Tapi karena Laura, dia menjadi luar biasa dan mendapatkan pengakuan. Dia memimpin Madison menjadi maju, menyingkirkan saudara-saudaranya yang tamak. Bagaimana bisa kau berkata ini hak lahirmu? Sedangkan ibumu tidak melakulan perjuangan apa-apa selain meratapi nasibnya di rumah sakit jiwa!" ujar Jason dengan penuh amarah dan tegas.
Pedro terhenyak. Kata-kata Jason begitu tegas dan menusuk. Dia hanya mengenal keberadaan keluarga Madison, sekilas dari kakek dan neneknya. Kebencian pada Darrel Madison sudah ditanamkan sejak dia masih bayi. Anak terlantar dari seorang ayah yang tidak mengetahui keberadaannya.
Sekarang dia hanya bisa pasrah dengan keputusan Jason.
"Jika kau ingin memenjarakan diriku, menghukumku, lakukan. Tapi tolong, biarkan ibuku tenang," pinta Pedro tanpa malu.
Sementara itu di luar ruangan, seorang pengawal meninggalkan pintu kantor Jason. Dia berjalan ke arah yang sepi dan mulai menghubungi seseorang.
"Ya, Tuan Besar. Tuan Muda sudah berhasil menyelesaikan masalah kebocoran dana. Penghianat itu sudah ditemukan."
"...."
"Ya, Tuan. Saya mengerti. Saya akan terus mengawasi tuan muda. Satu lagi, Tuan. Tampaknya besok tuan muda akan berangkat le Jerman."
...☕🌹☕🌹☕🌹☕🌹☕🌹☕🌹...