
"Svetlana. Bawa semua makanan itu. Aku tidak menginginkannya." Erick menghentakan tangan wanita yang masih teguh merayu dirinya.
Namun wanita itu bahkan tidak marah dan dia dengan percaya diri duduk di sofa sambil memakan mie ramyouen. Menyeruput mie tersebut dengan gaya sexy.
Erick memalingkan wajahnya dan menatap langit biru. Dia sungguh merasa menyesal.
Saat itu jika saja Erick langsung mengejar Laurent, permasalahan ini mungkin akan lebih muda.
Tangan Svetlana yang memeluknya dengan erat saat itu, menghambat langkah Erick.
Belum lagi saat wanita itu mengancam untuk bunuh diri.
"Aku memerlukan dirimu Erick. Jangan tinggalkan aku. aku lebih baik mati jika kau pergi." wanita labil itu berulangkali mengancam seprrti itu.
Di bawah derasnya hujan dengan terpaksa Erick menyeret Svetlana ke dalam Apartement miliknya. Erick berharap Laurent ada di sana.
Tetapi ketika dia kembali, hanya ada Jessica dan mommy. Mereka menatap Svetlana yang basah kuyup dan mata sembab dengan heran. Jessica akhirnya menenangkan Svetlana.
Erick ketika itu langsung masuk ke dalam kamarnya, namun dia tidak menemukan Laurent.
"Mom, mana Laurent?" teriak Erick sebelum sampai dihadapan nyonya Victoria.
"Dia belum.kembali sedari tadi pagi. Ada apa Erick?"
Erick tak mengacuhkan pertanyaan ibunya. Dia hendak keluar rumah lagi dalam keadaan basah kuyup. Namun Jessica mencegahnya.
"Gantilah pakaianmu dulu, Kakak. Supaya kau tidak masuk angin dan bawa kembali kakak iparku." ujar Jessica dengan tenang.
Erick mengganti pakaiannnya. Saat dia hendak pergi, Svetlana kembali berteriak histeris. Namun Erick tak perduli, setidaknya ada Jessica yang akan mengasai wanita itu.
Erick mencari di Penthouse, Mansion, Butik, Club malam. Ratusan telphonnya dialihkan ke pesan suara. Namun semua sia-sia.
Saat ini dengan melihat Svetlana dihadapannya, tentu saja dia sangat marah. Wanita itu tak ada hentinya dengan gigih selalu mencari kesempatan.
Dia seringkali datang ke Apartement sehingga membuat Eric merasa jengah. Dan karena muak melihat Svetlana, Erick memutuskan pindah dan menunggu Laurent di penthouse milik nyonya Laura, tempat di mana Laurent selalu tinggal sebelumnya.
Bunyi telphone membuat Erick kembali ke meja kerja di hadapan Svetlana.
"Ya, Bertha?"
"...."
Seorang wanta cantik dengam kulit yang terbakar masuk. Pakaian kerja mewah dan ketat yang membalut tubuh idahnya, di tambah dengan rambut pirang yang tergerai berkilau, membuatnya sangat memukau.
Svetlana terpana menatap wanita itu.
"Nathalie ... lama tak berjumpa. Bagaimana kabarmu?" Erick membuka tanganya lebar-lebar dan mencium pipi kanan dan kiri wanita itu.
Nathalie tentu saja merasa heran dengan sikap Erick yang tiba-tiba saja begitu ramah, bahkan memeluk dan mencium seolah sahabat lama.
Erick menepuk punggung Nathalie dan berbisik, "Bantu aku mengusir wanita itu."
Perkataan Erick memberikan jawaban langsung dari pertanyaan yang terbersit di benak Natalie.
"Ooo Erick aku sangat merindukanmu." Natalie mencium pipi kanan dan kiri Erick.
Hal kecil itu sanggup membuat Svetlana terpana.
"Erick, bgaimana janjimu, kita akan makan malam bukan malam nanti?" ujar Sveetlana dengan genit.
"Tentu saja. Ditempat seperti biasanya.," sahut Erick cepat.
"Siapa gadis kecil itu Erick?" tanya Natalie dengan pandangan mengejek.
"Teman adikku dan karyawan di sini."
"Ooo ... aku pikir kau sudah berubah selera, menyukai wanita yang masih muda." Natalie terkekeh.
"Kau mengenal diriku bukan? Kau tahu selera wanitaku." Sahut Erick dengan duduk tenang di kursi kerjanya.
"Tentu saja setidaknya wanita berkelas setipe denganku," Natalie tanpa malu duduk dipangkuan Erick dan bergelanyut manja.
Svetlana yang melihat itu menjadi kesal. Dia dengan sengaja menumpahkan mie nya di meja. Dan pergi tanpa pamit.
"Anak kecil. Begitu saja sudah pergi. terlalu mudah," ujar Natalie sambil keluar dari pangkuan Erick.
"Thankyou Natalie. Kenapa kau tiba-tiba kemari?" tanya Erick langsung.
"Aku membawa ini. " Natalie menyerahkan sebuah amplop tebal berwarna biru muda pada Erick.