
...~ Cinta itu bukan sekedar kau dan aku, tetapi selalu ada dia dan mereka diantara kita ~...
...💖💖💖💖💖💖💖...
Di dalam kamar, Lia duduk menyandar pada Jason di balcony. Dia memandang langit malam yang cerah, dengan pancaran sinar bulan purnama. Bintang-bintang bertaburan, penuh kerlap-kerlip menambah keindahan langit tak berawan.
Sungguh suasana malam yang indah. Sayang sekali perasaan resah didalam hati mereka, tak dapat menikmati malam yang cerah. Mereka hanyut dalam berbagai kecemasan yang enggan diutarakan.
Lia mengusap tangan suaminya yang melingkari pinggang dan membelai perutnya. Dia mengangkat tangan tersebut dan melihat betapa kecil telapak tangan miliknya dibanding telapak tangan Jason. Tangan yang kokoh, yang dia harapkan bisa melindungi dirinya. Bayinya.
"Jason ...." Lia bergumam sambil menatap langit.
"Hemm ...," gumam Jason perlahan.
"Katakan padaku, kenapa kau begitu menginginkan warisan keluarga ini?" tanya Lia perlahan.
"Maafkan aku, jangan marah atau tersinggung. Aku hanya ingin tahu, kenapa kau harus begitu bersikeras, meskipun ...." Lia tidak meneruskan perkataannya. Dia harus memilah kalimat yang tepat.
"Meskipun kau dan anakku taruhannya, itu kan maksdumu?" ujar Jason sambil membelai tangan Lia.
"Maafkan aku ...," gumam Lia.
"Aku memahami perasaan hati mu. Kau pasti berpikir jika aku terlalu materialistis dan takut hidup miskin, bukan?"
"Aku ... aku tidak bermaksud menyinggungmu sejauh itu, hanya saja aku tidak mengerti. Apakah ini karena Daniel?" Lia menegakan badannya dan memandang Jason.
"Daniel ... heh! Dia tidak akan pernah bisa menjadi alasan kuat."
Lia makin tidak mengerti dengan maksud perkataan Jason. Dia ingin memahami sehingga mengerti langkah yang harus dia ambil. Lia berharap Jason bisa terbuka padanya. Bukankah dalam pernikahan kejujuran dan keterbukaan itu yang terpenting.
"Jangan takut. Aku tidak akan membiarkan pak tua itu menyakitimu. Aku akan menjaga dirimu, anak kita dan semua hak milikku." tegas Jason.
Lia memandang Jason, semakin dia tidak mengerti dengan perkataan suaminya. Jika bukan karena Daniel, kenapa dia harus bersikeras menjadi pewaris. Apakah harta dan tahta itu sangat penting? Lia menatap Jason tak mengerti.
"Kemarilah, ikuti aku." Jason mengulurkan tangannya dan membawa Lia mengikuti langkahnya. Melalui ruang jaquzi dan menembus pintu rahasia di dinding, melewati ruangan rahasia, mereka tiba di kantor Jason. Ruangan dimana dia biasa bekerja.
Jason mendudukan Lia dipangkuannya. Dia kemudian menghidupkan komputernya dan memasukan password. Kemudian memilih sebuah dokumen yang tersembunyi, memencet tombol enter, dia menbuka sebuah dokumen.
"Kau lihatlah Lia, seberapa besar kekuasaan keluarga Madison. Bukan saja menguasai enam puluh persen perusahaan minyak Asia, Eropa dan America. Madison juga mulai menembus kerjasama dengan negara Timur Tengah. Kami tidak berhenti disana, Batu bara, nikel, semua logam dalam bumi, sudah kami kelola. Kau bisa bayangkan berapa juta karyawan yang bekerja dibawah naungan Madison. Berapa juta kepala keluarga yang kami perhatikan."
Jason menghela nafas sesaat dan memandang Lia yang memperhatikan angka-angka disana. Dia tahu, Lia saat ini sedang mempelajari, informasi yang berada di komputer.
"Jika saaja aku menyerah, kesejahteraan mereka siapa yang akan bertanggung jawab? Daniel? Dia terlalu lemah. Erick? Mereka tidak akan memandang dirinya. Belum waktunya aku menyerah dengan mudah dan membiarkan ambisi pria tua itu menghancurkan semua. Kau lihatlah ini,"
Jason kembali membuka sebuah dokumen lain yang tersembunyi diantara dokumen. Dia kemudian membuka sebuah file yang tersembunyi dan disana, munculah berbagai foto yang tak Lia mengerti. Foto-foto wanita dengan anak-anak. Bukan saja satu tapi puluhan.
"Kau lihat itu. Ada dua belas wanita dengan anak-anak. Kau pasti tidak menyangka, jika aku mengatakan mereka juga adalah saudaraku."
Lia terkejut dan menatap Jason tak mengerti.
"Benar, bukan saja Camila dan Daniel. Dua belas orang tersebut juga sudah melahirkan anak yang tidak diakui oleh Darrel Madison. Sepuluh wanita itu sempat menuntut, namun dengan cepat dibungkam oleh pria tua itu, sehingga tidak satupun yang berani membuka suara."
"Hanya Camila yang diakui pria tua itu. Sementara mereka semua dia telantarkan. Aku sudah memeriksa satu persatu dan mereka semua benar, hasil limbah yang dibuang. Dan kau tahu, selama ini aku yang merawat mereka."
Cerita Jason membuat Lia merasa tersentuh. Selama ini, suaminya yang selalu tampak tegar dan keras, ternyata memiliki sisi gelap yang tidak dia ketahui. Bahkan saat ini, Lia merasa jika keadaannya mungkin lebih baik daripada Jason.
"Kau ingin tahu, apa saja yang bisa aku lakukan dengan uang dan kekuasaan?"
Jason membuka sebuah file yang tersembunyi lainnya. Dia memasukan pasword dan menekan enter. Tak lama terbukalah beberapa dokumen yang disertai foto.
"Ini ...." Lia meneliti apa yang ditampilkan di layar komputer.
"Iya. Aku membuat organisasi tersembunyi yang bergerak dibidang sosial. Aku adalah pemimpin tanpa nama, yang menghidupkan organisasi ini. Mereka hanya mengenalku sebagai Mr. Good. Mereka bergerak, membantu setiap korban perang, anak-anak terlantar, memberikan perawatan bagi mereka yang sakit akibat korban perang ataupun kekerasan dan panti asuhan untuk korba perang maupun korban kekerasan . Organisasi tersembunyi yang berdiri sendiri dan menjadi musuh banyak politikus."
Jason memandang Lia yang sangat serius memperhatikan layar komputer. Pria tampan penuh kharisma itu, menyembunyikan kepalanya dalam ceruk leher Lia yang halus. Tangan Jason tak berhenti mengusap perut Lia. Dia mendesah.
"Aku bisa merasakan penderitaan mereka anak-anak korban perang dan terlantar, karena keadaanku juga mirip dengan mereka, meskipun berbalut kemewahan. Anak-anak itu sebagian besar adalah karena korban politik. Politik karena ambisi pria seperti ayahku," ujar Jason lagi.
"Tetaplah disini. Aku akan menjagamu dengan segala kemampuanku. Aku sangat mencintai kalian. Kalian yang memberiku ketenangan dan kekuatan menghadapi semua."
Kata-kata Jason begitu menyentuh. Dia ucapkan dari relung hatinya yang terdalam. Lia tersentuh. Batinnya terenyuh. Seberapa sering dirinya memberontak dan membuat pria luar biasa ini resah. Tingkah lakunya yang begitu egoise, sementara pria disisinya ini memiliki perjuangan luar biasa. Melangkah kedepan dengan segala kebaikan hatinya.
Lia membelai kepala Jason yang masih bersandar pada dirinya. Dia mengecup lembut kening pria luar biasa yang telah membuatnya jatuh cinta. Sungguh, pria ini semakin membuatnya jatuh hati. Dibalik sikap sombong dan posesifnya, dia memiliki berjuta kelembutan. Perhatian yang luar biasa dan jiwa sosial yang mengagumkan.
"Bagaimana jika daddy mu, bersikeras tidak menyerah. Bagaimana jika dia merampas semuanya darimu?"
Keheningan kembali tercipta diantara mereka. Hanya hembusan nafas yang terdengar dengan perlahan. Kedua insan itu larut dalam pikiran. Sejuta perasaan yang berkecamuk. Mereka mencoba untuk memahami situasi saat ini. Pilihan yang sulit.
...❤❤❤❤❤...
Bagaimana cara mereka mengatasi pilihan sulit ini. Akankah Lia dan Jason berpisah, karena keegoisan seseorang?
Berkali-kali cobaan menghantam kekuatan cinta mereka. Kesalahpahaman, orang ketika bahkan hinaan Laura tidak mampu melunturkan keteguhan hati mereka.
Tetapi, ketika saat ini mereka dihadapkan oleh pilihan yang mengorbankan satu orang dan perasaan, dibandingkan dengan jutaan orang lain yang bergantung, siapakah yang harus dipilih.
Orang bilang jika dunia hanya selebar daun kelor, kecil dan mudah diguncangkan. Tapi kenyataannya tidak semudah itu. Mengguncangkan daun kelor ataupun membalikan telapak tangan, memerlukan usaha dan tenaga.
...❤❤❤❤❤...
Selamat Berpuasa. Jangan marah pada author yaaa. Cinta Lia dan Jason adalah kisah pengorbanan diatas keegoisan dan kepentingan semata. Dan Tuhan tak pernah tutup mata melihat pengorbanan yang tulus.
Karena mata Tuhan tak pernah kurang awas untuk melihat. Telinganya tak pernah kurang tajam untuk mendengarkan setiap doa dengan penuh ketulusan. Dan yang terpenting, tangan Tuhan tak pernah kurang panjang untuk menolong.
Yang terpenting hanyalah PERCAYA pada-Nya.
Seperti author yang mempercayakan pada nitizen, emak-emak rumpi berdaster untuk mempromosikan kisah Lijas.
Muahhh ...
I Love You all 💖💖💖