
"Tidak disangka aku bertemu kalian disini."
Seorang wanita yang tak lain adalah Natali, tiba-tiba menghampiri mereka. Dengan percaya diri dan tidak tahu malu, Natali langsung duduk di hadapan Lia dan Jason. Lia hanya menatap wanita itu dengan mata tersenyum, sambil menyandarkan tubuh nya di dada Jason.
"Hai Natali, apa kabar?" ujar Lia berbasa-basi.
Melihat Natali dia jadi ingat, bagaimana gadis itu memenangkan lelang. Apa saja yang terjadi dengan makan malamnya bersama Dario, apakah pengawal itu menjalankan tugasnya dengan sempurna. Aaa... Lia mengutuki dirinya dengan rasa kesal karena lupa menanyakan hal itu pada Dario.
"Hai Jason, tidak disangka kita bertemu lagi." Sapanya pada Jason tanpa menghiraukan Lia.
Jason tidak menjawab bahkan tidak melihat kearah Natali. Dia asyik mengusap lengan Lia yang masih terbungkus Jas. Jason sesungguhnya tidak sabar ingin pulang, hanya saja Lia menahanya.
"Terimakasih Lia atas hadiah lelangmu, aku sungguh menikmati makan malam itu." ujar Natali dengan suara menggoda dan mengerling pada Jason.
Ops! Tawa Lia hampir meledak mendengar perkataan Natali dan melihat bagaimana mata gadis itu mengerling menggoda Jason. Gadis yang luar biasa penuh tekad. Meskipun Jason tidak menghiraukannya sedari tadi. Tapi... tunggu! Apa yang terjadi hingga wanita itu begitu percaya diri?"
"Tentu saja. Anytime... jika kau menginginkannya lagi, aku akan mengaturnya untukmu," ujar Lia santai.
"Bagaimana jika aku menginginkannya saat ini juga?" tantang Natali.
Tawa Lia meledak. Laurent, Daniel dan Emely menoleh ke arah Lia. Jason tampak tersenyum sambil memainkan rambut Lia. Gadis nakal ini, benar-benar menghabisi setiap musuhnya dengan licik. Hidup Jason terasa lebih terasa berwarna dan jauh dari rasa sepi, karena kucing liar ini.
"Kenapa kau tertawa, apa kau tidak takut kehilangan Jason?" ujar Natali tidak senang.
"Kenapa aku harus takut?" Lia berbicara disela-sela tawanya.
"Karena satu malam yang kami lewati bersama."
"Kau menikmati malam itu?"
"Tentu saja. Aku menikmati malam dengan orang yang aku cintai, yang tidak akan rela aku bagi. Bukan sepertimu, yang tega melelang suami sendiri." Sindir Natali dengan keras.
"Kau melelang kakak ku?" Laurent mengernyitkan keningnya heran.
Tawa Lia semakin meledak. Dia tidak dapat mengontrol dirinya sendiri. Orang ini bilang cinta, bagimana cinta bisa tidak mengenal pasangannya? ataukah dia ternyata jatuh cinta pada pria bertopeng itu? Ini sungguh hal yang menggemaskan.
"Mungkin kah aku melakukannya Laurent?!" tanya Lia balik pada adik iparnya.
Laurent angkat bahu, " bisa jadi, kadang kau gila."
Lia tertawa kecil, kemudian menatap Natali.
"Apakah pria bertopeng itu bersikap baik padamu?"
"Lebih dari sempurna. Dia pria sopan yang tidak banyak bicara. Kami makan, berdansa. Dia menggenggam tanganku dan memberiku kecupan selamat malam yang mesra." Natali mengusap bibirnya dengan maksud membuat Lia semakin panas.
"Huahhahahhaha... hebattt. Hebatttt. Kenapa tidak kau kirim kan lagi Dario untuk menemani Natali?" ujar Lia pada Jason.
"Lakukan apa pun yang kau mau," sahut Jason sambil mencium rambut Lia lembut.
"Tunggu! Apa maksumu?!" Natali menegakan duduknya.
"Iya, pria yang memikat hatimu saat makan malam lelang amal itu adalah si tampan Dario."
Jason mencubit pinggang Lia, saat mengatakan tampan.
"Aow!!! Iya. Iya. Di mataku kau yang lebih tampan. Wong aleman."
"Apa itu wong al.. wong al.." Jason tidak bisa menirukan.
"Aaa..." Jasin tersenyum bangga.
"Hai kalian!" Natali meninggikan suaranya. Dia merasa kesal karena diabaikan. Apalagi kedua orang tersebut bermesraan, tanpa menghiraukan pertanyaan.
"Eh, Natali... pelan sedikit kenapa." Laurent melotot pada Natali, yang bersikap bar-bar.
"Hehhh.. Apa maksud kalian kalau yang bersamaku bukan Jason, mana ... mana mungkin!" desah Natali dengan lemah.
Malam itu dia duduk berhadapan dengan cahaya lampu yang temaram dan alunan musik lembut. Pria itu tidak banyak bicara. Dia hanya menggenggam tangan Natali. Saat berdansa pun Natali yang mengajak. Pria itu langsung berdiri dan mengulurkan tangannya pada Natali. Sikap yang misterius membuat Natali sangat terpesona. Kecepun lembut di bibirnya menyudahi malam indah penuh misteri itu.
"Kau! Kau mempermalukan diriku." Natali geram pada Lia.
"Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Aku melakukan lelang dengan adil."
"Tapi..."
"Tapi apakah aku menyebutkan nama? Apakah aku mengatakan jika akan melelang suamiku?" balas Lia dengam tajam.
Natali mengepalkan tangannya sedangkan Laurent dan Emely tertawa perlahan. Natali kesal sekali karena malam lelang itu, Lia sudah menuntun prasangka orang akan Jason. Tapi... Menjengkelkan sekali gadis biasa itu terlalu percaya diri dengan mempermalukan dirinya. Berkencan dengan pengawal di tempat umun, apa jadinya jika orang lain tahu? Ini sungguh memalukan.
"Jangan khawatir, tidak akan ada dari kami yang akan mengatakannya pada orang lain. Kau harus berjanji laurent, Emely dan Daniel!"
Kedua wanita tersebut meletakan dua jari di bibir, tanda berjanji. Sesangkan Daniel hanya angkat bahu. Dia malas ikut campur akan hal yang tidak penting juga.
Natali sedikit lega. Tapi dia masih tidak terima.
"Kali ini ayo kita bersaing dengan adil." Tantang natali.
Bahu Lia langsung lemas. Bersaing apa lagi. Capek rasanya harus melayani orang-orang yang tidak pernah ada puasnya. Mereka akan terus menantang selama kalah dan akan menghina ketika menang. Adil apanya. Rasa hati malas mendengarkan permintaan Natali. Lia hanya mentap Natali dengan malas.
Jason, bukannya dia tidak mau membela istrinya. Sekali jentik saja, dia bisa menbuat Natali bangkrut. Tetapi, apakah dengan cara itu akan membuat orang menghormati Lia. Wanita yang bersembunyi dibalik kekuasaan pria. Kalau seandainya terjadi hal buruk dengan Jason, bagaimana nasib Lia. Jason membiarkan Lia menangani semua nya, selama wanita itu tidak meminta bantuan.
"Kita akan bertanding melakukan pameran baju. Bagaimana. Siapa yang mendapatkan respon terbaik dan dijual ludes. Maka itu pemenangnya." Natali mengatakan dengan nada menyepelekan Lia.
"Bukankah itu memang bidangmu, apalah aku dibanding dirimu, satu butik saja aku tidak punya." Kata Lia sambil menepuk-nepuk tangan Jason.
Natali tersenyum sinis.
"Lalu, apakah kau takut untuk mencobanya? Bukankan anda orang yang tak pernah kalah, nyonya." Ujar Natali dengan penuh penekanan pada setiap katanya.
Sebenarnya Lia malas meladeni Natali. Tapi ketika menoleh pada Emely, dia melihat mata gadis itu berbinar menatap Lia. Bukannya ini adalah cara yang mudah bagi Emely untuk mempromosikan design nya, lagipula Lia sudah berjanji akan membantu Emely.
"Baiklah. Karena ini adalah bidang pekerjaanmu. Aku yang akan mengatur lokasinya. Kita adakan di time squere, bagaimana? Kau tidak akan mundur bukan?" tantang balik Lia.
Town Squere. Berarti mereka akan mengadakan fashion show di jalanan. Pakaian dengan design mahal yang biasa di tampilkan di gedung mewah, sekarang harus turun pangkat? Tapi... Natali tidak mungkin kan menolak syarat dari Lia.
"Baiklah. Pemenangnya adalah yang berhasil menjual habis seratus pakaian dalam waktu empat jam." Kata Natali.
"Okey!"
"Dan jika aku kalah maka aku akan menjauh dari kehidupan kalian. Tapi jika aku menang maka kau harus mening..." Lia langsung memotong perkataan Natali. Dia melangkah mendekati Natali.
"Jika aku menang! Maka aku akan memperkenalkan mu dengan pria kaya yang tampan dan romantis."
Lia memutar tubuh Natali, kearah Gabriel yang baru saja kembali dari toilet. Pandangan kedua orang itu bertemu. Gabriel tampak risih, ketika semua orang menatap pada dirinya. Dia tidak tahu, jika saat ini dirinya dijadikan Trophy, taruhan antara Lia dan Natali.
...💖💖💖💖💖💖...