
Hari masih siang dan Lia yakin jika saat ini, Jason pasti sedang akan makan siang. Dengan menegak segelas air putih, Lia berjalan ke arah Ipod yang masih tertancap di dock speakernya, dan memutar sebuah lagu lembut.
Lia bersikap wajar dengan daster yang dia kenakan. Mematut diri di depan cermin sambil perlahan melepaskan ikatan rambutnya. Gadis nakal itu kemudian melakukan gerakan yoga dasar sebagai pemanasan, masih dengan daster yang melekat.
Hanya dua menit dia melakukan gerakan itu. Sambil memutar kepalanya dan melirik kamera cctv, Lia melepaskan daster dari tubuhnya. Lia melakukannya dengan perlahan, hingga hanya mengenakan pakaian dalam saja. Lia meregangkan kedua kaki nya melakukan split dan mencium salah satu lututnya.
Gadis itu kemudian menyandarkan punggungnya diatas karpet, mengangkat kedua kakinya sejajar keatas dan perlahan membuka, sehingga berbentuk huruf V. Lia melakukannya tepat di sudut di mana cctv bisa melihat tubuhnya dengan jelas.
Beberapa kali, gadis itu melakukan gerakan yoga dengan sensual, sambil sesekali menonjolkan bagian-bagian tubuhnya. Lia yakin, kamera kecil itu pasti hanya tertuju pada satu sumber yaitu Jason. Dan pria posesif itu pasti merekam kegiatannya saat ini. Jadi, meskipun Jason tidak melihatnya secara langsung, tapi setidaknya pria itu akan meradang malam nanti.
Sayang dugaan Lia salah. Saat ini juga, Jason memutuskan untuk kembali ke ruangannya dan berencana melewatkan rapat di siang hari. Kepala Jason sudah dibuat pusing, wajah memerah dan dada berdebar kencang. Dia tidak bisa fokus dengan percakapan bawahannya ketika makan siang.
Saat itu, Jason secara tidak dengaja melihat dari handphone nya pergerakan aktif melalui notifikasi kamera cctv. Pria itu yang merasa cemas karena Lia mogok makan, segera membuka handophone dan terkejut melihat Lia melakukan gerakan sensual dengan hanya menggunakan pakaian dalam. Spontan saja wajah Jason memerah. Sudah tiga malam mereka berjauhan, sekarang harus disuguhi dengan hal seperti ini di siang bolong.
Di dalam kamar ruang kerja, kantor cabang Miami. Jason melepaskan jas dan meregangkan dasi nya. Tangannya dengan cepat membuka laptop dan mengetik sandi, hingga layar laptop membetikan gambaran cctv. Gadis nakal itu saat ini, sedang berbaring di matras dengan dada membusung dan tangannya bermain di perut.
Jason mengambil handphone dan menelphone Lia. Bisa dia lihat jika gadis itu hanya melirik ke arah handphone nya tanpa ada niatan untuk mengambilnya. Bahkan dia semakin menggoda dengan mengusap dada.
Jason mengusap rambutnya dengan gelisah. Matanya tak berhenti memandang sedangkan tangannya mengepal keras. Dia yakin, Lia sengaja mempermainkan dirinya. Entah gadis itu sadar atau tidak.
Ketukan berulang di pintu kamar ruang kerjanya, membuat Jason terkejut.
"Siapa?!" Bentaknya dengan kasar.
"Erick."
"Mau apa kau?!"
"Rapat akan segera dimulai sepuluh menit lagi. Apa yang kau lakukan di dalam dengan pintu terkunci?" tanya Erick dengan heran.
"Bukan urusanmu! Pimpin rapat, aku tidak bisa kesana sekarang."
"Kau tidak sedang sakit kan? Suaramu masih galak." tanya Erick dengan heran.
Sial! Badanku tidak sakit, tapi intiku berdenyut keras menahan gairah!
Umpat jason dalam hati.
"Jangan banyak bicara, ku beri kuasa kau untuk menggantikanku." Sahut jason tak sabar.
"Bagaimana bisa, Ini masalah penting. Rapat dengan semua anak cabang, tentu tidak bisa diwakilkan. Mereka akan kecewa." Sahut Erick tak kalah tegas.
Erick justru lebih heran lagi dengan kelakuan Jason yang tiba-tiba kekanakan seperti itu.
"Jangan bilang jika Lia ada di dalam?" Tanya Erick lagi.
"Kakak iparrr!!!! Biarkan Jason rapat. Nanti malam dia akan menjadi milikmu." Teriak Erick dari luar pintu kamar ruang kerja Jason.
Tindakan Erick, membuat Jason kesal. Dengan kasar, dia membuka pintu kamar, membuat Erick melongok ke dalam, melihat jika ada Lia atau gadis lain.
"Simpan pikiran mesum mu. Tidak ada siapa-siapa disini. Sudah sana siapkan semuanya. Sebentar lagi aku akan menyusul. Aku hanya harus membereskan sesuatu terlebih dahulu." Ujar Jason.
"Pergi sekarang!"
"Tujuh menit lagi." Erick mengetuk-ngetuk jam di tangannya.
"Sial!" Jason menutup pintu kamar dengan kasar.
Dan ketika dia menengok ke arah laptop, dia tidak melihat Lia dalam ruangan kamar. Dengan terburu-buru, jason segera mencari melalui kamera lainnya. Dan dia menemukannya. Gadis itu di dalam ruang jacuzi. Lia menghidupkan mesin Jazuci, mengatur suhu dan gelombangnya. Setelah merasa cukup, Lia melepaskan semua pakaiannya, melangkah masuk, sedikit memutar tubuhnya sebelum akhirnya berendam.
Sesekali Lia mengangkat kakinya, mengusap betis hingga pangkal paha. Menggosok leher dan dada nya dengan lembut. Gerakan itu membuat Jason melotot. Jika saja dia tidak ingat dengan peringatan Erick, Saat ini, Jason siap masuk ke kamar mandi dan bermain solo.
Dengan cepat Jason menutup laptopnya, mengalihkan perhatian dari Sumber yang membuat dia gelisah. Dia menghubungi butler Bernard. Jika Lia dengan sengaja menggoda dirinya, maka dia akan dengan sengaja pula mengerjai istrinya. Hanya dalam sekali dering, butler Bernard mengangkat tephone dari Jason.
"Ya tuan muda."
"Apa dia masih belum mau makan?"
"Belum tuan. Kami sudah berkali-kali mengantar makanan. Nona Lia masih belum juga mau makan dari semalam." Ujar Butler Bernard yang masih memanggil nona pada Lia, meskipun sudah menjadi nyonya dirumah itu. Bagi Butler Bernard, jika Lia belum melahirkan anak, maka dia belum pantas dipanggil nyonya.
"Buatkan masakan kesukaan dia."
"Maaf kami sudah membuat ceasar salad, fetuchini, linguni, dan spageheti carbonara, tapi nona menolak semuanya, tuan muda."
"Jelas saja. Itu kesukaanku, bodoh!" bentak Jason kesal. Lia selalu menikmati makanan apapun yang di makan Jason, seakan menjadi kesukaan bagi dirinya.
"Buatkan Bakso. Buat satu panci besar. Setelah masak. Pindahkan dengan penghangat di bawah jendela kamar. Biarkan aromanya masuk melalui jendela ke dalam kamar." Pinta Jason. Dia masih mengingat bagaimana Lia selalu bercerita dengan banyak nya pedagang bakso di Indonesia.
"Bakso? Bagaimana cara membuatnya?"
"Googglingggg! Masa hal itu harus aku katakan juga?"
"Baik tuan."
"Lakukan sekarang!"
"Siap tuan."
" Laporkan segera hasilnya."
"Siap tuan."
Jason menutup telphone. Dia menyeringai. Kita lihat saja apakah Lia bisa betah mogok makan, dengan mencium aroma makanan yang dia rindukan. Jika Lia sudah membuat Jason sengsara di siang bolong, maka Jason akan menaklukan Lia segera lewat bakso.
Sementara Butler Bernard turun ke dapur dan mulai menggoogling resep bakso bersama juru masak di dapur. Sembari melihat resep mereka melihat juga suguhan lainnya yaitu gorengan. Sambil menelan air liur Butler Bernard menambahkan perintah.
"Buat lima kilo bakso dan dua kilo gorengan pangsit seperti ini. Semua harus siap sebelum makan malam. Siapkan Soon dan kentang rebus pengganti tahu!" perintah butler Bernard yang segera dipatuhi oleh koki dapur dengan dibantu beberapa pelayan.
"Hemm... aku tidak sabar menikmati kenikmatan Meet Ball soup yang terkenal itu." Gumamnya sendiri sambil terus memandang foto bakso di google.