
Malam hari nya, Jason berusaha menghubungi Lia. Berkali-kali dia mengirimkan pesan dan juga menelphone tetapi selalu gagal. Hal ini tampaknya dipacu oleh badai yang sebentar lagi akan menghantam lautan spanyol.
Bukan lah badai besar. Tapi kilat yang menyambar-nyambar dan hujan yang tiada henti, membuat pergolakan gelombang laut semakin meninggi. Jason hanya dapat memandang pasrah pada lautan, sambil berharap agar cuaca bisa segera membaik, sehingga Jason bisa melepas rindu kepada Lia.
Jason bisa saja menggunakan telphone satelite untuk menghubungi Lia. Tapi telphone itu biasanya digunakan hanya untuk kepentingan darurat. Untuk itu Jason menahan diri menggunakan telphone tersebut hanya untuk kepentingan pribadinya.
Ketukan di pintu kamar membuyarkan lamunan Jason. Kamar yang ditempati Jason ini cukup sempit, namun itu adalah fasilitas kamar paling bagus di tempat itu. Jason dengan enggan membuka pintu dan langsung melengos ketika melihat Ericl yang datang. Hal yang tidak diketahui Jason adalah, di belakang Erick ada Daniel.
Jason berdiri sambil memandang lautan lepas. Di satu titik di seberang lautan besar itu ada Lia. Tidak ada bintang di langit sana, tidak ada tanda baginya untuk dapat menyatukan pikirannya dengan Lia. Entah apa yang dilakukan oleh istri nya tersebut bersama dengan Emely. Apakah dia bersenang-senang atau merindukan dirinya.
Jason berbalik, ketika mendengar suara POP! Tanda penutup wine dibuka. Dan tampak dari sinar matanya jika dia terkejut dengan keberadaan Daniel disana. Jason melengos kesal melihat Daniel.
Dia mengambil gelas wine yang di berikan Erick kepadanya, tetapi menolak untuk toss. Karena toss berarti persahabatan dengan Daniel. Dan dia enggan melakukannya. Jason masih belum dapat menerima keberadaan Daniel.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Erick membuka pembicaraan.
Jason hanya mendesah. Sebenarnya Erick tahu apa yang sedang ada dalam pikiran Jason. Tapi dengan keberadaan Daniel dia berusaha untuk tidak membahas hal tersebut. Oleh karena itu Erick berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Aku dan Daniel baru saja berdiskusi. Berdasarkan dengan kebocoran limbah minyak mentah, tampal sekali hal itu adalah hasil sabotase. Ada pihak yang sengaja membuatnya seperti itu." Ujar Erick.
"Benar, sebelum kemari aku sempat melihat dokumen keuangan pusat, disana tampak sekali ada dana yang di kucurkan untuk pembelian pipa dan alat bor baru. Tapi manager setempat mengatakan, jika mereka tidak mendapatkan alat baru selama setahun ini. Dan mereka terpaksa menggunakan alat lama." Daniel turut membuka suara.
"Hemh." Jason hanya menggumam.
Dia sudah mengetahui hal itu. Ada penggelapan dana besar-besaran yang dia cium berasal dari kantor pusat. Tapi sayang sekali dia tidak dapat menemukan biang keladi nya.
Sebenarnya Jason bisa meminta bantuan Daniel. Daniel di usia nya yang tergolong masih sangat muda, juga berhasil lulus di bagian major keuangan dan investiasi keuangan dengan cepat. Daniel adalah seorang yang teliti dalam hal keuangan.
Bukan saja berhasil lulus kuliah dalam dua tahun, tapi pemuda itu pernah bekerja di bank dunia, ketika usia nya menginjak dua puluh tahun. Meskipun itu Jason yakin atas bantuan ayahnya, namun Daniel memang berhasil menunjukan kinerja nya disana.
"Bagaimana jika..." Erick tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia mengurungkan ide yang terlintas di pikiran nya. Dia yakin Jason mengerti maksud dirinya dan Erick tidak tahu bagaimana tangapan pria itu nantinya.
"Kenapa kau masih disini?" Tanya Jason sambil menatap tajam Daniel.
Daniel mencoba menyembunyikan kegugupannya, ketika pandangan mata Jason begitu menghujam menatapnya. Dia hanya mengukir senyuman tipis di wajahnya yang klimis.
"Ada badai, jadi aku mengurungkan niatan untuk pergi." Sahut Daniel dengan tenang.
Sesungguhnya pria itu menyembunyikan kebenaran, jika dirinya memang tidak berniat pergi. Hal yang sangat langkah bagi Daniel untuk dapat bertemu dengan Jason. Dan Daniel yang sangat mengagumi Jason tidak akan menyianyiakan kesempatan itu.
"Kau seharusnya langsung pergi ketika aku tiba." Ujar Jason dengan ketus.
"Ayolah, kita sama-sama terasing ditengah lautan ini tanpa seorang wanita. Sebaiknya kita menghabiskan waktu dengan bersenang-senang saja. Crew pun sedang asyik di ruang makan." Erock berusaha menghentikan ketegangan yang terjadi diantara mereka.
Jason tidak menjawab, hanya menghabiskan anggur merah di tangannya. Udara malam di lautaj lepas ini semakin malam semakin dingin, dan Jason membutuhkan segelas anggur merah lagi, untuk menghangatkan tubuhnya dan membantunya tidur nyenyak.
"Daniel, bagaimana dengan dirimu? Apakah kau sudah memiliki kekasih?" Tanya Erick mengalihkan pembicaraan yang berat menjadi topik yang lebih ringan.
"Heh! Belum." Ujar Daniel sambil tertawa kecil.
"Apa kau sudah putus dengan kekasihmu sebelumnya?" Tanya Erick lagi dengan penasaran. Dalam hatinya Erick berpikir jangan-jangan Daniel sama dengan Jason yaitu seorang perjaka tua.
"Aku belum pernah memiliki seorang kekasih." Ujar Daniel dengan malu.
Daniel seumur hidup nya memang tidak pernah dekat dengan seorang wanita. Karena seumur hidupnya dia berjuang di balik bayangan Jason. Jason kakak tirinya yang menjadi idola nya semenjak kecil.
Pertemuan-pertemuan mereka beberapa kali, menjadikan Daniel semakin kagum padanya. Dan perjuangan Daniel selama ini bukan untuk menarik perhatian tuan besar, melainkan untuk menarik perhatian Jason, agar pria itu mau menganghapnya sebagi adik.
"Apa?! Hahaha... hahaha... hahaha. Kalian memang kakak beradik," Erick tertawa terpingkal-pingkal dengam sangat keras. Tawa Erick membuat Daniel ikutan tertawa, meskipun dia kurang paham dengan maksud perkataan Erick. Sementara Jason yang merasa kesal disindir hanya melengos.
Setelah dapat mengontrol tawanya, Erick kembali berbicara, "kau mungkin lebih mending, belum menemukan wanita yang kau cintai, sedangkan dia belum juga berhasil...."
Belum sempat Erick menyelesaikam kalimatnya, Jason menyumpal mulut Erick dengan gabus penutup red wine. Erick menjadi gelagapan dan terbatuk-batuk di buat nya.
"Kakak kenapa? Apa kau sudah menemukan wanita yang membuatmu takhluk?" Tanya Daniel.
"Bukan urusanmu!" Sahut Jason dengan ketus.
"Dia..." Erick kembali menelan kata-katanya ketika Jason meliriknya tajam. Padahal Erick cuma ingin bilang jika Jason bukanlah tipe pria yang mudah jatuh cinta. Tapi mata yang sudah menatapnya bagaikan singa itu, Erick memilih untuk diam.
"Kakak, jika kau berkenan, aku akan ikut dengan mu ke Prancis dan membantu mu mencari dalang di balik kekacauan ini." Ujar Daniel menawarkan bantuan.
"Ide bagus itu. Dengan kerjasama diantara kalian berdua, dunia bisa kita tahlukan." Ujar Erick memberi semangat.
"Pergilah kalian, aku ingin tidur." Usir Jason tanpa menjawab permintaan Daniel.
Dia harus memperhitungkan dalam-dalam sebelum memutuskan. Jason hanya khawatir jika Daniel adalah srigala berbulu domba. Meskipun dia melihat ketulusan di mata Daniel, tapi bisa saja semua itu akan berbalik menjadi nafsu akan kekuasaan.
...💖💖💖💖💖💖...