48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
jangan dekati aku



"Nona! Ayo kita kembali. Matahari sudah semakin tinggi." Adonia menghalangi sinar matahari yang menyinari keranjang berisi baby Leon.


"Aku di sini dulu ya, masih ingin berjemur." sahut Laurent.


"Baiklah. Saya naik dulu dan menyuruh seseorang menemani nona di sini."


"Tidak perlu, aku akan kembali ke atas sebentar lagi. Jangan bilang ke Lia ya, aku membawa baby Leon ke pantai."


"Baik Nona. Saya akan kembali sebelum nyonya kecil menyadari." Adonia segera mengangkat keranjang baby Leon dan membawanya kembali ke atas kastil.


"Lia tidak akan menyadarinya saat ini, Jason pasti sibuk mengganggunya." Laurent tertawa kecil sendirian.


Wanita itu mengoleskan sunblok ke tubuhnya yang hanya menggunakan bikini. Dia membetulkan letak kacamata hitamnya, sebelum akhirnya berbaring tidur.


Tanpa sadar air mata Laurent menetes. Dalam benaknya berkelebat bayangan Erick. Laurent sudah berkeliling dunia untuk menepis sosok lelaki yang dia cintai itu.


Dia menghabiskan banyak waktu menjelajahi setiap sudut kota di negeri orang, tetapi malah bayangan Erick terus muncul. Seringkali dia berkata sendiri, "Seandainya kau di sini."


Berada di pulau Madison ini, adalah cara lain bagi Laurent untuk menyibukan diri. Setiap saat dia menghabiskan waktu dengan baby Leon, bagaikan anaknya sendiri.


Dia menolak membicarakan mengenai Erick, apabila ada yang bertanya. Tidak juga pada Tuan besar. Tak seorang pun dari mereka yang mengetahui jika Laurent sudah mengirimkan surat cerai pada Erick, kecuali Jason.


Laurent sudah tertidur sambil menangisi dirinya sendiri. Dia tidak menyadari jika ada sebuah kapal pesiar mendekati pulau Madison. Dia tidak tahu jika ada seorang pria yang berdiri di sana dan memandang penuh harap pada pulau tersebut.


Dan Jason pun tak mengatakan pada Laurent jika Erick sudah merobek surat cerai itu. Apa yang terjadi padanya, ia biarkan terjadi pada Erick dan Laurent. Jason yang egoise.


Ketika kapal sudah di tambatkan. Pria itu turun berjalan ke arah pantai dan memandang sekeliling untuk mencari jalan menaiki bukit. Saat itu lah, matanya tertuju pada sosok wanita yang sedang berjemur.


Langkah kakinya yang tampak tergesa-gesa menghampiri wanita tersebut. Pria itu bernapas lega ketika sudah berada di sisi Laurent yang sedang berjemur. Dia berdiri menghalangi panasnya cahaya matahari.


Di pandanginya dengan penuh kerinduan sosok cantik yang sudah menghiasi mimpinya selama beberapa bulan. Tidak bukan bulan, ia menyadari jika sosok cantik ini sudah terukir di hatinya selama bertahun-tahun.


Pria itu terus menghalangi sinar matahari dan membiarkan panasnya membakar punggunggnya. Dia kemudian perlahan berjongkok di sisi Laurent.


Tangannya mengambil sebuah saputangan dari saku celana dan mengusapkan di kening Laurent yang di banjiri peluh. Perlahan dia membenahi anak rambut wanita itu yang di terbangkan angin.


Perlahan kelopak mata indah itu terbuka. Sejenak wanita itu terpaku menatap sosok yang ada di hadapannya.


Dia mengerjapkan matanya sekali lagi, sebelum kemudian memejamkan mata dan mendesah, "Erick. Kenapa aku harus memimpikan dirimu. Berhentilah hadir dalam mimpiku. Aku sudah merelakanmu dengan wanita itu."


Air mata tak terasa bergulir memgalir melewati sebagian pipi yang tertutup kacamat hitam. Dia bisa merasakan kelembutan jemari yang mengusap air matanya.


"Erickkk ... pergi dari mimpiku. Kenapa aku juga merasakan sentuhanmu," gumamnya lagi tanpa sadar.


"Kau sering memipikan aku?" suara Erick terdengar nyata di telinga Laurent.


"Aku benci karena kau selalu hadir di mimpiku," sahut Laurent tanoa sadar.


Sebuah kecupan mendarat di kening Laurent. Sesaat wanita itu terdiam, namun kesadarannya tiba-tiba muncul. Dia menegakan tubuh dan mengerjapkan mata.


Seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat di balik kacamata hitam, Laurent melepaskan penghalangnya.


Bola mata coklat itu terbelalak. Dia tidak menyangka jika sosok di hadapannya adalah nyata. Suara yang di dengarnya bukan mimpi.


Dia menjulurkan jari untuk menyentuh pipi pria di hadapannya.


Erick tersenyum penuh kerinduan. Dia menggenggam jemari tangan Laurent dan mengecupnya lembut.


"Erick?" desah Laurent tak percaya.


"Ya sayang, aku di sini, menjemputmu."


"Erick? Erick! Tidak! Pergiiii! Pergi kau! Aku tidak mau melihatmu!"


Laurent mendorong Erick sekuat tenaga, hingga pria itu jatuh ke pasir pantai. Kemudian Laurent menyambar kain tipis dan berlari meninggalkan Erick. Sambil berlari dia menutupi tubuhnya dengan kain tersebut.


"Laurent!"


"Jangan dekati aku! Pergiii!"