48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Bakso... Baksooo



Lia menikmati.waktunya dengan sangat baik di dalam jaquzi. Setelah puas, dia baru menyadari jika hari sudah masuk senja. Lia keluar pelahan dari dalam kolam air hangat tersebut, melangkah tanpa mengenakan pakaian dan mulai mengeringkan tubuhnya dengan handuk.


Setelah kering, Lia berjalan masuk ke dalam kamar, menuju ke closet hendak mengambil pakaian. Dia berencana mengenakan lingerie yang baru saja di belinya kemarin secara online. Pria itu seenaknya memasang cctv dalam kamar, maka dia harus merasakan akibatnya. Biar dia meradang. Dan Lia berencana akan menghindari Jason, jika pria itu kembali.


Kriuxxx... kruuuxxxx...


Ditatapnya perut yang tidak bersahabat ini. Niatan untuk bertahan mogok makan dikalahkan oleh protes dari cacing-cacing kelaparan dalam perutnya. Lia menatap jengkel sambil menepuk-nepuk perutnya. Dengan mengenakan lingerie, Lia kembali masuk kedalam kamar dan duduk di tepi jendela.


Kriuxxx.... Kruxxxx...


God! Perut ini semakin protes, ketika hidung menangkap aroma gurih dan harum dari suatu masakan yang sudah lama tidak dia nikmati. Tanpa sadar, aroma yang masuk dalam indera penciuman, mendapatkan respon dari otak, sehingga air liur mengumpul semakin banyak di dalam mulut.


Lia menelan ludahnya dan mulai penasaran. Dari mana datangnya aroma menggoda ini. Siapa yang berani mengganggu rencana mogok makan yang dia lakukan. Siapa yang berani menggagalkan rencana protes nya pada Jason. Siapa yang berani menggoda nafsu makannya.


Lia melongok ke bawab jendela. Disana dia melihat sebuah meja panjang dengan satu panci besar kuah kaldu. Disebelah Panci besar itu dia melihat panci yang ta kalah besarnya dengan sesuatu yang menggoda.


Segera saja Lia mengambil handphone. Dia mengarahkan kamera handphone dan menekan tombol zoom. Bakso! Huaaa!!!! Slurppp!!! Lia menjilat bibir nya dan menelan ludah. Dalam bayangannya saat ini, daging bulat kenyal itu sudah berada dalam mulut. Huaaaa!!!!! Kenapa tiba-tiba mereka bisa membuat Bakso disaat dia sedang mogok makan!!!!


Perduli amat dengan Jason. Lia segera berlari kedalam pintu kamar, membuka dan keluar. Baru tiga langkah, Lia berbalik kembali ke kamarnya. Dia hampir saja lupa jika saat ini, dirinya sedang mengenakan lingerie. Buru-buru Lia mengambil sebuah gaun panjang dan turun ke bawah menuju ke halaman samping.


"Nona Lia, anda disini? Hendak berpesta dengan kami? Aku kira kau tidak akan lapar. Bukannya.. nona sedang puasa?" Sindir Butler Bernard saat melihat Lia sudah ada di depan panci bakso.


"Sudah waktunya buka puasa. Makanan nikmat begini tidak akan sia-sia bukan." Sahut Lia enteng, sambil meletakan sepuluh buah pentol bakso, soun, mie kuning dan menyiramnya dengan kuah.


"Hmm.. rumayan mirip. Mungkin beda dimicin." Lia menikmati bakso yang di makannya.


Butler Bernard menelan ludah kasar, begitu juga pelayan yang berkumpul di sana. Aroma kaldu yang masih mengepul itu membuat air liur mereka berkumpul jadi satu. Bakso itu memang ditugaskan Jason untuk menggagalkan mogok makan Lia dan itu berhasil, tapi... Mereka yang disana juga tergoda untuk mencoba.


Melihat Lia mengunyah dengan nikmat. Menikmati kuah dengan sedikit cabe mexico, menyruput kuah dengan keras seperti wanita tanpa tata krama. Membuat mereka berkhayal dan menggerakan bibir seperti yang Lia lakukan.


"Nona... Apa enak?" Tanya Fidel yang sudah tidak tahan lagi.


"Enak sekali Fidel, kau mau mencoba?"


Fidel mengangguk cepat.


Lia segera mengambil satu mangkok lagi dan mengambil lima buah pentol bakso dan menyiram dengan kuah, kemudian meberikannya pada Fidel. Dengan gembira, pelayan pria itu menerima, mengucapkan terimakasih berkali-kali sebelum menyruput kuah dan mengunyah bakso. Melihat betapa lahapbya Fidel, pelayan dan pengawal lainnya serempak memanggil Lia.


"Nona!"


"Kalian juga mau?"


Semua mengangguk.


"Makanya yang berani kaya Fidel. Ngomong. Ayo semua berbaris."


Lia mulai berlagak sebagai pedagang bakso, meracik semua sendiri di mangkok dan membagikan kepada tiga puluh pelayan dan pengawal yang berbaris. Butler Bernard yang berada di samping Lia, berkali-kali melirik kearah panci bakso. Dia berharap jika panci itu tidak akan kosong pada saat giliran dirinya.


"Ehem.. ehem.." Butler Bernard berdehem, dengan maksud memperingatkan Lia jika dia belum kebagian.


Lia tidak perduli, dia tetap saja menuangkan bakso dan kuah, Seraya sesekali menawarkan mereka untuk tambah lagi. Pelayan dan pengawal tentu saja bersukacita. Mereka menambahkan kentang dan telur rebus di dalam kuah bahkso.


"Ehem... Ehem..."


Butler Bernard sedikit panik melihat kuah bakso mulai tinggal sedikit. Karena berulang kali tidak diperdulikan, butler Bernard tidak tahan lagi. Dia tidak memperdulikan tata krama lagi. Pria setengah baya itu segera mengambil mangkok, mengisi dengan sepuluh buah pentol bakso dan hendak meminta kuah pada Lia.


"Nona..."


"Tapi semua makan."


"Itu untuk mereka semua, kecuali dirimu."


"Nona!" Butler Bernard menggerutu.


Lia menyambar mangkok berisi pentol bakso dari tangan Butler Bernard. Pria setengah baya itu hanya bisa memandang pentol-pentol itu dengan kecewa. Dia kalah cepat untuk mempertahankan mangkok nya.


"Tapi aku yang membantu mereka mempersiapkannya," keluh Butler Bernard lirih.


"Tu es trรจs vilain, Mademoiselle," gerutu butler Bernard ( kamu nakal sekali, nona).


"Tidak usah menggerutu, asal kau membantu ku, maka kau akan mendapatkan bagianmu."


"Apa itu?"


"Biarkan pengawal membuka gerbang untuk temanku Emely."


"Ah... Itu tidak sukar nona." Butler Bernard bergegas memberikan kode pada pengawal untuk membiarkan Emely masuk.


"Mudah kan..." Ujar nya sambil menelan ludah.


"Double portion for you, butler." Lia memberikan dua mangkok bakso kepada Butler Bernard. Pria setengah baya itu menyeringai lebar. Sedari tadi ketika koki memasak bakso. Butler Bernard hanya sempat mencicipi sekali untuk test rasa. Dan dia menjadi ketagihan. Dalam benaknya, besuk dia akan mencari menu masakan Asia lainnya.


Lia tertawa girang melihat mobil Emely yang berhasik masuk kedalam gerbang. Dan Butler Bernard melotot kaget, melihat bukan hanya Emely yang turun dari mobil, tapi ada dua orang pemuda disisi Emely . Butler Bernard sampai terbatuk-batuk, Ketika semakin dekat dia bisa melihat kedua pemuda itu tampak tampan dan gagah. Kepala pelayan tua itu, menggosok tengkuk nya yang dingin, membayangkan mata Jason yang akan berkilat menyambar dirinya.


"Nona, kau bilang hanya Emely." Protes Butler Bernard.


"Aku memang hanya mengundang Emely, tapi siapa tahu dia mengundang dua orang pemuda tampan lainnya. Hmmm... kira-kira, tampan mana ya dengan Jason." Bisik Lia menggoda.


"Nona! Hati-hati dengan perkataanmu!"


"Aduh, makan tidak usah banyak bicara. Lihat makananmu menyembur kemana-mana," tuding Lia ketika ada tetesaan kuah dan sisa daging bakso menyembur keluar. Buru- buru butler Bernard mengusap dagu nya. Ini hal yang pertama terjadi padanya. Untung saja tidak ada yang tahu kecuali nona Lia.


"Hallo butler, sudah lama kita tidak bertemu. Aku merindukamu."


Daniel menyapa Butler Bernard dengan hangat. Dia merupakan salah satu pemuda yang datang bersama Emely, selain Gabriel. Melihat Daniel, mata butler Bernard berkaca-kaca. Puluhan tahun sudah dia tidak pernah bertemu dengan Daniel. Dia juga merindukan anak kecil yang dulu nya, sering bermain bersama Jason di mansion ini.


"Sudah, tidak perlu menangis. Peluk saja langsung." Bisik Lia.


Lia memang sengaja menghubungi Emely, saat dia turun dari tangga menuju ke taman belakang. Dia tidak akan membiarkan emely hanya menikmati foto bakso. Tak disangka Emely yang cerdik juga membawa dua teman lainnya. Malam ini semakin ceria, biarkan Jason meradang melihat keceriaannya melalui status wa.


"Nonaa... hikss apakah leherku akan tetap aman, jika tuan muda kembali?" bisik Butler Bernard.


"Tenang saja, Jika Jason tidak memenggalmu, maka aku yang akan melakukannya." Jawab Lia dengan santai sambil berlalu.


"Nona!!!" Butler Bernard menjerit tertahan.


"Tampaknya, Kau sudah dikendalikan oleh kakak ipar ya," Daniel tertawa melihat raut wajah Butler Bernard yang kesal.


...๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–...