48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Je t'aime.



Lia menatap dirinya di depan cermin. Dia masih menggunakan bath robe. Itu artinya Jason sama sekali tidak menyentuh dirinya. Padahal kesempatan itu telah dia berikan, meskipun dengan cara yang kasar.


Benarkah pria itu begitu menghargai dirinya dan semua pikiran buruk yang dia rasakan adalah salah? Benarkah hanya ada dirinya di hati Jason? Benarkah semua ini bukan ilusi?


Lia berjalan ke arah closet dan melihat segala yang telah disediakan Jason untuknya. Semua memang tampak begitu mewah dan mungkin impian setiap wanita. Tapi, apakah dikurung di dalam mansion, bagaikan burung dalam sangkar termasuk impian setiap wanita?


Lia melepaskan bath robe nya dan mengganti dengan gaun panjang. Dia menyentuh leher jenjangnya. Masih terasa hangat kecupan Jason disana. Lia memejamkan matanya dan mengusap lembut kehangatan bekas kecupan Jason.


Samar-samar Lia mendengar alunan musik di luar. Alunan nada yang indah itu, begitu menentramkan jiwanya. Rasa penasaran membawa Lia keluar dari kamar.


Dentingan alunan melodi piano, terdengar memenuhi seisi mansion. Alunan musik yang begitu indah sangat menyentuh kalbu dan membuai perasaan. Lia tersentuh.


Lia berjalan mencari asal suara itu. Dia teringat di lantai bawah, di ruang tamu terdapat sebuah piano. Lia berjalan menuruni tangga dengan perlahan. Gaun panjangnya yang berjuntai menyapu lembut di sepanjang anak tangga, melambai-lambai kecil seiring langkah kakinya.


Di pertengahan anak tangga, Lia menatap kebawah. Disana dia melihat sosok yang membuat nya resah sedang menekan tuts piano, melantunkan melodi dengan lembut, alunan suara nya begitu indah.


Lia duduk di anak tangga tersebut dan menatap Jason. Dia menyandarkan tubuhnya dengan lemah di bahu tangga. Lia terdiam dan menikmati alunan musik indah yang dimainkan Jason.


Butler Bernard menatap kedua insan itu dari kejauhan. Dia bisa merasakan jika kedua insan itu belum berbaikan. Alunan lembut suara piano Jason menunjukan rasa cinta dan kesedihan. Dan semua pelayan berkumpul di belakang ruangan. Saling menatap dan diam seribu bahasa.


Butler Bernard melangkah mendekati Lia. Gadis itu tidak menyadari kehadiran Butler Bernard. Seluruh perhatiaannya tercurah pada Jason. Musik itu mengalir begitu indah kedalam kalbunya.


"Nona, maafkan jika saya lancang. Tapi jika anda berkenan ijinkan saya mengutarakan pemikiran orang tua yang kolot ini."


Lia menoleh pada butler Bernard, dia menatap pada pria tua itu, memberi nya kesempatan untuk berbicara.


"Saya mengasuh tuan muda semenjak bayi. Pria tampan yang kau pandangi itu, dia sudah menderita sejak kecil. Dia tidak tahu bagaimana rasanya bergaul dengan teman sebayanya. Semenjak kecil di hanya belajar tentang bisnis dan politik. Ketika berusia sepuluh tahun, dia sudah belajar dengan guru privat dan mengikuti ayahnya berbisnis, keliling dunia. Bergaul dengan orang dewasa yang sarat akan politik."


Butler Bernard berhenti sejenak.


"Tuan muda tidak pernah mengenal wanita dalam kehidupannya. Jika pun ada wanita yang pernah berjalan atau makan bersama dengan dirinya. Mereka tak lebih dari wanita-wanita yang hanya mencari sensasi dan berharap bonus."


Lia mengalihkan pandangannya ke arah Jason yang masih memainkan piano.


"Ibunya mengirimkan begitu banyak wanita kepada tuan muda. Bukankah usia tuan muda sudah cukup untuk berkeluarga? Tetapi dia menolak semua wanita-wanita cantik, sexy, berkelas dan dari kalangan bangsawan."


Butler Bernard menghela nafas panjang.


"Dan seperti nona ketahui. Disini lah nona. Wanita satu-satunya yang tuan muda pilih. Wanita satu-satunya yang dia bawa pulang ke mansion ini dan dia jaga selayaknya benda paling berharga."


"Apakah nona tahu, jika semalaman tuan tidak pulang dan mencari anda seperti orang gila? Jika anda tidak berharga bagi tuan muda, dia tidak perlu bersikap berlenihan seperti itu.


Tuan muda memiliki begitu banyak pengawal dan pelayan yang siap mencari anda, tapi tuan sendiri keluar di jalanan tanpa malu mencari anda. Jose mengatakan pada saya jika tuan muda tidur di mobil."


Hati Lia merasa ngilu mendengar perkataan butler Bernard. Dia tidak menyangka jika Jason benar-benar kehilangan dirinya. Lia tersentuh dengan kenyataan yang dia dengar.


"Nona saya tidak tahu apa yang terjadi sehingga kalian tampak berselisih paham. Tapi apapun yang nona lihat, apapun yang nona dengar, nona harus yakin jika perasaan tuan muda hanya untuk nona. Hanya nona wanita yang tuan muda pilih."


Air mata keharuan menetes di pipi Lia. Lia menatap butler Bernard mencari kebenaran dari setiap perkataan yang diucapkannya. Apakah pria tua ini berbohong dan sengaja melakukannya untuk menyenangkan hati tuan muda nya? Atau dia benar-benar berbicara jujur?


Lia mendengus dan meninju lengan butler Bernard perlahan.


"Saya mohon jangan sakiti hati tuan muda. Dia bukanlah pujangga yang pandai merangkai syair indah dan bukalah casanova yang akan menyia-nyiakan nona nantinya. Dia akan menjagamu seumur hidupnya." ujar butler Bernard dengan penuh keyakinan.


"Lalu kenapa dia mengurungku disini. Menjauhkanku dengan dunia luar dan menutupi ku dari ibunya?" tanya Lia lirih.


Butler Bernard tersenyum dan memandang Lia dengan dengan bijak.


"Tuan muda pasti punya alasan. Akan tiba waktunya dia akan menjelaskan semua pada nona. Nona hanya perlu percaya padanya. Belajarlah untuk membuka hati anda."


Lia termangu sesaat mendengarkan semua perkataan butler Bernard. Dia akui penjelasan butler Bernard mampu menenangkan hatinya, menjawab sebagian pertanyaan yang mengganjal di hatinya.


Lia berdiri, dia meninggalkan butler Bernard dan menuruni anak tangga perlahan, satu persatu. Alunan musik mengiringi langkah kakinya mendekati Jason. Dia menarik nafas penuh kerinduan menatap pria yang telah mengisi hatinya.


Lia kemudian duduk di samping Jason perlahan. Pria itu menoleh dan terkejut melihat kehadiran Lia. Tangan Jason masih bermain diatas tuts piano, melantunkan melodi indah, sementara matanya memandang Lia dengan hangat.


Senyuman manis terukir di wajah Lia. Gadis itu kemudian merebahkan kepalanya di bahu Jason. Menyandarkan hatinya dan berusaha melepaskan segala beban juga keraguan di sana.


Dia ingin percaya pada setiap kata yang diucapkan butler Bernard. Dia ingin membuka hati untuk Jason. Dan mempercayakan diri sepenuhnya pada Jason.


Jason begitu bahagia melihat senyuman Lia dan bagaimana gadis itu bersandar padanya. Hati Jason merasa lega. Kejadian ini benar- benar telah menggugah hati Jason, menguatkan perasaan hatinya bagaimana dia tidak ingin kehilangan Lia.


Jason memasang mode replay pada Piano.


Kemudian dia merengkuh wajah Lia dan membuat gadis itu memandang dirinya. Jason menatap lekat kedua bola mata Lia. Menembus jauh kedalam manik hitam Lia.


"Aku mencintaimu, Lia. Aku sangat mencintaimu. Dan aku tidak bisa kehilangan dirimu. Jangan pernah berpikir meninggalkan diriku. Aku mau mencintaimu selamanya, ribuan tahun hanya bersamamu. I Love You, Lia. Je t'aime."


Lia menatap Jason dengan mata berkaca-kaca. Pengakuan ini baru kali ini dia dengar. Dan kata-kata itu begitu indah mengalir hingga relung hatinya, bersama alunan musik piano yang berkumandang.


Jason menudukan wajah dan mecium bibir Lia dengan lembut. Mengusapnya perlahan dengan penuh kasih sayang. Dia mencurahkan segala perasaan dihatinya.


Lia begitu terbuai dengan pengakuan Jason. Dia menikmati setiap usapan lembut bibir Jason dan kehangatan yang disalurkan disana. Tanpa sadar Lia membalas ciuman Jason. Membalas setiap hisapan dan kecupan Jason.


Tindakan Lia membuat Jason terpana untuk sesaat. Ciuman balasan dari Lia begitu memabukan. Jason tidak menyangka jika saling berciuman itu sangat indah dan membuatnya terbuai. Jason menyukainya. Dia tidak ingin semua ini berlalu bergitu saja.


Akhirnya masa perselisihan sudah mulai berlalu. Butler Bernard menatap mereka dengan tersenyum. Anak muda memang kurang berpengalaman. Membutuhkan seorang dewasa untuk menyatukan mereka.


Butler Bernard terkekeh perlahan. Dia yang memaksa tuan muda untuk melantunkan nada cinta di piano itu. Dan itu berhasil memancing nona muda keluar. Sekarang mereka sudah bersatu kembali, melepaskan segala keraguan.


Bagi butler Bernard hal yang tak kalah pentingnya adalah, perut para pekerja bisa diisi.


Butler Bernard masuk ke dapur dan mengangguk. Para pelayan dan pengawal bernafas lega, akhirnya mereka tidak puasa lagi malam ini.


...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟...