48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
TAKUT untuk JATUH CINTA.



"Apa maksudnya ini?!" Jason menatap Erick dengan tajam. Suara mendesis penuh amarah pada pria yang sudah dia anggap sebagai sahabatnya.


Erick yang termangu sesaat menjadi tersentak. Laurent hamil. Benarkah? Erick menatap Jason dengan bingung. Karena dia tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi.


"Kau! Jelaskan padaku!" ujar Jason dengan lantang.


"Aku ... aku tidak tahu ...,"


"Bagaimana bisa kau tidak tahu? Laurent hanya mengenal dirimu!" Jason dengan marah menuding Erick.


"Tapi ... aku ... aku tidak ...," Erick gugup.


Belum selesai Erick menyelesaikan kalimatnya, tinju Jason sudah bersarang di pipi pria itu. Dia mencengkeram kerah kemerja Erick dan sekali lagi melayangkan pukulan. Erick diam tidak melawan.


"Kakak! Hentikan! Masalah ini belum jelas," Daniel menarik tangan Jason yang hendak memukul Erick lagi.


"Kau! Jelaskan padaku! Bagaimana bisa adikku hamil! Kau bilang tidak mencintai dirinya!" Jason menghujami Erick dengan pertanyaan.


Pria itu beranjak dari sisi sahabatnya. Berjalan ke arah mini bar dan mengambil gelas, mengisinya dengan Scoth dan menegak nya perlahan. Dia benar-benar merasa marah.


Belum habis rasa lelah akibat tidak tidur cukup semalam. Saat ini ditambah dengan kekecewaan yang menyesakan dadanya. Alasan Jason marah, sesungguhnya lebih pada kekecewaan. Anak yang dia harapkan seakan menguap begitu saja.


Seandainya saja Erick dengan jujur dan besar hati mengakui perbuatannya, maka Jason tidak akan semarah ini. Kekecewaan pada dirinya sendiri juga pada sikap Eric membuat Jason gelap mata.


Diliriknya Erick yang menyeka darah di sudut bibir nya. Pemuda itu menghampiri Jason dan mengambil segelas scoth kemudian menegaknya dengan cepat. Membiarkan rasa panas membakar tenggorokannya dengan deras.


"Bayi itu aku tidak tahu. Aku bahkan tidak ingat, jika pernah melakukan hal itu pada Laurent, tapi jika tidak ada orang lain yang bertanggung jawab, maka aku akan menanggungnya," ujar Erick perlahan.


"Bajingan kau! Kau mau hilang kalau Laurent suka bermain dengan pria?! Kau hendak bilang, adikku wanita yang tak tahu diri?!" Jason menggeram penuh amarah pada Erick.


"Tidak! Bukan begitu maksudku. Tapi ... sudah sebulan aku tidak pernah dekat dengan Laurent. Dan bukannya dia sedang dekat dengan Gabriel?!" ujar Erick dengan nada yang tak bisa dimengerti.


"Kau! Sampai kapan kau mengerti jika pria yang dicintai Laurent hanya Kau, kep@rat!"


"Aku ... "


Erick meremas rambutnya dengan putus asa. Dia tidak mengerti apa yang terjadi. Mendengar kehamilan Laurent saja, hatinya sudah terasa sakit dan kecewa. Hal itu dipicu, karena Erick tidak ingat bagaimana dia meniduri Laurent.


Malam itu disaat kecemburuannya melihat kedekatan Laurent dan Gabriel. Erick memutuskan untuk mengkonsumsi alkohol di ruang tamu, Penthouse kediaman Jason. Tetapi ketika bangun di pagi hari, dia sudah berada di kamar bawah dengan Laurent disisinya.


Erick tidak ingat apa yang terjadi. Bukan hanya tidak ingat, tetapi pria itu berusaha untuk tidak mengingatnya. Apalagi Laurent menyingkir dari sisi nya tanpa berkata apapun. Dan gadis itu bahkan tidak membahas mengenai hal itu.


Erick saat itu hendak menanyakan apa yang terjadi. Tetapi sikap Laurent yang diam membuatnya takut. Erick tidak tahu bagaimana perasaannya pada Laurent yang sesungguhnya. Bagaimana bisa dia mencintai gadis itu jika dirinya sendiri terlalu TAKUT untuk JATUH CINTA.


Mendengar Laurent hamil, sisi kedewasaan Erick bergejolak. Dia ingin bertanggung jawab. Dia ingin mengakui anak itu. Tetapi, apakah Laurent mau menerima dirinya. Apakah Laurent mau bersama dia, pria yang berada di bawah level dan tidak sepadan dengan nona besar itu.


Dan Erick mengutuki sikap bodohnya yang telah mengeluarkan kata-kata tak bertanggung jawab. Kalimat yang telah melecehkan Laurent. Dia tidak menyalahkan Jason yang melampiaskan kemarahan padanya. Dia pantas mendapatkan itu.


"Aku akan menikahi nya," desah Erick.


Jason dan Daniel menoleh kearah Erick. Mereka berdua menatap Erick yang duduk tak bergeming, bagaikan orang tak memiliki roh. Erick menghembuskan nafasnya dengan berat. Keputusan harus diambil. Meski bagaimanapun, Laurent gadis yang menarik dan dia sayangi.


"Apa katamu?" tanya Jason.


Erick menoleh pada Jason. Menatap wajah sahabatnya dengan raut wajah kuyuh. Dengan lemah dia mengulangi kalimat yang sebelumnya dia katakan.


"Kau yakin, dia anakmu?" sindir Jason.


"Aku tidak perduli, tapi aku akan menikahinya." sahut Erick lagi.


"Kau bilang tidak perduli, beratti kau tidak mengakui anak itu anakmu? Berarti kau mencela adikku sebagai wanita murahan dan disini kau yang jadi korban? Kau pikir dirimu pahlawan, heh!"


Jason menjadi murka mendengar kalimat tak pasti dari Erick. Ingin sekali dia menghajar pria itu kembali. Jika perlu melempar Erick dari lantai dua mansion ini.


"Kakak! Kita tidak perku berdebat. Sebaiknya sudahi hukuman untuk ketiga wanita itu. Biarkan mereka keluar dan kita dengarkan penjelasan dari kak Laurent," usul Daniel.


Belum sempat Jason menyahuti. Terdengar ketukan di pintu. Daniel berinisiatif membukanya dan disana tampak seorang pelayan datang.


"Tuan Larry mengundang anda untuk makan siang. Silahkan ikuti saya tuan."


Jason dan Erick tampak enggan.


"Tidak baik menolak kebaikan tuan rumah, sebaiknya kita pergi sekarang, " ujar Daniel.


Dan ketiga pemuda gagah itu pun keluar dari kamar mengikuti pelayan. Mereka tiba di ruang makan yang berada di ruangan terbuka. Dari tempat itu mereka bisa makan sambil menikmati pemandangan taman belakang yang luas dan indah.


Tuan Larry menyambut mereka dengan tersenyum lebar. Tampaknya suasana hati tuan Larry menjadi lebih baik. Di sisi pria itu tampak seorang pemuda tampan yang berwajah masih muda.


"Lihat ini putraku. Namanya Lucas. Dia baik-baik saja. Luka yang dia rasakan tidak terlalu dalam ternyata. Trimakasih untuk kebaikan istri anda. Apakah mereka masih dalam ruangan?"


"Lucas." Jason mengangguk pada pemuda di hadapannya.


"Benar mereka masih di dalam kamar." Jawab Jason.


"Ah. Saya tidak tahu mengapa. Tetapi itu adalah kemauan anda sendiri. Dan saya dengar, anda memerintahkan pelayan untuk mengetes kehamilan? Apakah istri anda hamil, tuan Madison?" tanya Tuan Larry lagi.


Jason berdehem. Pertanyaan yang terlalu berat untuk dia jawab. Dia melirik ke arah Erick yang duduk dengan tenang dan menikmati soup, seakan tidak terpengaruh pada pertanyaan tuan Larry.


"Sayang sekali, yang hamil ternyata adik saya." jawab Jason.


"Ow! Hahahaha ... siapa pria beruntung tersebut?" tawa tuan Larry dengan gembira.


"Pria bodoh itu!"


"Hahahaha ... Jadi akan ada pernikahan dengan segera? Jika anda mau saya punya kenalan pastour untuk pemberkatan. Saya bisa memanggilkan nya saat ini juga dan kita bisa melakukan disini hari ini juga. Saya akan mengaturnya jika anda berkenan." ujar tuan Larry sambil menatap Erick dengan tersenyum lebar.


"Tentu saja. Hari ini akan ada pemberkatan pernikahan." Ujar Jason.


"Hahahaha ... hari yang baik. Hari yang baik. Kalau begitu, masih ada satu wanita lagi untuk Lucas. Kau akhirnya akan menikah nak."


Lucas hanya tersenyum tipis mendengar perkataan ayahnya. Dia tidak banyak bicara karena tusukan di perutnya masih terasa ngilu. Hanya karena ingin berterimakasih dan menghormati keluarga si penolong, Lucas memaksakan diri duduk di kursi roda.


"Apakah dia tidak terlalu muda untuk menikah?" tanya Daniel dengan perasaan tak menentu.


"Lucas? Hahahhaha wajahnya memang tampak sangat muda, ketampanannya menurun dari ku. Kalian tahu, Lucas sudah berusia tiga puluh dua tahun. Hahahaha ..."


Dengan bangga tuan Larry menepuk pundak Lucas. Sementara Daniel diam saja. Dia tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Mendengar Emely akan dijodohkan pun, dia tidak merasa sedih atau bahagia