
"Aunt Lia?" si kecil Aaron yang baru berusia tujuh tahun dan duduk dibangku sd, membeku ketika melihat sosok seseorang yang sudah lama dia rindukan. Dia memandang sosok itu dengan tidak percaya, menggosok kedua matanya, khawatir jika penglihatannya salah.
Lia mengangguk dengan senyuman mengembang di wajahnya. Tangan Lia terkembang dengan lebar, sambil menatap haru pada bocah kecil yang masih juga menatap nya dengan tak percaya.
"Aunt Liaaaa ... I miss you!" Seorang remaja laki-laki dengan cepat mendahului Aaron yang masih membeku, berhambur ke pelukan Lia. Pandangan Lia langsung mengarah pada remaja itu.
Namun, kurang satu langkah lagi dia berhasil memeluk Lia, gerakannya tertahan ketika seseorang dengan keras menarik tas di punggungnya.
"Aaron dulu! Aaron yang lihat dulu. Minggirrr!" Dengan sekuat tenaga, Aaron menarik tas dipunggung Conrad dan mendorong pria itu ke samping.
"Aaron kasar!" protes Conrad.
"Aunty, kenapa baru datang?"
Aaron dengan penuh kerinduan menghambur dalam pelukan Lia. Bocah kecil itu menangis sambil mengeratkan pelukannya.
Tangisannya semakin keras ketika dengan lembut, Lia membelai punggung dan mengecup pucuk kepala Aaron. Bocah laki-laki yang sudah dia asuh semenjak lahir. Lia lah, sosok ibu yang dia kenal, ketika Diana sedang terbaring koma.
Di pojokan Conrad memandang mereka dengan sabar menanti giliran. Conrad memang selalu banyak mengalah pada Aaron, namun hal itu justru membuat adik kecilnya makin menyayangi dirinya.
Di belakang punggung Aaron, nampak seseorang gadis kecil yang memandang Lia dengan penuh tanda tanya. Francesca gadis kecil itu, memilin rambutnya yang panjang dan memilih mendekati Diana, menggenggam tangan wanita itu.
Lia mengarahkan pandangan ke arah Conrad yang menanti giliran. Dia mengayunkan tangan pada bocah itu, memberi tanda untuk mendekat. Dengan cepat Conrad mendekat dan mereka bertiga saling berpelukan melepaskan kerinduan.
Si kembar tiga, Adelaide, Archie dan Anna yang tidak mengenal Lia, mereka hanya tahu Lia dari videocall saja, menatap heran. Ketiga bocah itu tidak mengerti kenapa Aaron harus menangis. Sedangkan dia tampak sehat.
"Mommy, kak Aalon sakit?" tanya Anna dengan polos. Diusianya yang baru dua tahun, Anna berkembang lebih cepat dengan kemampuan bicaranya.
"Tidak sayang," ujar Diana dengan lembut.
"Kok 'angis dan peyuk-peyuk?" Anna tampaknya hafal dengan kebiasaan Aaron yang suka mengadu pada Diana saat dia sakit.
"Kak Aaron hanya rindu sekali dengan aunty Lia, itu sebabnya dia menangis."
"Ooo 'engeng."
"Aku tidak cengeng!" bentak Aaron marah. Ternyata meskipun sedang menumpahkan rasa rindu pada Lia, bocah itu pendengarannya masih tajam.
Anna yang dibentak oleh Aaron langsung beringsut di belakang punggung Diana.
"Aaron tidak boleh membentak adik seperti itu ya," ujar Diana melerai.
Anna yang merasa dibela menjulurkan lidahnya dibelakang punggung Diana. Aaron yang melihat hal itu hanya mendengus sambil memalingkan wajah. Urusan Anna bisa diselesaikan nanti. Tinggal diambil dot nya saja, gadis kecil itu pasti kapok. Aaron menyeringai licik dibalik punggung Lia.
"Ayo sudahan. Ganti baju dulu. Bau ini badannya."
Lia melepaskan pelukan dan memegang sebelah Bahu Aaron dan Conrad. Setelah pelukan terlepas, dengan penuh kasih sayang, Lia mengusap air mata yang masih membekas di pipi Aaron.
Conrad tidak menangis. Meskipun matanya sudah berkaca-kaca. Dia berusaha menahan diri, mengingat dia sudah besar. Seorang pria harus tegar dan tidak boleh cenggeng, prinsipnya.
Lia menegakan punggungnya dan sedikit memijit pinggang yang tadi sedikit tertekuk. Melihat hal itu, Jason segera mendekat dan membantu memijit punggung Lia.
"Sakit, Honey?" tanya nya lembut.
Lia mengangguk, "Sedikit."
"Duduklah dulu." Jason membantu Lia untuk duduk.
Aaron yang baru menyadari kehadiran Jason, langsung menatap tajam dan memberikan pandang bermusuhan. Dia meletakan kedua tangan di pinggang dan memandang Jason dengan pandangan menantang.
Mata Aaron menindai Jason dari ujung kepala ke unjung kaki. Kembali lagi dari ujung kaki hingga ujung kepala. Terus berulang hingga beberapa kali. Gerakan Aaron akhirnya berhasil mencuri perhatian Lia dan Jason.
Lia tersenyum geli memandang bocah kecil itu, sementara Jason mengernyitkan keningnya. Dia tidak tahu, kesalahan apa yang telah dilakukukannya, hingga mendapat tatapan mata bermusuhan seperti itu.
"Kenapa, Aaron?" tanya Lia heran.
"Ooo jadi orang ini yang telah menculik Aunty Lia ku?!" tanya Aaron dengan sinis. Matanya masih memandang Aaron dengan tajam.
Lia menatap Jason yang tampak jengah harus berhadapan dengan Aaron. Melihat expressi datar di wajah tampan suaminya, Lia tersenyum geli. Seingat Lia, ini pertama kalinya Jason berhadapan dengan anak kecil.
Baguslah, ada enam bocah di Mansion kakaknya, Jason harus belajar menjadi ayah, bukan?
Meskipun kesempatan itu ....
"Penculik!" Aaron dengan marah menghentakan kakinya keras - keras ke kaki Jason. Jason yang mendapat serangan mendadak itu menjadi terkejut. Tanpa sadar dia melotot ke arah Aaron sambil mengaduh kesakitan.
"Aow!" Jason memegang kakinya yang di injak Aaron.
Pria itu kemudian memandang pada Lia dengan tatapan mengadu.
Semua orang yang melihat hal itu otomatis terkejut. Mereka tidak menyangka Aaron akan bertindak seberani itu.
"Aaron, dia suami aunty Lia," ujar Lia menjelaskan dengan menahan tawa.
Lia tidak berani tertawa keras-keras. Karena takut Jason justru semakin kesal dan Aaron semakin mengelunjak, merasa perbuatannya dibenarkan.
"Suami apaan? Aaron kok gak tahu aunty nikah? Kapan pestanya? Kenapa Aunty jahat tidak mengundang Aaron. Apa mommy tahu? Aunty tidak sayang ya sama kami semua, sehingga tidak memberikan undangan? Kenapa menikah harus diam-diam?" Semua pertanyaan diborong oleh Aaron.
Jason dan Lia, juga Diana yang berada di ruangan keluarga menjadi terkesiap dengan perkataan Aaron. Mereka tidak menyangka pertanyaan bermutu itu muncul di bibir seorang anak kecil.
Jason merasa tertampar dengan keras mendengar pertanyaan Jason. Baru saja bertemu sudah mendapatkan serangan telak dua kali dari seorang bocah kecil. Keponakan kesayangan Lia.
Dia tidak bisa membantah, maupun marah. Jason hanya memandang pada Lia, berharap istri cerdasnya bisa memberikan penjelasan yang tepat. Jason tidak ingin bermusuhan dengan kesayangan Lia.
"Aaron sayang, duduk sini dekat aunty biar aunty jelaskan ...." Lia tersenyum sambil menepuk sofa di sebelahnya.
"Kata aunty, Aaron disuruh ganti baju, bau." celetuk Aaron dengan manja, tapi meski begitu dia duduk juga disamping Lia.
"Kenapa tidak ada pesta? Apa suami aunty miskin?" tanya Aaron lagi dengan melirik tajam pada Jason.
Jason merasa ditampar untuk ketiga kalinya.
"Bukan begitu ...."
"Kalau bukan miskin apalagi? Pelit? Kaya tapi pelit? Berarti tidak sayang dong sama aunty."
Sindir Aaron dengan telak.
Tamparan keempat untuk Jason.
Lia menoleh kearah suaminya. Wajah Jason sudah memerah dan tangannya mengepal. Jika saja Aaron adalah pria dewasa, bogem mentah sudah melayang. Membungkam mulut yang menghina dirinya.
"Aunty nanti Aaron bilang sama daddy untuk membuat pesta yang besar buat Aunty. Cheft Paul dan Matilda saja nikah dirayain sama daddy. Apalagi aunty kesayangannya Aaron," ujar bocah itu dengan bangga.
Dia menepuk dadanya keras-keras dan mengangkat dagunya menunjukan kehebatan diri. Aaron melirik Jason dan menyeringai, menganggap musuhnya sudah kalah hebat.
Diana yang berada dihadapan Lia, hendak menegur Aaron. Namun melihat kerdipan mata adiknya, Dia membungkam. Perlahan dia membawa anak-anaknya yang lain untuk meninggalkan mereka bertiga. Biar perang itu di wasiti oleh Lia sendiri.
"Tidak usah! Uncle punya cukup banyak uang untuk membuat pesta sendiri." Jason menimpali perkataan Aaron dengan ketus.
"Oh jadi uncle ini pelit ya," ujar Aaron dengan sebelah alis terangkat.
"Hei anak kecil, kita baru bertemu sekali saja, kau sudsh berani mengejekku." Jason menjado sangat gemas.
"Apa Aaron salah?" Aaron meningikan nada suaranya.
"Iiihhh .... Aaron kerennn. Sudah bisa melindungi aunty yaa. Sini ... sini pangku sama aunty." Lia menarik Aaron duduk di pangkuannya. Dia kemuadian memeluk keponakannya dan menciumi pipi Aaron dengan gemas.
"Ehem ... ehem ...." Jason yang melihatnya menjadi cemburu. Sedari tadi dia gemas melihat banyaknya kecupan Lia untuk orang lain dan tak ada satupun diperuntukan untuk dirinya.
Merasa tidak dihiraukan, Jason melingkarkan tangannya pinggang Lia. Mengusap sesaat, hingga akhirnya mencubit hanya untuk mendapatkan perhatian.
"Jangan lama-lama duduk di pangkuan, kasihan adik bayi nya," ujar Jason dalam usaha menghentikan aksi berpelukan.
"Aunty Lia hamil?" tanya Aaron. Meskipun dia tidak mengerti proses kehamilan. Tapi Aaron sudah pernah melihat bagaimana susahnya Diana ketika hamil bayi kembar tiga.
Lia mengangguk, "Aaron bakal punya adik bayi lagi." Lia memencet hidung Aaron.
"Kembar?"
Lia menggeleng, "cuma satu."
"Oooo ... percobaan," ujar Aaron.
"Kok percobaan?" Lia menatap Aaron geli.
"Iya, kaya mommy, dulu cuma hamil anak nya satu - satu, sekarang hebat langsung tiga," jawab Aaron sok pintar.
Tawa Jason dan Lia meledak. Bocah kecil yang pemberani ini ternyata juga sok pintar.
"Tentu saja, goal ke dua nanti, unty bakal hamil embar lima," sahut Jason dengan nada megalahkan Aaron.
"Ckckck .... Suami aunty ini, sudah miskin, pelit, bodoh lagi, kenapa sih aunty mau menikah dengan orang kaya ini?" Aaron menatao Jason dengan pandangan kesal.
"Hei bocah kecil. Sedari tadi perkataanmu padaku tidak ada yang menyenangkan. Kau belum mengenal aku, bagaimana bisa bilang miskin, pelit dan bodoh?" Kelihatan sekali pria itu sedang menahan emosi.
"Jason!" Lia mendelik ke arah Jason yang mulai gemas.
"Loh, masih belum paham?!" jawab Aaron dengan wajah menantang.
"Apa?"
"Miskin ... karena gak bisa buat pesta pernikahan. Pelit ..., karena katanya kaya, baju keren, jam tangan mahal, tapi tetap saja gak mengadakan pesta. Bodoh? Jelas saja bodoh, apa gak ngerti wanita hamil kembar itu sakit? Kasihan kan aunty Lia disuruh hamil kembar lima. Cckckckck .... Nanti Aaron bilang daddy, carikan suami baru untuk Aunty Lia."
Perkataan Aaron lebih dari cukup untuk membuat Jason memanas. Wajah dan telinga Jason sudah memerah. Sementara Lia tertawa lepas tak terkendali sambil menciumi Aaron.
...💖💖💖💖💖💖💖...
Jangan Lupa. simpan poin kalian sebanyak-banyaknya. Pertengahan Mei ditebarkan ya.
Ajak pembaca lain dari GC manapun atau dari media sosial untuk membaca Lia.
semakin banyak anggota, semakin banyak poin yang ditebar. Begitu masuk ranking dua puluh besar taanggal 30 Mei, malam hari sampai 24.00. maka hadiah uang dari Mangatoon akan dibagikan dengan pembagian sebagai berikut;
Hallo Lovers,
Bisa buat Lijas tembus ranking hadiah Mangatoon atau Noveltoon gak?
Kalau sanggup, hadiah ranking dibagikan untuk kalian semua. Gimana? Mau gak?
Caranya gampang. Bawa member sebanyak-banyaknya untuk kasih hadiah ke Lijas. Perlu banyak pendukung untuk bisa manjat, kan.
Trus hadiahnya?
• Masuk 20 besar hadiah dari NT 100rb. Akan dibagikan 50 rb rangking 1 tertinggi dan 25 rb untuk 2 orang lainnya.
• Masuk juara 2-10 besar hadiah dari NT 200 rb. Maka juara 1 dpt 100rb. Juara 2dan 3 @50 rb.
• Masuk juara umum besar hadiah NT 300 rb. Maka juara 1 @100rb. Juara 2&3@50 rb. Yang 100 rb akan dibagikan ke 10 pemberi hadiah lainnya.
Bagaimana? Semangat.
Gerakan 1 juta bunga untuk Lijas.💝