48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Suara Hati



Jason duduk di lantai kamar dengan bersandar pada tempat tidur. Keadaan pria itu sangat menyedihkan. Dia bukan saja tidak makan dan tidur dengan benar, bahkan mandi dan sikat gigi pun harus diingatkan oleh butler Bernard.


Ini pertama kali dalam hidup Jason, mengalami permasalahan yang menyangkut hati dan perasaan. Terasa sangat menyakitkan, hingga ia ingin berteriakkk hanya berteriakkk dan marah, melepaskan semua hal yang menyesakan dadanya.


Pria itu keluar dari dalam kamar dengan menggunakan sepatu dan celana pendek yang di padu dengan kaos. Dia menuruni tangga dengan cepat, mengacuhkan perhatian butler Bernard dan pelayan. Pria kacau itu terus berlari ke arah gerbang belakang rumahnya.


"Buka gerbang!" perintahnya pada penjaga di sana.


Begitu gerbang di buka, pria itu berlari ke arah hutan cemara, dengan diikuti oleh pengawalnya dari jarak aman. Dia tak berhenti berlari memutari area pepohonan yang sangat luas. Jason terus berlari, hingga lututnya gemetaran.


Langkah kakinya berhenti di dekat jurang yang tinggi. Para pengawal sempat menambah kecepatan, khawatir jika tuan muda hendak terjun ke bawah jurang.


Lelaki tampan itu berdiri tegak dengan menatap jauh ke depan. Perbukitan yang ada di depannya berpayungkan awan putih. Ada lembah curam di mana terdapat hutan di bawahnya dengan aliran sungai yang deras.


Jason melihat semua keindahan itu dengan hati yang hancur. Dia menyadari satu hal, semua keindahan adalah sia-sia tanpa kekasih hati disisinya. Tanpa sosok Lia yang bisa dia peluk dan menikmati pemandangan indah di sore hari.


Pria gagah itu lebih merasa sedih dan sangat menyesal sekali ketika dia menyadari, jika dirinya tak pernah membawa Lia ke lembah belakang mansion. Meskipin hanya untuk sekedar bercengkrama dan menikmati keindahan alam.


Dia terlalu sibuk mengejar duniawi. Saat semuanya lenyap, dia baru menyadari jika kehilangan itu sangat menyakitkan. Bahkan melumpuhkan segala segi kehidupannya.


Pria itu meremas rambutnya dan berteriak dengan kerasss. Sangat kerass hingga gema suaranya bersahutan. Jason terus berteriak hingga kerongkongannya menjadi kering. Dan dia jatuh terduduk dengan lemas.


"Aku bahkan belum membawamu ke menara Eifel. Aku bahkan belum sempat memberikan makan malam yang romantis hanya berdua denganmu. Aku belum sepenuhnya membahagiakan dirimu ... Liaaaaaa ...."


Air mata Jason bercucuran dengan deras. Dia merebahkan dirinya di rerumputan, menatap langit biru berhiaskan awan. Perlahan angin berhembus, menggeser awan agar memayungi pria tersebut.


Bahkan alam bersimpati dengan keadaan Jason. Burung-burung berhenti berkicau. Mereka terdiam di atas ranting-ranting pohon cemara, saling bersandar menatap ke arah lelaki yang sedang bersedih itu.


"Saat aku hendak menutup mataku, wajahmu selalu hadir di pelupuk mataku.


Aku tidak dapat makan dan minum tanpa memikirkanmu. Setiap detik aku menantikan kabar tentang dirimu, kekasih hatiku. Di manakah kau berada saat ini?" Jason terisak dengan keras.


"Semuanya sia-sia jika tanpa dirimu ....


Jikalau aku menangis apakah itu berarti aku bukan lelaki?" desah Jason dengan suara lemah.


Pengawal yang berdiri dari kejauhan pun tak sanggup menahan perasaan mereka. Mereka adalah tentara terlatih yang sudah belajar cara mengendalikan perasaan dan bersikap dingin.


Namun kebaikan hati dan sikap bersahabat dari nyonya kecil, membuat mereka bisa merasakan cinta kasih. Dan saat ini, air mata menggenang di pelupuk mata. Saat mata mereka mengerjap, buliran air itu menetes jatuh. Tak ada satu pun yang berani mengolok rekannya, karena mereka semua sudah meneteskan air mata.


Suasana sangat hening, hanya ada hembusan suara angin dan isakan dari Jason. Sesekali burung-burung gereja menghampiri pria itu, bersiul perlahan untuk menceriakan hatinya.


Jason memalingkan kepalanya menatap burung kecil itu dengan mata sendu.


"Katakan padaku, di mana aku harus menemukan istri dan calon anakku?" desahnya dengan suara yang menggetarkan kalbu.


Burung kecil itu hanya menggoyang-goyangkan kepala dan sesekali melompat ke kanan dan ke kiri. Seekor burung lain, terbang rendah dan berhenti di dada Jason. Dia bersiul dengan nyaring disahuti dengan siulan burung-burung lainnya.


"Bagaimana kau bisa bertahan hidup, hai burung kecil?" ujarnya sambil memperhatikan gerakan lincah burung-burung tersebut.


Lelaki tampan yang kacau itu, kemudian duduk dengan menekuk kedua lututnya. Kedua jemari tangan bertautan dan bertumpu pada lutut. Doa menghela napas dengan keras.


"Tuhaaannnnn!!! Jika Kau memang ada, aku meminta petunjuk-Mu untuk menemukan keluarga kecilku. Beri aku kekuatan untuk bangkit dan mengalahkan pria tua itu!" teriak Jason dengan suara yang serak.


Saat itulah dia mendengar suara yang bergema dalam hati. "Bahkan burung di udara pun Aku pelihara, apalagi kau manusia cipataan yang serupa dengan-Ku."


Saat itu hati dan jiwa Jason menangis lebih keras lagi. Suara itu yang bergema di dalam hati Jason saat dia berserah pada Tuhan, telah menyirami hati dan pikirannya. Pria itu merasa lebih tenang.


Ia mengusap wajahnya dan menatap tajam ke depan. Tak lama kemudian pria itu menengadahkan wajahnya ke langit, dia tersenyum. Ada kekuatan dan semangat hidup yang muncul saat ini. Semangat yang membakar hati dan perasaan Jason.


Jason berbalik, melangkah mendekati pengawal yang sudah memberi dia air mineral. Matanya menatap tajam pengawal itu, yang diam membisu dengan pandangan lurus ke depan.


"Kau pengawal yang di letakan oleh Darrel Madison, bukan?" tanya Jason dengann mata menyelidik. Tidak ada jawaban dari pertanyaan tersebut.


"Katakan pada pria tua itu. Aku tidak akan kalah. Akan aku temukan istri dan anakku! Dan akan aku rebut semua kekuasaan yang dia pegang tanpa belas kasihan. Bahkan akan aku buat dia berlutut memohon ampun pada istri dan anakku! Katakan itu pada tuanmu!"


Jason melangkah pergi dengan hati yanh tenang. Ya saatnya sudah tiba untuk dia bangkit dan berhenti menjadi remaja cengeng. Istri dan anaknya memerlukan dirinya. Dan hidup terlalu singkat untuk digunakan meratapi diri tanoa berbuat apapun.


Sesampainya di Mansion, Daniel sudah ada di sana menanti dirinya. Saat Jason datang, pria muda itu menghampiri dirinya.


"Ada yang harus aku perlihatkan padamu."


"Apakah itu penting?" sahut Jason sinis dengan melirik tajam tanpa menghentikan langkahnya.


"Sangat penting. Menyangkut ...," Daniel berbisik di telinga Jason.


Seketika pria itu berhenti dan menatap Daniel dengan kening berkerut. Daniel mengangguk mantap menjawab tatapan Jason.


"Kita bicara di kantorku," ujar Jason akhirnya.


Dengan segera Jason menaiki tangga menuju lantai dua. Saat tiba di anak tangga terakhir, Daniel menghentikan langkah Jason.


"Sebaiknya kau mandi terlebih dahulu. Aku merasa risih dan tidak nyaman jika harus berdiskusi dengan seorang gembel."


"Si alan kau!" Jason mengumpat mendengar kata-kata Daniel.


Pria itu segera masuk ke kamar mandi dan membasuh dirinya. Sementara Daniel hanya tersenyum kecil sambil melangkah menuju ke ruang kerja Jason. Dia duduk tenang menanti kakaknya.


...鈽曫煂光槙馃尮鈽曫煂光槙馃尮鈽曫煂光槙...


Ayoooo bantu Jason menemukan Lia. Share foto ini di fb dan ig kalian dengan hastag\=


#48monthsagreementwithceo


#taurusdi_author


Semakin banyak yang share, semakin cepat Jason menemukan Lia.


Love you all ...



...


...馃挐馃挐馃挐馃挐馃挐馃挐馃挐...


Ada hadiah kejutaannn untuk maniak Lijas. Maaf hanya dipilih dua orang berdasarkan seringnya coment dan juga kehebohan.


Kedua orang yang dipanggil, tolong masuk group dan chatt admin ya. Kak EmiLia.