48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Mengintai



Wanita yang di panggil Medusa itu berdiri di tengah-tengah lift. Sedangkan Lia berdiri disamping belakang wanita itu. Tidak ada seorang pun yang masuk ke dalam lift ketika si Medusa masuk. Hanya mereka berdua berada di dalam. Lift terasa lenggang dan Lia bisa dengan bebas mengamati wanita cantik itu.


Lia tidak mengerti kenapa wanita cantik ini dipanggil Medusa. Rambutnya juga tidak ikal, seperti hal nya ratu ular Medusa dalam gambaran di komik-komik. Harus Lia akui dari sudut bentuk tubuh, wanita ini jauh lebih menggiurkan daripada dirinya. Apalagi sorot mata dan riasan wajah yang sangat sexy.


"Kau juga akan ke lantai paling atas?" Medusa tiba-tiba mengeluarkan suara nya.


Lia menoleh ke kanan dan ke kiri. Benar hanya ada dia dan wanita tersebut tidak sedang berbicara di telphone. Kenapa pula wanita itu tiba-tiba berbicara padanya, apalagi dengan intonasi yang terdengar tidak nyaman.


"Benar, nona." Jawab Lia.


"Mau apa kau disana?" Tanyanya lagi dengan nada yang ketus.


*Eh, apa urusannya coba dia bertanya seperti itu? Dia juga bukan jajaran direksi ditempat ini*.


"Saya bekerja disini nona." Jawab Lia dengan ramah.


Medusa membalikan tubuhnya dan meneliti Lia. Pandangan matanya meremehkan Lia. Dihadapannya hanyalah seorang wanita Asia, yang berwajah cukup dengan riasan sederhana. Pakaian yang dia kenakan merupakan rancangan Pierre Cardin, salah satu designer dengan harga mendunia, tetapi Medusa yakin jika itu hanya barang palsu. Medusa hanya mengangkat sedikit matanya dan menganggap Lia bukanlah saingan.


Pintu Lift terbuka dan Medusa dengan angkuhnya melangkah keluar. Dia langsung menuju ke arah Pedro yang baru saja keluar dari ruang rapat direksi. Pedro tampak sedang membenahi berkas dan tidak mengira Medusa sudah berada di hadapannya.


"Aku ingin bertemu dengan tuan Jason. Ada proposal super penting hendak aku bahas dengannya." Ujar Mesuda dengan ramah. Intonasi nada suara juga mimik wajah berubah menjadi super lembut. Pandangan matanya tampak menghipnotis. Mungkin perubahan sikap yang bisa dengan dratis itulah mengapa dia dijuliki Medusa.


"Ah... nona Annet. Maaf saya tidak menyadari kehadiran anda." Kata Pedro dengan senyuman lebar yang mengembang.


*Ooo... nama si Medusa itu Annet*


Medusa tersenyum lembut. Lia memperhatikan mereka dari arah pantry. Dia penasaran, melihat bagaimana Jason memperlakukan wanita itu. Lia ingin tahu, apakah yang mereka katakan itu benar, jika Jason selalu menolak wanita secantik dan sesintal itu.


Terdengar bunyi orang yang berbicara, membuat Lia menoleh ke asal suara. Tampak beberapa jajaran direksi sudah keluar dari ruang rapat. Kesepuluh orang tersebut berjalan langsung ke arah lift melewati Lia. Lia menyembunyikan tubuhnya di balik dinding pantry yang bersebelahan dengan ruang rapat direksi. Dia tidak ingin Jason yang pasti akan keluar sebentar lagi, melihat keberadaannya.


"Jason... aku sudah menanti mu dari tadi."


Lia menyembulkan kepalanya sedikit dari dalam dinding pantry. Disana dia melihat Jason yang baru keluar dari ruang rapat sedang di hadang oleh Annet. Lia tersenyum senang ketika melihat Jason berlalu, tanpa menghiraukan Annet.


Medusa Annet tampak berusaha mengimbangi langkah lebar Jason. Dan saat tiba di depan Pedro, Jason justru menanyakan keberadaan Lia.


"Dimana is.. maksudku sekretaris ku?"


"Ah, Lia tadi dia sudah ada disekitar sini tuan." Jawab Pedro.


Jason mengedarkan pandangannya dan sekilas melihat kepala yang menyembul dari balik dinding pantry. Saat itu Lia sedang berdebar, karena hampir saja keberadaanya diketahui oleh Jason. Dia tidak ingin niatannya untuk menyaksikan cara Jason mengatasi wanita penggoda, sampai ketahuan.


Jason masuk ke dalam ruangannya tanpa mengucapkan kata penolakan. Dan Annet menganggap hal tersebut sebagai undangan. Dengan senyum lebar dan percaya diri, Annet mengikuti Jason dan menutup pintu ruangan dengan rapat.


Lia yang melihatnya menjadi sangat sebal sekali. Dia membuka permen karet yang dia ambil tadi dan mengunyah keduanya dengan kesal. Lia meniup permen karet dan membuat gelembung besar sambil terus menatap ke arah pintu ruangan Jason. Sudah lima menit berlalu, rasa manis permen karet pun sudah hilang, tapi tidak ada tanda-tanda jika wanita itu akan keluar dari ruangan Jason.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Pedro heran.


Pedro sedari tadi memperhatikan Lia yang sedari tadi bersandar di pantry sambil menatap ke arah pintu ruangan tuan Jason.


"Eh, siapa wanita itu?" Tanya Lia tanpa menjawab pertanyaan Pedro.


"Dia seorang model yang pernah di kontrak sebagai host pada acara tahunan perusahaan." Jawab Pedro yang sedang membuat minuman. Di lantai atas ini, tidak ada office boy. Para sekretaris langsung bertugas menyiapkan minuman untuk atasan mereka juga tamunya.


"Apakah dia sering kemari?" Tanya Lia dengan antusias.


"Beberapa kali." Pedro mengaduk coklat hangat dan tampak juga membuat kopi.


"Apakah itu untuk tuan Jason dan tamu nya?" Tanya Lia pada minuman yang dipersiapkam oleh Pedro.


"Iya. Nona Annet menyukai coklat hangat, tidak terlalu panas." Pedro menjelaskan sambil menyiapkan cookies di toples.


"Biasanya dalam waktu kurang dari lima menit wanita itu sudah keluar dari ruangan, meskipun dia selalu menghabiskan waktu hampir dua jam menanti tuan." Pedro dengan heran melirik ke arah pintu ruangan Jason yang masih tertutup rapat.


"Biarkan aku yang membawanya. Toh ini juga tugasku." Lia menawarkan diri.


"Baiklah."


Pedro tanpa banyak bicara meninggalkan Lia. Lia menyelesaikan pekerjaan Pedro menyiapkan minuman. Dia dengan sengaja menuangkan banyak gula ke dalam kopi Jason. Pria itu tidak pernah menggunakan gula pada kopi yang dia minum selain menambahkan sedikit cream kental.


Lia membawa nampan berisi minuman dan masuk ke dalam ruangan Jason. Setelah mengetuk pintu tiga kali, Lia membuka nya. Dari arah pintu, Lia bisa melihat bagaimana Jason memandang Annet dengan antusias. Kedua lengan Jason bertumpu pada bahu kursi kebesarannya dan telapak tangan saling bertautan dibawah dagu nya yang berjambang. Jason bahkan tidak memandang Lia yang yang berjalan ke arahnya.


"Kami akan mengadakan acara sosial penggalangan dana, dan pendapatan dari penggalangan dana tersebut akan sepenuhnya di donasikan pada yayasan anak-anak penderita kanker. Aku rasa dengan kemunculan dan partisipasi anda, maka dana yang terkumpul tentu lebih banyak." Suara Annet terdengar sangat lembut ketika menyampaikan maksud kedatangannya menemui Jason.


Lia melirik sekilas kearah mereka berdua sambil meletakan minuman. Jason tidak menatap dirinya hanya melihat ke arah minuman yang dia letakan sekilas dan kembali memandang Annet. Annet tampak sangat senang sekali karena hari ini Jason mau menemui nya.


Bara di dada Lia berkobar dengam sikap duduk Annet yang memamerkan paha ramping dan belahan di dadanya.