48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Akhir kencan kedua



LIA POV


Aku sengaja memberikan setiap menu hidanganku pada Jason. Aku ingin pria itu kekenyangan hingga sakit perut. Biar dia memakan semua hidangan dua kali porsi. Kau membuatku jengkel, aku akan membuatmu lebih jengkel dan malu dihadapan pasanganmu.


Apa itu tadi pamer kemesraan dihadapanku. Kau pikir aku akan cemburu. Hii... memangnya siapa dirimu. Pria dihadapanku juga tidak kalah tampan. Malah dia lebih menyenangkan. Setidaknya dia tidak pernah mengancamku.


Dari sudut mataku, aku bisa melihat dia menatapku. Tapi apa perduliku. Kau mau marah? Marah saja. Mau dimakan atau tidak kedua hidangan itu, terserah padamu. Toh aku tidak rugi apapun. Yang bayar juga dirimu. Aku sengaja memesan banyak dan mengirimkan padamu, supaya perutmu meledak.


Irina menghampiriku. Ya Tuhan, wanita ini cantik sekali. Anggun sekali. Kecantikan dan keanggunannya mengintimidasi diriku. Dia benar-benar tampak serasi dengan Jason, dan baru kusadari hal itu.


Irina mengajak kami ke Jazz Bar. Sebenarnya aku malas sekali. Tetapi, Erick tampak begitu bersemangat. Dan aku lirik tadi Jason sepertinya menolak keinginan Irina. Yang harus aku lakukan adalah bersikap di luar keinginan Jason.


Aku menerima ajakan Irina. Dan hal itu membuat Jason kesal. Biar dia tahu rasanya kesal. Sana pamer kemesraan terus dengan Irina. Setelah malam ini, aku tidak akan perduli jika kau menagih hutang lagi kepadaku. Mau aku bayar, cash saja. Jika tidak ambil semua barang yang kau beli untukku, toh itu bukan aku yang memilih.


JAZZ BAR


Alunan music berirama Jazz mengalun merdu memenuhi ruangan. Tampak di dalam ruangan dengan kursi berbentuk setengah lingkaran, sudah mulai ramai dipenuhi oleh orang-orang yang tengah bercengkerama.


Irina memasuki salah satu kursi dan menarik Jason untuk duduk di sampingnya. Lia yang awalnya hendak menyebrang duduk di sisi Irina, tangannya di cekal oleh Jason. Dan untuk menghindari keributan, Lia masuk kedalam kursi duduk di sisi Jason.


Erick yang berada dibelakang Lia mengikuti gadis itu dan duduk berhimpitan dengan Lia. Jason menatap Erick dengan tajam. Dia merasa jengkel kenapa casanova tersebut tidak menyebrang dan duduk di sisi Irina.


Jason akhirnya meminta Irina bergeser, sehingga wanita itu duduk agak di ujung kursi setengah lingkaran tersebut . Dan Jason menark Lia agar bergesar merapat ke arahnya.


"Aduh, kamu hari menyebalkan! Dari tadi main tarik-tarik terus. Kasar sekali," gerutu Lia.


"Karena kamu juga seenaknya sendiri." Balas Jason datar.


"Eh, yang semaunya sendiri dari tadi siapa? Kan aku sudah mau pulang, kamu tarik-tarik terus." Ujar Lia mencibir.


"Kamu juga kenapa memberi padaku makanan yang kau pesan, aku sampai kekenyangan." Balas Jason sambil memegang perutnya.


"Heh? Lalu kenapa kau makan juga? Buang saja jika tidak suka." Sahut Lia kesal.


"Kamu ini, sudah aku makan juga masih menggerutu."


"Sudah dikasih juga masih mengomel." Balas Lia.


Mereka berdua asyik berkasak kusuk sendiri, membuat Irina semakin jengkel kepada Lia. Jason walaupun berada disisinya tapi tidak menghiraukan Irina.


Irina merasa harus berbuat sesuatu, agar pria itu memandang sebelah mata pada Lia.


"Lia, kau suka musik jazz?" Tanya Irina sambil mencondongkan tubuh ke depan dan merapat kearah Jason.


"Iya." Jawab Lia. Meskipun dia tidak terlalu paham dengan jenis musik ini, tapi setidaknya alunan nada nya yang lembut bisa dia terima.


"Kau suka bernyanyi?" tanya Irina lagi.


"Hahaha hanya di kamar mandi," ucap Lia dengan tertawa kecil.


"Kenapa begitu?"


"Aku tidak ingin merusak pendegaran orang lain dengan suara gagak ku." ujar Lia.


"Hahhahaha kau tentu bercanda." Ujar Irina dengan tertawa kecil.


"Tunggu di sini ya akau akan menghibur kalian," kata Erick dengan tiba-tiba.


Casanova tampan itu maju ke podium, bertepatan dengan music yang baru saja berhenti. Dia berbicara sesaat dengan pemain music dan tak lama alunan music terdengar.


"Lagu dari Michael Buble ini saya persembahkan untuk semua yang lagi jatuh cinta, tetapi.... mungkin ada yang belum menyadari nya," ujar Erick yang disambut dengan tepuk tangan para pengunjung.


Setelah Erick menyelesaikan lagunya, Irina tidak mau kalah. Wanita itu maju ke arah Podium dan mengambil mic dari tangan Erick. Dengan anggun nya wanita itu menyanyikan sebuah lagu cinta. The Power of Love, milik Celine Dion.


Suara Irina begitu indah membuat setiap mata memandangnya penuh kagum. Begitu juga Lia, gadis itu berdecak kagum. Lia menyenggol bahu Jason.


"Kekasihmu keren juga ya, suaranya bagus, cantik dan sexy lagi." Ujar Lia dengan tulus.


"Dia bukan kekasihku." Sahut Jason ketus.


"Cieeee cieee... kekasih juga gak apa-apa kok. Gak usah malu-malu. Cieee..cie.... dada nya besar juga." Lia masih saja tidak berhenti menggodaku.


"Aku bilang bukan kekasih ku."


"Bukan kekasih sudah main peluk-pelukan begitu," todong Lia menggoda.


Jason meraih tangan Lia dan melingkarkan tangan itu ke pinggangnya, kemudia dia memeluk Lia.


"Kalau begini bagaimana, jadi kamu kekasihku?" todong Jason langsung.


"Hu uh." Lia menggerutu sambil mendorong tubuh Jason.


Erick menggeleng-gelengkan kepala melihat aksi mereka. Ini pertama kalinya dia melihat Jason begitu hangatnya pada seorang wanita. Bahkan memeluk terlebih dahulu.


Sedangkan Irina yang menyelesaikan lagu dengan apik nya di atas panggung, melihat adegan pelukan itu dengan mata menyala. Dia semakin kesal karena Jason sama sekali tidak memperhatikan kepiawaiannya bernyanyi.


Tepuk tangan membahana dan suitan dari beberapa pria, yang menikmati music sambil menghisap cerutu.


Irina tersenyum simpul masih drngan sikap anggun di atas panggung.


"Saya mengundang teman saya untuk bernyanyi di sini. Ayo semua nya bantu saya memanggil dia, Lia..." ujar Irina menodong Lia untuk maju.


Seluruh pengunjung, memanggil nama Lia sambil bertepuk tangan. Semua pasang mata juga mengarah ke arah meja yang ditunjuk oleh Irina.


Lia bingung dengan todongan yang di ajukan kepadanya. Dia tidak memiliki persiapan apapun.


Jason menahan tangan Lia.


"Tidak usah maju. Biarkan saja. Atau kau ingin kita pergi dari sini?" tanya Jason.


Lia masih terdiam. Erick yang melihat Lia ragu, berniat membantu.


"Biar aku saja yang menggantikan Lia," ujar Erick.


Jason menatap kesal kepada Erick. Sekali lagi pria ini akan menyelamatkan Lia. Jason tidak suka itu. Tapi dia tidak dapat berbuat apa-apa lagi, hanya Erick, casanova bersuara emas yang bisa menyelamatkan Lia.


"Tidak perlu. Aku yang akan maju," sahut Lia


Dia berdiri dan meminta Erick untuk memberinya ruang. Jason tidak dapat mencegahnya. Dia bahkan tidak tahu, apakah Lia bisa bernyanyu atau tidak.


Lia maju keatas podium dan mengambil mic dari tangan Irina. Kemudian dia mendekati pemain music dan berkata, " maaf saya tidak terlalu mahir bernyanyi Jazz, bisa kah kalian membantu saya memainkan nada ini. Nadanya simpel."


Pemain music mengerubungi Lia dan memperhatikan music yang ditampilkan di handphone Lia. Mereka mengangguk dan mulai mencoba nada. Setelah siap, Lia mengambil posisi di tengah.


"Maaf, saya sebenarnya tidak bisa bernyanyi. Benar-benar tidak bisa. Jadi, jangan marah jika suara saya mengacau. Anggap saja sebagai lelucon untuk anda tertawakan dan bisa menjadi cerita lucu ketika anda pulang."


Pengunjung bergumam. "OoOo..."


Music mengalun. Lia bernyanyi dua bait pertama dengan nada suara yang amat sangat kacau. Mereka yang menonton hanya menatap Lia. Mereka semua kagum, meskipu buruk, gadis itu tidak malu mengakuinya dan berani tampil.


Hanya suara tawa mengejek Irina yang terdengar. Irina tergelak, sambil menepuk lengan Jason.


"Lihay sekretarismu dia lucu sekali."


Keinginannya terpenuhi, dia ingin Jason melihat bagaimana memalukannya Lia.


Jason menatap Irina dengan dingin. Dia


bergeser dan memerintahkan Erick untuk menukar posisi dengan dirinya. Jason sudah enggan duduk disisi Irina. Irina hanya menatap Jason kesal tanpa bisa berbuat apa-apa.


Ketika bait ketiga dinyanyikan, Lia mulai mengeluarkan suara aslinya yang ternyata sangat merdu dan unik. Pengunjung di buat berdecak kagum dan bertepuk tangan sesuai irama.


Jason lagi-lagi d buat kagum kepada Lia. Apalagi lagu yang dia nyanyikan begitu menggemaskan. Kisah cinta yang dilambangkan dengan kemanjaan seekor kucing. Benar-benar sangat cocok untuk Lia. Tanpa sadar Jason bergumam," kucing kecilku."


Setelah Lia menyelesaikan lagu nya. Semua nya bertepuk tangan dan bersorak untuk Lia. Lia membungkuk dengan hormat dan turun dari podium. Dia kembali mengambil tas nya, "aku mau pulang, bye semua." Ujar Lia tanpa memandang ke arah Jason.


Lia berjalan meninggalkan ruangan tanpa sadar jika Jason mengikutinya dari belakang. Lia menuruni tangga dan menuju ke lobby. Dia tidak menoleh kebelakang, untuk mencari Jason.


Sudah cukup kekesalan nya malam ini. Lia berada tepat di lobby dan hendak meminta pada bell boy untuk memanggilkan taxy. Tetapi saat itu Jason sudah menggandeng tangannya dan menyerahkan kunci mobil kepada vallet.


"Kenapa kau disini, mana kekasihmu?" tanya Lia sambil berusaha menarik tangannya dari genggaman Jason.


"Aku bilang dia bukan kekasihku." Sahut Jason.


"Whatever," jawab Lia dengan mengangkat bahunya.


Mobil Lamborghini Vaneno sudah berada di depan mereka dan Jason membantu Lia masuk. Kemudian dia berputar kearah belakang kemudi. Mobil mewah itu menderu perlahan meninggalkan lobby hotel.


"Kenapa kau mengantarkanku, bukannya mengantar Irina?" tanya Lia dengan kesal.


"Kau datang denganku, kau juga harus pulang denganku." Sahut Jason.


"Hemm.." Lia bergumam.


Sesaat suasana menjadi sepi. Tidak ada pecakapan diantara mereka. Hingga Jason memecahkan keheningan.


"Kau bernyanyi dengan sangat bagus kucing kecil. Aku suka nyanyianmu. Miaw...miaw.."


Tidak ada tanggapan dari Lia. Jason menoleh dan didapatinya gadis itu sudah terlelap. Jason memperlambat laju mobilnya ketika sudah mendekati Mansion Andrew. Jika boleh, dia ingin sekali membawa Lia ke mansion miliknya. Tapi dia urungkan niatan itu.


Pengawal Andrew, membukakan gerbang ketika menegetahui Jason mengantarkan Lia. Dan mereka sudah memberitahukan pada pelayan runah untuk membukakan pintu serta memberi kabar pada Diana.


Jason tidak tega membangunkan Lia yang tampak pulas. Dia membopong Lia perlahan dan membawa gadis itu masuk ke dalam rumah. Sesampainya di depan kamar Lia yang telah ditunjukan oleh pelayan, gadis itu tiba-tiba terbangun dan memaksa turun dari gendongan Jason.


"Sudah turunkan aku. Pulang sana," ujar Lia cuek.


"Kau tidak mengucapkan terimakasih dan selamat malam buatku?"


"Untuk apa?"


"Aku kan sudah menggendongmu."


"Siapa yang suruh. Sana pulang. Sudah malam." Lia menutup pintu kamar nya tepat dihadapan Jason.


Gadis itu melemparkan dirinya diatas kasur. Lia berbaring telungkup dan air mata meleleh di pipinya. Dengan kasar Lia menghapus air matanya.


"Kenapa aku harus menangis!" Uaaaa.... uaaaaa...


Lia membenamkan dirinya kedalam bantal dan menangis hingga terlelap.