
Bel berbunyi di Penthouse. Jason yang baru saja berolah raga segera membuka pintu dan Laurent masuk begitu saja dengan gaya berkelas nya. Dia tampak sudah rapi dan tersenyum melihat Jason. Dengan acuh gadis itu langsung menuju ruang makan yang menyatu dengan dapur.
Laurent mencium aroma telur dadar yang harum, membuat dirinya langsung merasa lapar. Dia melihat Lia yang sedang memasak, langsung berdiri di sisi gadis itu.
"Satu porsi juga ya buatku."
Lia terkejut melihat Laurent yang tiba-tiba ada disisinya. Dia hampir saja menyenggol penggorengan.
"Ih... Bikin kaget saja."
"Duh... Kakak ipar, istri dan kakak yang perhatian deh. " Rayu Laurent. Laurent hendak mengambil piring yang sudah terisi lengkap dengan omlet, potato wedges dan bacon. Tapi tangan Lia lebih cepat menyambar piring tersebut.
"Budayakan antri. Ini buat kakakmu. Duduk yang manis disana ya. Atau kau mau membantu menuangkan segelas susu buatku? "
Laurent mengkerucutkan bibir nya manja, namun tetap saja dia menurut. Membuka lemari dan mengambil gelas kemudian mengisi nya dengan susu yang baru dia ambil dari kulkas.
"Apa mommy tidak memberimu makan, sehingga kau harus menumpang kemari?" Sindir Jason tajam, setelah mengeringan keringat nya dan mengenakan kaos.
"Mommy sudah terbang ke Jerman."
"Secepat itu. "
Laurent mengangkat bahunya.
"Daddy memanggilnya. Dia harus hadir menemani daddy, diacara entah apa itu hemmm... Ya Opec." Sahut Laurent acuh sambil mengambil selembar roti dan mengolesinya dengan selai coklat.
"Hei kakak ipar. Cepat punya anak. Begitu daddy turun tatah, kau akan menemani pangeran ini menghadiri acara penting yang membosankan. Dan akan semakin susah bagimu jika hamil."
Lia meletakan sarapan untuk Laurent dihadapan gadis itu. Dia tidak menanggapi perkataan Laurent. Anak? Tentu dia mau anak. Tapi entah mengapa, jabang bayi itu tak kunjung dia dapatkan juga.
"Beruntung sekali aku dilahirkan sebagai seorang wanita di keluarga ini. Aku bisa terbang bebas kemana pun aku mau." Ujar Laurent lagi sambil memotong sosis kemudian melahapnya dengan rakus.
"Cepat menikah, agar kau tidak mengganggu kami. " Kata Jason dengan gusar.
"Aku lebih nyaman seperti ini. Tenang saja... Aku kan jarang-jarang juga ada disekitar kalian." Sahut Laurent acuh.
"Apa dia tidak punya pacar? " Tanya Lia pada Jason.
"Pacar banyak. Kekasih resmi tidak ada. " Sahut Jason.
"Kenapa begitu?"
"Patah hati kali. "
"Ooo... Aku pikir orang secantik dan sehebat adikmu tidak akan pernah patah hati. " Ujar Lia dengan tatapan serius kepada Jason.
"Kau pikir apa bedanya dia dengan dirimu? "
Sahut Jason sambil mengunyah omlet.
Belum sempat Lia menjawab, Laurent sudah memotong percakapan mereka.
"Kalian sudah puas menggosipi diriku?" Potong Laurent yang sedari tadi hanya mendengarkan percakapan mereka.
"Belum puas sih, tapi takut kamu ngambek." Sahut Lia dengan cekikikan.
"Dasar pasangan sableng! " Gerutu Laurent kesal.
Dia kemudian turun dari meja makan dan melangkah pergi.
"Hei! Cuci piring dulu!" Teriak Jason.
"Letakan saja di dapur, nanti aku cuci! " Teriak Laurent sambil menaikan tangan kanan nya keatas. "Kalau ingat, " Tambah Laurent dengan perlahan. Gadis itu kemudian naik ke lantai dua.
"Aaa... Suamiku.... Kau keren sekaliii... " Lia menggoda Jason sambil memeluk pinggang pria itu dari belakang.
"Beruntung kan kau mendapatkan suami seperti ku, "
"Ya.. Yaa.. Suami hebat yang pandai mencuci piring. " Ujar Lia dengan tertawa kecil sambil menggelitiki pinggang Jason.
"Itu, sarapan buat siapa?" Tunjuk Jason saat melihat piring breakfast yang masih full di meja.
"Buat Erick." Sahut Lia, masih dengan memeluk Jason.
Sedetik kemudian mereka sadar.
"Erick?!" Ucap Lia dan Jason bersamaan.
Berbarengan dengan kesadaran Lia dan Jaaon, terdengar teriakan Laurent dari arah lantai atas. Lia dan Jason berpandangan. Segera saja Lia hendak ke lantai atas untuk melihat apa yang terjadi, namun tangan Jason mencekalnya.
"Biarkan saja, toh mereka sudah dewasa. "
"Tapi itu.. " Jason menutup bibir Lia yang hendak protes dengan jari telunjuknya.
"Kau hanya perlu mengurus diriku. Ayo, kita mandi. " Jason menggendong Lia layaknya pengantin. Dia membawa Lia ke kamar mereka yang bersebrangan dengan kamar asal teriakan Laurent. Masih terdengar argument disana. Tapi Jason melarang Lia untuk ikut campur.
"Kenapa kau membiarkan mereka di kamar itu bertengkar?" tanya Lia heran saat mereka berada di dalam bath up.
Jason diam sesaat sambil menggosok puggung Lia dengan lembut. Lia pun tidak memaksa Jason untuk menjawab pertanyaanya. Karena tidak semua pertanyaan itu memerlukan jawaban. Lia diam sambil bermain di bulu-bulu kaki suaminya.
"Erick adalah cinta pertama Laurent." ujar Jason tiba-tiba.
Lia masih diam tanpa menghentikan aktivitasnya menggosok kaki Jason.
"Laurent dulu adalah anak yang manja, keras kepala dan egois. Laurent yang kau lihat sekarang adalah Laurent yang terbentuk karena jatuh cinta pada Erick."
Lia merebahkan dirinya di dada Jason, sambil menanti kelanjutan cerita Jason.
"Erick menolaknya berulang kali dengan berbagai alasan. Tapi Laurent semenjak usia lima belas tahu, hingga sekarang aku rasa, masih menyimpan rasa cintanya pada Erick." tutur Jason lagi.
"Kenapa Erick menolak Cinta Laurent?" tanya Lia yang sudah beberapa saat menanti Jason bercerita, tapi tak kunjung berkata-kata.
"Entahlah. Untuk hal itu Erick masih tidak pernah terus terang pada ku. Dia awalnya beralasan, jika Laurent terlalu manja, kekanakan, dan adikku berubah. Lalu Erick mengatakan, jika Laurent terlalu kasar, temperamental dan angkuh. Seperti kau lihat, Laurent berubah menjadi gadis yang menyenangkan. Dia belajar menempatkan dirinya di posisi orang lain. Tapi, masih saja mereka seperti itu." cerita Jason panjang lebar lagi.
"Apakah mungkin, Erick merasa tidak nyaman berkencan dengan Laurent karena dirimu?" Lia menengadahkan wajahnya memandang wajah tampan Jason.
"Seharusnya tidak menjadi alasan. Prinsip kami, bisnis dan perasaan harus bisa dipisahkan. Dan Erick tahu itu." sahut Jason datar.
"Mungkin ada masa lalu yang menghalangi mereka." gumam Lia tak pasti.
"Biarkan saja, mereka sudah dewasa. Mereka harus menyelesaikan permasalahan mereka sendiri."
Lia tidak menjawab. Dalam benaknya dia sudah tidak sabar untuk menginterogasi Erick dan Laurent. Dia harus menemukan sebab akibatnya. Mungkin saja dengan mengetahu kebenaran, Laurent bisa melupakan Erick dan menata masa depan.
"Ayo, kita sudahi mandi. Aku akan mengajak Laurent mengunjungi Emely. Lagipula Daniel sebentar lagi akan datang kan? Kau benar-benar gila, membuat Erick dan Daniel bekerja meskipun hari Minggu." Lia mengoceh sambil membilas dirinya di bawah shower.
"Mereka tidak menolak, jadi kenapa tidak. Lagipula lebih mudah memeriksa data keuangan disaat tidak ada yang menggunakan data di kantor."
"Hemmhh.. Kalian para priaa bekerja lah. Biarkan kami para wanita menikmati hari libur dan black card." sahut Lia sambil tertawa dan mengeringkan tubuhnya.
Beberapa saat kemudian. Lia dan Jason sudah tampak rapi. Mereka melihat jam dan sepuluh menit lagi, Daniel pasti akan datang. Lia dan Jason keluar dari kamar mereka dan melihat jika pinti kamar yang ditempati Erick semalam sudah kosong.
Lantai atas terasa sunyi. Sejauh mata Lia memandang, tidak ada tanda-tanda Laurent dan Erick. Hal itu membuat Lia bertanya-tanya, apa yang terjadi pada mereka berdua. Saat tiba di lantai bawah, Lia menuju ke dapur dan kali ini dia yang memekik tertahan ketika melihat Laurent dan erick sedang berciuman disana.
...❤❤❤❤❤❤❤...