
...~~Berapa lama waktu yang diperlukan air untuk mengikis kekerasan batu?~...
...❤❤❤❤❤❤...
"Kau mengundang Camila dan Daniel, malam ini?" tanya Jason yang baru saja keluar dari kamar mandi. Masih dengan rambut basah yang dia keringkan dengan handuk, pria itu sungguh tampak menawan. Sisa-sisa tetesan air yang mengalir di otot-otot tubuhnya, meliuk dengan indah.
"Lia?!" panggil Jason untuk kesskian kalinya.
"Eh, iya kenapa?" tanya Lia yang ternyata sedang melamun sambil mengagumi ketampanan suaminya.
"Apa yang kau lamunkan?" tanya Jason. Pria tampan itu mendekati Lia.
"Emhh ... hanya mengagumi suamiku yang sangat memukau," jawab Lia dengan menyungging senyuman lebar.
"Beruntung sekali dirimu, menikahi pria tampan sepertiku." Jason terkekeh. Pria itu memegang dagu Lia, menatap kearahnya
"Yeaaa ... kau yang beruntung menikahi wanita secantik aku," balas Lia dengan kerling menggoda.
"Tentu saja aku beruntung. Kita sama-sama beruntung, bukan?" Jason membungkukkan badannya hingga wajah mereka berdekatan.
"Udah cepetan pakai baju," Lia mendorong tubuh suaminya. Tapi, bukannya melepaskan tangannya, tangan wanita itu tetap menempel pada dada bidang Jason. Lia membelai perlahan merasakan otot-otot keras yang dibalut dengan kulit lembut. Kembali, Lia terbawa angan.
"Kau ingin aku menggenakan baju atau ... kita bermain?" tanya Jason menggoda.
"Ah! Baju. Pakai bajumu." Lia cepat-cepat menarik tangannya dari dada Jason. Namun, pria itu menangkap tangan Lia dan menarik wanita itu dalam pelukannya. Kemudian tanpa peringatan, Jason memberikan ciuman yang dalam.
Bibir mereka bertautan dengan mesra untuk sesaat lamanya. Lia masih memejamkan mata dan menggigit bibirnya, ketika Jason melepaskan pagutan bibir mereka.
"Mau lagi?" tanya Jason menggoda.
"Tidak. Tidak. Jangan biarkan mereka menunggu. Ini kesempatan langka," sahut Lia dengan cepat.
"Apa tidak apa-apa kau mengundang Camila?"
"Aku harap mereka bisa bersikap dewasa malam ini. Oh iya, aku lupa menceritakan padamu, jika tadi sore, nyonya Camila berlutut pada mom Laura, dia meminta maaf."
Jason terkejut. Dia menatap Lia tak percayam setelah dua puluh enam tahun, perang dingin diantara mereka. Benarkah Camila bersedia meminta maaf, setelah Laura berkali-kali mencoba menggugurkan kandungan wanita itu. Benarkah, sikap penyesalan yang Camila tunjukan padanya tempo lalu, adalah benar?
"Berlutut? Minta maaf?"
"Iya." Lia mengangguk.
"Lalu, mom?"
"Aku rasa dia memaafkan meskipun tetap bersikap angkuh. Mom, juga mengizinkan Camila untuk melayani tuan besar."
"Benarkah? Luar Biasa." Jason menggeleng kepala tak percaya.
"Kau tahu, mom Laura masih berhati lembut. Jika kau berbuat seperti pria tua itu, jangan harap bisa kencing berdiri lagi." Tegas Lia sambil melirik tajam kearah Rajawali yang seketika menciut menjadi burung pipit.
"Kejam!"
"Biar kapok! Makanya harus setia ya. Seumur hidup kau harus setia padaku. Dimanapun aku berada, selama aku belum meninggal, itu artinya dirimu terikat hanya padaku, mengerti?!" Lia menatap jason dengan tajam sembari mengangkat kedua alisnya.
"Iya aku mengerti. Kenapa tiba-tiba aku merasa seperti melakukan kesalahan, ya?" Jason menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Lia terkekeh melihat tingkah Jason. Sungguh, wajah Jason sangat imut sekali dipandangan Lia, hari ini. Dia dengan sabar membantu suaminya mengenakan pakaian. Dan mereka keluar dengan bergandengan tangan.
Lia dan Jason menjadi yang pertama datang di taman bekakang, yang sudah dihias dengan apik. Tak lama kemudian Camila dan Daniel tiba. Dengan berbalut gaun berwarna hitam ketat. Camila tampak mempesona.
"Camila," sapa Jason yang tidak pernah menggunakan sebutan lain didepan nama wanita tersebut.
"Jason. Lia," Camila balas menyapa.
Daniel dan Camila mengambil tempat tepat dihadapan Jason. Tak lama kemudian Erick datang dengan Laurent dan Laurent segera duduk disamping Lia.
"Lia, kau cantik sekali," ujar Laurent yang mengagumi penampilan Lia malam ini.
"Kan malam special dengan mu," ujar Lia menggoda.
Kedua wanita muda itu tersenyum. Lia melirik ke arah tangan Erick dan Laurent yang menggantung.
"Erick," panggil Lia.
"Ada apa?"
"Sayangi Laurent seperti dirimu sendiri. Hargai perasaan Laurent, jangan keras kepala. Jangan keras kepala. Nanti kau menyesal, jika Laurent tiba-tiba cuek dengan dirimu."
"Apaan sih, aku kan cintanya sama Erick." Laurent mengkerucutkan bibirnya.
"Hahaha ... Harus digertak sedikit pria angkuh seperti itu," sahut Lia dengan terkekeh.
Erick yang mendengarnya hanya tersenyum tipis.
Dan selanjutnya pria itu meletakan tangannya diatas tangan Laurent yang berada diatas meja. Laurent tersentak melihat sikap Erick. Dia tercekat melihat tangan Erick yang mengenggamnya. Laurent menoleh menatap Erick yang sedang berbicara dengan Daniel. Jantung Laurent berdebar kencang dan pipinya memerah.
"Daniel ...." panggil Lia.
"Ya, Kakak Ipar," sahut Daniel menoleh pada Lia.
"Ingat kau harus membantu suamiku dengan baik ya. Sebagai saudara, kau harus selalu mendukung kakakmu. Jangan biarkan orang lain merusak hubungan baik yang sudah susah payah kalian bina," ucap Lia.
"Tentu saja, kakak ipar. Bisa diijinkan bekerja dengan diam disamping kak Jason saja, aku sangat bersyukur," sahut Daniel dengan bersungguh-sungguh.
Jason menatap istrinya dengan mata tersenyum. Bagaimana bisa orang tuanya tidak menyukai wanita yang berharga seperti ini. Meskipun dari kasta terendah sekalipun, sinarnya sudah cukup menyilaukan permata lainnya. Lia adalah mutiara yang terpendam.
Darrel Madison dan Laura Collins M datang dengan berjalan beriringan. Seketika sanggup menciptakan keheningan diantara penghuni meja, yang sebekumnya bercakap-cakap dengan akrab. Mereka semua menatap pada sepasang suami istri itu. Tidak ada kemesraan selain hubungan baik, tampak dalam hubungan Darrel dan Laura.
Mata Darrel bersinar ketika melihat Camila. Ada secercah kerinduan terpancar.
Laura mengambil tempat duduk paling ujung, berhadapan dengan Jason, menyisakan kursi kosong di tengah antara dirinya dan Camila. Posisi yang akan di tempati oleh Darrel. Dengan tenang, pria itu menarik kursi duduk diantara dua istrinya.
Camila yang merasa tidak nyaman hendak beranjak, bertukar posisi dengan Daniel. Dia menggeser kursinya namun terhenti dengan perkataan Laura.
"Duduklah Camila, tidak usah membuat ulah," ujar Laura.
Camila akhirnya duduk kembali dengan canggung. Tangannya gemetaran dan terasa dingin di bawah meja. Camila terkejut ketika dia merasakan tangan hangat Darrel menyentuh tangannya. Tangan itu terasa sangat hangat. Dia menatap Darrel sekilas, meski pria itu tampak asyik berbincang dengan Laura.
Ada sebersit rasa sakit dihati Camila. Baru kali ini dia menyadari, jika dirinya hanyalah orang asing disini. Meskipun keluarga sah sudah menerima dirinya dan Daniel, entah kenapa hati Camila terasa menciut. Tangan Darrel yang ingin menenangkannya, tapi dia merasa bagaikan wanita rahasia. Wanita penggoda. Baru kali kini Camila paham, kenapa mereka menyebutnya demikian.
Camila menarik tangannya dari genggaman Darell. Dia mengambil segelas wine yang sudah di tuangkan oleh pelayan dan menyesapnya perlahan. Camila berusaha menenangkan dirinya dengan bersikap wajar. Dia tidak ingin merusak malam ini dengan sikapnya yang melankolis
Baru kali ini, sepanjang hidupnya, Camila merasa dihargai dalam keluarga ini. Semua bercakap-cakap dan bertukar pikiran. Mereka pun mau mendengarkan dan tertawa dengan lelucon yang dia lontarkan.
Malam ini, terasa sangat berharga.
Laurent berdiri dengan segelas wine ditangannya. Dia mengetokan sendok ke gelas perlahan, menciptakan nada agar pusat perhatian tertuju padanya.
"Malam ini terlalu indah. Aku berterimakasih pada kakak iparku, yang sudah menyatukan kita semua. Aku harap ini bukan yang terakhir. Kita bisa mengatur jadwal sesering mungkin, menghabiskan malam bersama seperti ini," ujar Laurent dengan berseri-seri.
"Tentu saja, Laurent itu menyenangkan sekali," sahut Jason.
"Selama aku tidak sibuk," sahut Laura.
"Okey, itu bisa diatur. Bagaimana denganmu Dad?" Laurent menatap ayahnya.
Pandangan Darrwl lekat menatap Lia. Lia dengan mata tersenyum balas menatap Darrel.
"Tergantung situasi," jawaban Darrel yang ambigu.
"Okey ... Jadi aku anggap kita semua setuju. Aku akan mengatur. Semoga saja setidaknya setiap bulan kita bisa melakukan hal ini," ujar Laurent penuh senyuman.
Mereka kembali menikmati hidangan penutup. Di sudut sana, butler Bernard yang menyaksikan keakraban keluarga ini, menitikan air matanya dengan senang. Keharuan meliputi dirinya. Bertahun-tahun dia terjebak dalam pertikaian keluarga ini.
"Kau menangis, Butler?" tegur Fidel.
"Matamu harus dicek ke dokter mata! Cepat kerja sana!" bentak Butler Bernard sambil memalingkan wajahnya. Dengan cepat dia mengusap air matanya.
"Aku yakin melihat dia menitikan air mata. Apa mataku yang salah ya?" Fidel menggosok matanya____________"Kayanya masih awas deh mataku." ujar Fidel tak mengerti.
Di meja makan, tampak Laura sudah hendak beranjak dari duduknya.
"Aku akan beristirahat. Darrel, malam ini aku ingin tidur sendiri," ucap Laura.
"Baiklah," sahut Darrel.
Laura meninggalkan mereka semua. Wanita itu berjalan dengan penuh percaya diri. Lia memandangnya dengan penuh kekaguman. Wanita itu luar biasa. Dia begitu tegar menghadapi suami penebar cinta seperti tuan Darrel.
Tidak semua wanita sanggup bertahan, dengan suami yang suka berganti pasangan. Tapi dia memilih melepaskan keinginan pribadi untuk anak-anaknya. Meskipun jalan menuju ketegaran itu penuh dengan batu sandungan, siksaan batin bahkan kekejaman. Mungkin itu sebabnya Laura membentengi dirinya dengan keangkuhan.
Jika saja hubungan antara Laura dan Lia baik, semua akan lebih menyenangkan. Lia menatap Camila dan berpikir dalam hati, haruskah dia menempuh waktu yang selama itu, untuk bisa meluluhkan kekerasan hati Laura.
Lalu ... bagaimana dengan tuan besar?
"Aku mau beristirahat. Camila ikuti aku!" Tuan Besar Darrel Madison menarik diri keluar dari kursi. Sekilas sebelum berbalik pergi, Lia bisa merasakan pandangan Darrel yang berkilat tajam kearahnya. Senyum tipis yang menakutkan.
Camila tanpa banyak bicara, mengikuti tuan besar meninggalkan taman belakang. Dia masih sempat mengangguk berpamitan pada anak-anak muda yang masih asyik becengkrama.
"Daniel! Lain kali bawa pasangan, agar kau tidak merebut perhatian suamiku," tegur Laurent.
Daniel meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa kau dan Emelly tidak ada hubungan serius?" tanya Lia yang masih penasaran dengan hubungan mereka berdua.
Daniel menggeleng.
"Kami sama-sama belum siap menjalin hubungan. Tapi, tampaknya Emely mungkin akan menikah dengan anak tuan Larry," ujar Daniel dengan sendu.
"Lucas?"
Daniel mengangguk.
Lia mendesah lemah, dia terlalu hanyut dengan permasalahannya sendiri hingga melupakan Emelly.
"Lalu ... bagaimana dengan dirimu?"
"Aku masih muda, Kakak Ipar. Aku masih ingin berada disisi tuan muda Jason. Banyak hal yang masih menjadi prioritas kami. Jangan khawatirkan diriku," sahut Daniel dengan tenang.
Lia tersenyum. Ternyata memang diantara mereka belum terpupuk suatu perasaan. Emelly akan menjadi menantu tuan Larry? Pria yang berbisnis, bahan kimia dan senjata. Mengingat bagaimana semua pengawal tuan Larry bertato pistol silang, membuat Lia merinding.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Jason.
"Emely? Apa dia akan baik-baik saja?" Lia menatap Jason mencari jawaban.
"Tentu saja."
"Tapi, tuan Larry ...."
"Mafia? Jangan khawarir, mafia bahkan memiliki prinsip yang kuat. Dan lagi, Emely adalah wanita yang ditunjuk secara langsung oleh tuan Larry. Tidak akan ada yang berani menyepelekan dirinya." Jawaban Jason menenangkan Lia.
Lia menggangguk memahami perkataan Jason.
"Jason, aku ingin menemui kakakku. Bisakah kita ke Miami dalam waktu dekat. Aku ingin tinggal satu minggu disana, please ...." pinta Lia memohon. Sudah hampir dua tahun, Lia tidak pernah berjumpa dengan Diana.
Jason menatap Lia dengan lembut.
"Baiklah. Minggu depan aku ada urusan juga disana. Kita bisa pergi bersama."
"Aaaaa ... menyenangkan sekali. Terimakasih Jason, I love you ...." Lia melonjak genbira dan menciumi pipi Jason.
"Apaan sih, pamer kemesraan," celetuk Laurent yang melihat bagaimana Lia merangkul Jason dan menciumi kakaknya.
"Jangan iri, kau punya suami sendiri, kan?" cibir Lia.
"Iya, tidak usah iri." Tiba-tiba saja Erick sudah mencium pipi kiri, kanan, kening, hidung dan mendarar lebih lama di bibir Laurent.
"Uhuuuuyyyyy ...." Lia dan Daniel kompak mengoda Laurent.
Laurent menjadi tersipu dibuatnya. Entah mengapa selama di mansion ini, sikap Erick berubah menjadi lebih baik. Laurent terbuai dibuatnya.
"Sudah malam, kami pamit dulu ya. Daniel, sana ganggu butler Bernard. Jangan ganggu Erick terus."
"Baiklah kakak ipar. Butler Bernardds temani aku disini. Erick, bawa kakakku pergi," ujar Daniel dengan tersenyum lebar.
"Baiklah, selamat malam semua. Ayo Laurent."
Erick mengulurkan tangannya kearah Laurent. Gadis itu dengan malu-malu mengulurkan tangannya menyambut sentuhan tangan Erick. Mereka pun menyusul Lia dan Jason meninggalkan taman belakang dan kembali ke kamar.
Di dalam kamar, Lia membantu Jason melepaskan pakaiannya. Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Lia menyusul Jason, naik ke atas tempat tidur dan menyusupkan diri dalam pelukan Jason. Dia ingin menghabiskan malam ini dalam kemesraan. Tak ingin ternoda dengan segala keraguan yang masih mengganjal.
"Apa kau lelah?" tanya Jason.
"Belum."
"Kalau begitu aku ingin mengunjungi anakku."
Jason berputar dan langsung berada diatas tubuh istrinya. Dengan sebelah tangan yang menopang tubuh, agar tidak menyakiti perut Lia. Satu tangan lagi dengan aktif melepaskan pakaian Lia.
Dan ... malam itu diakhiri dengan lenguhan nafas memburu mereka berdua. Kemesraan dan kehangatan yang tidak ingin Lia lepaskan. Dia memeluk Jason dengan erat. Menciumi pucuk kepala suaminya. Air matanya menetes disela-sela desahan dan erangan kenikmatan Jason.
...❤❤❤❤❤❤...
Hai penggemar Lijas.
Ranking novel ini ada ditangan kalian lohhh.
Jangan bosan-bosan yaaa, share cerita cinta ini di media sosial ataupun GC lainnya.
Terimakasihhhh ❤