
Lia yang duduk sendirian di tepi danau, perhatiannya tertarik pada rombongan seniman yang melintas dengan sorak sorai, dalam mobik dengan bak yang terbuka.
Lia mengayuh sepedanya mengikuti rombongan pawai. Beberapa orang dengan kostum unik melambaikan tangan pada Lia, Lia dengan gembira membalas lambaian tangan mereka.
Dia sudah lupa waktu, lupa dengan Jose dan Marco bahkan Lia lupa arah. Dia tidak tahu persimpangan mana yang sudah di lalui nya. Belokan keberapa dan tidak berpikir ke arah mana dia akan pulang. Dia mengayuh sepeda dengan riang sambil menikmati pemandangan di sekitar.
Tiga bulan terkurung di dalam rumah, membuat Lia bergitu bersemangat melihat dunia luar. Apalagi daerah yang baru baginya. Lia sangat suka travelling, meskipun dahulu dia harus bekerja sambilan untuk biaya travelling. Uang yang Diana kirimkan untuknya, Lia gunakan untuk kebutuhan sekolah dan menabung sisanya.
Tanpa sadar Lia sudah memasuki kota kecil di bawah bukit. Lia semakin gembira, melihat lampu-lampu yang berkilauan, jalan-jalan yang sangat bersih dan pertokoan berjajar rapi. Pertama kalinya melakukan perjalanan di Eropa terasa indah. Semua yang disajikan sangat berbeda dengan Miami. Apalagi cuaca panas terik Miami.
Rombongan yang diikuti Lia berhenti di suatu tempat dan memarkirkan mobil mereka.
Tampaknya rombongan mereka yang berpakaian kostum tersebut merupakan, para seniman jalanan. Kelompok tersebut akan mengisi acara di jalanan pusat kota kecil tersebut.
Seniman jalanan tersebut ada yang langsung beraksi menjadi sebuah patung Maria Antoinnete, ratu Prancis yang terkenal di masa nya. Ada juga yang mulai bersiap memainkan musik dan beberapa orang penari balet mengikuti alunan musik.
Lia meletakan sepedanya di tempat parkir khusus sepeda. Dia tidak memiliki gembok sepeda. Dan baginya tidak masalah, kota se apik ini tidak mungkin kan ada pencuri sepeda, bukan?
Lia berjalan menyaksikan atraksi. Lia menikmati musik dan tarian yang disajikan. Banyak orang memberikan koin sumbangan. Tanpa disadari oleh Lia,hari sudah mulai gelap. Lia berjalan lebih jauh, memandang pusat pertokoan. Dan bermodalkan mental yang berani. Lia masuk.
Salam berbahasa Prancis di lantunkan. Lia hanya menjawab dengan anggukan. Dia sangat senang sekali menyentuh pakaian, tas, sepatu, aksesoris yang di jual disana. Tiga bulan terkurung, membuat matanya haus. Semua begitu indah
Lia keluar dari satu toko menuju toko lainnya. Hingga memasuki sebuah toko bernama La Mode. Toko ini sangat cocok dengan selera Lia. Dalam benaknya Lia sudah berencana akan menyeret Jason mendatangi pertokoan disini dan membuat pria itu membeli semua yang dia mau.
Meskipun bukan barang branded yang dijual di toko tersebut, tapi Lia tidak perduli. Dia menyukai apa yang ada di toko tersebut. Fashion yang unik dan sangat menonjokan sifat wanita. Lagipula Lia bukan wanita yang gila dengan brand tertentu.
Keluar dari toko tersebut, Lia melewati sebuah restaurant. Aroma harum dari restaurant the Brasserie tersebut menyadarkan dirinya, jika dia sangat lapar. Lia tersadar jika hari sudah malam. Dia merasakan haus dan lapar. Botol minum yang dia bawa sudah habis. Selain itu Lia berusaha menahan kencing dan Lia tidak memiliki uang sepeser pun.
Lia menoleh kebelakang, ke kanan dan ke kiri. Dia mencari Jose dan Marco. Lia tidak dapat menemukan kedua pengawal tersebut. Lia jengkel. Dia berjalan dan mencari kesana kemari. Meneliti disetiap kerumunan.
Dengan lelah Lia berdiri mematung di depan toko baju La Mode. Dia baru saja tersadar, jika dirinya sudah meninggalkan Jose dan Marco. Dia pergi tanpa menunggu kedua pengawal tersebut. Jangankan itu. Dimana dia meletakan sepedanya pun Lia lupa.
Badan Lia langsung lemas. Dia sadar dia melakukan kesalahan. Lia duduk di tepi jalan sambil meratapi kebodohannya sendiri. Jika bukan karena keinginan tahuan dan rasa jengkel pada Jason, tidak mungkin dirinya tersesat.
"Bodoh! Bodoh! Kenapa juga aku harus pergi begitu saja tanpa menanti Jose dan Marco. Kenapa aku begitu bersemangat tadi. Sekarang aku lapar, haus dan tersesat. Apa yang harus aku lakukan."
Lia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia bingung apa yang harus dilakukannya. Dia tidak memiliki handphone untuk menghubungi siapapun. Meskipun Lia hafal dengan nomor telphone Jason, tapi dia bingung berkomunikasi dengan orang lain.
"Jasonnn aku tersesatttt. Hikkksss gara-gara kamu melupakan janji denganku. Jasonnn ayoo temukan aku. Aku harus kemana sekarang?" Gumam Lia sendiri dengan sedih.
Saat ini apa yang Lia takutkan terjadi. Terlantar di negara asing, tanpa identitas dan tidak seorang pun mengerti bahasa nya. Dia kesulitan berkomunikasi. Lia merasa dirinya bagaikan imigran gelap.
Ketika dia menengadahkan wajahnya, beberapaa orang menatap dirinya dengan raut wajah kasihan sambil mengelus dada mereka. Air mata yang terurai menetes di wajah cantiknya, membuat mereka yang lewat menjadi prihatin.
"Hei, aku bukan pengemis. Aku hanya tersesat. Bisa tolong aku?" tanya Lia pada mereka, sambil mengusap air matanya.
Tapi sayang sekali, tidak ada seorangpun dari mereka yang mengerti apa yang di katakannya. Bahkan mereka meninggalkan Lia dengan kasihan. Bagi mereka Lia tampak seperti imigran yang frustasi. Berulang kali Lia menghentikan orang yang lewat, tapi mereka tidak menghiraukan dirinya.
Lia kembali melihat kelantai, dimana uang-uang pemberian mereka berserakan. Beberapa logam dan satu lembar dua euro.
Dengan sebuah uang logam, Lia masuk ke toilet.
Setidaknya ada keuntungan yang dia dapatkan, dengan duduk bersimpuh dan menangis di pinggir jalan.
Kemudiaan Lia dengan putus asa keluar dari toilet dengan menggenggam uang reveh. Lia berjalan menuju ke toko roti, dia berikan semua uang tersebut sambil menunjukan sebuah roti daging.
Akhirnya Lia mendapatkan dua potong roti daging dan sebotol air miniral. Lia mengucapkan terimakasih dan kembali mencoba bertanya.
"Bisakah anda menolongku pulang? Aku tinggal di mansion di atas bukit." Ujar nya dengan perlahan. Berharap pemilik toko roti bisa mengerti bahasanya.
"Juga bisakah aku meminjam handphone untuk menghubungi seseorang?"
Tapi, mereka hanya menggelengkan kepala, tidak ada yang mengerti apa yang Lia katakan. Padahal Lia menggunakan bahasa Inggris yang baik dan benar. Lia menjadi sedih.
Dengan lesu, Lia sekali lagi berjalan mengelilingi pertokoan dia berusaha mencari sepedanya. Lia sangat senang sekali ketika dia melihat sebuah bangunan yang dia lewati tadi, dan dia baru ingat jika dia memarkir sepedanya di depan gedung itu. Lia bergegas menuju arah tersebut.
Tapi kenyataannya sepeda itu telah hilang. Tempat dia memarkirkan sepeda sudah kosong. Hikksss.... Lia langsung lemas. Dia duduk di bangku pinggiran jalan dan mulai memakan roti, yang dia beli dari hasil belas kasihan orang lain.
Lia memandang pada para seniman yang masih bergaya. Harapan Lia saat ini, hanya menunggu sampai rombongan seniman itu selesai dan dia akan memohon mereka untuk membawa nya kembali.
Lia harus bersabar. Udara semakin dingin menusuk kulit dan Lia membayangkan dirinya berada dalam pelukan Jason. Tubuh Jason yang hangat dan bibirnya yang lembut. Lia merindukan Jason. Dia berharap Jason akan datang dan muncul dihadapannya saat ini. Jika hal itu terjadi saat ini, Lia berjanji akan memeluk dan mencium pria itu.
...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗...
Liaaaa... Liaaaa kan tersesat.
Jason dengar gak dipanggil sama Lia???