
Jason mengepalkan kedua tangannya dengan keras. Buku-buku jari kedua tangan Jason memerah. Urat-urat di lengan sudah menonjol dan ototnya semakin tegang.
Jason memandang helilopter yang membawa Lia dengan mata yang penuh amarah. Dia marah pada kekejaman ayah kandungnya. Pria yang dia hormati sebagai orang tua dan pimpinan, ternyata tidak berprikemanusian.
Matanya sudah memerah menahan segala luapan perasaan. Rasa sedih, marah, kecewa dan cinta berbaur menjadi satu. Kecewa karena tidak bisa melindungi miliknya yang paling berharga. Belahan jiwanya. Istri pilihan hati.
Jason memandang helikopter yang terbang semakin menjauh dan hilang di balik awan. Saat matanya tak lagi dapat melihat helikopter itu, Jason membalikan tubuhnya, menatap pengawal Darrel Madison dengan buas.
Pria tampan itu berlari dan melayangkan pukulan ke salah satu dari mereka. Tidak berhenti dengan satu, Jason memukul mereka semua. Ketujuh pengawal tersebut hanya diam menerima perlakuan Jason. Mereka seakan membiarkan tubuh mereka sebagai alat untuk menebus kesalahan pada Jason.
"Kemana tua bangka itu membawa istriku?!" tanya Jason dengan penuh amarah. Dia meremas keras kerah kemeja yang di kenakan oleh salah satu pengawal.
"Kami tidak tahu, Tuan!" jawab pria itu dengan tegas.
"Jangan bohong! Bagaimana mungkin kalian tidak tahu! Kalian disini ikut mengawal pria tua itu untuk menculik istrikuuuuu!" Kembali Jason memukul pria tersebut.
"Tuan! Kami hanya melaksanakan perintah!" teriak pengawal lainnya.
"Perintah? Katakan pada tuan muda, apa perintah tuan besar?!" Frans membentak para pengawal yang sudah berani mengancam dirinya dengan menodongkan pistol.
"Tuan besar hanya meminta kami untuk mengawal dirinya. Dan saat dia pergi, maka tugas kami adalah menjaga tuan muda." Jawab salah satu dari mereka.
"Daddy menjadikan kalian mata-mata untuk mengawasiku?" Jason memandang mereka sinis.
"Tuan besar hanya mengkhawatirkan anda, Tuan Muda."
"Cih! Kalian sama saja busuknya seperti dia!" Jason mendorong pria yang dia pegang sebelumnya.
Dia pergi dari lantai atas gedung diikuti oleh Frans dan Doreo. Sesampainya di Penthouse, pria itu membanting segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Hatinya sudah diliputi amarah.
Frans pengawal pribadi Jason segera menghubungi Carlos ~kepala pengawal di mansion dan yang mengatur perputaran penjagaan di berbagai properti dan usaha Jason~ untuk melacak keberadaan tuan besar. Dia memberikan nomor seri helikopter yang membawa Lia.
Sementara Doreo menghubungi butler Bernard dan menceritakan apa yang terjadi. Tentu saja butler Bernard menjadi shok. Beruntung saja dia memilki jantung yang kuat. Kepala pelayan tua itu sudah sangat menyayangi Lia. Butler Bernard kemudian mengirim Cicilia dan castro untuk ke Penthouse dan menyiapkan segala keperluan Jason.
"Kau sudah menghubungi Carlos?!" tanya Jason dengan suara serak.
"Sudah tuan. Dia sudah bergerak untuk mencari fi lokasi mana helikopter mendarat," lapor Frans.
"Cari tau keberadaan istriku aapapun caranya. Kau tahu, apapun caranya!" ucap Jason dengan menggelegar.
"Tentu saja, Tuan Muda. Anda harus tenang. Dalam keadaan seperti ini, anda harus bisa berpikir jernih. Mungkin Tuan Muda bisa menghubungi nyonya Laura." Frans memberikan saran pada Jason. Dia merasa kasihan melihat keadaan Jason yang berantakan.
Mendengar saran dari Frans, Jason segera menghubungi Laura, namun sia-sia saja. Wanita itu tidak memjawab puluhan panggilan telphone dari Jason. Pria muda itu menggeram marah.
Dia lalu menghubungi Camila.
"Hallo Jason?" Camila tidak dapat menutuoi kebahagiaan dirinya mendapatkan telphone dari Jason.
"Katakan dimana pria tua itu?!" tanya Jason tanpa basa-basi.
"Maksudmu tuan besar?" tanya Camila tak mengerti.
"Siapa lagi?"
"Entahlah, kemarin kami tiba di Perancis dan dia meninggalkanku begitu saja, ada apa Jason?" tanya Camila tak mengerti.
"Ada apa dengan Lia? Apa yang terjadi dengan dirinya?" tanya Camila panik.
"Jangan munafik. Lia sudah begitu baik padamu. Dia sudah membantu dirimu agar mommy mau menerima dirimu! Sekarang, inikah balasanmu untuk istriku? Kau telah bersekongkol dengan pria tua itu untuk menyingkirkan Lia!"
Tuduhan Jason bagaikan petir yang menyambar tubuh Camila. Dia tidak per caya dengan apa yang dia dengar baru saja, ji ka tuan besar sudah membawa Lia pergi?
"Maksudmu Darrel Madison sudah mencelakai Lia?"
"Dia membawa pergi Lia dari atao gedung ini!"
sahut Jason dengan emosi.
"Apa? Darrel melakukan hal itu? Tapi ... aku benar-benar tidak tahu," ujar Camila bersungguh-sungguh.
"Kau pikir aku percaya?" sahut Jason sinis.
"Apa yang bisa aku lakukan agar dirimu per caya?" ujar Camila dengan memelas.
Seumur hiduo dia sudah berusaha membuktikan ketulusan hatinya. Tapi dia juga menyadari statusnya yang hanya wanita simpanan, tak akan pernah mendapatkan pandangan yang layak. Dia hanyalah penjaga bukan pemilik. Apalagi di negara ini, tidak mengakui istri lain selain istri pertama.
Jason tersenyum sinis mendengarkan kata-kata Camila yang terdengar memelas. Dia tidak bisa lagi percaya kepada siapapun.
"Jika kau memang tidak bersalah dan tulus, maka temukan lokasi istriku. Apapun caranya!" ucap Jason dengan tegas sebelum mematikan sambungan telphone.
Lima menit kemudian, Daniel sudah tiba di Penthouse. Pria itu masuk dengan terburu-buru dan mendapati Jason sedang berdiri tegang menatap keluar dinding kaca. Pria itu menatao awan yang bergerak seoalah mencari keberadaan Lia dibalik awan-awan tersebut.
"Kakak?! Apakah benar, daddy melakukan hal itu?" tanya Daniel perlahan.
Jason tersenyum sinis mendengar pertanyaan Daniel.
"Bukankah ini yang kau cari? Kau senang melihat diriku hancur?" Jasoj dengan sinis menjawab pertanyaan Daniel tanpa menoleh pada pria itu sedikit pun.
"Kakak! Kau salah paham! Ini tidak ada hubungannya dengan diriku!" ujar Daniel tegas menunjukan pembelaan diri.
"Oh ya?! Bukankah kau ingin menguasai semua?! Kau pikir aku akan semudah itu menyerah? Peperangan ini baru saja dimulai."
"JASON MADISON!!! Berapa kali aku dan mommy harus membuktikan bahwa kami tulus kepadamu! Kenapa kau selalu saja menyudutkam kami. Ingat! Tikus yang tersudut sekalipun akan berusaha membela diri!" teroak Daniel dengan penuh emosi.
"Lalu ... apa yang akan kau lakukan? Merebut kerajaan Madison?"
Jason menatap Daniel dengan penuh kemarahan. Saat ini dia tidak perduli teman dan lawan. Semua orang adalah musuh yang berkemungkinan diam-diam memghancurkan dirinya. Tidak satupun yang bisa dia percaya.
"Kakak! Aku anggap perkataanmu saat ini, hanyalah tangisan seorang yang terluka. Aku tidak akan memasukan dalam hati." Daniel meninggalkan Jason begitu saja.
"Mau kemana kau! Kau menginginkan ini semua terjadi, bukan? Kau tertawa dibalik topeng polosmu itu, bukan?! Munafikkkkk!!!" teriak Jason dengan penuh emosi.
Daniel terus melangkah keluar tanpa memperdulikan Jason yang masih terus berteiak dengan penuh kemarahan. Setibanya di luar pintu Penthouse, Daniel mengeluarkan handphone dan menghubungi Erick.
"Erick, tuan besar sudah membawa pergi Lia."
"APA?!" teriak Erick dengan sangat terkejut.
"