48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Pesta



Lia bangun di pagi hari dengan kecewa, ketika menyadari jika disisi nya berbaring masih kosong. Sprei itu masih rapi dan dingin. Tidak ada sosok Jason disana. Hanya ada handphone yang bersandar di bagian itu. Perasaannya menjadi hampa ketika menyadari jika semalam, saat dia tertidur dalam pelukan Jason, semua hanyalah mimpinya semata.


Lia mengambil handphone itu dan mendapatkan chatt dari Jason, dimana pria itu mengatakan akan bersiap berangkat ke spanyol. Dengan berat hati Lia membaca pesan itu sekali lagi. Kesal rasanya mengetahui Jason tidak menepati janjinya yang hanya pergi selama dua hari. Dan Lia hanya menjawab pesan Jason dengan sikat.


"Save travel. Miss you." Sent.


Saat pesan sudah terkirim, Lia baru sadar jika dia menulis kata miss you, jantung Lia berdebar karena rasa malu. Tapi terlambat, Jason sudah membalas pesan tersebut sebelum Lia sempat menghapusnya.


Jason mengetik balasan.


Aku sangat senang mengetahui kau merindukan diriku.


Lia membaca pesan itu dengan tersenyum sendiri dan dada berdebar. Tidak bisa di pungkiri akhir-akhir ini Lia memang sangat merindukan pria yang selalu usil padanya. Hanya dua hari bagaikan dua tahun lamanya bagi insan yang sudah di hujani panah asmara.


Setelah mandi, Lia turun ke lantai bawah, dan tetap saja dirinya merasa kesepian diantara banyak pelayan. Para pelayan pun merasa keadaan kembali normal dan menjenuhkan seperti dahulu, saat Lia diam saja.


"Nona, anda tidak berolah raga, berlari atau berenang mungkin." Tanya Cicil saat Lia hanya diam saja di taman.


"Aku bosan. Apakah kalian tidak ada yang ke danau?"


"Sudah nona jum'at kemarin."


"Ah, aku sampai tidak tahu waktu." Sahut Lia dengan kecewa.


"Apa nona ingin belajar menjahit? Saya bisa membantu nona." Cicil menawarkan bantuan.


"Hahaha aku tidak suka Cicil. Aku lebih suka melakukan kegiatan yang lebih menantang."


Sahut Lia.


"Ah, maafkan saya." Ujar Cicilia dengan malu.


Lia merasa bersalah karena sudah menolak perhatian dari Cicil begitu saja. Gadis pelayan itu tampak malu sudah mencetuskan ide yang salah pada Lia


"Ceritakan padaku. Apa saja yang bisa kau jahit?" Lia berusaha membuat Cicil percaya diri lagi.


"Saya bisa membuat gaun. Ibu saya seorang penjahit, dia yang mengajari saya. Adik dan kakak saya semua pandai menjahit. " Jelas Cicil dengan bangga.


"Apakah kau merindukan keluargamu?"


"Awalnya begitu. Kami setiap hari sabtu selalu berenang di danau bersama. Tetapi seiring waktu saya sudah terbiasa tinggal bersama teman-teman disini." Cicil menceritakan kehidupan nya di kampung halaman.


"Ah benar. Aku rasa aku tahu bagaimana membuat situasi menyenangkan. Kau memberiku ide yang menarik Cicil." Ujar Lia dengan bersemangat.


Cicil memandang Lia dengan tidak mengerti. Tapi melihat senyuman yang tersungging dan binar mata dari wajah Lia, sesuatu akan terjadi. Dan Cicil ikut gembira melihat semangat yang ditunjukan oleh Lia.


"Cicil, minta pada cheft Frans untuk menyiapkan makanan ringan, cukup untuk empat puluh orang, hemmh sepuluh macam ya." Perintah Lia pada Cicil.


"Apakah anda akan mengadakan pesta nona?" Tanya Cicilia tidak mengerti.


"Iya." Ujar Lia dengan senyum penuh rahasia.


"Ah.. setelah makanan siap kumpulkan semua pelayan disini. Katakan pada mereka semua untuk memakai kaos dan celana pendek. Semuanya, pria dan wanita." Kata Lia lagi dengan semangat dan penuh rahasia.


"Ingat satu jam lagi semua harus selesai."


Cicil segera pergi ke dapur dan memberitahu cheft tentang permintaan Lia. Cheft Frans mulai membuat makanan dengan setengah menggerutu, karena harus menyediakan sepuluh macam snack dalam waktu singkat. Yang pasti dia tidak dapat membuat snack spesial.


Cicil kemudian memberitahukan butler Bernard tentang keinginan nona Lia, agar semua pelayan berkumpul di taman belakang satu jam lagi. Dia juga berlari menghampiri semua pelayan dan mengabarkan hal tersebut.


"Tuan muda tampaknya nona Lia akan mengadakan pesta." Lapor Butler Bernard.


"Pesta apa. Siapa yang dia undang?"


Tanya balik Jason.


"Maaf saya tidak tahu tuan, karena nona Lia memperintahkan melalui seorang pelayan untuk menyediakaan makanan di taman belakang." Jawab butler Bernard.


"Baiklah, biarkan dia berbuat semaunya. Kau awasi saja, jangan sampai aku kehilangan dia. Kau mengerti?" Pesan Jason.


"Baik tuan muda saya mengerti."


Sambungan telphone terputus.


Sementara semua pelayan semakin bertanya-tanya dengan pesta yang akan dilakukan Lia, gadis itu tampak santai saja di ruang fitnes. Dia membuang rasa suntuk di pikirannya dengan melakukan trademill (berjalan pada alat) sambil menonton ulang drama korea Descendants of the Sun, DOT.


Setelah satu jam berlalu, Cicil mendatangi Lia.


"Nona semua permintaan anda sudah dipersiapkan." Ujar Cicil yang merasa heran karena Lia masih tampak santai saja. Nona Lia tampak masih berkeringat dan jauh dari oersiapan sebuah pesta.


"Ah iya, hampir saja aku lupa." Ujar Lia sambil menghentikan trademill dan mengusap keringat di tubuhnya.


Tentu saja Cicil semakin heran, bagaimana mungkin nona bisa lupa? Dan juga kenapa tidak ada satupun tamu yang datang.


Banyak kejanggalan dengan permintaan Lia hari ini.


"Ayo Cicil." Ajak Lia yang sudah selesai mengelap keringatnya.


"Tapi nona pakaian anda?"


Lia melihat kearah dirinya yang masih mengenakan pakaian sports.


"Ah iya. Aku ke kamar dulu ya ganti baju. Kau pergilah ke bawah dan siapkan musik yang paling kalian sukai." Perintah Lia sambil meninggalkan Cicil yang tambah kebingungan.


Tak lama kemudian Lia turun ke bawah. Dia masih sempat mandi dan berganti pakaian. Kali ini Lia mengenakan gaun selutut.


Lia tampak segar dan ceria. Senyuman sudah menghiasi wajah manisnya.


Lia tertawa kecil melihat semua pelayan yang sudah berkumpul dengan pakaian santai namun berwajah bingung. Kedatangan Lia menghentikan kasak kusuk diantara mereka, para pelayan. Semua memandang Lia penuh tanda tanya.


"Kalian pasti bingung dengan permintaanku kan?" Tanya Lia dengan geli.


"Kenapa tamu anda belum ada yang datang, nona?" Tanya butler Bernard.


"Tamu ku? Hahhahha tamu ku ya kalian semuaaa. Aku mau berpesta dengan kalian." Ujar Lia dengan bersemangat.


Semua pelayan saling berpandangan. Mereka tidak begitu paham maksud Lia. Berpesta dengan mereka. Tidak pernah ada catatan seorang bangsawan berpesta dengan pelayan. Hal tabu.


"Heiii.. kenapa kalian bengong? Tidak tau arti pesta? Atau sudah lama tidak tahu pesta?" Tanya Lia dengan heran ketika melihat semua pelayan hanya bengong.


"Nona, jangan berbuat hal yang membuat kami bingung." Si Gagak tua Butler Bernard mulai bersuara sumbang.


Lia mendengus kesal sambil berkacak pinggang.


Dia merasa kesal dengan perkataan Butler Bernard. Keberadaan pria kaku ini membuat para pelayan menjadi takut.


...💗💗💗💗💗💗💗...