48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Kemarahan Erick



Erick terkejut dengan tindakan Svetlana yang tiba-tiba saja mencium pipinya. Bukan hanya itu, hal yang lebih mengejutkanjya adalah kemunculan Laurent yang tiba-tiba saja.


Tatapan mata mereka saling mengunci. Svetlana menatap Erick, melihat reaksi pria itu. Sementara Erick dan Laurent saling menatap. Melihat arah pandang Erick, Svetlana mengikutinya. Dia heran dengan keberadaan Laurent.


Svetlana melihat kecanggungan di antara kedua orang tersebut dan reaksi itu mengganggu dirinya. Wanita itu tidak terima jika dia harus kalah lagi dengan wanita lain. Dua belas tahunnya tidak boleh sia-sia begitu saja.


Svetlana meletakan tangannya dan mengusap bahu Erick. Namun dia sangat terkejut ketika Erick menepis tanganny dan menatap dingin padanya.


"Pergilah. Letakan berkasmu di Personalia. Minta Bertha menunjukan tempatnya," ujar Erick tegas.


"Baiklah. Besok aku akan datang lagi membawakanmu makan siang."


Erick tidak menghiraukan perkataam Svetlana. Dia kembali berkutat pada pekerjaannya. Bisa dia lihat bagaimana Svetlana berjalam melewati Laurent yang diam saja di pintu.


Svetlana memandang Laurent dan tersenyum manis pada wanita itu. Dalam hatinya dia mengira-ngira siapa sebenarnya wanita cantik dengan dandanan yang luar biasa anggun nian berkelas. Wanita yang tanpa expressi ketika Svetlana tersenyum padanya.


Laurent hendak menutup pintu kantor dan meninggalkan Erick ketika Svetlana sudah keluar dan melewati dirinya. Tapi, pria yang tampak tidak memperdulikan kehadirannya, memanggil.


"Masuklah Laurent! Apa yang kau inginkan?"


ujar Erick tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


Laurent menghela napas kemudian masuk dan menutup pintu ruangan. Dia duduk dihadapan pria itu tanpa melepaskan pandangannya. Sosok Erick yang tampak sangat dewasa, tampan dan cerdas begitu mempesonanya.


Tangan kekar yang ditumbuhi oleh bulu-bulu halus itu membuat Laurent menelan ludahnya sendiri. Dia masih ingat bagaimana tangan itu menelusuri tubuhnya. Bulu-bulu halus itu bergesekan dengam lembut di kulitnya.


Laurent menatap kearah leher Erick, mengingat bagaikana ia mengerang dibawah ceruk leher pria itu. Menelusuri ke atas dan memandang bibir yang pernah dia sentuh. Bibir yang pernah menyatu dengan bibirnya. Bibir yang pernah menelusuri tubuhnya. Laurent mendesah perlahan dan menelan ludahnya. Pandangan mata wanita itu masih tertuju pada bibir Erick.


"Ada apa kau kemari Laurent?"


Pertanyaan Erick membuat Laurent gugup dan mengalihkan pandanganya dari bibir Erick ke mata pria itu. Dia mengatur debar di dalam dadanya.


"Aku ... maukan kau menonton bioskop denganku?" Laurent menyodorkan dua tiket bioskop yang dia sodorkan pada Erick.


Erick menatap dua tiket tersebut. Pikirannya berkelana antara keinginan untuk menyenangkan Laurent dan pilihan lain yang harus dia pilih. Eric benar-benar bimbang dan kalut. Dia tidak mungkin membawa seorang puteri menjadi rakyat jelata dan tinggal di desa, bukan?


Erick menatap Laurent. Wanita cantik dengan segala perawatan tubuh terbaik. Pakaian yang dia kenanakan adalah yang termewah dari ujung kepala sampai ujung kaki. Bagaimana bisa dia memilih Laurent dan melupakan ibunya yanh sedang sakit parah.


"Aku ...." sebuah panggilan telphone menghalangi jawabannya untuk Laurent.


"Ya Daniel?" jawabnya ketika melihat siapa yang menghubungi dirinya.


Erick tampak tegang ketika mendengar perkataan dari Daniel. Tangannya yang saat itu memegang bola relaxaxy, meremasnya dengan kuat sebelum melempar dengan keras.


Erick berdiri. "Apa?!" sahutnya dengan terkejut.


Laurent yang melihat raut wajah Eric, menjadi heran. Dia bisa melihat bagaimana pria itu marah. Laurent menjadi penasaran dengan apa yang terjadi. Dia menatap Erick dengan bingung.


Erick kali ini sudah mematikan telphone. Pria itu menatap tajam dan lurus ke arah Laurent tanpa mengatakan apapun. Dia menanti Erick berbicara dan menceritakan padanya apa yang terjadi.


"Tuan besar membawa pergi Lia."


Perkataan Erick membuat Laurent tersentak. Dia menatap Erick tak mengerti.


"Membawa? Maksudmu?"


"Dia membawa paksa Lia dan memisahkannya dari Jason. Saat ini, Jason sedang frustasi." Erick menceritakan apa yang dia ketahui dari Daniel.


"Tapi ... kenapa?" tanya Laurent lemah.


Erick mengernyitkan keningnya. Dia tidak habis pikir bagaimana Laurent bisa tidak mengerti alasan tuan besar memisahkan Jason dan Lia. Sebegitu poloskah wanitanyang dibalut dengan keangkuhan dan kekayaan ini?


"Aku ... tapi ...." Laurent terkejut dengan nada tinggi dari suara Erick.


"Tapi daddy menyukaimu. Dan ... dan dia berjanji padaku tidak akan mencelakakan Lia," ujar Laurent dengan bingung.


Erick menghela napas panjang. Dia tidak ingin berdebat lagi dengan Laurent. Tindakan tuan besar terhadap Lia sudah merupakan alarm yang berdengung dengan keras. Peringatan untuk dirinya.


"Kau pergilah ke Jason dan lihat situasi dirinya." Saran Erick.


"Aku akan menghubungi daddy dan meminta penjelasan darinya." Laurent mengambil handphone dan menghubungi ayahnya.


Berkali-kali Laurent menghubungi Darrel tapi tidak ada jawaban. Pria itu menjawab panggilan Laurent. Laurent menjadi sangat panik. Dia kemudian menghubungi Laura Madison.


"Mommy ... mommy tunggu! Dengarkan aku, pleaseeee ...," ujar Laurent merengek.


"Kau pasti tau bukan, daddy membawa Lia pergi? Katakan mommy, dimana Lia?"


Wajah Laurent tampak menegang mendengar jawaban Laura.


"Mommyyy! Dia mengandung cucumu. Apa kau tidak melihat bagaimana keadaan kakak saat ini?" Laurent berteriak namun akhirnya dia terdiam dan menatap Erick.


"Mommy mematikan handphonenya. Dia bilang ... daddy tahu apa yang di lakukannya. Erick ... katakan bagaimana aku bisa membantu mereka," ujar Laurent dengan lemah.


Erick sendiri pun bingung dengan apa yang harus dia katakan. Dia tidak tahu saran apa yang harus dia berikan pada Laurent. Keheningan di antara mereka dipecahkan oleh bunyi handphone Erick.


"Ya Jessy?" jawab Erick dengam segera.


"Apa kata mu? Mommy kenapa dia?" Erick berdiri dari duduknya.


Laurenr menatap ke arah Erick. Dia melihat bagaimana Erick tampak sangat tegang. Tangan Erick mengepal dan wajahnya tampak sangat kaku. Wajah tampan itu tampak menyeramkan.


"Bawa dia ke Paris sekarang juga. Minta pihak rumah sakit untuk mentransfer mommy saat ini juga!" perintah Erick dengan lantang.


"Apa yang terjadi Erick?" Laurent mendekati pria itu.


Pandangan Erick beralih ke arah Laurent. Dia sesaat ragu untuk menceritakan pada wanita dihadapannya mengenai keluarganya. Karena tak pernah sekalipun Laurent bertanya mengenai mereka.


"Katakan Erick apa yang bisa aku bantu?"tanya Laurent dengan tulus.


Erick menatap Laurent dan berbicara dengan ragu.


"Kosongkan kamar pakaianmu. Ibu dan adikku akan datang dan menginap," pinta Erick perlahan.


"Ah ... tidak bisakah mereka menginap di hotel?"


"Laurent! Ibu ku sedang sakit keras! Jika kau tidak bisa berbagi, sebaiknya kau kembali ke Pethouse!" kata Erick dengan penuh penekanan.


Laurent terkejut mendengar perkataan Erick. Dia sadar telah berbuat kesalahan yang menciptakan jarak di antara mereka. Wanita itu menatap pria dihadapannya dengan rasa bersalah.


"Maafkan aku ... Aku tidak tahu ji ...."


Perkataan Laurent terpotong dengan ketukan pintu. Bertha masuk.


"Tuan Erick, saatnya rapat."


...❤❤❤❤❤❤❤...


Sedihnya author, yang Like tidak ada sepersepuluh dari yang baca 🤔🙄