
"Makan malam sudah siap, sebaiknya Tuan dan Nyonya makan dulu. Permasalahan akan dapat di pikirkan lagi setelah perut kenyang," Butler Bernard datang memecahkan kesunyian.
"Ayo sayang, kau harus makan." Jason membimbing Lia untuk berdiri dan berjalan melewati mereka semua.
"Dad. Mom. Mari kita makan," ajak Laurent dengan lembut.
"Aku tidak sudi makan semeja dengan dia." Laura menatap punggung Lia dengan dingin.
"Mom, please sekali saja kita berkumpul sebagai seorang keluarga. Lepaskan harga dirimu dan jadilah seorang mommy untuk kami," desak Laurent.
"A ...."
"Laura. Sudah, kita makan saja dahulu. Aku perlu nutrisi untuk berpikir," ujar Darrel Madison berjalan melewati Laura.
"Ayo, Eric. Banyak yang harus kita bicarakan setelah makan malam," ujar Darrel Madison.
"Baik, Tuan Darrel."
"Hemm ...."
Erick menoleh ke arah Laurent. Gadis itu mengangguk kepada Erick, membiarkan Erick mendampingi ayahnya. Sedangkan Laurent mendekati ibunya.
"Mom ...."
"Sejak kapan kau jatuh cinta pada Erick?" tanya Laura menatap mata Laurent lekat.
"Mom ...," desah Laurent.
"Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?"
"Aku ...."
"Kau tahu bukan, Pewaris Electronic corp, Pengusaha Minyak saingan kita, Raja IT, bahkan Pangeran Dubai, semua menanyakan dirimu. Tapi ... mau ditaruh mana mukaku, jika kau menolak mereka hanya untuk seorang jongos," desis Laura dengan geram.
"Mommy ... kenapa kau tidak pernah memandang kami anak-anakmu? Kenapa kau tidak mencoba memahami perasaan kami?" Mata Laurent sudah berkaca-kaca.
"Kenapa bukan kau yang memahami ku? Bagaimana aku berjuang mempertahankan hak kalian, anak-anakku. Bagaimana aku berusaha membuka jalan yang lebar untuk kalian. Masih beruntung pak tua itu menyukai Erick. Apa kau tahu, apa yang terjadi pada Jason, jika saja Lia tetap bertahan disisinya, kau tahu, pak tua itu bisa menyerahkan posisi Jason pada Daniel. Apa itu yang kalian inginkan setelah semua jerih payahku?"
Laura menghempaskan diri di atas sofa. Dengan lesu dia menyandarkan diri di kursi.
"Kalian berdua benar-benar ingin membunuhku."
"Mommy, please. Tolong jadilah penjaga kami. Jadilah pelindung kami. Lia sedang mengandung keturunanamu. Apakah kau tega, jika daddy menyakiti Lia?"
"Dia tidak akan menyakiti Lia. Tapi gadis itu harus dijauhkan dari Jason,"
"Mommy! Tidakkah pengalaman hidupmu membuat dirimu sedikit berbelas kasih pada kakak? Tidak kah kau ingin dia bahagia, dengan gadis yang mencintai dirinya. Bukan dengan wanita yang hanya menginginkan status."
"Kau pikir, kau sudah hebat? Beraninya mengguruiku."
Laura meninggalkan Laurent sendiri. Wanita itu melewatkan makan malamnya dan kemudian beranjak menuju ke salah satu kamar yang biasa dia tempati. Laura menutup pintu kamar dan duduk menatap dirinya di pantulan cermin.
Wajahnya masih tetap kencang dan halus, tidak tampak keriput sedikitpun. Namun sudut mata tak bisa berbohong. Banyak goresan kehidupan disana. Setiap goresan adalah sebuah kisah di masa lalu.
Hingga orang tua nya mengambil kesepakatan untuk dirinya menikahi Darrel. Darrel bukanlah anak pertama dalam keluarga Madison. Tetapi berkat Laura disisi Darrel. Keambisiusan dan kepiawaian mereka berdua, telah menjadikan Darrel penguasa kekayaan keluarga Madison.
Kemajuan Madison, tak akan berarti tanpa Laura. Tetapi sayang, ketika kekuasaan dan kekayaan sudah ada dalam genggaman. Mereka semakin berjauhan. Darrel di Prancis dan Laura di Jerman. Semua karena mereka tidak merelakan orang lain mengawasi perusahaan.
Dan Darrel sebagai pria yang masih muda, telah lepas dari genggamannya. Pria itu menghianati dirinya. Masih teringat jelas ketika Darrel menawarkan perceraian. Laura dengan penuh kebencian merobek surat tersebut.
"Berani-beraninya kau mengajukan perceraian, setelah semua pengorbananku. Jika bukan karena aku, kau masih menjadi anak kedua keluarga Madison. Kau tahu Darrel, seumur hidup kita akan terikat satu sama lain. Aku tidak akan merelakan apapun untuk wanita jalang itu. Tidak juga hak waris anak-anakku!" bentak Laura penuh emosi saat itu.
Masih terasa dengan jelas guratan luka di dalam hatinya. Meskipun dua puluh lima tahun telah berlalu, rasa itu tidak akan pernah hilang. Perasaan dikhianati itu tetap ada. Dan saat ini, luka yang masih mengangga itu telah ditaburi garam oleh Jason dan Lia. Kedua anak itu telah mengkhianati kepercayaan Laura. Pengorbanan Laura terasa sia-sia. Dia tidak rela.
Sementara itu, di ruang makan di lantai satu. Suasana begitu dingin. Hanya dentingan suara pisau dan garpu yang berbenturan sesekali dengan piring. Butler Bernard yang berdiri di belakang tuan besar, bisa merasakan suasana yang mencekam.
Tidak ada lagi tawa yang biasa diantarkan oleh Lia yang menggoda Jason saat makan. Tidak ada senyuman dan ucapan terimakasih, disaat pelayan melayaninya. Suasana makan malam kali ini, kembali seperti dulu. Hanya ada kesunyian dan kecanggungan.
"Berapa usia kandungan mu?" tanya Darrel tiba-tiba disaat suapan terakhir sudah habis.
"Dua bulan," sahut Lia perlahan.
"Tampaknya kau kuat, tidak seperti orang hamil," ujar Darrel yang teringat betapa manja dan lemahnya Camila ketika mengandung Daniel.
"Karena yang mengalami syndrom kehamilan adalah tuan muda Jason, Tuan Besar," celetuk Butler Bernard.
"Hmm .... anak bodoh. Kenapa harus kau yang merasakan penderitaan wanita."
"Itu karena tuan muda terlalu mencintai nyonya kecil dan bayinya." Lagi-lagi Butler Bernard berusaha menjelaskan pada tuan besar, jika hubungan diantara mereka berdua sangat erat. Syndrom yang diamibatkan Jason terlalu posesif, menempatkan dirinya sebagai Lia.
"Nyonya kecil? Kau sudah menganggapnya nyonya, Bernard?" sindir tuan besar.
"Benar, Tuan."
"Heh! Kau sudah bertambah tua dan berani mendahuluiku."
"Saya tidak berani, Tuan. Tapi karena ada darah keluarga Madison dalam rahimnya, maka dia adalah nyonya di keluarga ini," sahut butler Bernard dengan tegas.
Mata Lia berkaca-kaca mendengarkan perkataan Butler Bernard. Dia tidak menyangka jika, kepala pelayan itu sudah menganggapnya demikian. Pria tua yang kadang begitu dingin dan memprovokasi dirinya, saat ini menunjukan bagian hangat dan perhatian untuk dia. Meskipun, semua dimulai dengan benih yang ada dalam kandungannya.
Tatapan mata Lia, mengantarkan ribuan terimakasih ke arah butler Bernard. Tidak salah dia merasa akrab dengan pria itu. Pria yang selama setahun ini, bagaikan sahabat dan ayah yang tak lernah dia ketahui.
"Kita akan berbicara lagi besuk, Gadis desa. Tapi ingat, jangan pikir diriku melunak, hanya karena kau membawa benih Jason. Masih banyak wanita lain yang bisa menggantikanmu," ujar Darrel sinis.
"Erick, ikuti aku."
Tuan besar Darrel Madison meninggalkan Lia dan Jason, diikuti oleh Erick. Pria itu sedari tadi hanya diam saja dan berjalan bagaikan robot dibelakang tuan besar. Ini lah yang selalu ingin dihindari oleh Erick. Kerancuan posisinya sebagai menantu dan sebagai bawahan.
Bisakah tuan besar mengganggap dirinya sebagai menantu, sebagai anak. Atau .... pria tua itu akan semakin memanfaatkan dirinya sebagai bawahan. Erick hanya bisa mendesah. Dia memandang kearah Lia dan Jason. Keadaan kedua sahabatnya tidak lebih baik dari dirinya.
Butler Bernard yang masih ada disana, memperintahkan pelayan untuk mengantarkan makan malam kepada nyonya Laura dan Laurent. Setelah itu kembali dia memandang tuan muda dan nyonya kecil yang sangat dia sayangi.
"Tuan muda, beristirahatlah. Kalian harus menenangkan diri. Saya yakin, esok hari akan lebih baik," ujar Butler Bernard memberi dukungan.