48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Handuk



Di ruang kerja, Jason menutup pintu dengan rapat. Dia duduk di singgasananya, mengetuk jarinya di meja, sejenak Jason berpikir, sebelum kemudian Jason mengambil handphone dan menghubungi ibunya.


"Mom," sapa nya langsung ketika sambungannya terhubung dengan Laura Collins.


"Apa yang terjadi di pertemuanmu dengan Natali?"


Laura Collins langsung menggunakan tanda tanya yang menekan dan menuntut penjelasan. Lebih dari lima puluh panghilan tak terjawab yang dia tujukan pada Jason. Semua panggilan itu tidak dihiraukan Jason hingga sehari kemudian, dia mengancam melalui butler Bernard.


"Tidak ada hal yang penting."


Jason menjawab dengan acuh.


"Tidak ada yang penting bagaimana? Kau meninggalkan Natali begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bagaimana kau bisa berbuat seperti itu pada gadis sebaik Natali?"


Suara Laura Collins sedikit meninggi dan tampak kesal. Natali adalah anak dari salah satu teman baiknya. Jason sepatutnya memberi penjelasan, bukan mengacuhkan Natali begitu saja.


"Siapa wanita yang bersamamu dan membuat kau meninggalkan Natalie sendiri di the Brasserie?"


Suara Laura Collins menekan penuh rasa ingin tahu. Dia sudah merasa berang mendengarkan ketidak perdulian Jason. Bukan pertama kali Jason mengacuhkan perjodohan yang dia persiapkan. Tapi sudah dua kali, Jason mengacuhkan karena seorang wanita.


"Sudahlah mom, berhentilah mencarikan pasangan untukku."


Jason tidak memberikan jawaban dari pertanyaan Laura Collins.


"Apakah kau sudah mempunyai kekasih?"


Pertanyaan Laura Collins menyelidik.


"Tidak."


Aku tidak memiliki kekasih tetapi istri mom, menantu untukmu.


desah Jason dalam hati.


"Lalu siapa wanita itu. Natali mengatakan jika kau sangat akrab dengan wanita itu. Apa hubungan mu dengan dia?"


Nada suara Laura Collins melembut.


Jason diam.


"Katakan padaku, siapa dirinya, kenapa kau sampai harus memanggulnya. Apa kau menyukai dia? Dari keluarga mana dirinya berasal? Apa pendidikan terakhir dirinya? Apa pekerjaannya saat ini?"


Jason merasa bingung menjawab pertanyaan sang ibu yang tiada habisnya itu.


"Mom, berhentilah campur tangan pada kehidupan pribadiku. Jangan khawatir mengenai hal itu."


Jason berbicara dengan tegas. Dia ingin ibunya menjaga jarak dengan kehidupan pribadinya.


"Menjaga jarak bagaimana? Apakah kau ingin menyerahkan hak mu pada anak haram itu? Kau tahu anak haram itu sudah dengan bangga mengklaim diri sebagai keluarga Madison!" Laura Collins mendengus kesal.


"Aku tahu mom. Aku tidak akan mengalah dengan dirinya. Aku akan tetap mempertahankan hak ku!"


Jason sangat tidak suka jika harus disangkut pautkan dengan adik tirinya.


"Bagus! Sekarang katakan siapa wanita itu? Apakah dia pantas berada di sampingmu?"


Laura Collins kembali mendesak.


"Jika kau tidak mau mengatakannya, saat ini juga mommy akan terbang ke mansion mu. Aku tidak akan main-main dengan hal ini. Ini serius Jason!" Ujar Laura Collins tidak sabar.


"Tenanglah mom, ingat kau memiliki darah rendah, kau bisa pingsan. Selain itu marah berlebihan bisa membuat mu keriput."


"Anak nakal. Tidak tahukah dirimu, betapa aku mencemaskanmu."


Gerutu sang ibu dengan kesal.


"Aku tahu mom, kau tidak perlu panik."


"Selama kau tidak memiliki pendamping wanita yang pantas, aku akan tetap cemas. Dan sekarang, kau membuatku terbang kembali ke French."


"Untuk apa kau terbang ke French? Hari ini aku akan pergi ke Landon."


"Aku tidak menghindari mu. Aku memang ada bisnis disana."


"Baiklah aku mengalah saat ini. Tapi, ingat kalau aku tidak akan menyerah."


Laura Collins merasa jika Jason menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Tetapi dia tidak dapat mencari tahu langsung dari Jason maupun orang terdekatnya. Laura Collins memiliki rencana lain.


Sambungan telphone terputus. Jason menarik nafas panjang. Persoalannya dengan Lia baru saja selesai. Gadis itu hampir membuka diri. Dan Jason tidak ingin kehadiran Laura Collins akan membuat Lia mundur dengan teratur. Dia tidak ingin kehilangan Lia.


Jason tidak ingin memperkenalkan Lia pada ibunya, sebelum Lia bisa benar-benar yakin dan percaya padanya. Tidak sebelum Lia benar-benar jatuh cinta padanya.


Jason menghubungi Erick.


"Ya bro?" Jawab Erick diseberang sana.


"Bagaimana dengan perusahaan atas nama Lia?" Jason langsung pada pokok permasalahan.


"Semua sudah selesai diurus. Semua boutiq hotel atas nama Lia sudah berjalan. Saat ini sudah ada sepuluh tersebar di Eropa." Jawab Erick dengan segera.


"Sepuluh? Masih terlalu sedikit. Hemm... Pastikan setidaknya dia memiliki lima puluh boutiq hotel atas namanya di Eropa. Kemudian kembangkan lagi ke Benua Amerika."


Kekuatan Lia harus benar-benar stabil. Tidak tergoyahkan. Agar tidak ada seorangpun yang bisa menyepelekan dirinya. Gadis pilihan dirinya, harus menjadi yang terbaik.


"Baiklah. Aku mengerti. Jangan lupa hari ini kau harus berangkat ke Landon. Pertemuan ini sangat penting bagi perusahaan." Erick memperingatkan Jason.


"Sebenarnya aku tidak ingin pergi dalam waktu dekat ini."


Jason mengeluh, dia masih ingin di dekat Lia saat ini.


"Jika kau tidak pergi, maka tuan besar akan mengirim Daniel." Erick memperingatkan konsekuensi ketidakhadiran Jason.


"Aku mengerti."


Jason menutup sambungan telphone. Dia menggunakan jalan pintas untuk kembali kedalam kamar nya. Melalui pintu rahasia di ruang kerja nya, Jason sudah melewati jaquzi dan berhenti di depan kamar mandi.


*


Di dalam kamar mandi Lia saat itu masih merancau pada dirinya sendiri. Dengan handuk yang membebat tubuhnya dan rambut basah yang tertutup handuk juga.


"Lia, mantapkan dirimu! Dia adalah suami mu! Kau sah secara agama dan hukum! Bahkan surat kontrak itu tidak dapat memisahkan kalian, kecuali maut! Pertahankan dan Berjuanglah disisinya! Kau harus belajar mencintai dan agar bisa sejajar dengan dirinya. Jangan biarkan siapapun menghina diriimu. Kau adalah istri pilihan Jason!"


Lia tersenyum menatap dirinya sendiri di depan cermin dan berkata lagi, "Kau adalah nyonya Jason Madison dan yang terpenting, suami mu mencintaimu!"


Dengan menguatkan dirinya sendiri, Lia membuka pintu kamar mandi dan dia terkejut ketika Jason sudah berada tepat dihadapannya dengan senyuman dan pandangan yang menghujam penuh cinta.


"Aaaa..."


Lia yang kaget mundur kebelakang dan kakinya menginjak lantai yang agak licin di belakangnya, hingga Lia terpeleset dan hampir jatuh, jika saja tangan gagah dari suami tampannya tidak dengan sigap menarik handuknya dan menggapai pinggang Lia.


Lia berakhir di pelukan Jason. Dadanya berdebar kencang. Dan dapat dia dengar dengan jelas degupan jantung Jason yang juga kencang. Lia membiarkan dirinya sejenak terbuai dalam pelukan Jason.


Sedangkan Jason, dia hampir mabuk dibuat oleh aroma tubuh Lia. Begitu harum. Tangannya sudah kembali menapaki jejak kemerahan yang dia ciptakan semalam.


Handuk Lia sudah melorot hingga pinggang. Dan tentu saja gadis itu tidak menyadari jika dirinya sudah membuat Jason pusing. Bukan hanya punggung Lia yang terekspos tapi, belahan pantat itu begitu menggemaskan.


"Liaaa.." suara Jason bergetar menyebutkan nama istrinya.


"Sejak kapan kau ada disini?" tanya Lia dengan lirih, masih dalam pelukan hangat Jason. Detak jantung mereka saling bersaing, beradu kecepatan. Lia merasa gugup dan malu, dia tidak tahu apakah Jason mendengarkan dirinya berbicara di kamar mandi atau tidak.


Lia masih membenamkan dirinya di dada Jason yang memeluknya dengan erat. Jason seakan tidak mau melepaskan gadis itu begitu saja.


"Sejak kau berbicara sendiri." Suara Jason terdengar begitu menggoda.


"Ih, kau menguping ya."


Lia memukul dada Jason dengan kesal. Dia tentu saja merasa sangat malu. Kalimat yang dia tujukan untuk dirinya sendiri, sudah didengar pria ini. Lia sangat malu, wajahnya memerah dan dia ingin terus bersembunyi dari Jason.


"Lia..." Dengan lembut Jason memanggil namanya.


...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟...