
Lia masuk ke dalam rumah dan di ruang makan tampaknya Jason sudah menunggu dengan sabar. Setelah mencuci tangannya, Lia duduk dengan muka ditekuk. Tanpa senyuman.
Hari ini adalah malam kedua, Lia berada dirumah Jason dan hari ketiga pernikahan yang tidak dia ingat. Lia menikmati makanan yang di hidangkan tanpa banyak bicara dan tanpa perduli dengan Jason yang berkali-kali menatap padanya.
Kenapa dia tidak membuat ulah malam ini?
Pikir Jason dengan heran.
Aku tidak suka melihat dia diam seperti ini. Aku lebih suka dia yang berisik dan berenergi.
"Katakan padaku..." Jason meletakan alat makan dan mengelap bibir dengan kain.
"Kenapa kau diam saja sedari tadi?" Tanya Jason kemudian.
"Aku kan sedang makan." Sahut Lia santai, tanpa berhenti mengunyah.
"Ah, tidak biasanya kau..."
"Ssttt! Makan jangan bersuara." Ujar Lia menirukan iklan televisi yang sering dia dengar ketika masih kecil.
"Aku sudah selesai makan kok." Sahut Jason tak kalah cerdiknya. Dia memberikan tanda agar pelayan tersebut mengambil piringnya.
"Sekarang katakan, kenapa kau cemberut dari tadi." Jason masih penasaran.
"Handphone." Lia menengadahkan tangan kanannya.
"Tidak ada handphone untukmu."
"JASONNN. Aku bukan anak tk." Rengek Lia.
"Justru karena kau bukan anak tk, lebih berbahaya." Sahut Jason santai. Dalam hati dia mulai senang melihat Lia kembali merengek.
"Aku bosan!"
"Kenapa harus bosan, banyak temanmu bermain disini." Jawab Jason lagi.
"Ih... kau mau butler Bernard sesak nafas lagi?" Ancam Lia.
"Kenapa begitu?"
"Kalau kau tidak memberiku handphone aku akan mengejar butler Bernard dan memaksa dia menghirup kaos kaki Fidel!"
Pelayan yang melayani mereka makan, tanpa sadar tertawa kecil. Mereka membayangkan kejadian tadi siang. Namun serentak pula mereka menutup mulut dengan tangan ketika melihat butler Bernard melotot.
Untung saja Fidel tidak ada di ruagan itu untuk bertanggung jawab. Jika tidak mungkin dia akan digunduli oleh butler Bernard, yang masih jengkel dengannya.
"Aku dengar Fidel sudah membeli tujuh pasang kaos kaki baru." Sahut Jason dengan mencibir mengalahkan ancaman Lia.
Lia mendengus sambil memajukan bibirnya. Dia harus mencari akal yang bisa membuat Jason memberinya kebebasan. Lia berencana meminta Diana untuk menjemput dan membawanya pergi dari tempat ini.
Tampaknya Jason sudah paham dan waspada akan maksud Lia. Oleh karenanya dia berniat mengurung gadis itu dan tidak memberikan handphone.
Lia menoleh pada seorang pelayan yang masih berusaha menahan tawa. Tampaknya gadis pelayan itu menyenangkan baginya. Lia melambaikan tangannya pada pelayan itu.
"Ya kamu, sini. Iyaaa kamu yang berambut keriting."
Pelayan itu ragu. Dia menatap bulter Bernard dan Jason bergantian.
"Jangan takut jika dia menyalak, akan aku bungkam dengan roti. Ayo sinii..."
Dengan ragu, pelayan itu maju.
"Siapa namamu?"
"Sisil, nona." Jawabnya ragu.
"Sisil, nama yang cantik seperti pulau di Itally. Cicilia. Aha. Gabungan dari nama kita loh. Kau mau kan menjadi temanku," ujar Lia.
Pelayan itu kebingungan. Dia takut-takut menoleh pada Jason yang hanya memandang Lia lurus.
"I..iya nona."
"Bagus. Sisil, malam ini kita akan berbagi tempat tidur. Aku akan menginap di kamarmu." Seringai Lia lebar.
"Tidak nona.. tidak boleh.." Sisil ketakutan.
"Katanya kau temanku. Teman itu harus berbagi. Dan aku akan menginap di tempatmu," Lia menaikan satu alisnya dan menatap pelayan itu dengan sikap yang agak mengintimidasi.
Pelayan itu makin ketakutan.
"Tapi tempat tidur saya kecil, nona dan lagi.. tuan muda tidak akan mengijinkannya."
"Siapa yang mau meminta ijin dari dia."
Lia mencibir kearah Jason kemudian berdiri dan mengamit tangan pelayan itu.
"Siapa yang berani membuka kamarnya untuk nona, akan aku pecat!" Jason berbicara dengan lantang.
Meskipun tidak ada amarah di wajah Jason, tapi ancaman itu sudah cukup membuat semua pelayan berdiri tegang sambil menelan ludah. Sisilia melepaskan tangan Lia dari lengannya, perlahan.
"Ei... jangan takut. Dia cuma menggertak." Ujar Lia sambil mempererat pegangannya pada Sisil.
"Aduhh.. jangan tuan muda. Jangan.. saya senang bekerja disini. Nona, tolonggg jangan begini. Tolong jangan sampai saya dipecat." Air mata berlinang di kedua pelupuk mata Sisil yang ketakutan.
Lia menghela nafas. Dia tidak mungkin memaksa pelayan yang ketakutan itu untuk memihak padanya bukan? Bagaimana jika ancaman Jason adalah nyata.
Lia akhirnya melepaskan pegangan tangannya.
"Okeyyy. Aku tidak jadi tidur di kamar Sisil. Hmm... atau mungkin lebih baik dikamar butler Bernard?" Ujar Lia dengan menyeringai kearah kepala pelayan setengah baya itu.
Butler Bernard terkejut karena namanya kembali di kumandangkan. Dengan satu gerakan tangan, dia mengajak semua pelayan untuk meninggalkan ruang makan. Mereka harus segera menyelamatkan diri. Kaburrrr!!!
"Jasonnnn, Eeeee.. kau membuat mereka takut. Hiiiii aku gemessss padamu." Ujar Lia dengan kesal. Tangannya sudah mengepal di depan dada. Semua pelayan sudah kabur. Sebetulnya mereka tidak takut dengan Jason tapi lebih khawatir dengan sikap Lia.
"Baiklah. Aku akan tidur di ruang tamu."
Aksi mogok masih berlanjut. Lia berjalan kearah ruang tamu yang berada di lantai bawah. Gaun selutut yang dia kenakan dengan model rok bergelombang, tampak melambai-lambai ketika Lia melangkah.
Jason menggeram, membayangkan Lia tidur di sofa. Rok itu bisa tersingkap dengan gaya tidur Lia yang sama sekali tidak anggun. Dan bagaimana mungkin dia membiarkan pelayan melihat hal itu.
Jason segera berdiri dari kursi di meja makan. Berjalan dengan cepat meraih Lia. Sekali lagi, Jason berhasil menangkap Lia dan kembali dia memanggul tubuh Lia seperti karung beras.
"Turunkan akuuuu... turunnn... aku bukan berassss."
Jason tidak memperdulikan teriakan Lia.
Dia malah sekali lagi menepuk pantat Lia.
"Jangan teriak-teriak!"
"Turunkan aku... aduhhh perutku sakit.. "protes Lia dengan memelas.
Jason tidak perduli. Dia masih mengangkat tubuh Lia di bahunya dan menaikki tangga. di tengah perjalananan, tiba-tiba....
Hoekk... hoek....
Jason berhenti. Langkahnya berbalik dan Jason menepuk kening. Telinganya tidak salah mendengar, Lia muntah. Jason menurunkan gendongan nya perlahan sehingga Lia bisa berdiri dengan tegak.
Jason melihat Lia menyeka mulutnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Jason panik.
"Aku kan baru makan banyak. Kau menggendongku seperti kuli beras. Perutku tertekan tau."
Lia mengelapkan tangannya yang baru saja menyeka sisa muntah di mulut ke baju Jason.
Jason melotot melihat tindakan Lia. Jorok!
"Hukuman buatmu tahu." ujar Lia mencibir.
Lia melirik muntahnya yang berceceran di tangga. Dia merasa kasihan dengan siapapun yang harus membersihkan muntahnya, di atas karpet yang mengalasi tangga.
Jason hendak menggandeng tangan Lia, tapi gadis itu menepisnya.
"Aku bisa jalan sendiri." ujar Lia galak.
"Masih sakit?" tanya Jason prihatin.
"Iya." ujar Lia ketus.
"Aku pijitin ya." ujar Jason Lembut.
Modus!
Lia melotot menoleh pada Jason. Tapi Lia urung berbicara, sisa muntah masih mengganjal di kerongkongannya. Lia kemudian mempercepat langkah kaki nya ke kamar mandi untuk berkumur.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya. Tampak Jason sudah selesai pula mengganti pakaiannya. Dan tampaknya Jason masih tidak ingin melepaskan Lia bersantai begitu saja.
Jason menyelonjorkan kaki nya di sofa di kamar. Dia membuka laptop. Banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan. Dan siang ini banyak yang tertunda karena Jason merindukan Lia.
Melihat Lia yang termangu di meja rias, Jason berniat mengusili nya lagi.
"Lia, kemarilah." ujar Jason serius.
...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟...
Hayooo mau di suruh apa si Liaaaa.
Lanjut besuk ya. Tangan sudah keriting ini.
wlkwkwlwk. Memangnya indomie.
Buat yang sudah Like, Coment, Vote, Share dan
yang sudak memberi Koin, terimakasih
banyakkkkk. Thankyouuuu.
Tetap Semangat dan Sehat Selalu.